Tag Archive | "seni rupa modern"

Insting Perupa Muda

Tags: , ,

Insting Perupa Muda

Posted on 07 January 2013 by jarakpandang

 Insting : daya dorong utama pd manusia bagi kelangsungan hidupnya (seperti nafsu berahi, rasa takut, dorongan untuk berkompetisi); dorongan untuk secara tidak sadar bertindak yang tepat    -Kamus Besar Bahasa Indonesia-

10 perupa muda sedang berpameran di Taman Ismail Marzuki dari tanggal 5-13 Januari 2013. Mereka memang muda, statusnya masih mahasiswa. namun jangan meremehkan kemampuan berkaryanya. Dikuratori Angga Wijaya, juga masih mahasiswa, pameran bertajuk Animal Instinct ini mengetengahkan beragam karya dan gaya. Karya lukis, grafis, ilustrasi, instalasi, performance, serta video yang mengetengahkan konsep-objek dalam kaitannya dengan hewan.

Insting dalam pengertian ini dapat terkait dengan niat mereka untuk mengadakan pameran bersama ini. Menurut Angga, pameran ini dilakukan dengan ‘diam-diam’ tanpa bantuan dari pihak kampus maupun dosen. hal ini tentu saja dapat dilihat sebagai bentuk positif. semangat dan kemandirian mereka dalam menghelat sebuah pameran patut diacungi jempol. dipersiapkan sejak satu tahun sebelumnya, memperlihatkan kesungguhan mereka dalam pameran ini.

Sejatinya mereka adalah calon tenaga pendidik seni rupa. Dipersiapkan dengan sangat matang untuk menjadi pengajar. Oleh karena itu, fokus utama bukan pada penciptaan karya. Stigma menjadi guru ini rupanya terlalu melekat, sehingga nampak tidak ada kemungkinan untuk memilih jalur lain. Menjadi seniman profesional misalnya. Lewat pameran ini, mereka ingin menunjukkan kemampuan mereka sekaligus membuktikan eksistensi mereka sebelum nantinya masuk ke dalam dunia seni rupa yang lebih luas.

Secara teknis, karya-karya yang tampil dalam pameran ini tersaji dengan baik dan layak. Menurut sang kurator, setiap pameris diberikan kesempatan untuk menampilkan karya sesuai dengan ketertarikan mereka. Maka jangan heran, anda akan banyak menemukan gaya yang lazim berada di tembok jalanan sebagi karya street art semacam mural atau wheatpaste. Tengok karya Dhado Wacky Human Wild, berupa lukisan cat acrylic di atas permukaan kayu. Tiga sosok serupa manusia, memiliki tangan dan kaki namun berkepala seperti binatang dengan tengkorak di wajahnya. Mereka saling bergulat, seperti berkelahi, ingin saling serang, saling bunuh.

Human Wild - Dhado Wacky

Karya ini jelas-jelas menggunakan pekerti karya street art. Warna-warna kontras, karakter, serta pesan yang lugas. Dalam sekali lihat kita dapat mengerti bahwa Dhado berupaya menerjemahkan sifat liar manusia terhadap sesamanya, mungkin lebih liar dari binatang itu sendiri.

Dalam karya HOPE, Muchlas ‘Daftpig’ menampilkan tiga buah panel berukuran 90 x 120 cm. diletakkan dalam posisi berurutan, portrait-landscape-portrait. Ketiga panel itu menarasikan cerita tentang seekor babi dan (laki-laki?) pemiliknya. Babi ini —berwarna pink dan hanya punya ekspresi melotot— bermandikan cokelat, boncengan di sepeda dengan pemiliknya, dan terakhir menggunakan baju terusan; bergandengan tangan. Kita boleh berkhayal bahwa ini adalah harapan si babi, dari binatang yang haram dan selalu menjadi objek konsumsi, menjadi hewan yang dipelihara dan disayang. Atau sebaliknya, ini merupakan harapan dari Muchlas tentang hubungan antara manusia dengan hewan yang selama ini hanya bersifat memakan-dimakan?

HOPE

Kerja keras lebah dalam membangun koloninya, menjadi inspirasi bagi Moch. Hasrul untuk menciptakan karya instalasi-interaktif LED EAT BEE. kata LED memang menunjuk pada lampu kecil yang bercahaya terang itu. Hasrul membuat rangkaian listrik dari sepeda statis menuju susunan lampu LED yang dipasang di tembok. Pengunjung harus mengayuh pedal sepeda dengan cukup cepat agar bisa melihat lampu LED itu bersinar-sinar. Cahaya yang dihasilkan akan membentuk stilasi siluet dua ekot lebah yang sedang terbang. Karya ini cukup unik dan berbeda dari karya lain yang ada disini.

Namun sayang, proses eksekusi terutama pada bentuk stilasi lebah terbang kurang digarap dengan baik. Jika tidak melihat judul, pengunjung sulit menerka-nerka bentuk yang dihasilkan oleh cahaya tersebut. jarak pandang dari tempat sepeda ke dinding juga sepertinya perlu pertimbangan lagi.

Bentuk-bentuk imajinatif juga muncul dalam karya. M. Haryo Utomo, dalam THE P.O.P ia menghadirkan lukisan serupa unta dengan pemiuhan disana sini. Kita hanya bisa mengenali bentuk unta dari punuk yang terdapat di satu dua lukisan. Hewan imajiner itu punya dua kepala. Ada pula yang punya 5 kepala dengan leher berbentuk lambang peace kaum hippies. Haryo juga menggambar di banyak kanvas. 6 kanvas dengan ukuran berbeda-beda digunakan sebagai tempat berdiam, hewan imajinernya itu.

THE P.O.P

Rishma Riyasa, nampak juga tertarik dengan bentukan fantasi. Ia —dengan kemampuan menggambar yang baik— menggabungkan bagian-bagian antara hewan dengan manusia. SIMBIOSIS judul karyanya. Rishma seolah ingin membicarakan tentang hubungan (saling menguntungkan) antara manusia dan hewan di sekitarnya.

SIMBIOSIS

Terkait dengan hubungan manusia dan lingkungan sekitarnya, Adi Dhigel memberikan perlambangannya dalam Hujan di Kampung Semut. Menggunakan teknik cukil kayu dan hand colouring, karya berukuran besar ini menggambarkan suasana kegiatan kerja bakti di sebuah perkampungan. Tokoh-tokoh dalam karya ini, mirip-mirip dengan karakter Petruk buatan Tatang S. Dhigel dengan cerdik menyindir pola hubungan manusia dengan sesamanya, yang semakin sulit untuk berinteraksi.

Hujan di Kampung Semut.

Teknik pewarnaan dikerjakan dengan rapi dan telaten. Kita bisa merasakan keriuhan kerja bakti lewat berbagai macam gestur yang ditampilkan. Dhigel tentu saja ingin menyandingkan sifat manusia dengan semut yang selalu bekerja keras. Atau bisa jadi ini adalah harapan Dhigel, agar manusia bekerja lebih giat daripada semut yang bahkan masih bekerja saat hujan.

Beberapa karya jenaka ditampilan oleh Amy ‘simonyetbali’ dan Anita Bonit. Ami dengan ciri khas gambar komikalnya, sedang mempermainkan lukisan Michaelangelo ‘The Creation of Adam’. Lukisan di langit-langit Chapel Sistine yang menggambarkan kisah penciptaan manusia pertama di dunia itu diparodikan oleh Amy. Ia mengganti posisi Adam, yang sedang duduk bersandar dengan seekor kera. Kemudian, posisi ‘Tuhan’ digantikan oleh seorang laki-laki berkacamata hitam, bertelanjang dada, ditemani beberapa hewan bermata satu. Laki-laki itu sedang menyuapi si kera dengan pisang.

The Creation of Adam

Sementara ketertarikan Anita Bonit pada anjing nampak dalam karya DOGGIE STYLE. judul yang ambigu, apalgi jika tidak melihat karyanya secara langsung. Bonit menyajikan tujuh buah lingkaran kain dengan ukuran bervariasi. Setiap bagian tengah kain tersebut Bonit menampilkan cetak saring berbentuk anjing dengan pose akrobatik. Dari sini kita baru benar-benar paham Bonit memang menampilkan anjing yang bergaya.

DOGGIE STYLE

Daniel Ferryansyah memberikan instingnya sebagai perupa dalam melukis karya INSTING dan NEGATIVE INSTINCT. Daniel mungkin satu-satunya perupa yang tidak menggambarkan objek binatang maupun judul yang berkaitan dengan binatang. bagi Daniel, insting yang ia maksud adalah sesuatu yang sifatnya spontan dan tidak direncanakan. Maka tidak heran jika kemudian ia menmapilkan karya yang murni lahir dari instingnya untuk berkarya.

INSTING dan NEGATIVE INSTINCT.

Satu-satunya karya non-dua dimensi yang hadir dalam pameran ini adalah aksi performans dari Riezky Ponga. Karya berjudul INTERAKSI ini menceritakan tentang proses percampuran yang saling melengkapi. Ponga melambangkannya dengan menggunakan es campur. Susunan mangkuk berbentuk segitiga dilengkapi dengan lilin di tengahnya. Tiap mangkuk itu dihubungkan dengan seutas tali, yang berujung pada mesin serutan es. Ponga memulai aksinya dengan menyerut batu es; menaruh ke dalam mangkuk; mencampurkan sirup di atasnya; menyalakan lilin. Proses itu dia lakukan berulang-ulang hingga seluruh mangkuk terisi es, dan lilinnya menyala. Ponga seolah sedang meniru pola interaksi dalam hidup manusia. Kita bertemu, bercampur, saling berinteraksi dan berhubungan.

INTERAKSI

Proses kerja kurator juga terbilang cukup baik. Tata letak karya, cahaya, serta pemanfaatan ruang pameran dilakukan dengan maksimal. Hanya saja sedikit kelemahan pameran ini ada pada penerjemahan tema yang seakan-akan menjadi terlalu eksplisit. Tema yang disuguhkan seolah ditelan dan diterjemahkan begitu saja; tidak ada konteks yang lebih luas yang disinggung dalam karya. Kurator nampaknya mempunyai pekerjaan yang mesti dibereskan untuk mendorong teman-temannya menciptakan karya yang lebih berani masuk ke dalam konsep pemikiran dan diolah secara matang.

Insting mendorong manusia untuk secara tidak sadar melakukan hal yang dianggap benar. Maka kita boleh berharap lewat pameran ini mereka tidak lagi sekedar mengikuti insting. Namun mampu berperan secara sadar dan aktif sebagai perupa yang tajam untuk dapat mengenali masalah di lingkungan sekitar, tajam untuk menyampaikan konsep-konsep dengan lugas ke dalam tiap karya mereka dan tajam untuk menciptakan perubahan dalam seni rupa Indonesia. Sekali lagi, selamat!

* tulisan oleh Leonhard Bartolomeus foto oleh Angga Wijaya

*)Keduanya adalah kontributor jarakpandang.net, peserta Workshop Penulisan ruangrupa Angkatan V.

Comments (0)

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Tags: , , ,

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Posted on 18 November 2012 by jarakpandang

Oleh: Asep Topan

Identitas, sebuah kata yang saya pikir tepat untuk melihat isu besar yang diangkat oleh Saleh Husein dalam pameran tunggal pertamanya ini. Sebuah hasil dari pencarian asal-usul keluarganya yang berlatar belakang etnis Arab. Saleh yang dilahirkan di Jeddah pada 1982 dari keturunan Arab-Jawa, menempuh pendidikan akademisnya di jurusan seni lukis Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Sebagai seniman, ia banyak terlibat dalam berbagai perhelatan seni rupa, seperti pada Jakarta Biennale XIII 2009: ARENA di Jakarta, serta Occupying Space: ASEAN Performance Art Event  di Galeri Nasional Indonesia; selain juga dikenal sebagai salah satu gitaris grup musik White Shoes and The Couples Company serta The Adams. Pameran dengan tajuk Riwayat Saudagar ini terselenggara mulai 20 Oktober hingga 2 November 2012, di RURU Gallery. Saleh bukanlah seniman sekaligus musisi pertama yang berpameran tunggal di sini. Sebelumnya, terdapat beberapa nama yang pernah menghelat karya-karya visualnya di RURU Gallery: Jimi Multahzam pada pameran JIMI! JIMI!, Aprilia Apsari dengan Rayuan Pulau Kelapa serta pameran tunggal Henry Foundation yang bertajuk Copy Paste.

Pada pameran ini, pengunjung sangat dimudahkan dengan tata letak pameran yang sangat baik. Saleh tidak menampilkan karya yang terlalu banyak, tidak ada instalasi berlebihan. Semua tertata rapih, bukan hanya mempertimbangkan keseimbangan antara satu karya dan lainnya: ia mempertimbangkan vista, kenyamanan pengunjung dalam melihat karya. Dalam Seri karya Spread, dibutuhkan sekurang-kurangnya jarak 4 meter untuk melihat karya ini dengan nyaman. Karakter goresan charcoal  yang kasar akan menjadi lebih halus, terkaburkan oleh jarak. Ini penting, setidaknya ketika retina mata kita menangkap karakter wajah pengantin wanita yang halus. Karya ini menampilkan potret pernikahan dirinya, saudara serta kerabat. Menggambarkan pencampuran etnis Arab dengan pribumi melalui pernikahan. Begitu pun pada seri Identification 1-10 yang berukuran lebih kecil, jarak yang dibutuhkan pun lebih dekat. Selain itu, Ale menggambarkan lebih rinci dengan latar belakang pada hampir setiap karya kanvas bulat berdiameter 20 cm itu. Inilah juga yang menjadi pembeda karya ini dengan karya-karya lainnya yang tidak memiliki latar: berupa figur, dengan rekaman ruang tak tentu. Identification, digambarkan dengan pelbagai citraan dari benda seperti lampu, tenda, tubuh serta lanskap. Setiap karya tidak berdiri sendiri, sangat terlihat ada kesan bahwa Saleh ingin memperlihatkan proses. Ada awal, ada akhir. Idealnya, karya ini dapat dilihat berurutan dari kanvas paling kiri. Ini merupakan cerminan tradisi membaca di Indonesia yang bermula dari arah kiri, ke kanan. Tentu beda jika kita membandingkan dengan tradisi membaca tulisan Arab, misalnya. Tentu saja sangat penting, karena ini akan mempengaruhi interpretasi apresiator. Lain hal jika setiap karya pada seri ini memang berdiri sendiri, tidak berupa cerita yang saling berkaitan satu dan lainnya.

Pada seri Journey yang berjumlah empat karya, Ale menampilkan gambaran dari kapal uap pengangkut imigran dari Arab menuju Indonesia, seperti yang diriwayatkan dalam pameran ini. Empat lukisan fotografis, dengan penyuntingan sederhana yang menampilkan tumpukan-tumpukan warna datar –hampir tanpa gradasi– membentuk keempat kapal tersebut di atas lautan. Warna lebih gelap digunakan untuk melukiskan kapal uap yang menjadi obyek utama pada seri ini. Pertanyaannya ialah, kenapa harus dibuat empat karya yang hampir mirip? Hanya letak horison dan sudut pandang penggambaran serta warna yang menjadi pembeda. Itu pun tidak menguatkkan definisi journey seperti yang tertera pada judulnya. Ada baiknya jika kita melihat karya ini secara keseluruhan, keempatnya sekaligus. Mungkin, kita tidak akan mendapatkan keterangan yang jelas apalagi rinci mengenai perjalanan yang Saleh maksudkan, akan tetapi dari sini terlihat jelas: kekuatan karya ini terletak pada komposisi dan paduan warna halus yang memanjakan mata kita, enak dilihat. Maksud saya, pada karya ini pertimbangan estetis terasa lebih dominan dbandingkan pertimbangan konseptual, ketika si seniman memproduksi karya ini.

Pada Genetic Marker, Saleh menggambarkan genealogi atu garis keturunan ia dan keluarganya. Pohon keluarga digambarkan melalui instalasi sederhana pada salah satu bagian tembok RURU gallery, berujung pada sebuah nama bertuliskan Muhammad. Saleh sedikit mengecoh pemahaman kita yang, jika dengan cepat berkesimpulan akan menyangka bahwa ia merupakan keturunan Nabi Muhammad. Perhatikan satu-demi satu nama yang tertera dalam genealogi tersebut, maka kita akan menemukan kejanggalan: Saleh menuliskan nama wanita dalam genealogi tersebut. Padahal seperti yang ia ungkapkan, penulisan nama seorang perempuan pada garis keturunan etnis Arab tidak diperbolehkan. Saleh tidak mengindahkannya. Ini secara tidak langsung merupakan kritik halus terhadap budaya patriarki yang kita lihat di sana. Sekaligus memperlihatkan paradoks ketika semakin marak orang mengaku keturunan Nabi Muhammad, padahal sejatinya Nabi Muhammad sendiri tidak memiliki seorang anak laki-laki. Bukankah itu berarti keturunannya telah selesai?

***

Tidak ada eksplorasi medium yang mengejutkan dalam pameran ini. Keterampilan menggambar senimannya sangat terlihat pada guratan charcoal, akrilik di atas kanvas serta mural di tembok dan lantai galeri yang menggambarkan peta jalur yang dilewati leluhur Saleh sebelum ke Indonesia: Arab – India – Indonesia. Foto-foto dihadirkan sebagai rekaman memori masa lalu, bagi diri sendiri, serta leluhurnya. Sesuatu yang wajar saya pikir, karena pameran berbasis riset ini terlahir dari tumpukan data yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah karya bahkan pameran. Pilihan-pilihan teknis yang dihadirkan berdasarkan kebutuhan senimannya dalam mengolah data hasil riset tersebut. Sebuah karya video berjudul Brief History diletakan di pojok ruangan yang lebih gamblang dalam menjelaskan Saleh dan leluhurnya. Ada kejanggalan di sini, ketika semua yang kita lihat dalam video tersebut menjelaskan semuanya. Sekalipun tidak melihat karya-karya Saleh yang lainnya, kita bisa dengan mudah mengetahui apa yang ia ceritakan dengan karyanya. Interpretasi yang dibangun oleh pikiran kita terhadap karya-karya lain (selain video tersebut) mulai terusik. Meskipun tidak seutuhnya, tentu saja.

Pencarian identitas dan menampilkannya ke dalam karya seni, bukan pertama kalinya terjadi di ranah seni rupa Indonesia. Hal ini bermula dari pertanyaan sederhana tentang siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita dan mengapa kita berada di sini. Sebelumnya, FX Harsono persis melakukannya dengan sebuah pameran bertajuk The Erased Time pada penghujung 2009 lalu, di galeri Nasional Indonesia. Kesamaan dalam penyelenggaraan pameran seperti ini ialah: semua karya yang ditampilkan bukan hanya menampilkan keterampilan artistik sang seniman, mereka juga mengharuskan diri melakukan riset sebelum karya-karyanya dibuat. Permasalahan yang diangkat begitu personal, menyangkut sejarah dan budaya tentunya. Saleh menempatkan ia sendiri dan identitasnya sebagai subjek utama dalam pameran ini. Akan tetapi tidak berarti karya-karyanya bersifat subyektif, justru sebaliknya, dengan riset yang ia lakukan pameran ini menarik kita pada pemahaman yang lebih luas. Bukan hanya mengenai sejarah sebuah etnis, klan atau seorang Saleh Husein, pameran ini memperlihatkan kita bagaimana negara ini terbentuk dari sebuah keberagaman. Pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan, merangsang kita mencari tahu lebih banyak perihal kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebelumnya. Melalui Riwayat Saudagar ini, pesan penting dari Saleh Husein sangat jelas, sebelum mencari tahu mengenai sejarah dunia atau orang lain, akan lebih baik jika kita mengetahui sejarah diri kita sendiri. Itulah yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan “sederhana” di atas: siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita serta mengapa kita berada di sini? Dan Saleh memaksa kita menanyakannya juga pada diri kita sendiri.

Comments (0)

Patung Pancoran Edhi Sunarso

Tags: , , , , ,

Monumen Kota: Identitas dan Perekam Sejarah (Catatan Pameran Tunggal Edhi Sunarso)

Posted on 23 August 2010 by jarakpandang

Oleh Christine Franciska

Siapa yang membuat patung Selamat Datang? Atau patung Pancoran yang menjulang lengkung yang kini diapit oleh dua jalan tol fly over? Juga patung Pembebasan Irian Barat yang berteriak merdeka di depan Lapangan Banteng? Tak banyak orang tahu bahwa di balik karya-karya megah itu, ada nama Edhi Sunarso, seorang pematung sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia pada akhir 1940-an. Patung-patungnya melegenda dan menjadi ikon kota Jakarta, baik sebagai perekam sejarah, juga bukti pencapaian besar dalam seni patung modern Indonesia. Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement