Tag Archive | "ruangrupa"

Muslihat yang Melahirkan Gugusan Masyarakat Inovasi Sepandang Kiprah Jatiwangi Art Factory (JAF)

Tags: , , ,

Muslihat yang Melahirkan Gugusan Masyarakat Inovasi Sepandang Kiprah Jatiwangi Art Factory (JAF)

Posted on 20 August 2013 by jarakpandang

Tema MUSLIHAT pada perhelatan OK. Video 2013 merupakan pernyataan yang menegaskan fungsi video sebagai sarana untuk mengaktualisasikan diri. Dalam tulisannya, Ithiel Sola de Pool menyebutkan bahwa teknologi digunakan untuk mengekspresikan diri, menghubungkan manusia, dan merekam pengetahuan yang berada dalam jaringan fluks yang belum pernah terjadi sebelumnya. [1] Tema Muslihat dapat dilihat sebagai pembacaan ulang atas fungsi teknologi, dalam hal ini video yang mampu memberikan intensi bagi penggunanya. Teknologi kini bukan sebagai aparatus produksi belaka tetapi bagaimana pengguna dapat memanfaatkan teknologi secara feasible dan personal. Pengguna (konsumen) dapat memberikan sebuah gagasan dan modifikasi atas teknologi itu sendiri dan dalam segala keterbatasannya dapat menyiasati perangkat teknologi secara fungsional dan bahkan radikal.

Dalam perkembangannya, teknologi di tangan konsumen tidak berhenti hanya pada persoalan fisikalnya semata, melainkan turut menjadi instrumen gagasan yang tanpa disadari menciptakan terminologi sendiri. Masyarakat konsumen ikut membentuk sistem teknologi itu sendiri yang berbagi tempat dengan pihak produsen teknologi. Keduanya sama-sama mengandung komponen sebagaimana Thomas P. Hughes tulis bahwa sistem teknologi mengandung komponen yang berantakan, kompleks, dan komponen yang dapat memecahkan masalah. Teknologi secara sosial dibentuk dan membentuk masyarakat.[2] Jadi, ada semacam resiprokalitas dalam praktik sistem teknologi di masyarakat.

Muslihat konsumen sebagaimana tertulis dalam pengantar OK. Video 2013 diyakini memiliki cara-cara mandiri dalam menyiasati keterbatasan kuasa terhadap teknologi video ataupun moving images, baik kuasa terhadap “perangkat keras” (benda) ataupun “perangkat lunak” (gagasan). [3] Lagi, sebagaimana Thomas P. Hughes sebut bahwa sistem teknologi dapat memecahkan masalah atau memenuhi tujuan yang dapat menggunakan cara apa saja yang tersedia dan sesuai, masalah harus dipecahkan dengan penataan kembali dunia fisik dengan cara yang dianggap berguna atau diinginkan, setidaknya oleh mereka yang merancang atau menggunakan sistem teknologi. Sebuah masalah yang harus dipecahkan, bagaimanapun, mungkin melatari munculnya sistem sebagai solusi. [4]

Masyarakat konsumen bertindak sebagai adaptor, inventor dan inovator yang melebihi perkiraan tentang utilitas teknologi itu sendiri. Teoritikus teknologi dari MIT Eric von Hippel dalam risalahnya memuat jabaran tentang apa yang ia definisikan sebagai komunitas inovasi, yakni suatu node makna yang terdiri dari individu atau lembaga yang saling berhubungan dengan pertukaran informasi yang mungkin melibatkan tatap muka, elektronik, atau komunikasi lain. Komunitas inovasi dapat menjadikan pengguna dan/atau produsen sebagai anggota dan kontributor. Lantas, kehadiran Jatiwangi Art Factory (JAF) dapat dilihat dalam pengertian von Hippel tentang komunitas inovasi. Jaf dalam kurun waktu terakhir ini telah melakukan kerja kolaboratif dan partisipatif dengan mengembangkan inovasi mereka.

Sejak berdiri pada 27 September 2005 beragam program telah dipresentasikan dengan melibatkan diri kepada warga dan aparatur pemerintahan desa. Konektifitas antar seniman, peneliti, warga desa, aparatur pemerintahan menjadi kekhasan aktifitas Jaf melalui serangkaian program berbasis pemberdayaan masyarakat yang mereka lakukan. Diantaranya adalah program residensi, festival video, festival musik yang secara rutin dilaksanakan. Disamping itu Jaf mempunyai strategi dalam menjalankan programnya seperti dalam program residensi yang melibatkan seniman dengan warga dalam membuat karya seni. Ini menarik, bagaimana interaksi dan pemetaan dilakukan oleh seniman dan warga untuk menemukan formula edukasi dan produksi pengetahuan melalui karya yang dibuat.

Meminjam terminologi Jaf, program residensi merupakan hubungan tamu-tuan rumah. Konsep tamu-tuan rumah dimaksudkan untuk melonggarkan batas-batas dari praktik seni dan mendorong penciptaan karya seni yang merefleksikan ide-ide, tradisi, dan isu-isu komunitas setempat yang dipadukan dengan ide-ide dan praktik artistik dari para seniman tamu.  Para partisipan juga akan menjelajahi pola-pola hubungan tradisional-modern, rural-urban, global-lokal, dll. [5] Alih-alih konsep tamu-tuan rumah hemat saya merupakan hubungan dialektis yang dikotomistis dalam mengafirmasi praktik penciptaan karya seni. Namun, metode ini berhasil tidak hanya memproduksi pengetahuan atau mendistribusikannya saja melainkan dapat menjadi sarana dialog lintas budaya melalui karya seni yang diciptakan. Penciptaan karya seni dalam kerja partisipatif Jaf menghadirkan diskursus seni yang lebih berkhidmat kepada kepentingan publik—minimal publik Jatiwangi.

Metode jenial ini adalah trend dalam modus penciptaan karya seni kontemporer dewasa ini yang sudah berlaku alamiah sebagai kehendak sejarah untuk membuatnya demikian.  Namun, kehendak sejarah yang alamiah ini tidaklah terberi begitu saja—ia lahir dan berkembang dalam siklus dan atmosfer perubahan. Eksistensi Jaf merupakan konsekuensi dari perubahan tatanan sosial dan politik di Indonesia disamping proliferasi perkembangan teknologi informasi. Tak semudah jika itu didapat di rezim analog yang membatasi baik terhadap akses alat produksi maupun wacana. Sebagaimana Philip Kitley catat, di zaman rezim analog hubungan negara-masyarakat digabungkan dalam penggabungan progresif masyarakat sipil ke dalam negara. [6]

Salah satu praktik berkesenian Jaf yang mengundang perhatian adalah festival video pedesaan (Village Video Festival)—sebuah festival berskala internasional yang secara perdana diselenggarakan pada tahun 2009. Gagasan video di masa digital ini turut dimainkan oleh Jaf dengan pendekatan partisipatif ala Jaf. Konsep tamu-tuan rumah menjadi aksioma dalam setiap program Jaf termasuk perhelatan Village Video Festival dimana hubungan yang bersifat oposisi biner dilakukan dengan pemetaan masalah, potensi dan riset kewilayahan yang dilakukan secara bersama dan kemudian dipresentasikan dalam bentuk video. Produk yang dihasilkan tidak berhenti pada ruang pameran melainkan dapat didistribusikan kepada warga desa melalui jaringan televisi komunitas yang siarannya dapat ditangkap di sekitar Jatiwangi.  Peluncuran perdana JAFTV pada penyelenggaraan 3rd International Video Residency Festival 2011 menjadi saluran kemandirian informasi warga Jatiwangi. Dan menariknya, kehadiran JAFTV secara ekspisit dimaknai sebagai counter-discourse terhadap kepanikan massal yang terjadi atas informasi yang meluber dari sajian televisi mainstream. Hemat saya, peran warga Jatiwangi dalam memproduksi informasi adalah sebagai manifestasi warga negara aktif yang mempunyai kesadaran politiknya—tidak menjadi warga negara pasif yang panik terhadap banjir informasi.

Berlanjut pada perhelatan 4th International Video Residency Festival 2012 yang mengusung tema IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS.  Tema ini secara arketipal berhubungan dengan terma good government—yang dikomunikasikan melalui karya video. Jaf menyebutnya sebagai sharing kekuasaan antara pembuat kebijakan dalam hal ini MUSPIKA Kecamatan Jatiwangi dengan para partisipan yang terdiri dari latar belakang berbeda seperti seniman, peneliti dan praktisi. Seturut dengan perhelatan Village Video Festival sebelumnya, pada perhelatan keempat ini tetap menjadikan karya video sebagai usaha untuk menciptakan kemandirian informasi dan kesadaran dalam menggunakan media.

Disamping itu, Jaf tidak hanya berkecimpung dalam pengkaryaan medium audio visual tetapi juga mengeksplorasi potensi geografis tanah Jatiwangi yang merupakan bahan baku untuk industri genteng dan keramik. Tanah Jatiwangi dimaknai sebagai moda kebudayaan baru dimana tanah dapat dijadikan instrumen berkesenian mulai dari musik, carf, seni rupa, keramik hingga seni performance. [7] Festival Musik Keramik menandai gugus kebudayaan baru bagi warga Jatiwangi dalam mempersepsikan dan mengartikulasikan potensi tanah Jatiwangi sebagai sebuah ritus kontemporer yang dihayati oleh warga Jatiwangi.

Aktivisme—menjadi model dalam mengekspresikan semangat gerakan media baru. Pesatnya perkembangan Media Baru dan teknologi komputer memiliki potensi untuk mengubah sifat dari ruang publik dan membuka saluran baru komunikasi untuk proliferasi suara-suara baru. [8] Dalam amatan Manuel Castells bahwa teknologi media baru merupakan pusat untuk proses ini. Ini adalah teknologi ‘mediasi’; teknologi yang membuat jaringan dapat dihubungkan dan memungkinkan adanya masyarakat jaringan.[9] Tentunya, Jaf ambil bagian dalam aktivisme gerakan media baru yang mengoptimalkan fungsi dari perangkat multi-platform media baru seperti curah video di Youtube, radio, produksi konten video, tv komunitas dan sharing informasi via web yang mereka kelola.

Media baru yang sifatnya viral dapat bermutasi ke dalam berbagai bentuk—termasuk bagaimana menukangi dan mengakali praktik muslihat teknologi. Dan Jaf dengan caranya berhasil melakukan aksi siasat terhadap kuasa teknologi dengan aksi sepihak sebagai modus operandinya. Sebuah tageline JAFTV, PAREUMAN BAE dan bagaimana masyarakat Jatiwangi dengan mudahnya masuk tv merupakan negasi terhadap kuasa teknologi audio visual yang bersifat korporatis dan terpusat.  Akhirnya, kemampuan melakukan inovasi adalah modal untuk merumuskan dan mengaktualisasikan potensi warga yang semakin terdesak oleh aparatus korporasi yang beriman kepada kepentingan akumulasi modal. Jatiwangi Art Factory (JAF) telah melakukan muslihat yang melahirkan gugusan masyarakat inovasi—benteng pertahanan kemandirian dan kemerdekaan masyarakat demokratis.



[1] Lihat Ithiel de Sola Pool, Technologies of Freedom, The Belknap Press of Harvard University Press, Cambridge, MA & London. 1983. Hal. 194

[2] Lihat Thomas P. Hughes, “The Evolution of Large Technological Systems”, dalam Wiebe E. Bijker (Ed.), The Social Construction of Technological Systems New Directions in the Sociology and History of Technology, The MIT Press, Cambridge, Massachusetts & London. 1987,1989,1993. Hal. 51

[3] Lihat Pengantar MUSLIHAT OK. Video – 6th  Jakarta Interantional Video Festival. http://okvideofestival.org/2013/

[4] Op.cit, Hal. 53

[5] Lihat  http://jatiwangiartfactory.wordpress.com/about/festival/

[6] Lihat Philip Kitley, “Television and the public sphere in Indonesia after Reformasi”, dalam Philip Kitley (Ed.) Television, Regulation and Civil Society in Asia. RoutledgeCurzon. London: 2003. Hal. 98

[8] Lihat  Glen Creeber and Royston Martin, Digital Cultures. Glen Creeber and Royston Martin (Ed.). Open University Press. Berkshire & New York. University Press McGraw-Hill Education. 2009. Hal. 5

[9] Lihat Robert Hassan & Julian Thomas. The New Media Theory Reader. Berkshire & New York. Open University Press & McGraw Hill-Education. 2006. Hal. xxiv

 

Sumber Acuan

Eric von Hippel, Democratizing Innovation, The MIT Press, Cambridge, MA & London. 2005.

Glen Creeber and Royston Martin, Digital Cultures. Glen Creeber and Royston Martin (Ed.). Open University Press McGraw-Hill Education, Berkshire & New York. 2009.

Henry Jenkins and David Thorburn, “Introduction: The Digital Revolution, the Informed Citizen, and the Culture of Democracy”dalam Democracy and New Media, Henry Jenkins and David Thorburn (Ed.). The MIT Press, Cambridge, MA. 2003.

Ithiel de Sola Pool, Technologies of Freedom, The Belknap Press of Harvard University Press, Cambridge, MA & London. 1983.

Pengantar MUSLIHAT OK. Video – 6th  Jakarta Interantional Video Festival. http://okvideofestival.org/2013/

Philip Kitley, “Television and the Public Sphere in Indonesia after Reformasi”, dalam Philip Kitley (Ed.) Television, Regulation and Civil Society in Asia. RoutledgeCurzon, London. 2003.

Robert Hassan & Julian Thomas. The New Media Theory Reader. Open University Press & McGraw Hill-Education, Berkshire & New York. 2006.

Thomas P. Hughes, “The Evolution of Large Technological Systems”, dalam Wiebe E. Bijker (Ed.), The Social Construction of Technological Systems New Directions in the Sociology and History of Technology, The MIT Press, Cambridge, Massachusetts & London. 1987,1989, 1993.

http://jatiwangiartfactory.wordpress.com/2012/10/22/ceramic-music-festival-2012/

http://jatiwangiartfactory.wordpress.com/about/festival/

 

Profil Penulis:
Renal Rinoza—Peneliti Media yang saat ini sedang melakukan pengembangan risetnya dibidang Persebaran Komunikasi Massa, ICT, Network Society, Computer Mediated-Communication (CMC) dan Dampak Pembangunan Di bidang Teknologi Informasi. Bersama tim Akumassa Forum Lenteng menulis Laporan Penelitian Pemantauan Media Berbasis Komunitas: Kajian Terhadap Sajian Informasi Media Massa Lokal yang telah diterbitkan bulan April 2013. Lahir di Jakarta, 8 Maret 1984. Lulus kuliah S1 di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pernah kuliah Filsafat Barat di Program E.C Ilmu Filsafat di STF Driyarkara.

 

*)OK. Video adalah festival seni video internasional pertama di Indonesia yang diselenggarakan setiap dua tahun sejak 2003 oleh ruangrupa, sebuah organisasi seni rupa kontemporer di Jakarta. MUSLIHAT OK. Video – 6th Jakarta International Video Festival akan diselenggarakan pada 5-15 September 2013, di Galeri Nasional Indonesia. Informasi lengkap festival dapat diakses di www.okvideofestival.org.

Comments (0)

Catatan Hari VIII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari VIII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 23 July 2013 by jarakpandang

P1190626sTidak ada alasan untuk berkata bosan dalam pengulangan-pengulangan pertemuan secara rutin hingga hari kedelapan  pun terus berlangsung. Dengan orang-orang yang sama, suasana yang sama, waktu yang sama dan yah… pemateri yang sama seperti hari ketiga,  bahkan menjadikan hari ini hari paling Istimewa untuk kami peserta. Tetap tidak ada alasan untuk berkata bosan bertemu Bapak Bambang Bujono, seorang dosen di Institut Kesenian Jakarta sekaligus salah satu jurnalis senior di Majalah Tempo ini masih terus bersahaja di hadapan kami. Kematangan ilmu karena usia membuat kami terus antusias mendengarkan setiap sajian materi yang Pak Bambang bahas.

Hari ini kami membahas hal yang sangat penting dalam Workshop Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013: Sejarah Seni Rupa Indonesia. Pernyataan pertama yang dilontarkan Pak Bambang adalah: hingga saat ini belum ada orang yang mampu menulis mengenai sejarah seni rupa. Sambil menanti alasan mengapa tidak ada yang mampu menulis sejarah seni rupa, Ia menjelaskan bahwa sejarah seni rupa bukanlah kritik seni rupa, bukan kuratorial seni rupa, bukan pula biografi seniman, melainkan suatu peristiwa-peristiwa runut yang pernah terjadi dengan antropologi, sosiologi dan psikologis menjadi bagian dari peristiwa tersebut.

Lalu, apa alasan belum ada yang dapat menulis sejarah seni rupa? Alasan paling utama adalah karena kita tidak dapat melihat karya asli seniman-seniman tersebut. Sekedar gambar (foto) ataupun karya reproduksi tidak mampu menjelaskan sejarah yang konkrit. Ketidakmampuan menjelaskan sejarah seni rupa secara runut ini membuat tak satu pun sekolah seni membuka jurusan Sejarah Seni Rupa. Alasan yang kuat namun kemungkinan-kemungkinan tersusunnya sejarah seni rupa ini masih tetap akan ada, namun sangat riskan untuk membuat kesalahan, begitu tanggapan Pak Bambang.

Ada yang istimewa pada hari ini. Bapak Bambang Bujono datang dengan membawa buku penting setebal 5 cm berisi naskah-naskah dari sejumlah penulis, yang kemudian dikumpulkan dan diedit oleh beliau dan Adi Wicaksoo, berjudul Seni Rupa Indonesia, dalam Kritik dan Esai terbitan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Buku ini sangat penting untuk membantu pengaplikasian ilmu kami selama workshop. Sayangnya kami tidak tahu cara mendapatkan buku itu, adapun caranya tentu sangat merepotkan. Lalu apa yang istimewa jika tidak dapat memiliki bukunya? Seketika suasana makan siang menjadi penuh sorak senang ketika mendengar Pak Bambang tiba-tiba menelepon salah satu pengurus DKJ, Alex Sihar, untuk meminta delapan buah buku tersebut untuk dibagikan kepada kami satu persatu. Sorak sorai kami semakin ramai ketika pihak DKJ menanggapi permintaan itu dengan senang hati. Cihuiyyyy…. hanya dengan hitungan menit empat judul buku keren mendarat di tangan kami masing-masing. Pihak DKJ memberi kami bonus tiga buah buku lagi. Tentu hari yang istimewa akibat kemurahan hari Bapak Bambang Bujono dan Dewan Kesenian Jakarta.

Hampir obrolan mengenai Sejarah Seni Rupa terabaikan. Tapi tentu kami akan rugi jika tidak terus menyimak materi ini, semua kembali fokus pada materi bahasan. Bercerita tentang kisah Affandi, membahas kisah Sudjojono, keturunan Basuki Abdullah, karya-karya Hendra Gunawan, kehebatan Raden Saleh dan masih banyak lagi kisah-kisah perupa dalam sejarahnya masing-masing. Materi hari ini ditutup oleh Pak Bambang dengan ucapan yang membuat kami sedikit tersenyum, menjadi seorang kritikus tidak akan membuat kalian kaya, jika ingin berduit, lebih baik membuat karya seni rupa dari pada mengkritik.

*)Anggriani Herman

Comments (0)

Catatan Hari VII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari VII: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 26 June 2013 by jarakpandang

fay

Workshop penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013  sudah menginjak hari ke tujuh, dan di hari ini kami, peserta workshop, bersepakat bahwa kami baru saja tertampar intelektualitas. Bagaimana tidak,  di hari ke tujuh ini kelas workshop kehadiran seorang  Hilmar Farid.Hilmar Farid adalah Dosen Cultural Studies di Universitas Indonesia dan kandidat Phd diNational University of Singapore. Dan mari kita lihat apa yang dia bicarakan di kelas. Pengantar kelas diisi dengan mengenal apakah itu Cultural Studies. Fay begitu Hilmar Farid biasa disapa, mengatakan, banyak hal di dunia ini yang sudah dianggap baku dan tiba-tiba tembokkebakuan itu runtuh, cultural studies adalah upaya menganalisis keruntuhan-keruntuhan itu.

Cultural Studies, Ia melanjutkan, selalu berusaha menginterogasi  hal- hal yang sangat fundamental  “apa itu ilmu  dan apa itu seniman“ adalah contoh-contoh pertanyaan fundamental yang coba dilontarkan oleh cultural studies  di hadapan kita. Kajian ini selalu membuat subjek-subjek  goyah dan mempertanyakan kembali hal-hal yang paling dasar.

Dalam seni rupa,cultural studies tidak hanya menganalisis objek seni rupa  tapi juga hubungan objek dan subjek  entah subjek pembuatnya atau subjek penikmatnya. Dalam praktek kesenian cultural studies punya upaya  menginterogasi untuk mencari kedalaman  makna. Tapi sayangnya, Fay melanjutkan, makna itu tidak pernah hadir. Yang hadir hanyalah sekedar impresi.

Menurut Fay, dari 1940-an sampai 1970-an kritik seni rupa modern cukup mapan membentuk sudut pandang, tapi semakin kesini jumlah kritik tidak saja makin sedikit tapi banyak penulis kritik yang melakukan banyak cara untuk membuat sebuah tulisan terlihat cerdas namun ternyata gagal mendapat perhatian dan bahkan tidak signifikan. Hal ini karena permasalahan yang diangkat tidak jelas. “Kita sudah panjang lebar bicara teori memasukan kutipan-kutipan pemikiran filsuf tapi akhirnya kita tidak tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan lewat tulisan itu,” ucap Fay.  Jumlah kritikus di Indonesia sekarang jauh berkurang  karena pengaruh internet. Semua orang bisa mengakses karya seni  dan pengetahuan tentang seni dengancepat. Pandangan tentang kritikus yang tadinya dinilai paling tahu tentang seni rupa dan sering datang ke pameran seketika rontok .

Setelah menjelaskan tentang kritik dan cultural studies dengan sangat jelas dan menarik, Fay  memberikan kesempatan kepada tujuh peserta workshop (Ahadi Bintang kali ini absen, lagi-lagi dia selalu kurang beruntung mendapatkan kelas yang menggugah selera intelektual) menampilkan proyek-proyek tulisannya, dari masalah  gambar di perangko yang mengandung identitas bangsa, video yang memengaruhi motif melakukan tindak kriminal, merubah pola pikir berkesenian di daerah, urusan pameran seni rupa yang penting dan dibuat seakan-akan penting, sampai masalah pendangkalan makna subjek pada  sirkulasi pasar seni rupa di  Indonesia.

Masing-masing rencana penulisan itu diinterograsi oleh Fay untuk mengangkat permasalahan yang jelas di dalamnya . Ada yang akhirnya merubah arah tulisannya tapi ada juga yang semakin yakin tancap gas dengan tema tulisan yang diusung. Setelah diinterograsi, Fay memberikan saran dan menggarisbawahi permasalahan dalam rencana-rencana tulisan peserta workshop sehingga kami lebih terarah untuk menulis. Begitulah Fay, dengan cultural studies dia membuat sebuah keyakinan jadi tidak stabil. Yang paling stabil adalah keyakinan kami bahwa apa yang diungkapkan Fay kali ini berhasil memacu adrenalin untuk meneliti dan menulis, baik dalam rangka workshop ini, maupun setelah workshop ini selesai.

*) Bellina Rosellini

Comments (0)

Catatan Hari V: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari V: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 25 June 2013 by jarakpandang

IMG_7466

Sementara di luar kisruh dan pikuk akibat gentingnya kenaikan BBM, sekelompok penggiat seni rupa yang tergabung dalam peserta Penulisan Kritik Seni Rupa bergerumul di Ruang Rupa, Tebet, untuk menjalani hari kelima workshop, Jumat 21 Juni 2013.

Kali ini materi yang diberikan adalah mengenai Seni Rupa Publik dan Estetika Gambar Bergerak.

Ardi Yunanto, selaku mentor dari Seni Rupa Publik membuka sesi pagi workshop. Peserta diperkenalkan lebih jauh mengenai apa itu Seni Rupa Publik atau Public Art, yaitu seni yang dieksekusi di ruang publik dan dapat diakses setiap orang. Orang di balik majalah Bung! dan KarbonJournal ini menerangkan di mana posisi public art di antara kehadiran galeri, museum, sekolah seni, dan hubungannya dengan ruang-ruang kota. Dengan karakteristik yang menegaskan antara cara berekspresi  dan pemilihan lokasi, public art memperlihatkan kepada kita bagaimana ruang diperlakukan dan memainkan peran dengan menciptakan dialog dua arah antara publik dan seniman.

Kenyataannya, di Indonesia tidak ada pemetaan sejarah yang jelas mengenai public art. Hal ini disebabkan karena tidak adanya dokumentasi dan gerakannya yang cenderung sporadis. Menurut Ardi, public art pertama di Indonesia dilakukan oleh seorang seniman bernama Haris Poernomo di Yogyakarta tahun ’70-an  yang melakukan performing art membukus dirinya dengan perban –layaknya mummy—berkeliling kota sambil mengendarai sepeda motor.

Beberapa contoh dokumentasi public art yang dipresentasikan kepada peserta  berasal dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung di tahun ’90-an. Bentuk ekspresinya pun macam-macam, seperti membuat rambu jalan “Tambal Ban” yang ditempel menebeng pada tiang jalan, melingkari lubang-lubang jalanan dengan cat putih alih-alih menulis papan peringatan Awas Ada Lubang, dan pameran hasil jepret kamera berbagai tukang foto keliling di Monas.

Untuk menulis mengenai Seni Rupa Publik, Ardi memberi rumus tersendiri yaitu dengan pengamatan langsung ke lokasi dan mewawancarai publik dan seniman. Tulisan mengenai public art sebaiknya dapat mengungkapkan posisi karya dengan persoalan sosial yang lebih luas kepada pembaca, dengan tidak melupakan penggambaran akan keterlibatan publik dengan karya.

Siang menjelang sore, workshop diteruskan oleh Hafiz Rancajale, founder ruangrupa dan Forum Lenteng yang membahas tentang Estetika Gambar Bergerak. Untuk memberi pemahaman, diputarlah film-film Avant Garde di tahun 1920-an dan 1930-an yang menampilkan gambar-gambar unik dalam diorama hitam-putih.

“Apa itu Video Art?”, Hafiz melempar pertanyaan.

Agaknya peserta cukup kesulitan untuk mendefinisikan karya tersebut, begitu juga dengan kemunculan jenis seni ini yang baru muncul pada 1970-an dan menimbulkan fenomena tersendiri di kalangan seniman. Video Art tidak lepas dari kultur video yang mulai diadaptasi oleh masyarakat ketika media massa dan broadcasting menjadi alat penunjang atau medium dalam mempresentasikan video. Elemen komplementernya berupa kaset video,TV, kabel, bahkan sofa sekalipun.

Dengan menggunakan medium frame video,  Video Art memungkinkan senimannya untuk mengeksplorasi jauh dan menghidupkan ‘gambar’ dengan polesan audio maupun narasi visual yang menyegarkan. Kumpulan video art dari Jean Gabriel Periot menjadi sebuah contoh unik kepada peserta bagaimana foto-foto dipindahkan secara dramatik maupun tumpang tindih yang membentuk rangkaian ekspresi artistik.

*) Annayu Maharani

Comments (0)

Catatan Hari IV: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari IV: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 25 June 2013 by jarakpandang

IMG_7458

Bingung, adalah kata yang terlontar saat saya disuruh membuat review workshop hari ini. Kegamangan saya antara lain karena pemampatan materi filsafat dari jaman Plato sampai Gilles Deleuze yang bagi saya sangat asing. Kalau dihitung-hitung, dengan pengurangan rata-rata asumsi waktu hidup Deleuze dikurangi dengan rata-rata asumsi waktu hidup Plato sekitar 2340-an tahun. Dan pada hari ini, materi yang berkembang selama 2000-an tahun itu dimampatkan dalam waktu bersih workshop 4,5 jam. Antara terkesima, senang, apaan dah ini?, sampai berkali-kali mengalami goncangan psikis yang berakhir dengan bengong, semua terasa dalam paparan kurang dari 5 jam ini.

***

Hari keempat Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa ini terlihat berbeda semenjak saya bangun pagi. Gara-gara workshop ini, saya jadi menemukan pola gaya hidup yang lain. Biasanya saya memang bangun tidur pukul 11 siang, dan itupun belum 100 persen sadarkan diri. Hari pertama workshop pun saya juga begitu, susahnya bangun pagi menjadi problem utama dan banyak keluhan di sana-sini, seolah tubuh menolak aktivitas baru ini. Namun pada hari keempat ini, seakan tiada keluhan diri atas permasalahan sebelumnya. Saya naik kereta dengan senang, menyebrang jalan dengan santai, sarapan juga enak, dan jalan kaki dari Stasiun Tebet-ruangrupa yang katanya sekitar 15 menit bisa terasa hanya 5 menit saja.

Sesampainya di ruangrupa, seperti biasa suasana chaos tempat worksop menjadi sapaan pagi paling wajib. Saya melihat ada kudapan sayur-sayuran di mangkuk sisa semalam, piring dan nampan yang masih berserakan. Dan entah kenapa semuanya terlihat memiliki nilai estetis yang sayang untuk dibereskan. Suasana seperti inilah yang menemani saya dan rekan-rekan workshop hari ini dengan pembahasan mengenai “Membaca Filsafat untuk Mengkritik Seni Rupa Kontemporer” yang sering saya plesetkan sebagai “Membaca Filsafat untuk Mengkritik Diri Sendiri”. Berat.

Seperti biasa, worksop yang telah dijadwalkan pada pukul 10:00 pagi dimulai pukul 11:00. Dalam hal ini terasa sekali bahwa hukum relativitas Einstein berlaku sekali. Dilatasi waktu sangat terasa, seakan-akan waktu di-rundown dan di kehidupan nyata selisih 1 jam. Dan peserta worksop pun baru berkumpul 3 orang saja plus pemateri. Mbak Mitha Budhyarto sudah datang sebelum jam 10 bahkan, sedangkan peserta mulai berdatangan ketika pukul setengah 12 siang.

Pada workshop kali ini, peserta yang hadir berjumlah 7 orang dari 8 yang menyatakan ikut. Yang berhalangan hadir kali ini adalah TjaTja, mahasiswi dari Sastra Belanda yang masih (sepertinya) berkutat dengan bimbingan skripsi.

***

Terdapat dua sesi dalam penyampaian materi, pertama terkait dengan pemikiran filsafat Yunani Kuno sampai pada Nietzsche. Sesi kedua adalah estetika di awal abad 20 sampai pada wacana-wacana seni rupa yang melampaui kritik.

Sesi pertama, pemaparan mbak Mitha Budhyarto yang juga berprofesi dosen dan kurator ini yang paling asyik untuk disimak. Pada dasarnya saya suka diceritakan sejarah, apalagi dengan visualisasi gambar-gambar membuat pemaparan semakin menarik. Pemahaman yang saya dapatkan pada korelasi antara seni rupa dan filsafat adalah “tanpa filsafat seni rupa kering, begitu sebaliknya”. Penjelasan yang runut dengan visualisasi-visualisasi di layar, ditambah lagi Mbak Mitha juga menarik secara visual membuat sesi pertama seperti diceritakan dongeng dengan mengendarai mesin waktu. Intinya, sesi pertama sangat sayang sekali untuk dilewatkan.

Inti pemikiran Ancient Greek, Abad Pertengahan, Renaisans, Pencerahan dan Era Romantik merupakan pokok-pokok yang dibahas pada sesi pertama ini. Saya tidak memaparkan satu persatu pemikiran filusuf dari jaman Yunani Purba sampai Nietzsche ini karena kapasitas saya yang masih belum mumpuni untuk menjelaskannya. Mungkin info lebih lengkapnya bisa dikonsultasikan langsung kepada pakar yang lebih kredibel seperti Mbak Mitha ini.

Pada sesi kedua, semuanya terasa berbeda setelah makan siang. Menu makan siang tiap hari di RuangRupa bervariasi. Hari ini menyajikan sambel goreng ati dengan pencuci mulut sepotong melon. Meskipun menu makanannya sambel goreng ati, namun worksop hari keempat tidak makan ati.

Dampak kenyang-kenyang bego melanda saya. Kopi yang telah dibuat tidak mempan untuk menahan rasa bengong. Apalagi setelah dijelaskan mengenai estetika di awal abad 20. Gagasan-gagasan nyeleneh muncul. Kemunculan Gerakan Dada merupakan pengaruh yang sangat besar terhadap gagasan yang melebihi kritik setelahnya. Pokok-pokok pembahasan pada estetika di abad 20 meliputi formalisme, Teori Kritis & Frankfurt School, Poststrukturalis, Dekonstruksi, potensi kreatif dan materialis dan lain-lain.

Sesi kedua seakan ingin memuntahkan keasyikan-keasyikan paparan sesi pertama tadi. Sebagai orang yang awam filsafat, saya baru tahu jika ada gagasan-gagasan seperti itu. Layaknya minum air garam, semakin banyak minum semakin haus. Sama seperti gagasan-gagasan ini, semakin saya tidak tahu. Maka dari itu tidak jadi saya pikirkan. Susah bagi saya untuk menjelaskannya. Info lebih lengkap mengenai bahan bisa diakses di ruangrupa. Layaknya orang norak saya baru berpikir: kok ada ya orang mikirnya sampai kayak gini. Dan ternyata memang ada, dan saya baru tahu di 21 tahun usia saya.

Gagasan-gagasan tentang potensi kreatif dari materialitas yang dijelaskan dalam karya Superlight oleh Ardi Gunawan. Bagaimana karya seni tergantung dari bagaimana kemampuan materialnya. Pergeseran definisi dan kompleksitas pemahaman tentang seni memang tidak terlepas dari perkembangan pemikiran filsafatnya. Yang lebih gila lagi tentang wacana melampaui kritik. Hal ini dikarenakan terdapat potensi-potensi yang bisa lebih dieksplorasi daripada sekedar kritik. Maka dari itu muncullah konsep wacana seni rupa yang bertugas memobilisasi dan mengaktivasi gagasan-gagasan baru. Yang lebih menarik lagi adalah pertanyaan-pertanaan di kepala: kalau sudah begini, apa lagi selanjutnya? ini yang membuat penasaran. Saya bukan filusuf, saya hanya penasaran saja.

Penjelasan materi selesai setengah jam lebih awal dari rundown. Saya bersyukur kelas ini selesai lebih awal. Di luar ruangan suasana sedang hujan dan menimbulkan efek lembab di dalam ruangan. Di luar, selesai pemaparan Mbak Mitha, Erbi dan Maria masih asyik berdiskusi tentang filsafat. Terdengar samar-sama di kuping saya mereka membahas Nietzsche, dipikiran saya: ya ampun, masih aja dibahas. Dan dengan semena-mena Andan menunjuk saya menulis review workshop hari ini.

Kudapan kembali disajikan dengan menu mutakhir, aneka jajanan pasar mulai dari kue pie, semangka, kue sus, bolu-boluan, dan lain-lain diatas nampan. Saya melihat bahwa filsafat postmodern ini mirip seperti jajanan pasar ini. Saya tidak tahu alasannya apa mengatakan ini, tapi entah mengapa hanya ingin mengatakannya saja. Setelah hujan reda, saya kembali ke stasiun Tebet bersama Erby dan Jenni yang searah jalan pulangnya. Saat sampai di stasiun, untungnya saya dan Erby langsung mendapatkan kereta yang berdesak-desakan penuh. Kami paksakan saja masuk kereta, toh kalo dipaksakan masih muat. Saya jadi teringat karya Superlight yang dipresentasikan tadi, kayaknya mirip juga. Jangan-jangan gerbong kereta dan orang-orang didalamnya ini merupakan salah satu karya seni Deleuzian. Ah sudahlah….

 *) Hardiat Dani Satria

Comments (0)

Catatan Hari III: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari III: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 21 June 2013 by jarakpandang

photott

Juni yang melekat dalam ingatan saya adalah Juni yang kering. Kering karena kemarau biasanya terjadi di Juni. Namun, Juni 2013 kali ini berbeda. Hujan telah turun berkali-kali membasahi. Saya jadi berpikir, jangan-jangan kering yang seharusnya dibawa Juni pindah ke keringnya kritik seni rupa sekarang ini.

Diskusi dalam workshop kali ini yang membahas soal sejarah kritik seni rupa oleh Pak Bambang Budjono begitu menarik. Sayang, Bintang, salah satu peserta workshop tidak datang. Berbagai pertanyaan pun meluncur dan menjadikan kelas hari ini menjadi begitu hidup dan asyik.

Ada dua poin besar yang saya catat dalam pertemuan ketiga workshop yang dibawa oleh Bambang Budjono. Pertama, soal kritik seni rupa hari ini. Kedua, terkait modal dalam menulis kritik seni rupa.

Ternyata kekeringan kritik seni rupa sekarang ini terjadi sepanjang perjalanan perkembangan seni rupa itu sendiri. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di negara-negara lain. Kemudian, yang menjadi pertanyaan, mengapa kekeringan itu terjadi? Padahal, di Indonesia, kita memiliki berbagai macam yang diperlukan dalam menulis kritik seni rupa. Kita memiliki seniman, kurator, galeri, pendidikan seni rupa yang dapat dikatakan memadai, pameran pun seringkali diselenggarakan. Walaupun, kalau melihat keadaan museum kita yang masih jauh dari kata baik.

Permasalahannya, terletak pada sulitnya mengumpulkan dokumentasi pameran-pameran dan karya atau tulisan mengenai perjalanan sejarah seni rupa, serta sedikitnya penulis kritik seni rupa. Jika ditilik, sekarang ini, media untuk menulis kritik seni rupa itu sendiri pun begitu terbatas. Terbatas di katalog atau surat kabar.

Pembahasan yang menarik bagi saya adalah ketika Pak Bambang mengungkapkan bahwa sejak semula, kritik seni rupa di Indonesia menumpang perkembangan di dalam kritik jurnalistik. Kritik jurnalistik tersebut, dapat dikatakan yang telah menghidupi kritik seni rupa dari awal sampai sekarang ini. Namun, sayangnya, kritik seni rupa yang hidup dalam surat kabar dan menghiasi rubrik seni dan budaya hanyalah permukaan saja. Tentunya, itu juga berarti bahwa tidak semua peristiwa seni, pameran seni rupa, terekam di dalamnya.

Dalam perjalanannya, orang Indonesia yang menjadi pelopor penulisan kritik seni rupa di Indonesia adalah Sutan Takdir Alisjahbana (1908—1994), seorang sastrawan besar dan ahli tata bahasa Indonesia, yang terdapat di dalam Majalah Poedjangga Baroe. Saya pun jadi teringat, bahwa sekarang ini bukan hanya kritik seni rupa saja yang kering, kritik sastra pun berada dalam fase kritis karena selesai pada tugas-tugas kuliah anak sastra. Sementara itu, majalah seni dan kebudayaan tidak dapat bertahan lama.

Pernah juga kritik itu berjamur pada era 1950-an ketika majalah kebudayaan banyak memuat kritik seni rupa. Sayangnya, majalah-majalah tersebut tidak berlangsung lama karena mentok pada soal pendanaan.  Hal itu tentu dipengaruhi pada masa Orde Baru yang membuat semua orang kemudian memikirkan untung rugi.

Dalam kesempatan ini, Pak Bambang juga berbagi soal modal apa saja yang diperlukan dalam menulis kritik sastra. Beliau berulang kali menyebutkan pengalaman estetika merupakan hal pertama dan utama dalam menulis kritik seni rupa. Pengalaman estetika dalam melihat karya tersebut kemudian dipadukan dengan kemampuan menulis yang mumpuni. Juga terkait dengan elemen-elemen lain seperti kepekaan visual, sejarah seni rupa, komposisi warna, perbandingan dengan seniman lain, latar belakang seniman, atau dengan memakai pemikiran filsuf tertentu untuk memaknai suatu karya.

Pada akhirnya, gambaran besar soal kritik, bukanlah soal sesuatu yang membangun. Akan tetapi, bagaimana dapat menimbang suatu karya baik dan buruknya. Dengan demikian kritik itu dapat menjadi jembatan antara seniman dengan publik, sehingga publik juga dapat mengapresiasi karya si seniman. Subjektifitas menjadi penting, sekalipun tetap ada nilai-nilai universal yang dapat diacu.

Meminjam kata Pak Bambang, bahwa awalnya berangkat dari pengalaman estetika dan berakhir dengan pengalaman estetika. Workshop kali ini pun menjadi semacam candu yang (semoga) membuat kami ketagihan untuk terus menulis kritik seni rupa.

*) Jenni Anggita

Comments (0)

Catatan Hari II:  Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Tags: ,

Catatan Hari II: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2013

Posted on 19 June 2013 by jarakpandang

photo H2

Ada dua acara yang dijadwalkan untuk hari ke-2 workshop ini: mengunjungi pameran seni rupa dan penyampaian materi oleh pembicara. Pameran yang dikunjungi adalah pameran “Jalan Gambar” S. Teddy Darmawan di Galeri Salihara, Pasar Minggu.  Pameran ini cukup menarik, karena sang seniman menawarkan eksplorasi lain dari drawing. Pada acara kedua, Agung Hujatnikajennong berhalangan hadir sehingga materi “Penulisan Kritik Seni Rupa” diganti oleh presentasi dari ruangrupa.

Diwakili oleh Reza Afisina, biasa disapa Asung, ruangrupa menceritakan perjalanan mereka yang dimulai sejak tahun 2000 di Jakarta. Dengan dokumentasi yang memadai dan runut serta penuturan Asung yang bersemangat, presentasi sejarah ruangrupa menjadi menarik dan memancing pertanyaan-pertanyaan dari beberapa peserta. Acara-acara yang digiatkan oleh ruangrupa cakupannya luas, seperti pameran, festival, laboraturium seni rupa, penelitian dan penerbitan jurnal. Kolaborasi dan saling membuka kesempatan tampaknya membuat ruangrupa dapat bertahan dan aktual. Sebagai organisasi, ruangrupa memiliki jaringan di dalam dan di luar negeri.

Banyak yang bisa dicatat dari perjalanan ruangrupa selama sepuluh tahun lebih. Saya jadi teringat betapa bahasan mengenai alternative space selalu seru diperbincangkan melalui kuliah sosiologi seni di kampus, namun mendengar langsung dari para penggeraknya, ternyata lebih seru lagi. Kepedulian ruangrupa pada permasalahan ‘ruang’ dan ‘urban’ mungkin menjadikannya berbeda dengan alternative space lain yang ada. Isu-isu yang direalisasikan dalam program ruangrupa mungkin bisa ditemukan kemiripannya dengan program dari art space atau komunitas lain, namun intensitas masing-masing art space dalam mengusung misi merekalah yang memberikan variasi.

Isu dan program tersebut bertujuan untuk berkomunikasi dengan publik dan mengintervensinya. Misal dalam proyek mural yang digarap ruangrupa pada era 2000-an awal di bawah layang-layang jalan, bukan hanya elemen estetis saja, tetapi memiliki pesan. Intervensi ruang publik melalui mural ini tidak hanya menyentil publik, tapi juga menyentil aparatur keamanan, yang saat itu masih belum jelas regulasinya mengenai seni di ruang publik.

Program-program yang mereka garap bahkan lebih kompleks dan bergaung dari program yang ada di galeri atau museum. ruangrupa dapat sangat kontemporer- kekinian-nyeleneh dengan gagasan dan visual mereka; namun juga menjadi anti thesis terhadap infrastruktur seni rupa yang baku; sekaligus berinisiatif fluxus sebagai alternative space. Sebagai organisasi, ruangrupa memiliki karakter yang organik.

ruangrupa pun secara diplomatis menempatkan dirinya pada medan sosial seni rupa, melalui ruru gallery yang dihadirkan untuk menjawab tantangan art market. Menarik akan apa yang disampaikan Asung, bahwa galeri adalah ruang presentasi, tak sebatas ruang pamer saja.

Diskusi pun makin memanas ketika hari bertambah sore dan piring-piring berisi kudapan disajikan. Sebelum acara hari itu usai, para peserta dibagikan salinan bahasan mengenai ruangrupa yang dimuat dalam jurnal luar negeri.

*) Maria Josephina

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement