Toko Keperluan

Posted on 08 June 2010 by jarakpandang

Keperluan : Beli yang tidak penting untuk diriku, beli yang penting untuk orang lain

Oleh : Haris Firdaus*

Dari luar, toko seluas 5 x 4 meter itu tampak sederhana. Dindingnya yang terbuat dari triplek berlapis potongan kayu itu dibiarkan polos, tanpa cat sama sekali. Pintu kaca di depan toko itu terlihat kurang serasi dengan tubuh bangunan. Di samping kanan toko tersebut, tergantung sebuah neon box yang memancarkan cahaya putih.

Berlainan dengan suasana di luar yang kelihatan sederhana, kondisi di dalam toko terasa meriah. Deretan barang aneka macam dipajang dengan warna-warna mencolok. Ada sebuah bola sepak dan lampu badai tergantung di langit-langit, seikat bibit singkong tergeletak di samping pintu masuk, dan sejumlah kaos dan tas tergantung di dinding bagian belakang.

Di bagian kanan ruang toko, terdapat mesin ATM, lemari pendingin berisi minuman kemasan, dan almari ice cream—semuanya terbuat dari kardus. Di sebelah kiri, tertempel sejumlah barang untuk anak-anak, raket badminton, cetakan pastel, dan aneka barang lain. Ada dua kursi yang berdempetan dengan posisi saling membelakangi di bagian tengah toko. Di atas dua kursi itu, ada jeruk dan mangga yang ditata dalam sebuah kardus.

Dari penataan interiornya, toko ini mirip dengan mini market yang biasa kita temui di dekat rumah kita. Tapi, yakinlah, ini bukan mini market biasa. Seniman Anggun Priambodo membuka toko ini dalam rangka pameran tunggalnya yang bertajuk “Toko Keperluan”. Bertempat di RURU Gallery, Tebet, Jakarta Selatan, pameran itu berlangsung pada 21 Mei-5 Juni 2010.

Melalui pameran ini, Anggun membuat sebuah parodi atas praktek jual beli dan budaya belanja yang mengakar di masyarakat kita. Ya, ini memang soal konsumerisme yang sudah banyak diperbincangkan dan selalu diperdebatkan tak habis-habis itu. Tentang bagaimana manusia yang sering menjadi irasional saat berbelanja, tentang barang-barang yang selalu kita beli tanpa mempertimbangkan gunanya, tentang kebutuhan yang tergantikan oleh keinginan.

Dipandang dari segi gagasan, apa yang hendak disampaikan Anggun bukanlah barang baru. Konsumerisme adalah pokok soal yang telah didiskusikan sejak lama, digubah menjadi banyak teks, dan dikupas habis oleh pelbagai kajian. Tapi untunglah, Anggun punya cara yang lain dalam menyampaikan gagasan ini. Dia juga memilih keluar dari zona nyaman yang dihuninya.

Selama ini, Anggun dikenal sebagai seniman yang banyak menggunakan medium video dalam berkarya. Ia juga dikenal sebagai sutradara video klip musik, iklan televisi, dan film pendek. Tapi di pameran ini, alih-alih menggunakan video, Anggun memilih membangun sebuah toko, lengkap dengan barang-barang yang bisa dibeli sungguhan, dan penjaga yang siap melayani Anda.

Ini memang sebuah kejutan, baik bagi pengunjung maupun Anggun sendiri. Menurut Anggun, membuat sebuah toko merupakan cara yang paling pas untuk menyampaikan gagasan yang ada di benaknya. “Kalau gue mau ngomongin transaksi, kayaknya emang gue harus buat transaksi yang nyata. Ini cara yang kayaknya paling mendekati ide gue,” katanya saat saya temui di RURU Gallery.

Anggun mengatakan, sebelum sampai pada pemikiran untuk bermain-main dengan budaya belanja, awalnya ia berpikir untuk merespon praktek jual beli karya seni di galeri dan suasana kaku yang biasanya terasa di galeri. “Gue mikir bagaimana cara merespon dua hal itu tapi sekaligus menyampaikan ide soal belanja,” ujarnya.

Dengan membuka toko, tampaknya tiga gagasan yang diusung Anggun cukup terwakili. Apa yang ia lakukan bisa dianggap sebagai sinisme atas peran galeri yang selama ini juga berperan sebagai toko, tapi berupaya menutupi peran itu. Pamerannya juga membuat suasana RURU Gallery tak lagi angker, seperti lazimnya galeri biasa. Dan tentu saja, “Toko Keperluan” adalah permainan yang menarik ihwal konsumerisme kontemporer.

Yang paling mencolok dari toko Anggun adalah banyaknya variasi barang yang dijual di dalamnya.  Jika lazimnya sebuah toko menjual barang-barang yang relatif mempunyai hubungan, toko ini sepertinya menjual barang secara acak dan mungkin ngawur. Di toko ini, misalnya, Anda bisa menemukan mainan anak-anak sekaligus kondom, telur plastik dan raket badminton, cetakan dawet serta pelampung, rambut palsu dan buku gambar, serta barang-barang lainnya.

Menurut Anggun, ada lebih dari 50 jenis barang yang dijual di tokonya. Kebanyakan merupakan barang-barang yang disukainya sendiri dan sebagian mungkin bukan barang-barang yang penting. Ada barang-barang yang sudah umum dan bisa kita temukan di toko lain—seperti buah-buahan, alat tulis, alat olahraga, dan stiker—tapi juga ada benda-benda yang secara khusus didesain oleh Anggun, misalnya kaos.

Variasi barang yang banyak menunjukkan bahwa toko ini tidak mempunyai segmen pembeli khusus—sebuah pengabaian yang fatal dalam marketing. Barangkali, pengabaian semacam ini merupakan parodi atas sistem marketing modern yang begitu rigid memperhitungkan berbagai hal supaya barang yang mereka pasarkan bisa laku terjual.

Untuk pemasaran, Anggun memilih cara yang terbilang aneh. Ia, misalnya, membuat merek-merek lucu untuk barang yang sebenarnya biasa saja. Contohnya, ia memberi nama satu set alat badminton—terdiri dari raket, sepasang sepatu kets, dan shuttle kock—dengan nama “Ragu-ragu Icuk Sugiarto”. Misal lainnya, ia memberi nama “Bukan Telur Mbak Mega” untuk satu set telur plastik—yang terdiri dari 10 telur—seharga Rp. 12.000.

Anggun juga melengkapi tokonya dengan sajian iklan audio visual. Di bagian belakang Toko Keperluan, Anggun menaruh sebuah televisi yang secara terus-menerus menayangkan video berjudul Keperluan Series karyanya. Video sepanjang 14 menit itu berisi 6 seri iklan tentang barang-barang yang dijual di “Toko Keperluan”.

Melalui iklan itu, tampaknya Anggun ingin menawarkan fungsi lain dari sejumlah barang yang dijual di tokonya. Misalnya saja, ia menggunakan cetakan dawet sebagai kaca mata saat mengetik di depan komputer. Atau, ia menggunakan konde sebagai helm saat mengendarai sepeda. Di kala lain, ia menggunakan cermin sebagai spion tatkala naik sepeda.

Dengan model semacam itu, iklan yang dibuat Anggun memang terasa lucu dan menggelikan. Lebih kocaknya, video itu juga menunjukkan bagaimana Anggun—yang sedang menggunakan benda-benda aneh—bertemu dengan orang lain. Tentu saja, pertemuan itu menghasilkan gambar-gambar lucu dan menarik.

Misalnya, dalam iklan tentang alat penggaruk, Anggun memegang benda itu dengan posisi seolah-olah ia sedang memakai tangan palsu. Ia kemudian berjalan-jalan ke sejumlah tempat, melakukan banyak kegiatan, dan bertemu dengan beberapa orang. Saat berjumpa dengan petugas cleaning service di sebuah toko, Anggun membantu sang petugas membersihkan sampah di lantai menggunakan “tangan palsu”-nya.

Di bagian lain, Anggun menggunakan alat putar pelatih otot berbentuk lingkaran untuk melakukan gerakan twist—yakni menggerakkan bagian pinggang atas berlawanan arah dengan bagian kaki—di sejumlah tempat umum, semisal halte bus dan warung makan. Saat melakukan itu, ia berjumpa dengan sejumlah orang. Tak pelak, aksi Anggun membuat mereka keheranan.

Selain bisa dianggap sebagai iklan, Video Keperluan Series juga bisa disebut sebagai karya utuh tersendiri. Video ini bisa disebut sebagai semacam parodi atas perilaku konsumen kontemporer dalam menggunakan barang-barang yang mereka beli.

Seperti lazimnya mini market, Toko Keperluan juga memiliki selebaran promosi berisi gambar barang-barang yang dijual beserta harganya. Menurut Anggun, selain diberikan pada pengunjung pameran, selebaran itu juga disebarkan pada masyarakat biasa yang tinggal di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Anggun berharap, masyarakat awam ini bisa datang ke tokonya tanpa tahu bahwa toko tersebut merupakan bagian dari pameran seni rupa.

“Jadi nanti yang datang ke sini itu akan campur antara orang yang ingin lihat pameran dan orang yang ingin belanja,” ungkap Anggun.

Dalam pameran ini, Anggun memang tampak ingin ada transaksi jual beli yang nyata di tokonya. Harapan ini, sebenarnya, terlalu ambisius. Sebab, semirip apapun Toko Keperluan dengan mini market biasa, toko tersebut tetap merupakan bagian dari pameran seni rupa—dan ingat, toko itu ada di dalam galeri. Jadi, kebanyakan orang yang datang ke sana pun adalah mereka yang berniat hendak menonton pameran, bukan belanja.

Kalaupun ada pengunjung yang datang ke sana dengan niat belanja, mereka pasti segera menyadari “keanehan” toko ini. Selain letaknya yang di dalam galeri, bentuk toko ini juga terlampau berbeda dengan mini market. Belum lagi adanya mesin ATM, lemari pendingin, almariice cream, dan mesin kasir yang terbuat dari kardus. Dengan semua kondisi ini, orang aka segera tahu mereka ada di toko yang tidak normal.

Pada akhirnya, akan lebih banyak orang yang “menonton pameran” ketimbang melakukan transaksi jual beli di Toko Keperluan. Ini mungkin kontradiksi internal yang ada dalam pameran ini—satu hal yang mungkin juga terasa dalam sejumlah proyek seni publik lainnya. Ide soal transaksi nyata yang dipikirkan Anggun itu mungkin tidak pernah menjadi kenyataan. Akan tetapi, setidaknya, gagasan ihwal transaksi dan konsumerisme yang klise itu diungkapkan secara segar dan berbe

*) Penulis adalah peserta workshop penulisan seni rupa dan budaya visual oleh Ruang Rupa tahun 2009, kini bekerja sebagai wartawan kebudayaan untuk majalah Gatra.


Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement