Categorized | EVENT

Tanah Liat Jatiwangi dan Kemungkinan-Kemungkinan Lainnya

Posted on 03 November 2011 by jarakpandang

Pembukaan Pameran 'Menengok Ke Depan' - Sabtu 29/11/2011

Pembukaan Pameran 'Menengok Ke Depan' - Sabtu 29/11/2011

Menengok Ke Depan, merupakan sebuah pameran keramik yang diselenggarakan di Galeri JAF, Jatiwangi Art Factory. Pameran ini menghadirkan total 20 karya oleh 17 orang seniman asal Jatiwangi dan sekitarnya, diantaranya berasal dari Prodi Kriya FSRD sebagai bagian dari program pengabdian kepada masyarakat, serta dari Studio Balfad Keramik. Studio ini merupakan studio pertama di Jatiwangi yang mengolah tanah liat Jatiwangi menjadi  keramik hias. Pameran ini dibuka pada hari Sabtu malam, 29 Oktober 2011 dan akan terselenggara hingga tanggal  12 November 2011.

Dilihat dari sisi sejarah, keramik telah hadir di Indonesia sejak zaman pra sejarah. Hal ini terbukti dari penemuan-penemuan gerabah untuk kebutuhan sehari-hari. Kemudian berkembang lebih pesat lagi ketika bangsa asing, terutama China, membawa keramik-keramik porselen sebagai hadiah tanda kerjasama antar kerajaan. Perkembangan berikutnya ialah didirikannya Balai Besar Keramik dan pabrik keramik di Plered oleh pemerintah pendudukan Belanda, dengan penekanan pada eksplorasi bentuk dan bahan setingkat dengan keramik yang dibawa oleh bangsa China. Oleh karena itu, pengertian keramik dewasa ini lebih mengacu pada bentuk-bentuk keramik hias bakaran tinggi dan berglasir. Sedangkan gerabah sebagai potensi bahan dan bentuk yang berlimpah, seringkali tidak dianggap sebagai suatu potensi keramik. Dari proses pembakarannya, keramik dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu keramik bakaran tinggi, sedang dan rendah. Pameran ini mengangkat jenis keramik bakaran rendah dengan berbagai pendekatan dan eksplorasi yang menghasilkan keramik dalam kategori gerabah sampai bentuk keramik bakaran sedang (stoneware).

Menengok Ke Depan bisa diartikan sebagai upaya membuka pemahaman masyarakat terhadap fungsi tanah liat di Jatiwangi yang lebih dikenal dengan pemanfaatannya sebagai bahan baku genteng dan bata, juga dapat diolah menjadi sebuah karya keramik, baik itu sebagai kriya keramik ataupun seni keramik. Keduanya bisa kita lihat dalam pameran ini, karya kriya keramik yang lebih bersifat fungsional diantaranya ialah karya Iskandar Abeng, berjudul “Bubble Lamp”. Ia mempresentasikan enam buah lampu hias terbuat dari keramik, berbentuk ouval dan didominasi oleh warna pastel. Adapun Dian Widiawati menampilkan keramik dalam bentuk aksesoris berupa manik-manik dan macrame. Dian merupakan seorang pengajar di Prodi Kriya FSRD ITB dan pekriya tekstil yang banyak bereksplorasi dengan serat dan pewarna alam. Selain dua karya tersebut, sisanya lebih cenderung menampilkan keramik sebagai fine art. Perbedaan mendasarnya ialah, karya-karya ini lebih mengedepankan nilai ekspresi dibandingkan nilai fungsinya. Nilai-nilai ekpresi  inilah yang lebih ditonjolkan sehingga memancing interpretasi masyarakat untuk memahami karya mereka.

Karya Loranita Theo yang beraroma 'fine art'

Karya Loranita Theo yang beraroma 'fine art'

Salah satu karya yang mewakili keramik sebagai karya fine art ialah karya Loranita Theo, berjudul “Bleeu’e”. Melalui empat buah teko dan 5 buah gelas keramik berwarna dasar putih dengan motif bunga berwarna biru, Loranita Theo menekankan ekspresi seninya dalam tampilan bentuk karya tersebut. Tiga buah teko memperlihatkan sebuah proses meleleh pada bagian ujung tempat keluarnya air dan bibir gelas. Sedangkan teko terakhir memiliki corong tempat keluarnya air yang sangat banyak, namun kedua gelas di depannya tertutup dan masing-masing dikunci oleh gembok.  Untuk bentuk teko yang terakhir, kuantitas corong sangat mencolok, sebuah metafor dari sesuatu yang keluar (output) yang terlalu banyak, lebih dari biasanya dengan masukan (input) yang sama seperti biasanya. Adanya ketidakseimbangan antara input dan output ini dikombinasikan dengan kedua gelas yang tertutup, sehingga berapapun banyak outputnya, tidak akan berguna. Sementara itu, Agung M. Abdul  terlihat “meminjam” bentuk jam dalam karya Salvador Dali, The Persistence of Memory. Agung membuat sebuah jam dengan bahan keramik menempel pada sebuah ranting pohon, dibentuk sedemikian rupa sehingga memiliki kesan elastis serta memiliki jarum jam yang di bengkokkan tidak beraturan. Dengan judul  “Waktu Indonesia Banget”, karya ini jelas menggambarkan kebiasaan negatif masyarakat Indonesia yang sangat “elastis” dalam hal waktu yang diwakili oleh bentuk jam tersebut.

Agung M. Abdul  “meminjam” bentuk jam dalam karya Salvador Dali, The Persistence of Memory

Agung M. Abdul “meminjam” bentuk jam dalam karya Salvador Dali, The Persistence of Memory

Melalui bentuk-bentuk dan metafor yang dihadirkan dalam pameran ini, Jatiwangi Art Factory memperlihatkan kepada masyarakat Jatiwangi khususnya, bahwa gerabah pun dapat diolah menjadi keramik halus seperti pada keramik bakaran sedang atau tinggi. Dengan kata lain, terdapat kemungkinan-kemungkinan baru dalam pengolahan tanah liat di Jatiwangi yang selama ini masih di dominasi oleh produksi bata dan genteng. Sebuah upaya dan awal untuk melihat fungsi lain tanah liat di   masa kini dan depan.

 

*)   Asep Topan, alumnus Jurusan Seni Murni, Institut Kesenian Jakarta, peserta Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement