Tag Archive | "ruangrupa"

Catatan Hari I: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari I: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 18 June 2013 by jarakpandang

photo

Determinasi lingkungan boleh jadi yang menyebabkan sebagian besar kemalasan dan sikap santai masyarakat Indonesia yang berada dibawah iklim tropis. Seperti yang ‘sudah biasa’ terjadi pada acara-acara yang dilaksanakan di Indonesia, begitu pula pertemuan pertama Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual  2013 yang diadakan ruangrupa, di kota Jakarta yang nampaknya sudah sangat overload, keterlambatan menjadi hal yang dimaklumi. Waktu yang sudah ditentukan pada jam 10.00 WIB mundur hingga hampir satu setengah jam.

Tahun 2013 adalah tahun ke-6 diselenggarakannya workshop penulisan yang selalu diikuti dari berbagai penjuru Indonesia, tahun ini sendiri terdapat tiga pendaftar dari luar Jakarta yang diterima; Saya (Ahadi Bintang) dari Yogyakarta, Anggraini Herman dari Makassar, dan Ryan Sheehan Nababan dari Sukoharjo yang mengabarkan tidak bisa mengikuti workshop karena berhalangan. Dua di antara sepuluh peserta lainnya juga tidak datang, sehingga hari pertama hanya dihadiri delapan orang. Waktu yang mundur dari jadwal kami manfaatkan untuk  berkenalan dan ngobrol.

Terdapat hal yang cukup unik dari komposisi peserta workshop ini, ternyata ada dua peserta yang memiliki latar belakang pendidikan yang cukup kontras dengan seni rupa, yaitu Anggraini Herman yang baru saja lulus dari Jurusan Fisika, dan Hardiat Dani Satria, seorang mahasiswa Jurusan Kriminologi. Dengan latar belakang pendidikan yang beragam, hampir semuanya memiliki ekspektasi yang berbeda juga ketika mengikuti workshop ini, ada yang memang ingin menjadi jurnalis, membantu penulisan skripsi, atau ingin mencari pengalaman tentang seni (rupa) dan penulisannya lebih jauh.

Acara dimulai dengan perkenalan (kembali) secara formal yang dibuka oleh koordinator workshop yaitu Mirwan Andan dan Asep Topan yang juga alumni workshop penulisan tahun 2011. Setelah makan siang, kami disuguhkan dengan presentasi kegiatan-kegiatan ruangrupa yang sudah berdiri sejak tahun 2000, tentunya juga tentang Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual. Mirwan Andan menceritakan baik-buruk serta lebih-kurang dari workshop ini, setelah enam kali diadakan. Kebanyakan memang alumninya menjadi intens menulis.

*) Ahadi Bintang Mulyawan

Comments Off on Catatan Hari I: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Pengumuman Peserta Terpilih “Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual” Ruangrupa 2013

Tags: ,

Pengumuman Peserta Terpilih “Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual” Ruangrupa 2013

Posted on 11 June 2013 by jarakpandang

tulis

Berikut adalah nama-nama peserta yang terpilih untuk mengikuti Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2013:

  1. Ahadi Bintang Mulyawan (Yogyakarta)
  2. Anggraini Herman (Makassar)
  3. Annissa Ayu Maharani (Tangerang)
  4. Bellina Rosellini (Jakarta)
  5. Hardiat Dani Satria (Depok)
  6. Isyana Artharini (Jakarta)
  7. Jenni Anggita (Tangerang)
  8. Maria Josephina Bengan Making (Jakarta)
  9. Mochamad Fendy Alwi (Jakarta)
  10. Prathita Sedyapramana Putra (Jakarta)
  11. Ryan Sheehan Nababan (Sukoharjo)

Bagi yang namanya tercantum akan mendapat email dari ruangrupa, yang berisi detail mengenai workshop ini. Diharapkan untuk segera merespon email tersebut, sebagai konfirmasi bahwa Anda bersedia mengikuti workshop, sesuai dengan hal-hal yang telah disebutkan di dalamnya.

Comments (0)

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Tags: , , ,

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Posted on 18 November 2012 by jarakpandang

Oleh: Asep Topan

Identitas, sebuah kata yang saya pikir tepat untuk melihat isu besar yang diangkat oleh Saleh Husein dalam pameran tunggal pertamanya ini. Sebuah hasil dari pencarian asal-usul keluarganya yang berlatar belakang etnis Arab. Saleh yang dilahirkan di Jeddah pada 1982 dari keturunan Arab-Jawa, menempuh pendidikan akademisnya di jurusan seni lukis Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Sebagai seniman, ia banyak terlibat dalam berbagai perhelatan seni rupa, seperti pada Jakarta Biennale XIII 2009: ARENA di Jakarta, serta Occupying Space: ASEAN Performance Art Event  di Galeri Nasional Indonesia; selain juga dikenal sebagai salah satu gitaris grup musik White Shoes and The Couples Company serta The Adams. Pameran dengan tajuk Riwayat Saudagar ini terselenggara mulai 20 Oktober hingga 2 November 2012, di RURU Gallery. Saleh bukanlah seniman sekaligus musisi pertama yang berpameran tunggal di sini. Sebelumnya, terdapat beberapa nama yang pernah menghelat karya-karya visualnya di RURU Gallery: Jimi Multahzam pada pameran JIMI! JIMI!, Aprilia Apsari dengan Rayuan Pulau Kelapa serta pameran tunggal Henry Foundation yang bertajuk Copy Paste.

Pada pameran ini, pengunjung sangat dimudahkan dengan tata letak pameran yang sangat baik. Saleh tidak menampilkan karya yang terlalu banyak, tidak ada instalasi berlebihan. Semua tertata rapih, bukan hanya mempertimbangkan keseimbangan antara satu karya dan lainnya: ia mempertimbangkan vista, kenyamanan pengunjung dalam melihat karya. Dalam Seri karya Spread, dibutuhkan sekurang-kurangnya jarak 4 meter untuk melihat karya ini dengan nyaman. Karakter goresan charcoal  yang kasar akan menjadi lebih halus, terkaburkan oleh jarak. Ini penting, setidaknya ketika retina mata kita menangkap karakter wajah pengantin wanita yang halus. Karya ini menampilkan potret pernikahan dirinya, saudara serta kerabat. Menggambarkan pencampuran etnis Arab dengan pribumi melalui pernikahan. Begitu pun pada seri Identification 1-10 yang berukuran lebih kecil, jarak yang dibutuhkan pun lebih dekat. Selain itu, Ale menggambarkan lebih rinci dengan latar belakang pada hampir setiap karya kanvas bulat berdiameter 20 cm itu. Inilah juga yang menjadi pembeda karya ini dengan karya-karya lainnya yang tidak memiliki latar: berupa figur, dengan rekaman ruang tak tentu. Identification, digambarkan dengan pelbagai citraan dari benda seperti lampu, tenda, tubuh serta lanskap. Setiap karya tidak berdiri sendiri, sangat terlihat ada kesan bahwa Saleh ingin memperlihatkan proses. Ada awal, ada akhir. Idealnya, karya ini dapat dilihat berurutan dari kanvas paling kiri. Ini merupakan cerminan tradisi membaca di Indonesia yang bermula dari arah kiri, ke kanan. Tentu beda jika kita membandingkan dengan tradisi membaca tulisan Arab, misalnya. Tentu saja sangat penting, karena ini akan mempengaruhi interpretasi apresiator. Lain hal jika setiap karya pada seri ini memang berdiri sendiri, tidak berupa cerita yang saling berkaitan satu dan lainnya.

Pada seri Journey yang berjumlah empat karya, Ale menampilkan gambaran dari kapal uap pengangkut imigran dari Arab menuju Indonesia, seperti yang diriwayatkan dalam pameran ini. Empat lukisan fotografis, dengan penyuntingan sederhana yang menampilkan tumpukan-tumpukan warna datar –hampir tanpa gradasi– membentuk keempat kapal tersebut di atas lautan. Warna lebih gelap digunakan untuk melukiskan kapal uap yang menjadi obyek utama pada seri ini. Pertanyaannya ialah, kenapa harus dibuat empat karya yang hampir mirip? Hanya letak horison dan sudut pandang penggambaran serta warna yang menjadi pembeda. Itu pun tidak menguatkkan definisi journey seperti yang tertera pada judulnya. Ada baiknya jika kita melihat karya ini secara keseluruhan, keempatnya sekaligus. Mungkin, kita tidak akan mendapatkan keterangan yang jelas apalagi rinci mengenai perjalanan yang Saleh maksudkan, akan tetapi dari sini terlihat jelas: kekuatan karya ini terletak pada komposisi dan paduan warna halus yang memanjakan mata kita, enak dilihat. Maksud saya, pada karya ini pertimbangan estetis terasa lebih dominan dbandingkan pertimbangan konseptual, ketika si seniman memproduksi karya ini.

Pada Genetic Marker, Saleh menggambarkan genealogi atu garis keturunan ia dan keluarganya. Pohon keluarga digambarkan melalui instalasi sederhana pada salah satu bagian tembok RURU gallery, berujung pada sebuah nama bertuliskan Muhammad. Saleh sedikit mengecoh pemahaman kita yang, jika dengan cepat berkesimpulan akan menyangka bahwa ia merupakan keturunan Nabi Muhammad. Perhatikan satu-demi satu nama yang tertera dalam genealogi tersebut, maka kita akan menemukan kejanggalan: Saleh menuliskan nama wanita dalam genealogi tersebut. Padahal seperti yang ia ungkapkan, penulisan nama seorang perempuan pada garis keturunan etnis Arab tidak diperbolehkan. Saleh tidak mengindahkannya. Ini secara tidak langsung merupakan kritik halus terhadap budaya patriarki yang kita lihat di sana. Sekaligus memperlihatkan paradoks ketika semakin marak orang mengaku keturunan Nabi Muhammad, padahal sejatinya Nabi Muhammad sendiri tidak memiliki seorang anak laki-laki. Bukankah itu berarti keturunannya telah selesai?

***

Tidak ada eksplorasi medium yang mengejutkan dalam pameran ini. Keterampilan menggambar senimannya sangat terlihat pada guratan charcoal, akrilik di atas kanvas serta mural di tembok dan lantai galeri yang menggambarkan peta jalur yang dilewati leluhur Saleh sebelum ke Indonesia: Arab – India – Indonesia. Foto-foto dihadirkan sebagai rekaman memori masa lalu, bagi diri sendiri, serta leluhurnya. Sesuatu yang wajar saya pikir, karena pameran berbasis riset ini terlahir dari tumpukan data yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah karya bahkan pameran. Pilihan-pilihan teknis yang dihadirkan berdasarkan kebutuhan senimannya dalam mengolah data hasil riset tersebut. Sebuah karya video berjudul Brief History diletakan di pojok ruangan yang lebih gamblang dalam menjelaskan Saleh dan leluhurnya. Ada kejanggalan di sini, ketika semua yang kita lihat dalam video tersebut menjelaskan semuanya. Sekalipun tidak melihat karya-karya Saleh yang lainnya, kita bisa dengan mudah mengetahui apa yang ia ceritakan dengan karyanya. Interpretasi yang dibangun oleh pikiran kita terhadap karya-karya lain (selain video tersebut) mulai terusik. Meskipun tidak seutuhnya, tentu saja.

Pencarian identitas dan menampilkannya ke dalam karya seni, bukan pertama kalinya terjadi di ranah seni rupa Indonesia. Hal ini bermula dari pertanyaan sederhana tentang siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita dan mengapa kita berada di sini. Sebelumnya, FX Harsono persis melakukannya dengan sebuah pameran bertajuk The Erased Time pada penghujung 2009 lalu, di galeri Nasional Indonesia. Kesamaan dalam penyelenggaraan pameran seperti ini ialah: semua karya yang ditampilkan bukan hanya menampilkan keterampilan artistik sang seniman, mereka juga mengharuskan diri melakukan riset sebelum karya-karyanya dibuat. Permasalahan yang diangkat begitu personal, menyangkut sejarah dan budaya tentunya. Saleh menempatkan ia sendiri dan identitasnya sebagai subjek utama dalam pameran ini. Akan tetapi tidak berarti karya-karyanya bersifat subyektif, justru sebaliknya, dengan riset yang ia lakukan pameran ini menarik kita pada pemahaman yang lebih luas. Bukan hanya mengenai sejarah sebuah etnis, klan atau seorang Saleh Husein, pameran ini memperlihatkan kita bagaimana negara ini terbentuk dari sebuah keberagaman. Pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan, merangsang kita mencari tahu lebih banyak perihal kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebelumnya. Melalui Riwayat Saudagar ini, pesan penting dari Saleh Husein sangat jelas, sebelum mencari tahu mengenai sejarah dunia atau orang lain, akan lebih baik jika kita mengetahui sejarah diri kita sendiri. Itulah yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan “sederhana” di atas: siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita serta mengapa kita berada di sini? Dan Saleh memaksa kita menanyakannya juga pada diri kita sendiri.

Comments (0)

TOP COLLECTION #3: Fotografi dan Yang Sehari-hari

Tags: , ,

TOP COLLECTION #3: Fotografi dan Yang Sehari-hari

Posted on 13 August 2012 by jarakpandang

Saya menikmati pameran Top Collection #3 tidak dari permukaan. Melainkan melihatnya secara subtil sebagai alegori, juga refleksi atas perilaku sehari-hari.

Oleh: Natasha Gabriella Tontey*

21 Juli 2012 lalu saya menyempatkan diri hadir di pembukaan pameran fotografi yang diselenggarakan oleh ruangrupa. Ketika memarkir mobil di depan rumah di jalan Tebet Timur Dalam Raya No. 6 itu, alangkah terkejutnya saya disambut mahkluk gaib yang bergelantungan bawah pohon. Mahluk itu seperti mengajak saya menerka-nerka niat apa yang kali ini ingin disuguhkan ruangrupa. Makhluk yang menjadi ‘tambatan hati’ bagi mereka yang ada di malam pembukaan pameran itu hadir sebagai salah satu karya.

Top Collection adalah proyek fotografi yang mewadahi berbagai eksperimentasi dan pewacanaan terhadap praktik fotografi. Sebagaimana dikatakan oleh kurator pameran, Julia Sarisetiati, fotografi kali ini ditinjau sebagai medium penghasil citra yang semakin masif digunakan dalam keseharian untuk berbagai kepentingan. Apapun peristiwanya, dari yang penting hingga yang paling remeh, kini bisa dikonsumsi publik. Kali ini Top Collection masuk pada kali ketiga.

Sejujurnya cukup sulit memahami pameran ini dilihat dari kaca mata penikmat fotografi murni. Yang ingin disampaikan oleh ruangrupa melalui pameran kali ini adalah peranan fotografi yang kian berkembang sebegitu demokratisnya. Ketika kamera yang disebut Oscar Motuloh sebagai ‘jendela pengintai’ (hanya merekam sejauh mata kita memandang dan sejauh mana kita mau memandang) kini tidak berfungsi hanya sebatas itu. Aktivitas fotografi tidak hanya terjadi ketika rana terbuka, film atau sensor menangkap cahaya selama sepersekian detik, kemudian diikuti oleh proses pengolahan gambar. Lebih jauh, aktivitas fotografi juga hadir melalui pengumpulan foto-foto temuan yang diarsipkan, diberi pembacaan, kemudian diperkenalkan kembali sebagai suatu karya. Jelas, tidak ada praktik fotografi konvensional di sini. Alih-alih, inilah metode untuk melihat gejala-gejala fotografis yang berlaku di masyarakat. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah hilangnya kaidah-kaidah tradisional dari sebuah pameran foto membuat para peserta pameran ini menjadi juru foto? Apakah karya-karya yang ditampilkan di sini adalah karya fotografi?

Fotografi sendiri adalah penemuan penting setelah mesin cetak. Ia adalah salah satu revolusi dalam peradaban. Ia lahir sebagai teknologi yang diciptakan secara jenius untuk memproduksi realitas. Fotografi membekukan dunia secara singkat. Potongan-potongan peristiwa dalam sebuah gambar menjadi bukti atas terjadinya sesuatu. Sekejap fotografi masuk ke media massa. Kehadirannya disambut sebagai inspirasi besar. Sebagai perangkat dokumentasi. Tetapi medium ini terus berkembang lebih dari itu.

Mereka yang hadir di malam pembukaan mungkin ketakutan melihat foto kuntilanak yang dicetak di atas banner berukuran 250 x 80 cm yang digantung di bawah pohon di seberang RURU Gallery itu. Tetapi di saat yang sama kita menikmati rasa kaget itu. Di dalam galeri, karya ini dilanjutkan dengan kumpulan foto yang menangkap sosok hantu secara tak sengaja. Foto-foto mistis yang ditampilkan dalam format slide show pada layar LCD TV ini dilengkapi suara wawancara dengan orang-orang yang pernah terfoto dengan hantu. Inilah karya Reza Mustar berjudul Tampaknya Penampakan. Hantu, sebagai sosok yang dianggap membawa ancaman dan sumber kengerian, menjadi seperti buruan ketika orang berbondong-bondong heboh membicarakannya, bahkan mendokumentasikannya.

Seri Teman-teman Selebriti menceritakan pertemuan Agan Harahap dengan segelintir teman-teman ternamanya yang datang dari berbagai profesi. Di sini Agan memamerkan ‘realitas’ dirinya; mulai dari keakrabannya dengan 50 Cents, Muammar Qadhafi, Hassan Nasrallah, kisah cintanya dengan Sophie Ellis Bextor, Megan Fox, Stoya, hingga kolaborasi musiknya bersama Megawati Soekarnoputri. Foto-foto tersebut tampak nyata dan sangat bagus dari aspek pencahayaan. Mereka yang tidak mengetahui bahwa foto ini adalah karya Agan Harahap tidak akan mengira jika foto ini adalah hasil digital imaging. Di sini Agan secara satir melihat euforia masyarakat yang senang berfoto dengan artis-artis idola dan memamerkannya di linimasa media sosial. Hal ini terlihat dari ‘kesetaraan’ subjek, frame, dan sudut pandang dalam foto-fotonya.

Sejak adanya Facebook sifat kepemilikan foto semakin tidak terkontrol. Siapa saja dapat mengakses foto-foto yang sudah diunggah dan di-tag. Tidak ada larangan karena semua foto yang sudah masuk ke internet adalah milik publik. Reza Afisina mengumpulkan foto-foto performance dirinya serta foto bersama anaknya yang di-tag oleh kerabatnya. Asung menyusun kembali foto-foto itu seperti kolase dan mencetaknya di atas neon box. Terlihat secara sentimentil bahwa Reza Afisina tengah meng-highlight kejadian-kejadian penting dalam hidupnya, seperti kita meng-highlight posting-an yang ada di Facebook kita masing-masing untuk mendokumentasikan hal-hal kecil yang mungkin mudah terlupakan.

Nissal Nur Afryansyah menyediakan photobooth yang melibatkan pengunjung dalam memproduksi karyanya. Suatu interaksi yang mewadahi kebutuhan beropini dan berekspresi. Dengan webcam kita dapat melihat rekaman diri sendiri. Kita juga dapat menentukan bagaimana kita ingin direkam, kapanpun, di manapun. Terlihat jelas bahwa hadirnya photobooth di tengah ruang pamer secara tidak langsung memancing perilaku asli pengunjung. Di dalam galeri atau ruang pamer, tempat di mana tidak lazim bagi orang untuk berperilaku seenaknya, kebanyakan orang menjaga citra dengan “behave”. Tapi tidak di RURU Gallery di mana pengunjung pameran seketika antusias dan terpancing untuk berfoto-foto seorang diri maupun dengan teman di depan photobooth milik Nissal. Inilah satu-satunya karya dalam pameran ini yang paling erat unsur fotografinya karena masih melibatkan interaksi langsung dengan subjek terfoto (dalam hal ini membuat potret diri sendiri) dan masih memperlihatkan adanya aktivitas memencet tombol shutter.

ruangrupa, dengan segala kebrengsekannya, membawa kita untuk memaknai sebuah dunia baru melalui medium ini. Saya setuju dengan apa yang pernah dikatakan Firman Ichsan dalam suatu bengkel kerja fotografi; bahwa fotografi mempengaruhi pandangan seseorang, mengajak kita masuk ke dalam pemikiran si juru foto, tetapi kita memiliki keterbatasan sekaligus keleluasaan untuk membacanya, baik secara estetis, psikologis, maupun ideologis. Para seniman dalam proyek ini menawarkan pengertian fotografi yang tidak lagi terbatas pada hubungan antara juru foto dan subjek terfoto, bukan pula sekadar apa yang disebut dengan “melukis dengan cahaya”. Top Collection #3 memberikan sebuah definisi baru tentang fotografi. Sebuah pengalaman lain dalam menjelajahi ruang-ruang visual tercetak.

*) Natasha Gabriella Tontey lahir pada 1989. Belajar fotografi di Galeri Foto Jurnalistik Antara (2007) dan menyelesaikan pendidikan di jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan (2007-2011). Berpartisipasi dalam workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual di ruangrupa (2012). Ia pernah terlibat sebagai partisipan di pameran Mata Perempuan (Jakarta Biennale 2011).

Comments (1)

Catatan Performance Art Touring Bandung-Jakarta-Singapore

Tags: , , ,

Catatan Performance Art Touring Bandung-Jakarta-Singapore

Posted on 20 June 2012 by jarakpandang

Performance Art Touring yang dilaksanakan 28 Mei 2012 di RURU Gallery ruangrupa menampilkan 12 seniman performans dari tiga kota: Bandung, Jakarta, dan Singapura. Mereka adalah Kelvin Atmadibrata, Li Cassidy-Peet, Terry Wee, Vincent Chow, Deni Ramdani, Dylan Muhammadi, Intan Agustin, Reza Afisina, Peri Sandi Huizche, Riezky Hana Putra, Hauritsa, dan W. Christiawan.

Seni performans tidak mengandalkan susunan plot, dramaturgi, ritme, dan berbagai tehnik teatrikal lainnya, seperti opera, tari, paduan suara, konser, dan sebagainya. Performance art lebih merupakan sebuah karya reduksi dari berbagai hal (bentuk, faham, filosofi, teori, pemikiran) yang telah mapan. Ia banyak memecah dan mendobrak benteng-benteng dan puri agung paradigma lama hingga seringkali dicap sebagai karya anomali. Beberapa karya dalam Performance Art Touring Bandung-Jakarta-Singapore memberikan pengalaman artistik sehingga kita bisa berdialog, menggugat, dan memprotes lewat dimensi sosial yang lahir dari sejarah dan tubuh masing-masing.

Membaca Empat Tubuh Sosial

Riezky Hana Putra aka Ponggah, salah seorang seniman dari Rewind Art Community (Universitas Negeri Jakarta) membuka pertunjukan secara komunikatif kepada audiens. Melibatkan penonton dalam aksi performans adalah pendekatan yang sangat menarik dan memperluas batasan medium. Dalam seri ini, Ponggah terlebih dulu bertanya kepada para penonton apakah mereka mengenal satu sama lain. Kemudian satu per satu kepala mereka ditutup bakul nasi. Mereka seperti mengenakan topi. Masing-masing bakul dihubungkan oleh seutas tali. Relasi antar kepala ini kemudian memusat pada satu titik: kepala Ponggah sendiri. Pada performans ini Riezky menawarkan pandangan atas jejaring sosial media yang hadir di tengah masyarakat memiliki fungsi kontrol yang global untuk kepentingan kapitalis.

Reza Afisina aktif sebagai seniman performans dan visual. Reza tampil mengunakan sebuah kursi. Suasana begitu hening, namun gelora jiwa begitu bergemuruh. Dengan kecerdasan artistiknya, Asung menggunakan media “kursi” sebagai simbol “kekuasaan”. Reza mengeksplorasi tubuhnya dan memutar kursidari berbagai arah. Dalam performans ini, kursi tidak diperlakukan sebagaimana fungsinya. Di sini letak protes yang coba ditawarkan. Penguasa datang dan pergi, namun tidak pernah menggunakan kekuasaannya sesuai dengan fungsi yang wajar. Performans ini, secara langsung atau tidak, menawarkan gagasan kritis tentang praktik politik yang penuh disfungsi.

Terry Wee, seorang pelukis abstrak sekaligus seniman performans muda dari Singapura,  memasuki ruangan dengan membawa ember, koran, dan gelas besar transparan lengkap dengan sedotanya. Terry berdiri di tengah ruangan, secara perlahan membuka koran lalu memilih lembar demi lembar. Lembaran koran itu lalu dimasukkan ke dalam ember berisi air, seperti mencuci. Ia kemudian membungkus kepalanya dengan kantung yang juga terbuat dari lipatan koran, menyandarkan tubuhnya pada dinding, lalu menyalakan sebatang rokok. Setelah itu ia mendekati ember, mencuci dan memeras remahan koran yang basah dan lapuk, kemudian menghisap air perasannya melalui sedotan. Di sini Terry menyadari pengaruh media yang tiada hentinya. Mobilisasi media massa, baik cetak maupun elektronik, semakin tidak mengenal jarak dan waktu. Era globalisasi merayakan pertukaran informasi dan kebudayaan. Media massa memberik pengaruh signifikan terhadap perkembangan identitas suatu bangsa.

W. Christiawan, pengajar di STSI Bandung, menempuh Program Doktor (2010) di Kajian Budaya Universitas Padjadjaran. Ia telah mempresentasikan karya performansnya di beberapa negara, seperti Thailand, Jepang, dan Jerman. Ia juga dikenal sebagai salah satu inisiator berdirinya Asbestos Art Space di Bandung. Malam itu di ruangrupa, karya performans W. Christiawan menjadi penutup program Performance Art Touring. Christiawan memasuki ruangan dengan kostum celana pendek dan sepatu sport. Ia menyeret trolley berisi jeruk, seperti sedang berbelanja di pasar swalayan. Ia mendorong dan memutar trolley itu, lalu masuk ke dalamnya. Dari dalam kereta belanja, ia berusaha keluar melepaskan diri. Setelah itu, ia perlahan masuk ke bawah trolley, hening sejenak. Selebihnya adalah aksi membuka plastik yang membungkus jeruk-jeruk, memasang segel kemasan pada sepatu, dan upaya untuk keluar dari jeratan benda-benda itu. Di akhir performans, ia memeras segenggam jeruk, membiarkan sari-sarinya menetes ke dalam matanya. Perih. Christiawan menawarkan pandangannya tentang peta globalisasi dalam konteks ekonomi, kapitalisme, dan mitos imperialisme.

*) Rudi Hartono

 

Comments (0)

PENGUMUMAN PESERTA TERPILIH “WORKSHOP PENULISAN SENI RUPA DAN BUDAYA VISUAL” RUANGRUPA 2012

Tags: , ,

PENGUMUMAN PESERTA TERPILIH “WORKSHOP PENULISAN SENI RUPA DAN BUDAYA VISUAL” RUANGRUPA 2012

Posted on 16 June 2012 by jarakpandang

Berikut adalah nama-nama peserta yang terpilih untuk mengikuti Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2012.

  1. Robin Hartanto (JKT)
  2. Kadek Susanta (DPS)
  3. Michan Lestari (YK)
  4. Ayomi Amindoni (JKT)
  5. Angga Wijaya (JKT)
  6. Okky Madasari (JKT)
  7. Desy Budi Utami (JKT)
  8. Insan Praditya (JKT)
  9. Erry Araham (KL)
  10. Ellena Ekarehendy (JKT)
  11. Dhani Adisiwoyo (JMR)
  12. Natasha Gabriella Tontey (JKT)
  13. Tasya Anindita (JKT)

Comments (0)

Dibuka: Pendaftaran Workshop Penulisan Seni Rupa 2012

Tags: , , ,

Dibuka: Pendaftaran Workshop Penulisan Seni Rupa 2012

Posted on 15 May 2012 by jarakpandang

ruangrupa kembali membuka pendaftaran untuk mengikuti Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual, setelah sebelumnya diadakan sejak tahun 2008. Workshop ini ditujukan kepada penulis muda yang memiliki minat terhadap seni rupa maupun budaya visual secara umum. Peserta workshop akan diseleksi berdasarkan tulisan-tulisan awal yang dikirimkan ke ruangrupa beserta syarat pendaftaran lainnya. Hasil akhir workshop ini berupa tulisan masing-masing peserta akan dimuat di sebuah situs berisikan tulisan-tulisan tentang seni rupa dan budaya visual, jarakpandang.net. Situs tersebut adalah media berkelanjutan dan dapat berkembang terus dimana para peserta workshop menjadi kontributor.

Workshop ini akan diisi dengan materi-materi yang berkaitan dengan seni rupa dan budaya visual secara umum serta kaitannya dengan isu-isu sosial dan politik, antara lain: Pengantar Penulisan Kritik Seni Rupa Kontemporer, Budaya Visual Kota dan Seni Rupa Publik, Penulisan Kritik Video dan Film, Pendekatan Referensial dalam Penelitian dan Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual Kontemporer, Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual di Media Massa Umum dan Media Alternatif, Artist Talk, Konteks Sosial dan Politik dalam Penulisan Budaya Visual, dan Kuliah Umum.

Workshop ini akan diadakan di ruangrupa, Jakarta, 18 Juni – 29 Juni 2012.

 

Persyaratan pendaftaran:
1. Usia peserta antara 19 – 30 tahun
2. Mengirimkan contoh tulisan (minimal 2 karya tulisan, bisa berupa esai, reportase, ulasan, laporan perjalanan dan lain-lain)
3. Mengirimkan CV
4. Pendaftar memiliki minat terhadap seni rupa atau budaya visual dan kaitannya dengan isu-isu sosial atau politik
5. Pendaftar yang terpilih membayar biaya workshop sebesar Rp. 300.000,-

Kirimkan data-data persyaratan di atas ke: info@ruangrupa.org atau via pos ke ruangrupa, Jl. Tebet Timur Dalam Raya no.6, Jakarta 12820 selambat-lambatnya 10 Juni 2012.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi ruangrupa di:
Telepon : (021) 830 4220
Situs : www.ruangrupa.org
Facebook : Jarak Pandang
Twitter : @jarakpandang

Para pembicara dan mentor Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2012:
Aminuddin TH Siregar, Kurator dan Kritikus Seni Rupa, mengajar Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung.
Ardi Yunanto, Redaktur Jurnal Karbon dan Pemimpin Umum Majalah Bung! ruangrupa.
Hafiz, Koordinator Pengembangan Seni Video ruangrupa dan Direktur Forum Lenteng.
Jemi Irwansyah, Pengajar Ilmu Politik Universitas Indonesia dan Peneliti di Pusat Kajian Politik UI.
Qaris Tajudin, Jurnalis Majalah Tempo dan U-Mag, pemerhati budaya visual.
Hilmar Farid, Pengajar Kajian Budaya di Universitas Indonesia dan kandidat PhD di National University of Singapore.

Para pembicara dan mentor Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2008-2011:
Agung Hujatnikajennong, Kritikus Seni dan Kurator, mengajar Seni Rupa di Institut Tekhnologi Bandung.
Aminuddin TH Siregar, Kurator dan Kritikus Seni Rupa, mengajarsSeni rupa di Institut Tekhnologi Bandung.
Antariksa, Peneliti dan Program Manager Kunci Cultural Studies Center, Yogyakarta.
Ardi Yunanto, Redaktur Jurnal Karbon ruangrupa.
Aryo Danusiri, Pembuat film dokumenter dan kandidat PhD bidang antropologi visual di Harvard University.
Prof. Dr. Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan Bandung.
Bambang Sulistyo, Jurnalis Desk Seni dan Budaya Majalah GATRA.
Eric Sasono, Kritikus film, pendiri dan pengelola rumahfilm.org.
Farah Wardani, Kritikus Seni, Kurator dan Direktur Indonesian Visual Art Archive.
Hikmat Darmawan, Pengamat Budaya Visual dan Redaktur rumahfilm.org.
Ika Vantiani, Penulis dan banyak terlibat dalam pembuatan media massa non-mainstream.
Irwan Ahmett, Seniman dan Graphic Designer.
Iswanto Hartono, Seniman dan Arsitek.
JJ. Rizal, Sejarawan dan direktur penerbit Komunitas Bambu.
Prof. Dr. Melani Budianta, MA, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Prof. Dr. PM. Laksono, Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada.
Prima Rusdi, Penulis Skenario dan Penggiat Film Indonesia.
Qaris Tajudin, Jurnalis Majalah Tempo dan U-Mag, pemerhati budaya visual.
Ugoran Prasad, Penulis prosa dan kritik seni pertunjukan, aktif di Teater Garasi dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Dr. Yasraf Amir Piliang, Pengamat budaya massa dan pengajar di Institut Tekhnologi Bandung.

Testimoni Peserta Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual 2008-2011:

Tiga hal yang saya dapat dari workshop ini: peluang mencintai seni rupa seperti saya mencintai Fisika dan Ilmu Politik, penghargaan pada rasa, dan sentuhan paling romantis dari segala jenis pendidikan: kekeluargaan.
– Arys Aditya, (Jember), Penulis lepas dan pengelola studi politik Rumah Baca Tikungan, Peserta Angkatan 2011.

Pembicaranya berasal dari berbagai macam bidang dan berpengalaman. Yang paling penting, saya berkesempatan terhubung dengan banyak orang unik dari beragam latar belakang. Jadi bersiaplah untuk dua minggu yang penuh gizi.
– Ibnu Nadzir (Jakarta), Peneliti PMB-LIPI, Jakarta, Peserta Angkatan 2011.

Kalau ada lagu yang cocok untuk momen workshop ruru, kayaknya “Lihat Kebunku”. Soalnya penuh dengan bunga, setiap hari kusiram semua, dan semuanya indah. Orang-orang di Ruru baik-baik dan lucu-lucu, lagi. Jadinya senang.
– Ardea Rhema Sikah (Bandung), Penulis dan pengasuh blog www.salamatahari.com, Peserta Angkatan 2011.

Saya merasa sebagai salah satu kelinci yang lolos dari percobaan workshop ini. Sekarang saya punya jarak yang cukup untuk memandang dunia seni rupa dan budaya visual kita.
– Grace Samboh (Yogyakarta), Penulis dan kurator seni rupa. Peserta Angkatan 2008.

Menyenangkan bertemu dengan teman-teman dari berbagai latar belakang pengalaman kesenian dan profesi untuk berbagi kegilaan.
– Mansyur Rahim (Makassar), Field Facilitator JICA Prima Kesehatan, aktif di Tanahindie dan Kampung Buku Makassar sebagai penulis dan peneliti. Peserta Angkatan 2008

Mengikuti workshop ini adalah pengalaman lintas disiplin yang mendebarkan tapi asyik. Saya menjadi berani menjelajahi tema-tema baru dalam menulis.
– Haris Firdaus (Solo), Jurnalis Majalah Gatra, Peserta Angkatan 2009.

Seni rupa dan budaya visual adalah ranah yang menjanjikan untuk dikaji lebih jauh oleh intelektual muda Indonesia. Workshop ini adalah salah satu kesempatan yang sangat langka karena tidak banyak diadakan.
– Ibnu Rizal (Depok), Sarjana Humaniora Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, peneliti dan penulis telaah sastra dan budaya visual, Peserta Angkatan 2009.

Dua minggu yang paling solid dalam hidup gue. Pulang-pulang, IQ dan berat badan gue meningkat dari sebelumnya.
– Nastasha Abigail (Jakarta), Penyiar Trax FM Jakarta, Peserta Angkatan 2010.

Ada tiga hal yang membuat kita pintar menulis artikel senirupa dan budaya visual yaitu: rajin bertanya, banyak membaca dan tidur-tiduran di workshop ini.
– Christine Franciska (Jakarta), Jurnalis Bisnis Indonesia, Peserta Angkatan 2010.

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement