Videotalk Pameran Video Musik Eksperimental Jerman-Indonesia: Catatan Diskusi

Posted on 09 August 2010 by jarakpandang

gambar – Anggun Priambodo, Veronika Kusumaryati dan Indra Ameng: Videotalk, Agustus 2010

Oleh : Ibnu Rizal

Pada hari pembukaan pameran Video Musik Eksperimental Jerman-Indonesia (Ausstellung Experimentelle Deutsch-Indonesische Musivideos) di Goethe Institut Jakarta, 6 Agustus 2010 lalu, sebuah diskusi hangat digelar sebagai pembuka pameran. Videotalk itu berlangsung di tengah sore yang kuyup basah, hujan mengguyur Jakarta dan kemacetan di mana-mana. Tetapi forum kecil dan sederhana di tengah galeri Goethe Institut itu terasa begitu hangat. Seniman video musik Anggun Priambodo serta kurator dan manager kelompok musik White Shoes & The Couples Company, Indra Ameng, hadir sebagai pembicara. Veronika Kusumaryati yang merupakan kurator pameran ini bersama Rizki Lazuardi, ambil bagian selaku moderator. Tulisan ini ingin membagi pembicaraan dan ingatan yang berkembang di sore itu, tentang video musik, tentang industri televisi di Indonesia yang menjadi bebal pasca Reformasi, juga tentang Presiden SBY dan Tante Dian Nitami.

Tentang batasan genre

Sebagian besar dari 48 video musik yang ditampilkan dalam pameran ini memiliki kesulitan untuk diidentifikasi ke dalam kategori genre atau jenis medium tertentu. Banyak video menggunakan strategi naratif yang sangat filmis dan dengan durasi yang cukup panjang. Hal ini akan semakin kompleks jika dirumitkan dengan istilah video art. Video-video musik dalam pameran ini, terutama yang berasal dari Jerman, sangat berani menentang batasan dan konvensi naratif tertentu. Eksperimentasi yang digunakan pun memungkinkan video-video tersebut ditarik ke dalam ranah yang lebih luas, wilayah seni rupa misalnya. Mengenai hal ini Indra Ameng berpendapat bahwa video musik berada pada tegangan atau tarik-menarik antara wilayah kebudayaan populer dan seni rupa. Mengapa kebudayaan populer? Musik dan video musik adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan dari hakikat awal penciptaannya dalam konteks industri: kepentingan promosi. Baik musik maupun videonya sama-sama dikonsumsi secara massal oleh masyarakat.

Kehadiran MTV (Music Television) di Amerika pada 1981 memberikan ruang yang sangat nyaman bagi perkembangan video musik. Di era ini pendengar radio pun bertransformasi menjadi pemirsa televisi. Video klip “Video killed the radio star” milik kelompok musik Inggris The Buggles adalah video musik pertama yang ditayangkan oleh MTV di malam kelahirannya pada pukul 00:00 tanggal 1 Agustus 1981. Ingat juga bagaimana video klip Michael Jackson berjudul “Thriller” (1983) yang berdurasi 14 menit mengacaukan batas antara film dan video musik itu sendiri. “Thriller” berjasa dalam membawa video musik ke dalam wilayah yang lebih konseptual, bahwa sebuah video musik tidak melulu memperlihatkan atau menjajakan musik dan musisinya, tetapi ia memungkinkan terjadinya eksplorasi artistik dan naratif yang jauh lebih luas. Berbagai eksplorasi dan eksperimentasi ini membuat batasan antar disiplin dalam seni video (video musik, video art atau bahkan film) menjadi begitu tipis.

Tentang MTV di Indonesia hingga Dian Nitami

Di Indonesia, jalur utama distribusi video musik adalah televisi sejak dulu. Televisi menjadi satu-satunya kanal yang memberi ruang presentasi dan apresiasi bagi video itu. Kehadiran teknologi VHS pada tahun 1970 dan 1980-an di Indonesia juga sempat menjadi sarana untuk menikmati video-video musik dari mancanegara (lihat riset Videobase oleh Forum Lenteng, 2008), alih-alih melulu menonton video musik lokal di TVRI (Televisi Republik Indonesia) dalam acara Selecta Pop dan Aneka Ria Safari.

Indra Ameng mengatakan bahwa sejak awal kehadirannya di Indonesia, fungsi dasar dari video klip adalah sarana promosi bagi industri musik dalam negeri. Video musik di Indonesia adalah memang media hiburan sekaligus alat berjualan. Baru kemudian pada tahun 1991 saluran MTV dapat diakses oleh segelintir masyarakat Indonesia melalui antena parabola. Tahun 1993 MTV mulai dapat dinikmati seluruh pemirsa televisi di tanah air melalui stasiun televisi ANTV. Di periode 1990-an awal inilah MTV, melalui stasiun televisi ANTV yang saat itu menggunakan slogan “Wow, Keren” untuk menarik target penonton anak muda, menyiarkan program-program video musik dari MTV Amerika dan Eropa setiap hari selama 24 jam. Pemuda-pemudi Indonesia yang hidup di era 1990-an pun bersentuhan dengan band-band britpop seperti Oasis, Blur, Radiohead, band grunge Amerika Nirvana serta musisi-musisi lain dari seluruh dunia melalui video-video musik yang ditayangkan.

gambar – Indra Ameng: Video musik berada di tegangan antara wilayah
kebudayaan populer dan seni rupa.

Anggun Priambodo mengakui bahwa masuknya MTV di Indonesia memiliki pengaruh yang perlu dicatat di Indonesia era 90-an. Referensi visual yang disaksikan oleh remaja Indonesia saat itu, terutama yang ada di kota-kota besar, pun secara otomatis adalah referensi visual à la MTV yang menyiarkan video-video musik dari Eropa dan Amerika, dua benua yang menjadi saksi lahirnya seni video (video sebagai salah satu medium kesenian). Generasi muda Indonesia saat itu mendapat referensi artistik yang kaya dan beragam melalui kehadiran televisi swasta, tidak hanya MTV melalui kanal ANTV, stasiun lain seperti RCTI dan SCTV juga menayangkan video-video musik dari luar dan dalam negeri (meskipun persentasenya tidak sebesar MTV). Di masa ini pula kehadiran stasiun TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) juga berkontribusi dalam mendistribusikan referensi visual bagi film dan musik India, juga video musik dangdut bagi masyarakat Indonesia.

Ketika TVRI dengan suguhan video musiknya yang dibuat oleh para pegawai negeri hanya untuk mengisi program siaran yang kosong mulai ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia yang memiliki televisi, khususnya yang berada di kota besar seperti Jakarta, kehadiran stasiun televisi swasta Indonesia generasi pertama (RCTI, SCTV, ANTV, TPI, INDOSIAR) membuka ruang baru (alternatif) pada saat itu bagi video-video musik dalam negeri yang dibuat oleh para sutradara muda yang mendapat pengaruh referensi visual yang lebih kaya dan beragam, yang salah satunya bersumber dari MTV. Sebagian besar mereka juga berasal dari kelas ekonomi menengah atas sehingga memungkinkan terbukanya akses untuk menekuni pendidikan film dan seni di dalam dan luar negeri. Film-film Hollywood (yang bisa disaksikan di jaringan bioskop 21 di Jakarta dan kota besar lain) juga turut meninggalkan referensi artistik dalam generasi ini. Untuk menyebut beberapa nama dari generasi ini adalah Rizal Mantovani, Dimas Djayadiningrat, Jay Subyakto, Jose Poernomo dan Richard Buntario, sementara pada periode awal 2000-an hadir sutradara video klip seperti Lasja Fauzia dan Taba Sancabachtiar. Semaraknya kembali perfilman nasional pasca Reformasi 1998 membuat sutradara video musik ini juga menjadi pembuat film. Film dan video musik menjadi dua medium yang sering dimanfaatkan oleh para sineas Indonesia dari generasi ini.

MTV dan Stasiun televisi swasta Indonesia lain menjadi kanal (jalur) distribusi utama bagi video-video musik Indonesia ini. Bahkan pada tahun 1997 RCTI sempat membuat program acara bernama VMI (Video Musik Indonesia) yang dipandu oleh Dian Nitami. Acara ini secara konsisten menayangkan video-video musik terbaru setiap hari Sabtu sore. VMI juga sempat menyelenggarakan beberapa kali acara malam penghargaan (award) bagi video-video musik Indonesia dengan nominasi-nominasi seperti sutradara terbaik, penyanyi terbaik dan sebagainya. Pada periode inilah video musik Indonesia mendapat apresiasi yang cukup besar dari masyarakatnya dan ditempatkan sebagai “sesuatu”, katakanlah sebagai sebuah medium artistik.

Tentang SBY dan Keran yang Tertutup

Selepas 1998 belasan stasiun televisi swasta Indonesia generasi kedua bermunculan, salah satunya adalah Global TV. MTV Sout East Asia yang berbasis di Singapura dan yang selama ini mewarnai program-program musik MTV yang tayang di Indonesia, mengalihkan diri dari ANTV yang saat itu hendak bangkrut kepada stasiun televisi baru, Global TV. Di stasiun televisi inilah MTV Indonesia pertama hadir. Pada tahun 2002 MTV Indonesia yang menumpang di Global TV masih memiliki semangat untuk mengakomodir video-video musik dari kelompok musik alternatif di Indonesia. Video yang ditampilkan pun memiliki semangat “eksperimental” dengan ide serta konsep artistik yang segar. Bahkan pada 2003 ketika acara Indonesian Video Music Award digelar oleh MTV Indonesia, video musik karya The Jadugar (Anggun Priambodo dan Henry Foundation) mendapat penghargaan utama sebagai video musik terbaik. Saat itu tidak ada lagi ajang penghargaan untuk video musik Indonesia yang diinisiasi oleh pihak televisi swasta kecuali acara ini, sebab anugrah Video Musik Indonesia yang dipandu oleh Dian Nitami telah mati pada tahun 2001.

MTV Indonesia selama 2002 hingga 2005 masih merupakan kanal yang menjanjikan untuk distribusi video-video musik yang memiliki semangat eskperimental dan alternatif, menurut Anggun Priambodo. Namun setelah 2005 MTV tidak lagi mengakomodasi video semacam itu. Salah seorang peserta diskusi membagi keresahan dengan bertanya-tanya: apakah kualitas video musik yang sekarang ada juga merupakan cerminan dari kualitas musik yang diciptakan? Berbagai spekulasi pun bermunculan. Banyak pihak yang sudah menilai bahwa kualitas musik Indonesia periode 2006 hingga hari ini memang sedang “anjlok”, meskipun ada juga beberapa yang terbilang baik, berkarakter dan perlu dicatat sebagai segelintir yang teguh membawa semangat eksperimental dan alternatif baik dari musik maupun dari videonya.

Sejak awal harus diingat bahwa video musik dalam konteks kebudayaan populer (konsumsi massal) tidak dapat dipisahkan dari kondisi industri musiknya sendiri. Industri musik, bahkan televisi, di Indonesia kini berada dalam stagnansi, keseragaman tema dan warna, juga selera. Industri musik dan televisi Indonesia hari ini tidak membuka diri bagi berbagai bentuk eksperimentasi untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan tema alternatif, kebaruan dan keragaman gagasan. Indra Ameng menyebutkan bahwa ruang atau kanal bagi arus video-video musik alternatif, apalagi eskperimental, di Indonesia hari ini seperti keran yang mampat. Keran itu seperti ditutup, dikunci oleh sejenis industri yang brutal dan mengabaikan kerja-kerja artistik yang matang dan serius. Internet memang bisa menjadi kanal alternatif untuk video-video musik ini, tetapi pengguna televisi di Indonesia masih jauh lebih besar jumlahnya. Mengenai penyebab terbentuknya iklim industri semacam ini, salah seorang peserta menyeletuk: “Ini salah SBY!”. Tawa renyah pun pecah di tengah forum.

Daftar Referensi :

Videobase (Video, Sosial, Historia) oleh Forum Lenteng, 2008

Pengantar Pameran Video Musik Eksperimental Jerman-Indonesia oleh Veronika Kusumaryati dan Rizki Lazuardi (kurator), Goethe Institut Indonesia, 2010

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement