Tag Archive | "ok video muslihat"

Muslihat yang Melahirkan Gugusan Masyarakat Inovasi Sepandang Kiprah Jatiwangi Art Factory (JAF)

Tags: , , ,

Muslihat yang Melahirkan Gugusan Masyarakat Inovasi Sepandang Kiprah Jatiwangi Art Factory (JAF)

Posted on 20 August 2013 by jarakpandang

Tema MUSLIHAT pada perhelatan OK. Video 2013 merupakan pernyataan yang menegaskan fungsi video sebagai sarana untuk mengaktualisasikan diri. Dalam tulisannya, Ithiel Sola de Pool menyebutkan bahwa teknologi digunakan untuk mengekspresikan diri, menghubungkan manusia, dan merekam pengetahuan yang berada dalam jaringan fluks yang belum pernah terjadi sebelumnya. [1] Tema Muslihat dapat dilihat sebagai pembacaan ulang atas fungsi teknologi, dalam hal ini video yang mampu memberikan intensi bagi penggunanya. Teknologi kini bukan sebagai aparatus produksi belaka tetapi bagaimana pengguna dapat memanfaatkan teknologi secara feasible dan personal. Pengguna (konsumen) dapat memberikan sebuah gagasan dan modifikasi atas teknologi itu sendiri dan dalam segala keterbatasannya dapat menyiasati perangkat teknologi secara fungsional dan bahkan radikal.

Dalam perkembangannya, teknologi di tangan konsumen tidak berhenti hanya pada persoalan fisikalnya semata, melainkan turut menjadi instrumen gagasan yang tanpa disadari menciptakan terminologi sendiri. Masyarakat konsumen ikut membentuk sistem teknologi itu sendiri yang berbagi tempat dengan pihak produsen teknologi. Keduanya sama-sama mengandung komponen sebagaimana Thomas P. Hughes tulis bahwa sistem teknologi mengandung komponen yang berantakan, kompleks, dan komponen yang dapat memecahkan masalah. Teknologi secara sosial dibentuk dan membentuk masyarakat.[2] Jadi, ada semacam resiprokalitas dalam praktik sistem teknologi di masyarakat.

Muslihat konsumen sebagaimana tertulis dalam pengantar OK. Video 2013 diyakini memiliki cara-cara mandiri dalam menyiasati keterbatasan kuasa terhadap teknologi video ataupun moving images, baik kuasa terhadap “perangkat keras” (benda) ataupun “perangkat lunak” (gagasan). [3] Lagi, sebagaimana Thomas P. Hughes sebut bahwa sistem teknologi dapat memecahkan masalah atau memenuhi tujuan yang dapat menggunakan cara apa saja yang tersedia dan sesuai, masalah harus dipecahkan dengan penataan kembali dunia fisik dengan cara yang dianggap berguna atau diinginkan, setidaknya oleh mereka yang merancang atau menggunakan sistem teknologi. Sebuah masalah yang harus dipecahkan, bagaimanapun, mungkin melatari munculnya sistem sebagai solusi. [4]

Masyarakat konsumen bertindak sebagai adaptor, inventor dan inovator yang melebihi perkiraan tentang utilitas teknologi itu sendiri. Teoritikus teknologi dari MIT Eric von Hippel dalam risalahnya memuat jabaran tentang apa yang ia definisikan sebagai komunitas inovasi, yakni suatu node makna yang terdiri dari individu atau lembaga yang saling berhubungan dengan pertukaran informasi yang mungkin melibatkan tatap muka, elektronik, atau komunikasi lain. Komunitas inovasi dapat menjadikan pengguna dan/atau produsen sebagai anggota dan kontributor. Lantas, kehadiran Jatiwangi Art Factory (JAF) dapat dilihat dalam pengertian von Hippel tentang komunitas inovasi. Jaf dalam kurun waktu terakhir ini telah melakukan kerja kolaboratif dan partisipatif dengan mengembangkan inovasi mereka.

Sejak berdiri pada 27 September 2005 beragam program telah dipresentasikan dengan melibatkan diri kepada warga dan aparatur pemerintahan desa. Konektifitas antar seniman, peneliti, warga desa, aparatur pemerintahan menjadi kekhasan aktifitas Jaf melalui serangkaian program berbasis pemberdayaan masyarakat yang mereka lakukan. Diantaranya adalah program residensi, festival video, festival musik yang secara rutin dilaksanakan. Disamping itu Jaf mempunyai strategi dalam menjalankan programnya seperti dalam program residensi yang melibatkan seniman dengan warga dalam membuat karya seni. Ini menarik, bagaimana interaksi dan pemetaan dilakukan oleh seniman dan warga untuk menemukan formula edukasi dan produksi pengetahuan melalui karya yang dibuat.

Meminjam terminologi Jaf, program residensi merupakan hubungan tamu-tuan rumah. Konsep tamu-tuan rumah dimaksudkan untuk melonggarkan batas-batas dari praktik seni dan mendorong penciptaan karya seni yang merefleksikan ide-ide, tradisi, dan isu-isu komunitas setempat yang dipadukan dengan ide-ide dan praktik artistik dari para seniman tamu.  Para partisipan juga akan menjelajahi pola-pola hubungan tradisional-modern, rural-urban, global-lokal, dll. [5] Alih-alih konsep tamu-tuan rumah hemat saya merupakan hubungan dialektis yang dikotomistis dalam mengafirmasi praktik penciptaan karya seni. Namun, metode ini berhasil tidak hanya memproduksi pengetahuan atau mendistribusikannya saja melainkan dapat menjadi sarana dialog lintas budaya melalui karya seni yang diciptakan. Penciptaan karya seni dalam kerja partisipatif Jaf menghadirkan diskursus seni yang lebih berkhidmat kepada kepentingan publik—minimal publik Jatiwangi.

Metode jenial ini adalah trend dalam modus penciptaan karya seni kontemporer dewasa ini yang sudah berlaku alamiah sebagai kehendak sejarah untuk membuatnya demikian.  Namun, kehendak sejarah yang alamiah ini tidaklah terberi begitu saja—ia lahir dan berkembang dalam siklus dan atmosfer perubahan. Eksistensi Jaf merupakan konsekuensi dari perubahan tatanan sosial dan politik di Indonesia disamping proliferasi perkembangan teknologi informasi. Tak semudah jika itu didapat di rezim analog yang membatasi baik terhadap akses alat produksi maupun wacana. Sebagaimana Philip Kitley catat, di zaman rezim analog hubungan negara-masyarakat digabungkan dalam penggabungan progresif masyarakat sipil ke dalam negara. [6]

Salah satu praktik berkesenian Jaf yang mengundang perhatian adalah festival video pedesaan (Village Video Festival)—sebuah festival berskala internasional yang secara perdana diselenggarakan pada tahun 2009. Gagasan video di masa digital ini turut dimainkan oleh Jaf dengan pendekatan partisipatif ala Jaf. Konsep tamu-tuan rumah menjadi aksioma dalam setiap program Jaf termasuk perhelatan Village Video Festival dimana hubungan yang bersifat oposisi biner dilakukan dengan pemetaan masalah, potensi dan riset kewilayahan yang dilakukan secara bersama dan kemudian dipresentasikan dalam bentuk video. Produk yang dihasilkan tidak berhenti pada ruang pameran melainkan dapat didistribusikan kepada warga desa melalui jaringan televisi komunitas yang siarannya dapat ditangkap di sekitar Jatiwangi.  Peluncuran perdana JAFTV pada penyelenggaraan 3rd International Video Residency Festival 2011 menjadi saluran kemandirian informasi warga Jatiwangi. Dan menariknya, kehadiran JAFTV secara ekspisit dimaknai sebagai counter-discourse terhadap kepanikan massal yang terjadi atas informasi yang meluber dari sajian televisi mainstream. Hemat saya, peran warga Jatiwangi dalam memproduksi informasi adalah sebagai manifestasi warga negara aktif yang mempunyai kesadaran politiknya—tidak menjadi warga negara pasif yang panik terhadap banjir informasi.

Berlanjut pada perhelatan 4th International Video Residency Festival 2012 yang mengusung tema IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS.  Tema ini secara arketipal berhubungan dengan terma good government—yang dikomunikasikan melalui karya video. Jaf menyebutnya sebagai sharing kekuasaan antara pembuat kebijakan dalam hal ini MUSPIKA Kecamatan Jatiwangi dengan para partisipan yang terdiri dari latar belakang berbeda seperti seniman, peneliti dan praktisi. Seturut dengan perhelatan Village Video Festival sebelumnya, pada perhelatan keempat ini tetap menjadikan karya video sebagai usaha untuk menciptakan kemandirian informasi dan kesadaran dalam menggunakan media.

Disamping itu, Jaf tidak hanya berkecimpung dalam pengkaryaan medium audio visual tetapi juga mengeksplorasi potensi geografis tanah Jatiwangi yang merupakan bahan baku untuk industri genteng dan keramik. Tanah Jatiwangi dimaknai sebagai moda kebudayaan baru dimana tanah dapat dijadikan instrumen berkesenian mulai dari musik, carf, seni rupa, keramik hingga seni performance. [7] Festival Musik Keramik menandai gugus kebudayaan baru bagi warga Jatiwangi dalam mempersepsikan dan mengartikulasikan potensi tanah Jatiwangi sebagai sebuah ritus kontemporer yang dihayati oleh warga Jatiwangi.

Aktivisme—menjadi model dalam mengekspresikan semangat gerakan media baru. Pesatnya perkembangan Media Baru dan teknologi komputer memiliki potensi untuk mengubah sifat dari ruang publik dan membuka saluran baru komunikasi untuk proliferasi suara-suara baru. [8] Dalam amatan Manuel Castells bahwa teknologi media baru merupakan pusat untuk proses ini. Ini adalah teknologi ‘mediasi’; teknologi yang membuat jaringan dapat dihubungkan dan memungkinkan adanya masyarakat jaringan.[9] Tentunya, Jaf ambil bagian dalam aktivisme gerakan media baru yang mengoptimalkan fungsi dari perangkat multi-platform media baru seperti curah video di Youtube, radio, produksi konten video, tv komunitas dan sharing informasi via web yang mereka kelola.

Media baru yang sifatnya viral dapat bermutasi ke dalam berbagai bentuk—termasuk bagaimana menukangi dan mengakali praktik muslihat teknologi. Dan Jaf dengan caranya berhasil melakukan aksi siasat terhadap kuasa teknologi dengan aksi sepihak sebagai modus operandinya. Sebuah tageline JAFTV, PAREUMAN BAE dan bagaimana masyarakat Jatiwangi dengan mudahnya masuk tv merupakan negasi terhadap kuasa teknologi audio visual yang bersifat korporatis dan terpusat.  Akhirnya, kemampuan melakukan inovasi adalah modal untuk merumuskan dan mengaktualisasikan potensi warga yang semakin terdesak oleh aparatus korporasi yang beriman kepada kepentingan akumulasi modal. Jatiwangi Art Factory (JAF) telah melakukan muslihat yang melahirkan gugusan masyarakat inovasi—benteng pertahanan kemandirian dan kemerdekaan masyarakat demokratis.



[1] Lihat Ithiel de Sola Pool, Technologies of Freedom, The Belknap Press of Harvard University Press, Cambridge, MA & London. 1983. Hal. 194

[2] Lihat Thomas P. Hughes, “The Evolution of Large Technological Systems”, dalam Wiebe E. Bijker (Ed.), The Social Construction of Technological Systems New Directions in the Sociology and History of Technology, The MIT Press, Cambridge, Massachusetts & London. 1987,1989,1993. Hal. 51

[3] Lihat Pengantar MUSLIHAT OK. Video – 6th  Jakarta Interantional Video Festival. http://okvideofestival.org/2013/

[4] Op.cit, Hal. 53

[5] Lihat  http://jatiwangiartfactory.wordpress.com/about/festival/

[6] Lihat Philip Kitley, “Television and the public sphere in Indonesia after Reformasi”, dalam Philip Kitley (Ed.) Television, Regulation and Civil Society in Asia. RoutledgeCurzon. London: 2003. Hal. 98

[8] Lihat  Glen Creeber and Royston Martin, Digital Cultures. Glen Creeber and Royston Martin (Ed.). Open University Press. Berkshire & New York. University Press McGraw-Hill Education. 2009. Hal. 5

[9] Lihat Robert Hassan & Julian Thomas. The New Media Theory Reader. Berkshire & New York. Open University Press & McGraw Hill-Education. 2006. Hal. xxiv

 

Sumber Acuan

Eric von Hippel, Democratizing Innovation, The MIT Press, Cambridge, MA & London. 2005.

Glen Creeber and Royston Martin, Digital Cultures. Glen Creeber and Royston Martin (Ed.). Open University Press McGraw-Hill Education, Berkshire & New York. 2009.

Henry Jenkins and David Thorburn, “Introduction: The Digital Revolution, the Informed Citizen, and the Culture of Democracy”dalam Democracy and New Media, Henry Jenkins and David Thorburn (Ed.). The MIT Press, Cambridge, MA. 2003.

Ithiel de Sola Pool, Technologies of Freedom, The Belknap Press of Harvard University Press, Cambridge, MA & London. 1983.

Pengantar MUSLIHAT OK. Video – 6th  Jakarta Interantional Video Festival. http://okvideofestival.org/2013/

Philip Kitley, “Television and the Public Sphere in Indonesia after Reformasi”, dalam Philip Kitley (Ed.) Television, Regulation and Civil Society in Asia. RoutledgeCurzon, London. 2003.

Robert Hassan & Julian Thomas. The New Media Theory Reader. Open University Press & McGraw Hill-Education, Berkshire & New York. 2006.

Thomas P. Hughes, “The Evolution of Large Technological Systems”, dalam Wiebe E. Bijker (Ed.), The Social Construction of Technological Systems New Directions in the Sociology and History of Technology, The MIT Press, Cambridge, Massachusetts & London. 1987,1989, 1993.

http://jatiwangiartfactory.wordpress.com/2012/10/22/ceramic-music-festival-2012/

http://jatiwangiartfactory.wordpress.com/about/festival/

 

Profil Penulis:
Renal Rinoza—Peneliti Media yang saat ini sedang melakukan pengembangan risetnya dibidang Persebaran Komunikasi Massa, ICT, Network Society, Computer Mediated-Communication (CMC) dan Dampak Pembangunan Di bidang Teknologi Informasi. Bersama tim Akumassa Forum Lenteng menulis Laporan Penelitian Pemantauan Media Berbasis Komunitas: Kajian Terhadap Sajian Informasi Media Massa Lokal yang telah diterbitkan bulan April 2013. Lahir di Jakarta, 8 Maret 1984. Lulus kuliah S1 di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pernah kuliah Filsafat Barat di Program E.C Ilmu Filsafat di STF Driyarkara.

 

*)OK. Video adalah festival seni video internasional pertama di Indonesia yang diselenggarakan setiap dua tahun sejak 2003 oleh ruangrupa, sebuah organisasi seni rupa kontemporer di Jakarta. MUSLIHAT OK. Video – 6th Jakarta International Video Festival akan diselenggarakan pada 5-15 September 2013, di Galeri Nasional Indonesia. Informasi lengkap festival dapat diakses di www.okvideofestival.org.

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement