Tag Archive | "Pameran"

Seni Grafis Yang Demokratis

Tags: , ,

Seni Grafis Yang Demokratis

Posted on 15 May 2012 by jarakpandang

Seorang ibu membawa anak dalam pangkuan tangan kanannya, sedangkan tangannya yang lain memegang tangan anak lainnya. Ibu itu menuju sebuah gerbang. Tepat di depan gerbang, belasan orang berkumpul, ada yang mengacungkan tangan, mebawa batu. Sebagian lagi menggenggam jeruji pagar tepat di depannya. Itulah sedikit gambaran mengenai karya Käthe Kollwitz dengan judul Storming the Gates, dibuat dengan teknik intaglio pada tahun 1897. Karya ini merupakan salah satu dari beberapa karya-karya klasik seniman grafis koleksi sang kurator, Tony Godfrey, dalam pameran seni grafis bertajuk Here and There, Now and Then yang terselenggara di Langgeng Art Foundation Yogyakarta, 15 Maret – 15 April 2012 silam.  Karya-karya old master prints –dalam kalimat Godfrey– seperti Los Chinchillas, seri ke 50 dari karya berseri Francisco Goya yang sangat termasyur, Los Caprichos [1] ditampikan dalam pameran ini beserta karya-karya dari perupa Yogyakarta. Serta seniman di luar kota ini seperti Tisna Sanjaya –karena komitmennya yang kuat kepada Seni Grafis– serta FX Harsono dan Tintin Wulia yang meskipun tidak berdomisili di Yogyakarta, tetapi secara reguler selalu mengunjungi kota ini FX Harsono dan Tintin Wulia yang meskipun tidak berdomisili di Yogyakarta, tetapi secara reguler selalu mengunjungi kota ini.

Hampir semua karya yang dipamerkan Here and There, Now and Then dicetak di atas kertas, dengan teknik dasar Intaglio. [2] Sedikit diantaranya menggunakan taknik cetak tinggi. Dalam catatan kuratorialnya, sebelum pameran ini diselenggarakan, Tony Godfrey sempat bertanya kepada beberapa seniman yang ia kenal di Jogja: apakah mereka pernah melihat karya-karya old master prints selain di dalam buku? Jawaban mereka adalah “tidak”. Setelahnya, ia membawa 180 karya-karya tersebut untuk mereka lihat secara langsung. Ia juga mengatakan bahwa penyelenggaraan pameran ini berawal dari ketertarikannya melihat fakta bahwa: diatara seniman-seniman Jogja terdapat banyak diantaranya menempuh pendidikan dalam bidang seni grafis. Meskipun, kemudian beberapa diantaranya tidak kita kenal sebagai seniman yang intens berkarya dengan teknik cetak seni grafis.

Bisa diambil contoh ialah Ade Darmawan, saat ini ia lebih dikenal sebagai seniman conceptual art, karya-karyanya meliputi video dan obyek temuan. Bagaimana Menjadi Kaya, ialah judul karya Ade Darmawan dalam pameran ini. Dengan teknik cetak dalam (Intaglio), yaitu Etsa dan Aquatint, karya ini menampilkan gambaran tangan-tangan yang saling terhubung satu sama lain, dicetak dengan tinta hitam di atas kertas berwarna putih. Sebagian gambaran tangan dalam karya ini memegang kain yang juga mengeluarkan tangan. Lainnya memegang buku bahkan menjadi pijakan obyek orang pada dua telapak tangan. Ada keterkaitan diantara tangan-tangan tersebut. Bagaimana Menjadi Kaya dengan jelas menggambarkan prosesnya. Proses menjadi kaya, terkadang bisa didapatkan dengan instan, seperti tangan pesulap yang mengeluarkan benda dibalik kain penutup.

Selain itu, hasil cetakan yang gagal, yang dianggap tidak maksimal oleh pencetaknya, juga ditampilkan pada salah satu bagian tembok, tanpa bingkai. Hal ini memperlihatkan proses cetak setiap karya yang ditampilkan, bagaimana sebuah karya seni grafis tidak terhindar dari keterikatan teknik cetak itu sendiri. Hasil cetakan yang gagal biasanya berupa tinta yang tidak tercetak maksimal atau bergesernya bidang pelat yang menjadi matrix, sehingga imaji yang tercetak di kertas juga ikut bergeser.

***

Pada umumnya, karya-karya old master prints dicetak dengan jumlah edisi yang sangat banyak, bisa mencapai ratusan. Hal sedikit berbeda dengan di Indonesia dewasa ini. Dalam ketiadaan pasar seni grafis yang kuat di Indonesia, banyak diantara seniman grafis di Indonesia membuat karya grafis dengan meminimalisir jumlah edisi yang mereka cetak. Bahkan, banyak diataranya dicetak dalam jumlah satu edisi, di atas kain kanvas, dengan ukuran yang relatif besar untuk ukuran sebuah karya cetak seni grafis. Untuk orang-orang yang telah terbiasa mengamati karya-karya old master prints, ini merupakan hal yang samasekali absurd. Karena biasanya mereka melihat sebuah karya grafis dicetak dalam kisaran jumlah ratusan edisi. Bahkan para seniman grafis di Eropa dewasa ini, normalnya mencetak sebuah karya dengan jumlah edisi yang melebihi angka 50. Karena karya seni grafis secara spesifik diciptakan untuk menghasilkan karya dengan jumlah banyak.

Asumsi saya ialah, sedikit banyak hal ini memang berkaitan dengan kondisi pasar seperti yang telah disebutkan sebelumya. Sebuah karya seni grafis, jika semakin banyak memiliki edisi, tentu memiliki harga yang relatif lebih rendah sesuai dengan semakin banyaknya jumlah karya tersebut. Sangat wajar jika seseorang dengan pendapatan kelas menengah seperti Godfrey memiliki uang yang cukup untuk membeli karya-karya dari Francisco Goya dan Tiepolo, tapi tidak untuk karya Agus Suwage.[3]

Memang, hal ini adalah masalah klasik dalam seni grafis di Indonesia –selain kekhawatiran daya tahan kualitas kertas di Indonesia, yang telah menjadi rahasia umum. Untuk masalah terakhir, beberapa seniman mulai mengatasinya dengan menggunakan material kertas impor dengan kualitas tinggi. Seperti Tisna Sanjaya yang kerap menggunakan kertas Hahnemühle untuk setiap karya intaglio-nya. Kertas asal Jerman ini, selain memiliki kualitas sangat baik, dilengkapi dengan sertifikat keotentikannya pada setiap lembar kertas, serta ketahanan yang bisa mencapai lebih dari 100 tahun. [4] Selain itu, seniman asal Yogyakarta Bayu Widodo baru-baru ini menggunakan kertas Fabriano buatan Italia untuk beberapa karya screen printing, dalam pameran tunggalnya di Galeri ber.seni, Jakarta, 22 April hingga 20 Mei 2012. [5]

Masih menyoal kertas, sebenarnya di Indonesia sendiri terdapat beberapa kertas dengan kualitas cukup baik. Tinggal bagaimana kita memastikan perawatan terhadap kualitas kertas itu tetap diperhatikan. Karena, selain karya dengan material kanvas, di Indonesia sendiri terdapat beberapa tempat yang menyediakan jasa restorasi kertas. [6] Dalam perbincangan dengan Bambang Budjono beberapa waktu lalu di Fakultas Seni Rupa Insitiut Kesenian Jakarta, saya mendapatkan informasi jika di Balai Konservasi Jakarta terdapat tempat restorasi karya seni, termasuk kertas. Selain juga terdapat di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).[7] Tempat lain yang menyediakan jasa ini, ialah juga terdapat di Perpustakaan Nasional Indonesia, serta beberapa galeri swasta di Jakarta. Sangat menarik jika para seniman di Indonesia mulai memikirkan bagaimana mencari penyelesaian-penyelesain masalah seperti ini, bukan hanya seniman grafis, tapi seniman pengguna material kertas lainnya. Seperti seniman yang intens dengan teknik drawing di atas kertas.

Jika kita melihat jauh ke belakang, seni grafis sejak awal kemunculannya memang identik dengan jumlah karya yang relatif banyak, bisa mencapai puluhan bahkan ratusan edisi. Karya-karya dengan menggunakan teknik seni grafis kerap ditemukan dalam ilustrasi buku-buku, dengan teknik cetak Intaglio; serta pada poster-poster dengan dominasi teknik Litografi. Sifatnya yang bisa digandakan seharusnya dapat dilihat sebagai kelebihan, bukan sebaliknya. Sifat reproduktifitas seni grafis ini tidak bisa disamakan dengan reproduksi. Resolusi International Congress of Plactic 1960 yang masih dipakai sampai sekarang, menerangkan bahwa karya seni grafis pada prinsipnya adalah karya orisinal dengan pertimbangan kerja tangan seniman berlaku di atas pelat cetak dan hasil cetakannya disetujui oleh seniman. Dalam seni grafis, setiap edisi memiliki nilai orisinal yang dijamin melalui pembubuhan tanda tangan seniman pada setiap hasil cetakan serta nomor urut cetakan. [8] Dengan ini, semestinya permasalahan mengenai orisinalitas karya sudah selayaknya ditinggalkan. Para pelaku ataupun penikmat karya seni grafis sudah seharusnya memahami bahwa ada prosedur dan standar konvensi dalam seni grafis seperti pencantuman nomor edisi termasuk artist proof dan test print, yang berlaku global dan tidak mengurangi nilai orisinalitasnya. Barangkali, dalam hemat saya, semangat yang harus dikedepankan dalam hal ini ialah, meminjam kalimat Luis Camnitzer –seorang professor dan seniman grafis kelahiran uruguay­: ini adalah bagian dari upaya demokratisasi seni.

Dalam pameran ini, upaya bermain-main dengan konvensi seni grafis, keliru kiranya jika dilihat sebagai sebuah rigiditas dalam berkarya dengan teknik cetak seni grafis. Sebaliknya, adanya penyegaran ketika kita diperlihatkan kepada karya seni grafis yang tidak berusaha mendekati pendekatan seni lukis pada umumnya –seperti kerap kali terlihat dalam karya-karya seni grafis di Indonesia dewasa ini: berukuran besar, dengan media kanvas dan dicetak dalam satu edisi. Dalam Here and There, Now and Then, ada semacam penolakan halus melalui bisikan yang riuh rendah, terhadap komodifikasi seni –utamanya dalam seni grafis– yang perlahan mengikis kedemokratisan pada setiap karyanya.

–Asep Topan, Mei 2012.

 

__________________

Catatan Kaki:

[1]Los Caprichos adalah 80 seri karya cetak aquatint dibuat oleh seniman asal Spanyol Francisco Jose de Goya yang dibuat pada kurun waktu 1797 sampai 1798. Karya-karya ini mengkritisi kondisi sosial masyarakat spanyol waktu itu, meliputi dominasi takhayul, ketidakmampuan penguasa, penurunan rasionalitas, dll.

[2] Intaglio adalah teknik cetak dalam seni grafis yang biasa juga disebut sebagai Cetak Dalam. Biasanya pelat tembaga atau seng digunakan sebagai bahan acuan utama, dan permukaan cetak dibentuk dengan teknik etsa, aquatint, engraving, drypoint, atau mezzotint.

[3] Godfrey, Here and There, Now and Then (2012) hlm. 1

[4] Lebih lengkap, bisa dilihat dalam situs resminya: http://www.hahnemuehle.com/site/en/169/home.html

[5] Lihat: http://www.berseni.com/event/bayu-widodo/

[6] Berasal dari istilah dalam bahasa Inggris: restoration. Untuk proses perbaikan sebuah karya seni. (restoration: the process of repairing or renovating a building, work of art, vehicle, etc., so as to restore it to its original condition, New Oxford American Dictionary, 2009)

[7] Bambang Budjono, pembicaraan pribadi, 2012. (Lebih lengkap mengenai restorasi di ANRI dapat dilihat dalam tautan ini: http://www.anri.go.id/4dm1n/data/artikel_data/0405279a865230ac0d51cc8c62a2d9d4.pdf

[8] Aminudin TH Siregar, Catatan Dewan Juri Trienal Seni Grafis II – 2009,  Menuju Perspektif Baru Seni Grafis Kita (Jakarta: Bentara Budaya Jakarta, 2009) hlm. 8.

Comments (0)

Seni Suvenir dan Suvenir Seni

Tags: , , ,

Seni Suvenir dan Suvenir Seni

Posted on 16 April 2012 by jarakpandang

Pameran yang menghadirkan pelbagai suvenir dari beragam medium. Ada kaus, gantungan kunci, pin, dan pembatas buku. Sekadar merupakan tanda mata?

 

Kaus oblong putih itu bertuliskan “Bruno Mars”. Dalam kondisi normal, gambar yang terpampang di kaus tersebut seharusnya wajah Bruno Mars, si penyanyi ganteng asal Amerika Serikat. Tapi, alih-alih memajang foto pelantun tembang Just The Way You Are, itu si desainer kaus memilih memasang gambar anjing dan Planet Mars. Bila kita memperhitungkan bahwa banyak sekali anjing yang dinamai Bruno, maka gambar anjing dan Planet Mars itu memang bisa dibaca sebagai “Bruno Mars”.

Jail? Iya. Tapi, itu belum seberapa. Bandingkan dengan kaus hitam bertuliskan “Black Sabbath”, sebuah grup band asal Inggris yang banyak dianggap sebagai pemula aliran heavy metal. Ketimbang memasang wajah Ozzy Osbourne, vokalis Black Sabbath, si desainer memilih memajang wajah Ozy Syahputra, pelawak Indonesia yang melambung karena perannya sebagai hantu banci dalam film Si Manis Jembatan Ancol. Apa hubungan Ozzy Osbourne dengan Ozy Syahputra? Jawab saja sendiri.

Menyandingkan Ozzy Osbourne dengan Ozy Syahputra itu lucu, sementara membandingkan Bruno Mars dengan anjing dan Planet Mars itu sedikit kasar. Tapi mau bagaimana lagi. Si desainer dua kaus itu, sebuah kelompok seniman bernama Cubatees, memang gemar akan humor gelap yang sarkastik dan sedikit ngawur. Coba saja buka blog kelompok asal Bekasi, Jawa Barat, ini, Anda akan menemukan tagline “Hanya tuhan Yang Tahu, kalo kami sih tempe”.

Cubatees adalah kelompok yang banyak berkarya dalam medium kaus. Mereka menjadikan kaus sebagai alat ekspresi, sekaligus menjualnya secara komersial. Sebagian kaus karya kelompok ini dipamerkan dalam pameran “Tanda Mata: Jakarta Merchandise Project”, yang digelar di RuRu Gallery, Tebet, Jakarta Selatan, pada 30 Maret-14 April.

Penyelenggara pameran ini adalah ruangrupa, kelompok seniman asal Jakarta, sementara kuratornya adalah Riyan Riyadi alias Popo, seorang street artist. Selain Cubatees, ada tujuh seniman lainnya, baik individu maupun kelompok, yang ikut dalam pameran ini. Mereka adalah Recycle Experince, Jah Ipul, Gardu House, Kamengski, Ika Vantiani, Komunitas Pecinta Kertas, dan Paguyuban Lapak Urban.

“Tanda Mata” bukanlah pameran karya seni biasa. Tak ada lukisan, patung, atau instalasi dalam pameran ini, seperti dalam pameran seni rupa yang lumrah. Yang ada justru gantungan kunci, kaus, poster, atau kartu pos. Ya, ini memang pameran merchandise, alias suvenir. Tapi, suvenir yang dipajang dalam pameran ini, mau tak mau, memang berkait dengan dunia seni.

 

Suvenir-suvenir dalam pameran ini bisa dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah merchandise yang merupakan artist merchandise. Kita tahu, seperti halnya kelompok musik, seniman-seniman di Jakarta, terutama yang bergerak dalam dunia street art, banyak yang memproduksi suvenir yang berkaitan dengan diri dan karya mereka.

Suvenir tersebut berupa kaus, gantungan kunci, pin, dan lain sebagainya. Inilah yang disebut sebagai artist merchandise. Suvenir para seniman ini bukanlah karya seni, tapi sekadar produk komersial yang diproduksi terbatas sebagai bagian dari promosi mereka –mirip dengan fungsi merchandise pada umumnya.

Kelompok kedua adalah merchandise yang diproduksi sebagai karya seni. Pada kelompok ini, merchandise menjadi medium seni, bukan lagi sekadar alat promosi dari sebuah kelompok seniman. Selain seniman yang memproduksi merchandise sebagai bagian dari promosi, memang ada seniman yang berkarya dalam medium merchandise.

Cubatees, misalnya, merupakan kelompok yang menjadikan kaus sebagai medium berkesenian, selain tentu saja sebagai produk komersial. Demikian pula dengan Jah Ipul, Recycle Experince, Komunitas Pecinta Kertas, Ika Vantiani, atau Paguyuban Lapak Urban. Sementara Gardu House memproduksi kaus sebagai merchandise.

Gardu House merupakan kelompok yang didirikan para street artist sehingga karya utama dari para pendiri kelompok ini bukanlah kaus, melainkan grafiti atau mural di tembok-tembok jalanan. Bagi Gardu House, kaus atau pin hanyalah suvenir, meski –kalau mau bergenit-genit– benda-benda itu bisa dianggap sebagai karya seni pula.

Praktek yang hampir sama dilakukan Kamengski, sebuah brand clothing yang berhasrat menampilkan karya seniman-seniman muda di Indonesia dalam kaus-kaus yang mereka produksi secara terbatas.

Dari sisi medium, pameran “Tanda Mata” sangat menarik karena menampilkan pelbagai merchandise dari macam-macam bahan. Komunitas Pecinta Kertas, misalnya, memproduksi pelbagai suvenir dari bahan kertas. Ada topeng, gantungan kunci, boneka, gelang, dan bahkan sepatu. Tentu saja, benda-benda itu dibentuk dari kertas yang sudah diolah menjadi bubur kertas.

Yang tak kalah menarik adalah ide membuat block note dari kertas bekas. Ada block note yang dibuat dari kertas yang sudah berisi tulisan sehingga hanya satu halaman dalam tiap lembar kertas di block note itu yang masih bisa dipakai untuk menulis.

Kelompok Recycle Experince membuat macam-macam suvenir dengan barang-barang bekas yang mereka temukan sehari-sehari. Dari segi rupa, karya-karya mereka, yang sebagian besar berupa boneka dan gantungan kunci, kebanyakan berupa karakter robotik yang dinamai dengan sebutan “Character Robotic Imagination”.

 

Ika Vantiani juga banyak memanfaatkan barang bekas yang masih bisa dipakai dengan trendi. Ika menampilkan barang-barang handmade berupa bantal, pembatas buku, dan dompet dengan teknik kolase.

Yang paling menarik dalam pameran ini adalah karya Syaiful Ardianto alias Jah Ipul. Karya-karyanya berupa kartu pos, komik, poster, dan lain sebagainya. Yang unik, Ipul memanfaatkan potongan-potongan dari berbagai teks, seperti potongan berita koran kuning atau komik-komik lama yang dipelesetkan teksnya.

Salah satunya, Ipul mengolasekan potongan kisah dari buku-buku bergambar yang bercerita soal siksa neraka. Beberapa tahun lampau, buku-buku macam itu memang sangat marak dan menjadi salah satu barang dagangan yang laris dijajakan di lapak-lapak buku berukuran kecil. Dari sono-nya, isi buku itu memang aneh dan mengundang tawa sehingga ketika Ipul menjadikan potongan gambar dari buku itu sebagai kartu pos, kita berhak untuk tertawa.

Tapi, ya, memang berhenti pada tawa. Sebab, karya-karya merchandise ini memang tak ditujukan buat memancing perenungan lebih jauh soal apa pun –maksud yang mungkin terkandung dalam lukisan atau karya rupa lain. Akhirnya, suvenir memang hanya akan jadi suvenir dan wajar bila dalam hari terakhir pameran ini para pengunjung bisa membeli berbagai merchandise yang dipajang dalam pameran ini lalu menyimpannya sebagai tanda mata, bukan karya seni.

 

Haris Firdaus

*) Ulasan ini telah dimuat di Majalah GATRA, edisi 12-18 April 2012

Comments (0)

TANDA MATA: “Artwork For Sale”

Tags: , , ,

TANDA MATA: “Artwork For Sale”

Posted on 12 April 2012 by jarakpandang

RURU Gallery mengawali rangkaian pameran reguler di tahun 2012 dengan mengundang sejumlah seniman muda, baik kolektif maupun individual, yang intens menggunakan merchandise sebagai medium. Dikuratori oleh Popo, street artist yang juga banyak memproduksi merchandise, didampingi Sigit Budi selaku kordinator program, TANDA MATA merayakan ekspresi artistik lewat benda yang dapat digunakan dalam keseharian.

Merchandise dipahami sebagai produk massal yang digunakan dalam aktivitas komersial. Google translate mengartikannya dengan “barang dagangan”. Kita ingat bagaimana NBA pernah mengeluarkan gantungan kunci dan seri kartu, paket mainan Happy Meal dari McDonald’s, payung-payung berlogo perusahaan, produk-produk resmi perhelatan olahraga seperti Piala Dunia dan Olimpiade, partai-partai politik dengan segala atributnya, hingga Majelis Rasulullah yang mencetak jaket bagi anggotanya.

Merchandise digunakan oleh berbagai institusi dan kelompok sebagai sarana promosi, distribusi identitas, sekaligus pernyataan eksistensi. Di sisi lain ia juga dilihat sebagai cinderamata, karena pada dirinya tersimpan identitas atas sesuatu. Katakanlah sebuah tempat; sajadah atau tasbih dari tanah suci, kaos I Love NY dari New York, talas dari Bogor, atau penanda sebuah peristiwa; pertunjukan, konser, dan sebagainya.

Pameran ini memperlihatkan aspek ekonomi dari sebuah benda seni. Bahkan lebih luas lagi, dalam aktivitas produksi seni rupa. TANDA MATA menggarisbawahi kenyataan bahwa produk seni rupa adalah barang dagangan (merchandise) itu sendiri. Ia diperjual-belikan, dikoleksi, seperti seorang fanatik mengoleksi kaos Hard Rock Cafe dari berbagai kota di dunia. Sebagai produk, benda-benda seni adalah investasi dan komoditas. Pada karyanya, seniman memberi nilai (signature) sehingga jadi berharga. Dalam konteks transaksi, maka sebuah lukisan tidak lagi berbeda dari kaos bersablon grup Kangen Band. Atau sebuah karya video tidak jauh berbeda dari VCD bajakan di pedagang kaki lima. Project ini mengundang para seniman yang berkarya dengan kesadaran tersebut.

Seluruh karya dalam pameran ini adalah objek-objek yang dapat digunakan dalam keseharian. Mulai dari kaos, singlet, gantungan kunci, mainan, pajangan, tas, bingkai, kartu pos, jam, toples obat, hingga poster. Ika Vantiani memperlihatkan konsistensinya dalam mengusung teknik kolase yang hadir lewat berbagai benda bermotif cantik. Jah Ipul aka Syaiful Ardianto juga menggunakan kolase pada karya cetaknya. Ipul memungut berbagai rujukan grafis, mulai dari ilustrasi buku tafsir mimpi, drawing pada sampul majalah Hidayah, hingga potongan komik Siksa Neraka.

Kiswinar bersama KPK (Komunitas Pecinta Kertas) menyulap kertas-kertas bekas menjadi berbagai benda menarik. Mulai dari kursi, topeng harimau, hingga sosok kuntilanak Jepang yang keluar dari layar televisi. Pemanfaatan benda-benda yang tidak terpakai juga dilakukan oleh Recycle Experience. Di tangan mereka, berbagai benda sehari-hari menjadi sesuatu yang lain dan menawarkan makna visual baru.

Cubatees menarik perhatian dengan visual yang sangat menggelitik pada kaos-kaosnya. Dengan melakukan jukstaposisi kata dan visual, karya-karya mereka menyodorkan humor yang ganjil. Gardu House menyediakan pakaian bersablon khusus bagi para peminat dan pelaku street art. PALU (Paguyuban Lapak Urban) menampilkan berbagai karya grafis dengan kualitas teknik cetak manual yang sangat baik. Sementara Kamengski hadir dengan kontur visual berdarah-darah dalam warna yang terang. Label desain ini juga menawarkan seri kartu pos, komik, buku saku, dan tempat kapsul.

Cubatees mencuri perhatian dengan strategi presentasi yang menarik. Lewat instalasi berupa sofa, kulkas, dan televisi, mereka menghadirkan sebuah kamar di mana terserak keping-keping VCD karaoke dangdut bajakan. Kaos-kaos tergeletak pada sofa atau digantung di dinding, bersama foto-foto wajah orang tak dikenal. Instalasi ruang menyatu dengan gagasan pada kaos-kaos Cubatees, yang memang menyuguhkan humor mentah dan berbahaya. Mengingatkan kita pada logika humor dalam seri komik oomleo.

TANDA MATA: Jakarta Merchandise Project berlangsung hingga 14 April 2012. Pada hari penutupan, akan diselenggarakan bazaar di mana para seniman dan pembeli saling bermain harga.

Ibnu Rizal

Comments (0)

Rupa Belanja, Rupa Kota: Sebuah Cerminan

Tags: , ,

Rupa Belanja, Rupa Kota: Sebuah Cerminan

Posted on 05 February 2012 by jarakpandang


Rupa Belanja, Rupa Kota, merupakan pameran seni rupa yang di ikuti oleh seniman dari tiga kota berbeda: Jakarta, Bandung serta Yogyakarta. Irwan Ahmett mewakili Ibu kota dalam pameran ini, sedangkan indieguerillas adalah kelompok seniman yang terdiri dari Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko “Miko” Lancur Bawono, berasal dari Yogyakarta juga memamerkan karyanya bersama satu lainnya, Wiyoga Muhardanto yang berasal dari kota Bandung. Continue Reading

Comments (0)

Capung-Animal-Series-2010.-C-Print-on-paper-on-Almunium-Bond-75-x-50-cm

Tags: , , ,

New Folder – Yang Muda, Yang Bercanda

Posted on 14 January 2012 by jarakpandang

New Folder menjadi pameran fotografi yang menandai babak baru dari perjalanan Ruang Mes 56 sebagai salah satu motor penggerak dinamika seni fotografi di Indonesia. Continue Reading

Comments (0)

image courtesy of Marishka Soekarna

Tags: , ,

Buku yang Berisi Itil dan Nonok

Posted on 14 January 2012 by jarakpandang


Ibnu Rizal

Membuka lembar demi lembar buku sketsa, memeriksa rasa, gagasan, dan pendekatan dari setiap seniman.

 

Seorang anak bagaikan secarik kertas putih. Orang tua-nyalah yang memberikan warna dan corak -Hadist Riwayat Bukhari-

RURU Gallery kembali mengadakan pameran yang ketiga di tahun 2011 ini. Setelah Diperkosa Kota dan Underdeveloped (Oktober, OK. Video FLESH), Proyek Buku Sketsa juga menampilkan karakteristik yang khas dari format pameran yang selalu ditawarkan oleh RURU Gallery; sebuah presentasi kolaboratif. Continue Reading

Comments (0)

Keperluan : Beli yang tidak penting untuk diriku, beli yang penting untuk orang lain

Tags: , , , , ,

Toko Keperluan

Posted on 08 June 2010 by jarakpandang

Keperluan : Beli yang tidak penting untuk diriku, beli yang penting untuk orang lain

Oleh : Haris Firdaus*

Dari luar, toko seluas 5 x 4 meter itu tampak sederhana. Dindingnya yang terbuat dari triplek berlapis potongan kayu itu dibiarkan polos, tanpa cat sama sekali. Pintu kaca di depan toko itu terlihat kurang serasi dengan tubuh bangunan. Di samping kanan toko tersebut, tergantung sebuah neon box yang memancarkan cahaya putih.

Berlainan dengan suasana di luar yang kelihatan sederhana, kondisi di dalam toko terasa meriah. Deretan barang aneka macam dipajang dengan warna-warna mencolok. Ada sebuah bola sepak dan lampu badai tergantung di langit-langit, seikat bibit singkong tergeletak di samping pintu masuk, dan sejumlah kaos dan tas tergantung di dinding bagian belakang.

Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement