Categorized | KARYA

THE ART OF DISGUST

Posted on 30 March 2010 by jarakpandang

“Ketika kecantikan menjadi komoditas, maka tubuh tak lebih berharga dari kacang rebus”

Seksualitas seseorang menjadi kunci determinan apakah ia akan diterima atau dimarjinalkan oleh masyarakat. Di tengah masyarakat yang masih memelihara pola biner, identitas seksual seseorang hanya bisa diterima jika ia seorang lelaki atau perempuan. Identitas di antara keduanya masih belum diterima sebagai bagian masyarakat yang “normal”. Diantara kedua pola biner ini pun masih terdapat hirarki yang menempatkan perempuan sebagai “2nd sex” atau seks ke dua.

Tubuh perempuan adalah sebuah arena, suatu wilayah yang tak lagi memiliki otonomi. Kontrol terhadap tubuh perempuan identik dengan kekuasaan. Revolusi Industri telah memberi dampak yang luar biasa pada tubuh perempuan yang akhirnya menjadi sebuah komoditi. Pencitraan kecantikan dirubah sedemikian rupa untuk mengikuti pola industri yang maju dengan cepat. Tubuh langsing, kulit yang bersih dengan rambut panjang terurai adalah gagasan ideal tentang kecantikan. Kehidupan manusia yang sangat terobsesi dengan penampilan semakin melanggengkan usaha-usaha mempreteli otoritas perempuan atas tubuhnya sendiri.

Eksekusi Daging Segar

Di tengah serangan mode dan industri kecantikan yang membabi buta melalui berbagai media, Jenny Saville dengan lugas menyuguhkan suatu kelahiran baru bagi tubuh-tubuh yang tersingkirkan. Dalam beberapa karyanya, Saville menampilkan tubuh-tubuh perempuan obesitas sebagai objek dalam menafsirkan pembacaannya pada isu-isu seksualitas.

Karya Saville bercirikan realisme dan berukuran besar. Sapuan cat minyaknya tampak kuat, berat dan lugas, di beberapa bagian tampak sapuan  yang lebih tipis menciptakan kesan yang melodramatis. Salah satu karya Saville adalah “Closed Contact”, bersama dengan fotografer Glen Luchford, Saville menampilkan tubuhnya dalam keadaan telanjang. Saville bermain-main dengan menggunakan efek kaca yang menghasilkan penekanan pada bagian-bagian tertentu tubuhnya. Hasilnya, terlihat jelas alur kulit dan daging yang tercetak di atas kaca. Efek ini mencoba menggelitik mata kita untuk memahami tubuh lebih dekat hingga pada garis-garis dan pori-pori yang melekat pada tubuh. Dalam beberapa lukisannya, Saville melukiskan tubuh perempuan dengan daging yang berlemak, berlipat dan berselulit. Tubuhnya seringkali menjadi objek lukisannya. Meskipun dalam beberapa karyanya, Saville menggunakan model untuk mendapatkan gambaran tubuh yang tepat, diantaranya adalah “Passage”, dimana Saville berusaha mengeksplorasi tubuh yang menurutnya berada di antara lelaki dan perempuan.

Berbicara tentang estetika, siapapun yang menikmati karya saville akan menolak mengatakan bahwa karya tersebut memiliki nilai estetika yang tinggi. Saville memaparkan ide-ide feminis nya dengan cara yang ekstrem, dengan ukuran besar yang dipilih Saville dengan kesadaran untuk mengintimidasi persepsi siapapun yang melihat karyanya.Karya Saville memaksa penonton untuk mengobservasi makna di balik tampilan daging segar yang teronggok.Harus diakui bahwa bentuk-bentuk tubuh yang ditampilkan oleh Saville mengingatkan kita pada binatang-binatang di tempat penjagalan.Saville tampaknya menyadari bahwa para penikmat karyanya akan merasa jijik, namun justru rasa jijik inilah yang diharapkan saville mendekatkan karyanya dengan para penonton, yang kemudian membuat si penonton merasa harus mengamati makna di balik karya Saville.

Jenny Saville Lahir pada tahun 1970 di Cambridge, Inggris. Ketertarikan Saville pada feminisme dimulai ketika ia mengenyam pendidikan di Glasgow School of Art di Skotlandia pada tahun 1988. Disana hanya terdapat satu orang pengajar perempuan, inilah yang membuat Saville merasa bahwa perspektif perempuan dalam dunia seni masih sangat kurang. Saville mulai mempelajari feminisme melalui literatur-literatur ketika ia menerima beasiswa University of Cincinnati di Amerika. Amerika, dengan angka obesitas tertinggi di dunia menawarkan pemandangan yang memikat bagi Saville. Tubuh-tubuh perempuan yang obesitas di mal-mal atau jalanan menginspirasi karya-karyanya. Karirnya dimulai pada pameran kelulusannya, semua lukisan yang dipamerkan habis terjual, sebuah prestasi tidak biasa untuk seorang seniman berumur 22 tahun. Charles Saatchi, pemilik gallery Saatchi mulai melirik Saville dan menantangnya membuat karya lukisan untuk gallerinya.

Pada tahun 1994 Saville memutuskan kembali ke New York. Dengan bantuan Dr Barry Martin Weintraub, seorang dokter plastik di New York, Saville memulai penelitiannya mengenai tubuh obesitas. Selama berjam-jam setiap harinya Saville mengamati dan merekam proses operasi kecantikan dan lyposuction dengan kameranya. Melalui proses inilah Saville mempelajari anatomi tubuh. Tak hanya mempelajari tekhnik perubahan tubuh, ia juga mempelajari bentuk-bentuk tubuh yang ekstrem. Saville mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai tubuh manusia dan berbagai manipulasi yang bisa dilakukan pada tubuh dengan menggunakan pengobatan modern.

The Notion of Beauty

Ide saville mamakai tubuhnya sebagai objek adalah sebuah refleksi yang hanya bisa dilakukan melalui proses yang panjang. Usaha ini bisa jadi merupakan pencarian identitas dirinya dan memetakannya ke dalam kanvas, atau sebuah bahasa yang digunakan Saville untuk menyampaikan keinginannya untuk dilihat sebagai sebuah pribadi yang tak sekedar seonggok daging.  Saville berusaha memvisualisasikan tubuh sebagai perekam yang merekam sejarah perlakuan dunia pada perempuan : tercabik-cabik, trauma. Ekspresi feminisme yang dingin dan brutal. Ekspresi seperti inilah yang masih dibutuhkan dunia seni di Indonesia, ekspresi perlawanan tidak hanya pada sesuatu yang berbau politik praktis, namun juga perlawanan terhadap konstruksi-konstruksi yang telah mengebiri wilayah-wilayah personal. Ekspresi yang tidak sekedar menginspirasi namun juga membuat penonton berkonfrontasi dengan dirinya sendiri.

Gagasan ini tak hanya menyentil fantasi kaum lelaki mengenai kecantikan, namun juga menyentil kaum perempuan yang masih teralienasi dari tubuhnya sendiri. Berbagai tabu dan larangan telah membunuh seksualitas perempuan. Masih banyak perempuan yang tak berani menatap dirinya di depan cermin hanya karena merasa tak nyaman dengan bagian tubuh yang dianggapnya tak ideal. Berapa banyak perempuan yang bahkan merasa jijik dan tak nyaman menyentuh vaginanya. Bahkan mungkin setengah dari jumlah perempuan di dunia tak tahu bentuk dan rupa vagina mereka sendiri.

Saville tidak hanya memaksa penonton untuk mengobservasi, namun juga berkonfrontasi dengan realita. Saville sedemikian rupa mengeksekusi tubuh-tubuh dalam bentuk yang melawan gagasan estetika.Garis-garis kuasnya tampak begitu tajam, berlipat dan menyingkapkan rasa sakit yang nyata pada tubuh-tubuh tersebut. Eksekusinya atas tubuh perempuan obesitas adalah sebuah colekan pedas pada ilusi kecantikan yang menghipnotis banyak perempuan. Karya saville telah memaksa kita untuk kembali merenungkan persepsi kita mengenai tubuh perempuan.  Juga memaksa kita untuk mempertanyakan identitas diri dan tubuh yang pada kenyataannya tak pernah bersifat mutlak.  Saville menantang kita semua untuk kembali merenungkan makna kecantikan yang sesungguhnya.
Dalam wawancaranya dengan Elton John di Sicilia pada tahun 2003, Saville mengungkapkan bahwa pilihannya pada tubuh obesitas adalah upaya otoritas tubuhnya dengan menggunakan tubuhnya untuk sesuatu yang positif, terlepas apakah ia menyukainya atau tidak. Pernyataan ini menjawab rasa penasaran publik yang mengkaitkan karyanya dengan ketidaknyamanan Saville dengan tampilan tubuhnya yang obesitas. Setiap orang merasakan banyak hal atas tubuh mereka, pada satu titik kita semua  dapat membenci dan mencintai diri sendiri, tambahnya.

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement