Categorized | EVENT

TANDA MATA: “Artwork For Sale”

Posted on 12 April 2012 by jarakpandang

RURU Gallery mengawali rangkaian pameran reguler di tahun 2012 dengan mengundang sejumlah seniman muda, baik kolektif maupun individual, yang intens menggunakan merchandise sebagai medium. Dikuratori oleh Popo, street artist yang juga banyak memproduksi merchandise, didampingi Sigit Budi selaku kordinator program, TANDA MATA merayakan ekspresi artistik lewat benda yang dapat digunakan dalam keseharian.

Merchandise dipahami sebagai produk massal yang digunakan dalam aktivitas komersial. Google translate mengartikannya dengan “barang dagangan”. Kita ingat bagaimana NBA pernah mengeluarkan gantungan kunci dan seri kartu, paket mainan Happy Meal dari McDonald’s, payung-payung berlogo perusahaan, produk-produk resmi perhelatan olahraga seperti Piala Dunia dan Olimpiade, partai-partai politik dengan segala atributnya, hingga Majelis Rasulullah yang mencetak jaket bagi anggotanya.

Merchandise digunakan oleh berbagai institusi dan kelompok sebagai sarana promosi, distribusi identitas, sekaligus pernyataan eksistensi. Di sisi lain ia juga dilihat sebagai cinderamata, karena pada dirinya tersimpan identitas atas sesuatu. Katakanlah sebuah tempat; sajadah atau tasbih dari tanah suci, kaos I Love NY dari New York, talas dari Bogor, atau penanda sebuah peristiwa; pertunjukan, konser, dan sebagainya.

Pameran ini memperlihatkan aspek ekonomi dari sebuah benda seni. Bahkan lebih luas lagi, dalam aktivitas produksi seni rupa. TANDA MATA menggarisbawahi kenyataan bahwa produk seni rupa adalah barang dagangan (merchandise) itu sendiri. Ia diperjual-belikan, dikoleksi, seperti seorang fanatik mengoleksi kaos Hard Rock Cafe dari berbagai kota di dunia. Sebagai produk, benda-benda seni adalah investasi dan komoditas. Pada karyanya, seniman memberi nilai (signature) sehingga jadi berharga. Dalam konteks transaksi, maka sebuah lukisan tidak lagi berbeda dari kaos bersablon grup Kangen Band. Atau sebuah karya video tidak jauh berbeda dari VCD bajakan di pedagang kaki lima. Project ini mengundang para seniman yang berkarya dengan kesadaran tersebut.

Seluruh karya dalam pameran ini adalah objek-objek yang dapat digunakan dalam keseharian. Mulai dari kaos, singlet, gantungan kunci, mainan, pajangan, tas, bingkai, kartu pos, jam, toples obat, hingga poster. Ika Vantiani memperlihatkan konsistensinya dalam mengusung teknik kolase yang hadir lewat berbagai benda bermotif cantik. Jah Ipul aka Syaiful Ardianto juga menggunakan kolase pada karya cetaknya. Ipul memungut berbagai rujukan grafis, mulai dari ilustrasi buku tafsir mimpi, drawing pada sampul majalah Hidayah, hingga potongan komik Siksa Neraka.

Kiswinar bersama KPK (Komunitas Pecinta Kertas) menyulap kertas-kertas bekas menjadi berbagai benda menarik. Mulai dari kursi, topeng harimau, hingga sosok kuntilanak Jepang yang keluar dari layar televisi. Pemanfaatan benda-benda yang tidak terpakai juga dilakukan oleh Recycle Experience. Di tangan mereka, berbagai benda sehari-hari menjadi sesuatu yang lain dan menawarkan makna visual baru.

Cubatees menarik perhatian dengan visual yang sangat menggelitik pada kaos-kaosnya. Dengan melakukan jukstaposisi kata dan visual, karya-karya mereka menyodorkan humor yang ganjil. Gardu House menyediakan pakaian bersablon khusus bagi para peminat dan pelaku street art. PALU (Paguyuban Lapak Urban) menampilkan berbagai karya grafis dengan kualitas teknik cetak manual yang sangat baik. Sementara Kamengski hadir dengan kontur visual berdarah-darah dalam warna yang terang. Label desain ini juga menawarkan seri kartu pos, komik, buku saku, dan tempat kapsul.

Cubatees mencuri perhatian dengan strategi presentasi yang menarik. Lewat instalasi berupa sofa, kulkas, dan televisi, mereka menghadirkan sebuah kamar di mana terserak keping-keping VCD karaoke dangdut bajakan. Kaos-kaos tergeletak pada sofa atau digantung di dinding, bersama foto-foto wajah orang tak dikenal. Instalasi ruang menyatu dengan gagasan pada kaos-kaos Cubatees, yang memang menyuguhkan humor mentah dan berbahaya. Mengingatkan kita pada logika humor dalam seri komik oomleo.

TANDA MATA: Jakarta Merchandise Project berlangsung hingga 14 April 2012. Pada hari penutupan, akan diselenggarakan bazaar di mana para seniman dan pembeli saling bermain harga.

Ibnu Rizal

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement