Categorized | ULASAN

Wajah Indonesia Dalam Gaya Manga

Posted on 05 November 2011 by jarakpandang

Beberapa waktu lalu, Makko, situs komik Indonesia mengadakan survey kecil-kecilan melalui twitternya. Pertanyaannya sederhana, “Komik Indonesia itu?” “Nggak cuma wayang”, ujar salah seorang follower. Jawaban itu menarik menurut saya, karena beberapa minggu sebelumnya keluhan dengan nada serupa saya dengar dari seorang teman. Yakni, komik Indonesia yang katanya melulu seputar wayang.

Saya sebenarnya bisa saja dengan mudah membantah pernyataan teman saya tersebut, karena sekarang jauh lebih mudah menemukan komik Indonesia yang bertemakan di luar tema wayang di toko buku. Tapi saya juga tidak bisa menafikan ide bahwa dalam benak banyak orang ada asosiasi yang lekat antara konsep komik Indonesia dengan  tema wayang.

Bermula dari Wayang

Marcell Boneff dalam kajian klasiknya mengenai komik Indonesia menyatakan, tema wayang diadaptasi komikus Indonesia sebagai respon atas tuduhan komik merupakan bacaan yang tidak mendidik[1]. Selain sukses dalam menjawab kritik tersebut, eksperimen tema wayang dalam komik sukses secara komersial dan sanggup mengerdilkan pengaruh komik Amerika pada tahun 50-an. Sejak itu perkembangan komik bertema wayang mengalami pasang surutnya sendiri dalam sejarah komik Indonesia. Saat ini  cetakan ulang karya R. A. Kosasih[2] malah diposisikan sebagai karya klasik dengan harga tinggi.

Mengapa komikus pada masa Kosasih mengangkat wayang sebagai sumber untuk mewujudkan apa yang dibayangkan sebagai komik Indonesia? Bagi Boneff, persoalannya sederhana saja. Wayang, terutama wayang beber dan wayang kulit bisa dianggap sebagai arketipe komik purba Indonesia. Ada pengalaman visual, dramatisasi, juga konvensi pencitraan dalam pentas wayang[3]. Sehingga ketika komikus dituntut mewujudkan komik bercita rasa Indonesia, semesta pewayangan adalah sumber referensi yang paling ideal.

Sudah lebih dari setengah abad sejak tema wayang pertama kali diangkat dalam komik Indonesia tapi pertanyaan soal identitas komik Indonesia masih mengemuka. Jika pada masa Kosasih komikus dituntut mewujudkan komik Indonesia karena komik sebelumnya dianggap tidak mendidik, komikus sekarang resah karena pengaruh komik Jepang atau yang lazim disebut manga sangat luas. Ada yang resah karena gaya gambar manga begitu mendominasi baik yang amatir sampai yang profesional. Yang lainnya resah karena pasar komik begitu didominasi oleh manga. Intinya sama, komik Indonesia sulit berkembang dan manga menjadi salah satu tersangka utamanya. Topik ini sering diangkat dalam beragam diskusi tentang komik Indonesia. Dan perdebatannya cukup keras, sehingga label tidak nasionalis kerap dituduhkan bagi kelompok yang menggemari manga.

Bersalin Rupa dalam Manga

Beberapa komikus toh sepertinya tidak terlalu memusingkan perdebatan semacam itu. Komik-komik yang muncul belakangan malah percaya diri dengan gaya gambar manga dan mengangkat tema yang menurut saya merepresentasikan ke-Indonesia-an dengan caranya masing-masing. Ada tiga komik yang akan saya angkat sebagai contoh komik semacam ini.

Yang pertama adalah Garudayana karya  Is Yuniarto. Komik ini mengangkat cerita petualangan yang dibangun dalam semesta Mahabbharata tanpa terikat pakem resmi pewayangan. Secara singkat, ada pemburu harta bernama Kirana yang tanpa sengaja menemukan telur garuda. Telur garuda tersebut ternyata mengandung kekuatan yang sangat besar dan menjadi incaran banyak orang. Akibatnya, Kinara harus terlibat dalam petualangan untuk melindungi telur garuda tersebut menjadi santapan. Dalam usahanya melindungi Garuda, Kinara dibantu oleh tokoh-tokoh di dunia wayang, seperti  Gatotkaca, Arjuna, hingga trio punakawan, Petruk, Gareng, dan Bagong. Dalam komik ini mereka juga harus berhadapan dengan dengan  tokoh-tokoh klasik wayang seperti Adipati Karna, Antareja, dan  Buto.

Tanggapan pasar untuk komik ini cukup tingi sehingga komik ini harus dicetak ulang. Untuk pasar penerbitan, khususnya komik Indonesia yang relatif lesu, ini adalah prestasi yang baik. Sehingga sekali lagi, komik bertema wayang sukses merebut perhatian pembaca komik Indonesia. Hanya saja menurut saya ada beberapa perbedaan signifikan antara Garudayana dengan komik wayang dari masa Kosasih. Perbedaan-perbedaan ini yang menjadikan tema wayang dalam komik bisa diterima generasi pembaca yang sama sekali baru.

Pengaruh manga jelas sangat terasa dalam Garudayana. Secara umum manga bisa diidentifikasi dari penggambaran mata karakter yang besar, sering menggunakan onomatope, gambar juga didominasi garis arsir untuk menggambarkan gerak tubuh[4]. Ciri-ciri tersebut dapat ditemukan dalam Garudayana. Kedekatan gaya gambar sangat membantu komik ini untuk dapat diterima pembaca komik generasi sekarang yang memang akrab dengan gaya gambar manga.

Gambar 1 : Sampul depan Garudayana 3 (Is Yuniarto)

Disadari atau tidak,  penggabungan tema wayang dengan gambar dan pertempuran ala manga terbukti menjadi racikan paten bagi kisah sukses komik Garudayana. Namun, komik ini sepertinya malah menegaskan asumsi awal bahwa komik Indonesia  identik (kalau tidak boleh dibilang lekat) dengan tema wayang. Untuk itu saya mengangkat contoh komik kedua yang menunjukkan kemungkinan yang lain dari komik Indonesia, yakni Dharmaputra Winehsuka karya Alex Irzaqi.

Serupa dengan Garudayana, Dharmaputra Winehsuka juga menonjolkan pola pertempuran yang seru. Tokoh-tokohnya digambarkan memiliki kesaktian dan mampu mengeluarkan tenaga dalam kasat mata pertempuran. Perbedaaan di antara dua komik ini terletak pada pilihan tema yang diangkatnya. Jika Garudayana  mengangkat kembali tema wayang, Dharmaputra Winehsuka memilih mengeksplorasi sejarah Indonesia. Pemilihan tema ini bagi saya merupakan kelebihan tersendiri, karena eksplorasi sejarah, khususnya sejarah Indonesia membutuhkan riset yang sama sekali tidak mudah.

Gambar 2: Hal 147, Dharmputra Winehsuka (Alex Irzaqi)

Dalam penulisan sejarah konvensional saja, tidaklah mudah mencari literatur yang bisa diandalkan, apalagi mengemas peristiwa sejarah menjadi komik menarik dengan pertempuran yang seru. Tetapi penulis fiksi memiliki keuntungan yang tidak dimiliki oleh sejarawan. Penulis fiksi tidak memiliki tanggung jawab akademik apapun, sehingga mereka memiliki hak untuk menginterpretasikan dan berimajinasi bebas atas peristiwa sejarah. Alex Irzaqi dengan memanfaatkan itu dengan baik ketika mengangkat zaman Majapahit sebaga tema utama komiknya.

Dharmaputra Winehsuka berlatar pada masa Kerajaan Majapahit, tepatnya pada masa pemerintahan Jayanegara. Masa tersebut merupakan periode yang penuh ketidakstabilan politik di berbagai wilayah. Ketidakpuasan pada kepemimpinan Jayanegara yang lemah memunculkan pejabat-pejabat yang memberontak. Untuk melindungi putranya dari ancaman semacam ini, raja terdahulu sudah membentuk pasukan elit yang disebut Dharmaputra Winehsuka. Mereka terdiri dari tujuh orang pendekar yang memiliki kesaktian tertinggi di seluruh kerajaan dan telah disumpah untuk selalu melindungi raja.

Pemberontakan Nambi dan Sora adalah dua pemberontakan terkenal yang tercatat dalam sejarah. Irzaqi menempatkan interpretasinya sendiri bahwa pemberontakan tersebut sebenarnya tidak lebih dari usaha dan konspirasi Senopati Halayudha untuk mengontrol pemerintahan Jayanegara. Cerita ini mencapai klimaksnya ketika anggota Dharmaputra Winehsuka harus saling bertempur karena berada di dua sikap politik yang berbeda. Keberanian Irzaqi untuk mengolah sejarah sebagai material komik menurut saya menjadikan Dharmaputra Winehsuka juga layak dianggap sebagai salah satu komik representasi ke-Indonesia-an.

Toh tidak semua komik yang merepresentasikan ke-Indonesia-an muncul dengan kesadaran penuh pembuatnya untuk merepresentasikan Indonesia. Ada juga komik yang tidak berpretensi menampilkan “budaya Indonesia” malah mungkin merepresentasikan ke-Indonesia-an dalam bentuk lain. Salah satu contohnya adalah Anak Kos Dodol Dikomikin karya Dewi Rieka (cerita) dan K. Jati (ilustrasi). Komik ini diangkat dari novel berjudul Anak Kos Dodol karya Dewi Rieka.

Jika dua komik yang saya kemukakan sebelumnya menjual gambar-gambar pertarungan sebagai daya tarik, pola semacam itu tidak akan ditemukan dalam komik ini. Gambarnya juga sangat dipengaruhi manga seperti Garudayana maupun Dharmaputra Winehsuka. Perbedaannya terletak pada segmentasi pembaca. Garudayana maupun Dharmaputra Winehsuka sepertinya ditujukan untuk pembaca laki-laki sehingga dipenuhi gambar-gambar dengan garis tegas yang menunjang adegan pertempuran. Anak Kos Dodol Dikomikin dipenuhi gambar-gambar dengan tarikan lembut yang menyerupai tokoh-tokoh serial cantik yang pada umumnya ditujukan untuk pembaca perempuan. Sehingga jangan heran jika dalam komik ini semua anak kosnya digambarkan sebagai perempuan cantik ala manga.

Anak Kos Dodol Dikomikin mengangkat cerita keseharian Dewi Rieka sebagai mahasiswa di Kota Yogyakarta. Jangkauan ceritanya bermacam-macam, mulai dari clubbing sampai tentang teman yang kleptomania di kos-kosan. Kisah-kisah sederhana justru menjadi daya tarik utama komik ini, karena kedekatannya dengan keseharian banyak orang.

Gambar 3 : Hal 166-167, Anak Kos Dodol Dikomikin (Dewi Rieka & K. Jati)

Komik ini juga memunculkan lokalitas Yogyakarta dalam konteks kekinian. Dalam salah satu cerita digambarkan ketika di Yogyakarta beredar isu hantu pocong yang muncul di kos-kosan. Ada ironi yang dikemukakan di situ. Bagaimana keseharian mahasiswa yang seharusnya makhluk rasional (digambarkan dengan persiapan ujian) dirusak dengan ketakutan irasional (semua anak belajar dan tidur di satu kamar selama isu itu ramai). Dalam cerita yang lain, Dewi dan teman-temannya makan di angkringan usai pulang clubbing. Yogyakarta yang muncul dalam komik ini, adalah potret kota Yogyakarta hari ini. Tidak melulu membingkai Yogyakarta sebagai kota pelajar atau kota budaya yang malah terdengar usang dan agak normatif.

Mengejar Imaji Indonesia

Sudah sejak lama, komikus di Indonesia berusaha merumuskan komik yang bisa merepresentasikan ke-Indonesia-an. Bukan sekadar bentuk idealisme tanpa dasar, tetapi komikus menyadari perannya dalam menyumbang konstruksi kebudayaan nasional khususnya dalam tataran budaya populer[5].

Oleh karena itu, wajar saja jika banyak komikus yang terganggu dengan dominasi manga  di Indonesia. Dominasi manga diyakini merupakan salah satu penghalang bagi terwujudnya identitas komik yang asli Indonesia. Memang tidak sedikit komikus yang mengharapkan Indonesia bisa memiliki gaya komik tersendiri layaknya Eropa, Amerika, dan  Jepang. Kekhawatiran lain dari dominasi manga, adalah adanya asumsi bahwa komik yang dilahirkan dari peniruan ini hanya akan menjadi karya kelas dua. Karya yang akan selalu ketinggalan dari acuan utamanya, yakni manga itu sendiri.

Kekhawatiran komikus-komikus tersebut jelas memiliki landasan. Tapi tidak cukup kuat bagi saya untuk menafikan sama sekali kontribusi komik-komik bergaya manga pada konstruksi identitas komik Indonesia. Hanya karena Garudayana, Dharmaputra Winehsuka, maupun Anak Komik Kos Dodol menggunakan gaya gambar manga, tidak serta-merta membuat karya mereka menjadi karya tiruan kelas dua dari komik-komik Jepang.

Banyak yang menggugat karya semacam ini karena dianggap gagal  menunjukkan komik “asli Indonesia”. Persoalannya keaslian identitas seperti apa yang kita cari? Bahkan tema wayang yang relatif berterima sebagai latar khas komik Indonesia pun pinjaman masa lampau dari Tanah Indus. Persoalan semacam ini akan terus mengemuka jika kita memaksa mencari keaslian ketika mencoba merumuskan komik Indonesia.

Saya sendiri lebih suka melihat bangunan komik Indonesia sebagai ruang bebas.  Ruang yang terbuka pada aneka ragam interpretasi. Artinya, dibanding memperdebatkan soal “keaslian” identitas, jauh lebih penting untuk mencermati proses berkarya komikus. Sejauh mana mereka berupaya jujur mengekspresikan diri pada karya-karyanya. Sebab tanpa kejujuran berkarya, mustahil menghasilkan apa yang dikemukakan oleh Hikmat Darmawan sebagai “kemenangan kreatif”[6]. Kemenangan kreatif yang membuka kemungkinan untuk menerima makna ke-Indonesia-an yang lebih luas seperti yang disampaikan dalam karya-karya di atas.

*)Ibnu Nadzir, alumnus Jurusan Antropologi, Universitas Gadjah Mada. Peserta Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011 dan saat ini bekerja sebagai Kandidat Peneliti di Pusat Penelitian Kemasyarakatan & Kebudayaan  – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).


[1] Marcell Boneff, Komik Indonesia, 1998, Jakarta : KPG, hal: 28

[2] Salah satu dari generasi komikus pertama Indonesia yang mengangkat tema wayang dalam komik. Dia juga ditabalkan sebagai Bapak Komik Indonesia.

[3] Marcell Boneff, Komik Indonesia, 1998, Jakarta : KPG, hal: 19

[4]Viz Media via Takeshi Matsui, The Diffusion Of Foreign Cultural Products : The Case Analysis Of Japanese Comic Market, 2009, hal : 7

[5] Marcell Boneff, Komik Indonesia, 1998, Jakarta : KPG, hal : 28

[6] Hikmat Darmawan, Panel-Panel Kehilangan Identitas dalam Dari Gatotkaca Hingga Batman : Potensi-potensi Naratif Komik, 2005, Yogyakarta : Orakel, hal : 84

Data Gambar:

Gambar 1 : Sampul depan Garudayana 3 (Is Yuniarto)

Gambar 2: Hal 147, Dharmputra Winehsuka (Alex Irzaqi)

Gambar 3 : Hal 166-167, Anak Kos Dodol Dikomikin (Dewi Rieka & K. Jati)

Gambar 4 : Hal 178, Anak Kos Dodol Dikomikin (Dewi Rieka & K. Jati)

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement