Review Ok Video Flesh Hari Ke-3: Video Screening with Meiro Koizumi

Posted on 09 October 2011 by jarakpandang

Di Selasar Sunaryo Art Space, 8 Oktober 2011, seniman asal Jepang Meiro Koizumi mempresentasikan beberapa karya videonya sebagai bagian dari rangkaian Public Program OK. Video FLESH. Dimulai jam 10 pagi dengan iringan gerimis kota Bandung, tidak kurang dari 40 orang menghadiri presentasi Meiro di Bale Handap Selasar Sunaryo Art Space bersama Agung Hujatnikajennong sebagai moderator.

Meiro menjelaskan karyanya mulai dari sumber ide, proses pembuatan hingga apa saja yang ingin ia sampaikan. Karya pertama yang ia jelaskan ialah The Chair, karya ini berdurasi 3 menit 36 detik, dibuat pada tahun 2000. Ia menjelaskan bahwa karya ini berawal ketika ia membuat sketsa dengan pensilnya, kemudian menghasilkan suara goresan pensil yang menjadi ide dasar penciptaan karya tersebut. Pada The Chair, Meiro melakukan performance dengan melakukan gerakan-gerakan orang menggambar menggunakan pensil diatas objek sebuah kursi. Suara pensil yang kerap terdengar ketika menggambar ia tiru dengan mulutnya dengan bantuan pengeras suara, sehingga menghasilkan suara goresan pensil yang ia inginkan. Meiro menyebutkan bahwa suara yang ia keluarkan sangat sentimental dan mampu menghasilkan emosi yang luar biasa. Bukan hanya pada The Chair, kecenderungan Meiro bereksplorasi dengan elemen suara juga hadir dalam karyanya yang lain seperti Amazing Grace (2001) dan Untitled (2000).

Selain suara, terdapat beberapa karya Meiro yang lebih bereksplorasi pada aspek narasi.  Karya berjudul Mum (2003) merupakan contoh karya naratifnya, selain Portrait of the Young Samurai (2009). Pada karya Mum, Meiro melakukan performance dengan menghubungi ibunya melalui telepon selular di sebuah ruangan. Diiringi musik yang menimbulkan kesan dramatis, ia hanya mengatakan kepada ibunya mengenai keadaanya dirinya  yang sedang berada di medan perang. Suara letusan bom serta senjata api ia ciptakan dengan mulutnya sendiri, juga dengan bantuan pengeras suara. Namun pada Portrait of the Young Samurai,  Meiro menampilkan kesan lain dari sebuah narasi yang dramatis. Kesan ini terbentuk karena dalam karya video ini ia menampilkan proses pembuatan video secara keseluruhan sehingga membuat penonton tertawa melihat talent dalam video ini yang berulang kali mengatakan hal sama, beberapa kalimat terakhir untuk orang tuanya, sebelum ia berangkat ke medan perang sebagai kamikaze dengan semangat samurai.

Setelah melihat beberapa karya Meiro Koizumi, dapat dikatakan bahwa karya-karyanya merupakan gabungan antara video art dan performance art, atau biasa disebut sebagai karya video performance. Dengan kata lain, Meiro telah mengangkat bagaimana tubuh merespon teknologi pada setiap karyanya.

Presentasi Meiro diselingi dengan istirahat yang dilanjutkan dengan diskusi bersama peserta dan banyak  pertanyaan-pertanyaan bermunculan yang berkisar tentang proses kreatifnya. Selain public speech dan  screening karya-karya Meiro pada 8 Oktober 2011, OK Video Flesh 2011 dan Selasar Sunaryo juga menggelar workshop video making dengan peserta terbatas pada 9 Oktober 2011 dengan Meiro sebagai mentor.

For More Information about Meiro Koizumi, please visit http://meirokoizumi.com/

 

Asep Topan, alumnus Jurusan Seni Murni, Institut Kesenian Jakarta, peserta Workshop 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement