Tag Archive | "reza afisina"

Catatan Performance Art Touring Bandung-Jakarta-Singapore

Tags: , , ,

Catatan Performance Art Touring Bandung-Jakarta-Singapore

Posted on 20 June 2012 by jarakpandang

Performance Art Touring yang dilaksanakan 28 Mei 2012 di RURU Gallery ruangrupa menampilkan 12 seniman performans dari tiga kota: Bandung, Jakarta, dan Singapura. Mereka adalah Kelvin Atmadibrata, Li Cassidy-Peet, Terry Wee, Vincent Chow, Deni Ramdani, Dylan Muhammadi, Intan Agustin, Reza Afisina, Peri Sandi Huizche, Riezky Hana Putra, Hauritsa, dan W. Christiawan.

Seni performans tidak mengandalkan susunan plot, dramaturgi, ritme, dan berbagai tehnik teatrikal lainnya, seperti opera, tari, paduan suara, konser, dan sebagainya. Performance art lebih merupakan sebuah karya reduksi dari berbagai hal (bentuk, faham, filosofi, teori, pemikiran) yang telah mapan. Ia banyak memecah dan mendobrak benteng-benteng dan puri agung paradigma lama hingga seringkali dicap sebagai karya anomali. Beberapa karya dalam Performance Art Touring Bandung-Jakarta-Singapore memberikan pengalaman artistik sehingga kita bisa berdialog, menggugat, dan memprotes lewat dimensi sosial yang lahir dari sejarah dan tubuh masing-masing.

Membaca Empat Tubuh Sosial

Riezky Hana Putra aka Ponggah, salah seorang seniman dari Rewind Art Community (Universitas Negeri Jakarta) membuka pertunjukan secara komunikatif kepada audiens. Melibatkan penonton dalam aksi performans adalah pendekatan yang sangat menarik dan memperluas batasan medium. Dalam seri ini, Ponggah terlebih dulu bertanya kepada para penonton apakah mereka mengenal satu sama lain. Kemudian satu per satu kepala mereka ditutup bakul nasi. Mereka seperti mengenakan topi. Masing-masing bakul dihubungkan oleh seutas tali. Relasi antar kepala ini kemudian memusat pada satu titik: kepala Ponggah sendiri. Pada performans ini Riezky menawarkan pandangan atas jejaring sosial media yang hadir di tengah masyarakat memiliki fungsi kontrol yang global untuk kepentingan kapitalis.

Reza Afisina aktif sebagai seniman performans dan visual. Reza tampil mengunakan sebuah kursi. Suasana begitu hening, namun gelora jiwa begitu bergemuruh. Dengan kecerdasan artistiknya, Asung menggunakan media “kursi” sebagai simbol “kekuasaan”. Reza mengeksplorasi tubuhnya dan memutar kursidari berbagai arah. Dalam performans ini, kursi tidak diperlakukan sebagaimana fungsinya. Di sini letak protes yang coba ditawarkan. Penguasa datang dan pergi, namun tidak pernah menggunakan kekuasaannya sesuai dengan fungsi yang wajar. Performans ini, secara langsung atau tidak, menawarkan gagasan kritis tentang praktik politik yang penuh disfungsi.

Terry Wee, seorang pelukis abstrak sekaligus seniman performans muda dari Singapura,  memasuki ruangan dengan membawa ember, koran, dan gelas besar transparan lengkap dengan sedotanya. Terry berdiri di tengah ruangan, secara perlahan membuka koran lalu memilih lembar demi lembar. Lembaran koran itu lalu dimasukkan ke dalam ember berisi air, seperti mencuci. Ia kemudian membungkus kepalanya dengan kantung yang juga terbuat dari lipatan koran, menyandarkan tubuhnya pada dinding, lalu menyalakan sebatang rokok. Setelah itu ia mendekati ember, mencuci dan memeras remahan koran yang basah dan lapuk, kemudian menghisap air perasannya melalui sedotan. Di sini Terry menyadari pengaruh media yang tiada hentinya. Mobilisasi media massa, baik cetak maupun elektronik, semakin tidak mengenal jarak dan waktu. Era globalisasi merayakan pertukaran informasi dan kebudayaan. Media massa memberik pengaruh signifikan terhadap perkembangan identitas suatu bangsa.

W. Christiawan, pengajar di STSI Bandung, menempuh Program Doktor (2010) di Kajian Budaya Universitas Padjadjaran. Ia telah mempresentasikan karya performansnya di beberapa negara, seperti Thailand, Jepang, dan Jerman. Ia juga dikenal sebagai salah satu inisiator berdirinya Asbestos Art Space di Bandung. Malam itu di ruangrupa, karya performans W. Christiawan menjadi penutup program Performance Art Touring. Christiawan memasuki ruangan dengan kostum celana pendek dan sepatu sport. Ia menyeret trolley berisi jeruk, seperti sedang berbelanja di pasar swalayan. Ia mendorong dan memutar trolley itu, lalu masuk ke dalamnya. Dari dalam kereta belanja, ia berusaha keluar melepaskan diri. Setelah itu, ia perlahan masuk ke bawah trolley, hening sejenak. Selebihnya adalah aksi membuka plastik yang membungkus jeruk-jeruk, memasang segel kemasan pada sepatu, dan upaya untuk keluar dari jeratan benda-benda itu. Di akhir performans, ia memeras segenggam jeruk, membiarkan sari-sarinya menetes ke dalam matanya. Perih. Christiawan menawarkan pandangannya tentang peta globalisasi dalam konteks ekonomi, kapitalisme, dan mitos imperialisme.

*) Rudi Hartono

 

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement