Tag Archive | "RURU Gallery"

Seni Suvenir dan Suvenir Seni

Tags: , , ,

Seni Suvenir dan Suvenir Seni

Posted on 16 April 2012 by jarakpandang

Pameran yang menghadirkan pelbagai suvenir dari beragam medium. Ada kaus, gantungan kunci, pin, dan pembatas buku. Sekadar merupakan tanda mata?

 

Kaus oblong putih itu bertuliskan “Bruno Mars”. Dalam kondisi normal, gambar yang terpampang di kaus tersebut seharusnya wajah Bruno Mars, si penyanyi ganteng asal Amerika Serikat. Tapi, alih-alih memajang foto pelantun tembang Just The Way You Are, itu si desainer kaus memilih memasang gambar anjing dan Planet Mars. Bila kita memperhitungkan bahwa banyak sekali anjing yang dinamai Bruno, maka gambar anjing dan Planet Mars itu memang bisa dibaca sebagai “Bruno Mars”.

Jail? Iya. Tapi, itu belum seberapa. Bandingkan dengan kaus hitam bertuliskan “Black Sabbath”, sebuah grup band asal Inggris yang banyak dianggap sebagai pemula aliran heavy metal. Ketimbang memasang wajah Ozzy Osbourne, vokalis Black Sabbath, si desainer memilih memajang wajah Ozy Syahputra, pelawak Indonesia yang melambung karena perannya sebagai hantu banci dalam film Si Manis Jembatan Ancol. Apa hubungan Ozzy Osbourne dengan Ozy Syahputra? Jawab saja sendiri.

Menyandingkan Ozzy Osbourne dengan Ozy Syahputra itu lucu, sementara membandingkan Bruno Mars dengan anjing dan Planet Mars itu sedikit kasar. Tapi mau bagaimana lagi. Si desainer dua kaus itu, sebuah kelompok seniman bernama Cubatees, memang gemar akan humor gelap yang sarkastik dan sedikit ngawur. Coba saja buka blog kelompok asal Bekasi, Jawa Barat, ini, Anda akan menemukan tagline “Hanya tuhan Yang Tahu, kalo kami sih tempe”.

Cubatees adalah kelompok yang banyak berkarya dalam medium kaus. Mereka menjadikan kaus sebagai alat ekspresi, sekaligus menjualnya secara komersial. Sebagian kaus karya kelompok ini dipamerkan dalam pameran “Tanda Mata: Jakarta Merchandise Project”, yang digelar di RuRu Gallery, Tebet, Jakarta Selatan, pada 30 Maret-14 April.

Penyelenggara pameran ini adalah ruangrupa, kelompok seniman asal Jakarta, sementara kuratornya adalah Riyan Riyadi alias Popo, seorang street artist. Selain Cubatees, ada tujuh seniman lainnya, baik individu maupun kelompok, yang ikut dalam pameran ini. Mereka adalah Recycle Experince, Jah Ipul, Gardu House, Kamengski, Ika Vantiani, Komunitas Pecinta Kertas, dan Paguyuban Lapak Urban.

“Tanda Mata” bukanlah pameran karya seni biasa. Tak ada lukisan, patung, atau instalasi dalam pameran ini, seperti dalam pameran seni rupa yang lumrah. Yang ada justru gantungan kunci, kaus, poster, atau kartu pos. Ya, ini memang pameran merchandise, alias suvenir. Tapi, suvenir yang dipajang dalam pameran ini, mau tak mau, memang berkait dengan dunia seni.

 

Suvenir-suvenir dalam pameran ini bisa dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah merchandise yang merupakan artist merchandise. Kita tahu, seperti halnya kelompok musik, seniman-seniman di Jakarta, terutama yang bergerak dalam dunia street art, banyak yang memproduksi suvenir yang berkaitan dengan diri dan karya mereka.

Suvenir tersebut berupa kaus, gantungan kunci, pin, dan lain sebagainya. Inilah yang disebut sebagai artist merchandise. Suvenir para seniman ini bukanlah karya seni, tapi sekadar produk komersial yang diproduksi terbatas sebagai bagian dari promosi mereka –mirip dengan fungsi merchandise pada umumnya.

Kelompok kedua adalah merchandise yang diproduksi sebagai karya seni. Pada kelompok ini, merchandise menjadi medium seni, bukan lagi sekadar alat promosi dari sebuah kelompok seniman. Selain seniman yang memproduksi merchandise sebagai bagian dari promosi, memang ada seniman yang berkarya dalam medium merchandise.

Cubatees, misalnya, merupakan kelompok yang menjadikan kaus sebagai medium berkesenian, selain tentu saja sebagai produk komersial. Demikian pula dengan Jah Ipul, Recycle Experince, Komunitas Pecinta Kertas, Ika Vantiani, atau Paguyuban Lapak Urban. Sementara Gardu House memproduksi kaus sebagai merchandise.

Gardu House merupakan kelompok yang didirikan para street artist sehingga karya utama dari para pendiri kelompok ini bukanlah kaus, melainkan grafiti atau mural di tembok-tembok jalanan. Bagi Gardu House, kaus atau pin hanyalah suvenir, meski –kalau mau bergenit-genit– benda-benda itu bisa dianggap sebagai karya seni pula.

Praktek yang hampir sama dilakukan Kamengski, sebuah brand clothing yang berhasrat menampilkan karya seniman-seniman muda di Indonesia dalam kaus-kaus yang mereka produksi secara terbatas.

Dari sisi medium, pameran “Tanda Mata” sangat menarik karena menampilkan pelbagai merchandise dari macam-macam bahan. Komunitas Pecinta Kertas, misalnya, memproduksi pelbagai suvenir dari bahan kertas. Ada topeng, gantungan kunci, boneka, gelang, dan bahkan sepatu. Tentu saja, benda-benda itu dibentuk dari kertas yang sudah diolah menjadi bubur kertas.

Yang tak kalah menarik adalah ide membuat block note dari kertas bekas. Ada block note yang dibuat dari kertas yang sudah berisi tulisan sehingga hanya satu halaman dalam tiap lembar kertas di block note itu yang masih bisa dipakai untuk menulis.

Kelompok Recycle Experince membuat macam-macam suvenir dengan barang-barang bekas yang mereka temukan sehari-sehari. Dari segi rupa, karya-karya mereka, yang sebagian besar berupa boneka dan gantungan kunci, kebanyakan berupa karakter robotik yang dinamai dengan sebutan “Character Robotic Imagination”.

 

Ika Vantiani juga banyak memanfaatkan barang bekas yang masih bisa dipakai dengan trendi. Ika menampilkan barang-barang handmade berupa bantal, pembatas buku, dan dompet dengan teknik kolase.

Yang paling menarik dalam pameran ini adalah karya Syaiful Ardianto alias Jah Ipul. Karya-karyanya berupa kartu pos, komik, poster, dan lain sebagainya. Yang unik, Ipul memanfaatkan potongan-potongan dari berbagai teks, seperti potongan berita koran kuning atau komik-komik lama yang dipelesetkan teksnya.

Salah satunya, Ipul mengolasekan potongan kisah dari buku-buku bergambar yang bercerita soal siksa neraka. Beberapa tahun lampau, buku-buku macam itu memang sangat marak dan menjadi salah satu barang dagangan yang laris dijajakan di lapak-lapak buku berukuran kecil. Dari sono-nya, isi buku itu memang aneh dan mengundang tawa sehingga ketika Ipul menjadikan potongan gambar dari buku itu sebagai kartu pos, kita berhak untuk tertawa.

Tapi, ya, memang berhenti pada tawa. Sebab, karya-karya merchandise ini memang tak ditujukan buat memancing perenungan lebih jauh soal apa pun –maksud yang mungkin terkandung dalam lukisan atau karya rupa lain. Akhirnya, suvenir memang hanya akan jadi suvenir dan wajar bila dalam hari terakhir pameran ini para pengunjung bisa membeli berbagai merchandise yang dipajang dalam pameran ini lalu menyimpannya sebagai tanda mata, bukan karya seni.

 

Haris Firdaus

*) Ulasan ini telah dimuat di Majalah GATRA, edisi 12-18 April 2012

Comments (0)

TANDA MATA: “Artwork For Sale”

Tags: , , ,

TANDA MATA: “Artwork For Sale”

Posted on 12 April 2012 by jarakpandang

RURU Gallery mengawali rangkaian pameran reguler di tahun 2012 dengan mengundang sejumlah seniman muda, baik kolektif maupun individual, yang intens menggunakan merchandise sebagai medium. Dikuratori oleh Popo, street artist yang juga banyak memproduksi merchandise, didampingi Sigit Budi selaku kordinator program, TANDA MATA merayakan ekspresi artistik lewat benda yang dapat digunakan dalam keseharian.

Merchandise dipahami sebagai produk massal yang digunakan dalam aktivitas komersial. Google translate mengartikannya dengan “barang dagangan”. Kita ingat bagaimana NBA pernah mengeluarkan gantungan kunci dan seri kartu, paket mainan Happy Meal dari McDonald’s, payung-payung berlogo perusahaan, produk-produk resmi perhelatan olahraga seperti Piala Dunia dan Olimpiade, partai-partai politik dengan segala atributnya, hingga Majelis Rasulullah yang mencetak jaket bagi anggotanya.

Merchandise digunakan oleh berbagai institusi dan kelompok sebagai sarana promosi, distribusi identitas, sekaligus pernyataan eksistensi. Di sisi lain ia juga dilihat sebagai cinderamata, karena pada dirinya tersimpan identitas atas sesuatu. Katakanlah sebuah tempat; sajadah atau tasbih dari tanah suci, kaos I Love NY dari New York, talas dari Bogor, atau penanda sebuah peristiwa; pertunjukan, konser, dan sebagainya.

Pameran ini memperlihatkan aspek ekonomi dari sebuah benda seni. Bahkan lebih luas lagi, dalam aktivitas produksi seni rupa. TANDA MATA menggarisbawahi kenyataan bahwa produk seni rupa adalah barang dagangan (merchandise) itu sendiri. Ia diperjual-belikan, dikoleksi, seperti seorang fanatik mengoleksi kaos Hard Rock Cafe dari berbagai kota di dunia. Sebagai produk, benda-benda seni adalah investasi dan komoditas. Pada karyanya, seniman memberi nilai (signature) sehingga jadi berharga. Dalam konteks transaksi, maka sebuah lukisan tidak lagi berbeda dari kaos bersablon grup Kangen Band. Atau sebuah karya video tidak jauh berbeda dari VCD bajakan di pedagang kaki lima. Project ini mengundang para seniman yang berkarya dengan kesadaran tersebut.

Seluruh karya dalam pameran ini adalah objek-objek yang dapat digunakan dalam keseharian. Mulai dari kaos, singlet, gantungan kunci, mainan, pajangan, tas, bingkai, kartu pos, jam, toples obat, hingga poster. Ika Vantiani memperlihatkan konsistensinya dalam mengusung teknik kolase yang hadir lewat berbagai benda bermotif cantik. Jah Ipul aka Syaiful Ardianto juga menggunakan kolase pada karya cetaknya. Ipul memungut berbagai rujukan grafis, mulai dari ilustrasi buku tafsir mimpi, drawing pada sampul majalah Hidayah, hingga potongan komik Siksa Neraka.

Kiswinar bersama KPK (Komunitas Pecinta Kertas) menyulap kertas-kertas bekas menjadi berbagai benda menarik. Mulai dari kursi, topeng harimau, hingga sosok kuntilanak Jepang yang keluar dari layar televisi. Pemanfaatan benda-benda yang tidak terpakai juga dilakukan oleh Recycle Experience. Di tangan mereka, berbagai benda sehari-hari menjadi sesuatu yang lain dan menawarkan makna visual baru.

Cubatees menarik perhatian dengan visual yang sangat menggelitik pada kaos-kaosnya. Dengan melakukan jukstaposisi kata dan visual, karya-karya mereka menyodorkan humor yang ganjil. Gardu House menyediakan pakaian bersablon khusus bagi para peminat dan pelaku street art. PALU (Paguyuban Lapak Urban) menampilkan berbagai karya grafis dengan kualitas teknik cetak manual yang sangat baik. Sementara Kamengski hadir dengan kontur visual berdarah-darah dalam warna yang terang. Label desain ini juga menawarkan seri kartu pos, komik, buku saku, dan tempat kapsul.

Cubatees mencuri perhatian dengan strategi presentasi yang menarik. Lewat instalasi berupa sofa, kulkas, dan televisi, mereka menghadirkan sebuah kamar di mana terserak keping-keping VCD karaoke dangdut bajakan. Kaos-kaos tergeletak pada sofa atau digantung di dinding, bersama foto-foto wajah orang tak dikenal. Instalasi ruang menyatu dengan gagasan pada kaos-kaos Cubatees, yang memang menyuguhkan humor mentah dan berbahaya. Mengingatkan kita pada logika humor dalam seri komik oomleo.

TANDA MATA: Jakarta Merchandise Project berlangsung hingga 14 April 2012. Pada hari penutupan, akan diselenggarakan bazaar di mana para seniman dan pembeli saling bermain harga.

Ibnu Rizal

Comments (0)

Undangan Diskusi: UNDERDEVELOPED – Reinaart Vanhoe

Tags: , , ,

Undangan Diskusi: UNDERDEVELOPED – Reinaart Vanhoe

Posted on 16 October 2011 by jarakpandang

Sebagai rangkaian dari pameran video dan instalasi UNDERDEVELOPED yang sudah berlangsung di RURU Gallery sejak tanggal 7 Oktober 2011, ruangrupa mengundang untuk mengikuti diskusi yang akan membahas mengenai program tersebut. Continue Reading

Comments (0)

Keperluan : Beli yang tidak penting untuk diriku, beli yang penting untuk orang lain

Tags: , , , , ,

Toko Keperluan

Posted on 08 June 2010 by jarakpandang

Keperluan : Beli yang tidak penting untuk diriku, beli yang penting untuk orang lain

Oleh : Haris Firdaus*

Dari luar, toko seluas 5 x 4 meter itu tampak sederhana. Dindingnya yang terbuat dari triplek berlapis potongan kayu itu dibiarkan polos, tanpa cat sama sekali. Pintu kaca di depan toko itu terlihat kurang serasi dengan tubuh bangunan. Di samping kanan toko tersebut, tergantung sebuah neon box yang memancarkan cahaya putih.

Berlainan dengan suasana di luar yang kelihatan sederhana, kondisi di dalam toko terasa meriah. Deretan barang aneka macam dipajang dengan warna-warna mencolok. Ada sebuah bola sepak dan lampu badai tergantung di langit-langit, seikat bibit singkong tergeletak di samping pintu masuk, dan sejumlah kaos dan tas tergantung di dinding bagian belakang.

Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement