Tag Archive | "event"

Insting Perupa Muda

Tags: , ,

Insting Perupa Muda

Posted on 07 January 2013 by jarakpandang

 Insting : daya dorong utama pd manusia bagi kelangsungan hidupnya (seperti nafsu berahi, rasa takut, dorongan untuk berkompetisi); dorongan untuk secara tidak sadar bertindak yang tepat    -Kamus Besar Bahasa Indonesia-

10 perupa muda sedang berpameran di Taman Ismail Marzuki dari tanggal 5-13 Januari 2013. Mereka memang muda, statusnya masih mahasiswa. namun jangan meremehkan kemampuan berkaryanya. Dikuratori Angga Wijaya, juga masih mahasiswa, pameran bertajuk Animal Instinct ini mengetengahkan beragam karya dan gaya. Karya lukis, grafis, ilustrasi, instalasi, performance, serta video yang mengetengahkan konsep-objek dalam kaitannya dengan hewan.

Insting dalam pengertian ini dapat terkait dengan niat mereka untuk mengadakan pameran bersama ini. Menurut Angga, pameran ini dilakukan dengan ‘diam-diam’ tanpa bantuan dari pihak kampus maupun dosen. hal ini tentu saja dapat dilihat sebagai bentuk positif. semangat dan kemandirian mereka dalam menghelat sebuah pameran patut diacungi jempol. dipersiapkan sejak satu tahun sebelumnya, memperlihatkan kesungguhan mereka dalam pameran ini.

Sejatinya mereka adalah calon tenaga pendidik seni rupa. Dipersiapkan dengan sangat matang untuk menjadi pengajar. Oleh karena itu, fokus utama bukan pada penciptaan karya. Stigma menjadi guru ini rupanya terlalu melekat, sehingga nampak tidak ada kemungkinan untuk memilih jalur lain. Menjadi seniman profesional misalnya. Lewat pameran ini, mereka ingin menunjukkan kemampuan mereka sekaligus membuktikan eksistensi mereka sebelum nantinya masuk ke dalam dunia seni rupa yang lebih luas.

Secara teknis, karya-karya yang tampil dalam pameran ini tersaji dengan baik dan layak. Menurut sang kurator, setiap pameris diberikan kesempatan untuk menampilkan karya sesuai dengan ketertarikan mereka. Maka jangan heran, anda akan banyak menemukan gaya yang lazim berada di tembok jalanan sebagi karya street art semacam mural atau wheatpaste. Tengok karya Dhado Wacky Human Wild, berupa lukisan cat acrylic di atas permukaan kayu. Tiga sosok serupa manusia, memiliki tangan dan kaki namun berkepala seperti binatang dengan tengkorak di wajahnya. Mereka saling bergulat, seperti berkelahi, ingin saling serang, saling bunuh.

Human Wild - Dhado Wacky

Karya ini jelas-jelas menggunakan pekerti karya street art. Warna-warna kontras, karakter, serta pesan yang lugas. Dalam sekali lihat kita dapat mengerti bahwa Dhado berupaya menerjemahkan sifat liar manusia terhadap sesamanya, mungkin lebih liar dari binatang itu sendiri.

Dalam karya HOPE, Muchlas ‘Daftpig’ menampilkan tiga buah panel berukuran 90 x 120 cm. diletakkan dalam posisi berurutan, portrait-landscape-portrait. Ketiga panel itu menarasikan cerita tentang seekor babi dan (laki-laki?) pemiliknya. Babi ini —berwarna pink dan hanya punya ekspresi melotot— bermandikan cokelat, boncengan di sepeda dengan pemiliknya, dan terakhir menggunakan baju terusan; bergandengan tangan. Kita boleh berkhayal bahwa ini adalah harapan si babi, dari binatang yang haram dan selalu menjadi objek konsumsi, menjadi hewan yang dipelihara dan disayang. Atau sebaliknya, ini merupakan harapan dari Muchlas tentang hubungan antara manusia dengan hewan yang selama ini hanya bersifat memakan-dimakan?

HOPE

Kerja keras lebah dalam membangun koloninya, menjadi inspirasi bagi Moch. Hasrul untuk menciptakan karya instalasi-interaktif LED EAT BEE. kata LED memang menunjuk pada lampu kecil yang bercahaya terang itu. Hasrul membuat rangkaian listrik dari sepeda statis menuju susunan lampu LED yang dipasang di tembok. Pengunjung harus mengayuh pedal sepeda dengan cukup cepat agar bisa melihat lampu LED itu bersinar-sinar. Cahaya yang dihasilkan akan membentuk stilasi siluet dua ekot lebah yang sedang terbang. Karya ini cukup unik dan berbeda dari karya lain yang ada disini.

Namun sayang, proses eksekusi terutama pada bentuk stilasi lebah terbang kurang digarap dengan baik. Jika tidak melihat judul, pengunjung sulit menerka-nerka bentuk yang dihasilkan oleh cahaya tersebut. jarak pandang dari tempat sepeda ke dinding juga sepertinya perlu pertimbangan lagi.

Bentuk-bentuk imajinatif juga muncul dalam karya. M. Haryo Utomo, dalam THE P.O.P ia menghadirkan lukisan serupa unta dengan pemiuhan disana sini. Kita hanya bisa mengenali bentuk unta dari punuk yang terdapat di satu dua lukisan. Hewan imajiner itu punya dua kepala. Ada pula yang punya 5 kepala dengan leher berbentuk lambang peace kaum hippies. Haryo juga menggambar di banyak kanvas. 6 kanvas dengan ukuran berbeda-beda digunakan sebagai tempat berdiam, hewan imajinernya itu.

THE P.O.P

Rishma Riyasa, nampak juga tertarik dengan bentukan fantasi. Ia —dengan kemampuan menggambar yang baik— menggabungkan bagian-bagian antara hewan dengan manusia. SIMBIOSIS judul karyanya. Rishma seolah ingin membicarakan tentang hubungan (saling menguntungkan) antara manusia dan hewan di sekitarnya.

SIMBIOSIS

Terkait dengan hubungan manusia dan lingkungan sekitarnya, Adi Dhigel memberikan perlambangannya dalam Hujan di Kampung Semut. Menggunakan teknik cukil kayu dan hand colouring, karya berukuran besar ini menggambarkan suasana kegiatan kerja bakti di sebuah perkampungan. Tokoh-tokoh dalam karya ini, mirip-mirip dengan karakter Petruk buatan Tatang S. Dhigel dengan cerdik menyindir pola hubungan manusia dengan sesamanya, yang semakin sulit untuk berinteraksi.

Hujan di Kampung Semut.

Teknik pewarnaan dikerjakan dengan rapi dan telaten. Kita bisa merasakan keriuhan kerja bakti lewat berbagai macam gestur yang ditampilkan. Dhigel tentu saja ingin menyandingkan sifat manusia dengan semut yang selalu bekerja keras. Atau bisa jadi ini adalah harapan Dhigel, agar manusia bekerja lebih giat daripada semut yang bahkan masih bekerja saat hujan.

Beberapa karya jenaka ditampilan oleh Amy ‘simonyetbali’ dan Anita Bonit. Ami dengan ciri khas gambar komikalnya, sedang mempermainkan lukisan Michaelangelo ‘The Creation of Adam’. Lukisan di langit-langit Chapel Sistine yang menggambarkan kisah penciptaan manusia pertama di dunia itu diparodikan oleh Amy. Ia mengganti posisi Adam, yang sedang duduk bersandar dengan seekor kera. Kemudian, posisi ‘Tuhan’ digantikan oleh seorang laki-laki berkacamata hitam, bertelanjang dada, ditemani beberapa hewan bermata satu. Laki-laki itu sedang menyuapi si kera dengan pisang.

The Creation of Adam

Sementara ketertarikan Anita Bonit pada anjing nampak dalam karya DOGGIE STYLE. judul yang ambigu, apalgi jika tidak melihat karyanya secara langsung. Bonit menyajikan tujuh buah lingkaran kain dengan ukuran bervariasi. Setiap bagian tengah kain tersebut Bonit menampilkan cetak saring berbentuk anjing dengan pose akrobatik. Dari sini kita baru benar-benar paham Bonit memang menampilkan anjing yang bergaya.

DOGGIE STYLE

Daniel Ferryansyah memberikan instingnya sebagai perupa dalam melukis karya INSTING dan NEGATIVE INSTINCT. Daniel mungkin satu-satunya perupa yang tidak menggambarkan objek binatang maupun judul yang berkaitan dengan binatang. bagi Daniel, insting yang ia maksud adalah sesuatu yang sifatnya spontan dan tidak direncanakan. Maka tidak heran jika kemudian ia menmapilkan karya yang murni lahir dari instingnya untuk berkarya.

INSTING dan NEGATIVE INSTINCT.

Satu-satunya karya non-dua dimensi yang hadir dalam pameran ini adalah aksi performans dari Riezky Ponga. Karya berjudul INTERAKSI ini menceritakan tentang proses percampuran yang saling melengkapi. Ponga melambangkannya dengan menggunakan es campur. Susunan mangkuk berbentuk segitiga dilengkapi dengan lilin di tengahnya. Tiap mangkuk itu dihubungkan dengan seutas tali, yang berujung pada mesin serutan es. Ponga memulai aksinya dengan menyerut batu es; menaruh ke dalam mangkuk; mencampurkan sirup di atasnya; menyalakan lilin. Proses itu dia lakukan berulang-ulang hingga seluruh mangkuk terisi es, dan lilinnya menyala. Ponga seolah sedang meniru pola interaksi dalam hidup manusia. Kita bertemu, bercampur, saling berinteraksi dan berhubungan.

INTERAKSI

Proses kerja kurator juga terbilang cukup baik. Tata letak karya, cahaya, serta pemanfaatan ruang pameran dilakukan dengan maksimal. Hanya saja sedikit kelemahan pameran ini ada pada penerjemahan tema yang seakan-akan menjadi terlalu eksplisit. Tema yang disuguhkan seolah ditelan dan diterjemahkan begitu saja; tidak ada konteks yang lebih luas yang disinggung dalam karya. Kurator nampaknya mempunyai pekerjaan yang mesti dibereskan untuk mendorong teman-temannya menciptakan karya yang lebih berani masuk ke dalam konsep pemikiran dan diolah secara matang.

Insting mendorong manusia untuk secara tidak sadar melakukan hal yang dianggap benar. Maka kita boleh berharap lewat pameran ini mereka tidak lagi sekedar mengikuti insting. Namun mampu berperan secara sadar dan aktif sebagai perupa yang tajam untuk dapat mengenali masalah di lingkungan sekitar, tajam untuk menyampaikan konsep-konsep dengan lugas ke dalam tiap karya mereka dan tajam untuk menciptakan perubahan dalam seni rupa Indonesia. Sekali lagi, selamat!

* tulisan oleh Leonhard Bartolomeus foto oleh Angga Wijaya

*)Keduanya adalah kontributor jarakpandang.net, peserta Workshop Penulisan ruangrupa Angkatan V.

Comments (0)

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Tags: , , ,

Ketika Diri Sendiri Dipertanyakan

Posted on 18 November 2012 by jarakpandang

Oleh: Asep Topan

Identitas, sebuah kata yang saya pikir tepat untuk melihat isu besar yang diangkat oleh Saleh Husein dalam pameran tunggal pertamanya ini. Sebuah hasil dari pencarian asal-usul keluarganya yang berlatar belakang etnis Arab. Saleh yang dilahirkan di Jeddah pada 1982 dari keturunan Arab-Jawa, menempuh pendidikan akademisnya di jurusan seni lukis Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Sebagai seniman, ia banyak terlibat dalam berbagai perhelatan seni rupa, seperti pada Jakarta Biennale XIII 2009: ARENA di Jakarta, serta Occupying Space: ASEAN Performance Art Event  di Galeri Nasional Indonesia; selain juga dikenal sebagai salah satu gitaris grup musik White Shoes and The Couples Company serta The Adams. Pameran dengan tajuk Riwayat Saudagar ini terselenggara mulai 20 Oktober hingga 2 November 2012, di RURU Gallery. Saleh bukanlah seniman sekaligus musisi pertama yang berpameran tunggal di sini. Sebelumnya, terdapat beberapa nama yang pernah menghelat karya-karya visualnya di RURU Gallery: Jimi Multahzam pada pameran JIMI! JIMI!, Aprilia Apsari dengan Rayuan Pulau Kelapa serta pameran tunggal Henry Foundation yang bertajuk Copy Paste.

Pada pameran ini, pengunjung sangat dimudahkan dengan tata letak pameran yang sangat baik. Saleh tidak menampilkan karya yang terlalu banyak, tidak ada instalasi berlebihan. Semua tertata rapih, bukan hanya mempertimbangkan keseimbangan antara satu karya dan lainnya: ia mempertimbangkan vista, kenyamanan pengunjung dalam melihat karya. Dalam Seri karya Spread, dibutuhkan sekurang-kurangnya jarak 4 meter untuk melihat karya ini dengan nyaman. Karakter goresan charcoal  yang kasar akan menjadi lebih halus, terkaburkan oleh jarak. Ini penting, setidaknya ketika retina mata kita menangkap karakter wajah pengantin wanita yang halus. Karya ini menampilkan potret pernikahan dirinya, saudara serta kerabat. Menggambarkan pencampuran etnis Arab dengan pribumi melalui pernikahan. Begitu pun pada seri Identification 1-10 yang berukuran lebih kecil, jarak yang dibutuhkan pun lebih dekat. Selain itu, Ale menggambarkan lebih rinci dengan latar belakang pada hampir setiap karya kanvas bulat berdiameter 20 cm itu. Inilah juga yang menjadi pembeda karya ini dengan karya-karya lainnya yang tidak memiliki latar: berupa figur, dengan rekaman ruang tak tentu. Identification, digambarkan dengan pelbagai citraan dari benda seperti lampu, tenda, tubuh serta lanskap. Setiap karya tidak berdiri sendiri, sangat terlihat ada kesan bahwa Saleh ingin memperlihatkan proses. Ada awal, ada akhir. Idealnya, karya ini dapat dilihat berurutan dari kanvas paling kiri. Ini merupakan cerminan tradisi membaca di Indonesia yang bermula dari arah kiri, ke kanan. Tentu beda jika kita membandingkan dengan tradisi membaca tulisan Arab, misalnya. Tentu saja sangat penting, karena ini akan mempengaruhi interpretasi apresiator. Lain hal jika setiap karya pada seri ini memang berdiri sendiri, tidak berupa cerita yang saling berkaitan satu dan lainnya.

Pada seri Journey yang berjumlah empat karya, Ale menampilkan gambaran dari kapal uap pengangkut imigran dari Arab menuju Indonesia, seperti yang diriwayatkan dalam pameran ini. Empat lukisan fotografis, dengan penyuntingan sederhana yang menampilkan tumpukan-tumpukan warna datar –hampir tanpa gradasi– membentuk keempat kapal tersebut di atas lautan. Warna lebih gelap digunakan untuk melukiskan kapal uap yang menjadi obyek utama pada seri ini. Pertanyaannya ialah, kenapa harus dibuat empat karya yang hampir mirip? Hanya letak horison dan sudut pandang penggambaran serta warna yang menjadi pembeda. Itu pun tidak menguatkkan definisi journey seperti yang tertera pada judulnya. Ada baiknya jika kita melihat karya ini secara keseluruhan, keempatnya sekaligus. Mungkin, kita tidak akan mendapatkan keterangan yang jelas apalagi rinci mengenai perjalanan yang Saleh maksudkan, akan tetapi dari sini terlihat jelas: kekuatan karya ini terletak pada komposisi dan paduan warna halus yang memanjakan mata kita, enak dilihat. Maksud saya, pada karya ini pertimbangan estetis terasa lebih dominan dbandingkan pertimbangan konseptual, ketika si seniman memproduksi karya ini.

Pada Genetic Marker, Saleh menggambarkan genealogi atu garis keturunan ia dan keluarganya. Pohon keluarga digambarkan melalui instalasi sederhana pada salah satu bagian tembok RURU gallery, berujung pada sebuah nama bertuliskan Muhammad. Saleh sedikit mengecoh pemahaman kita yang, jika dengan cepat berkesimpulan akan menyangka bahwa ia merupakan keturunan Nabi Muhammad. Perhatikan satu-demi satu nama yang tertera dalam genealogi tersebut, maka kita akan menemukan kejanggalan: Saleh menuliskan nama wanita dalam genealogi tersebut. Padahal seperti yang ia ungkapkan, penulisan nama seorang perempuan pada garis keturunan etnis Arab tidak diperbolehkan. Saleh tidak mengindahkannya. Ini secara tidak langsung merupakan kritik halus terhadap budaya patriarki yang kita lihat di sana. Sekaligus memperlihatkan paradoks ketika semakin marak orang mengaku keturunan Nabi Muhammad, padahal sejatinya Nabi Muhammad sendiri tidak memiliki seorang anak laki-laki. Bukankah itu berarti keturunannya telah selesai?

***

Tidak ada eksplorasi medium yang mengejutkan dalam pameran ini. Keterampilan menggambar senimannya sangat terlihat pada guratan charcoal, akrilik di atas kanvas serta mural di tembok dan lantai galeri yang menggambarkan peta jalur yang dilewati leluhur Saleh sebelum ke Indonesia: Arab – India – Indonesia. Foto-foto dihadirkan sebagai rekaman memori masa lalu, bagi diri sendiri, serta leluhurnya. Sesuatu yang wajar saya pikir, karena pameran berbasis riset ini terlahir dari tumpukan data yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah karya bahkan pameran. Pilihan-pilihan teknis yang dihadirkan berdasarkan kebutuhan senimannya dalam mengolah data hasil riset tersebut. Sebuah karya video berjudul Brief History diletakan di pojok ruangan yang lebih gamblang dalam menjelaskan Saleh dan leluhurnya. Ada kejanggalan di sini, ketika semua yang kita lihat dalam video tersebut menjelaskan semuanya. Sekalipun tidak melihat karya-karya Saleh yang lainnya, kita bisa dengan mudah mengetahui apa yang ia ceritakan dengan karyanya. Interpretasi yang dibangun oleh pikiran kita terhadap karya-karya lain (selain video tersebut) mulai terusik. Meskipun tidak seutuhnya, tentu saja.

Pencarian identitas dan menampilkannya ke dalam karya seni, bukan pertama kalinya terjadi di ranah seni rupa Indonesia. Hal ini bermula dari pertanyaan sederhana tentang siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita dan mengapa kita berada di sini. Sebelumnya, FX Harsono persis melakukannya dengan sebuah pameran bertajuk The Erased Time pada penghujung 2009 lalu, di galeri Nasional Indonesia. Kesamaan dalam penyelenggaraan pameran seperti ini ialah: semua karya yang ditampilkan bukan hanya menampilkan keterampilan artistik sang seniman, mereka juga mengharuskan diri melakukan riset sebelum karya-karyanya dibuat. Permasalahan yang diangkat begitu personal, menyangkut sejarah dan budaya tentunya. Saleh menempatkan ia sendiri dan identitasnya sebagai subjek utama dalam pameran ini. Akan tetapi tidak berarti karya-karyanya bersifat subyektif, justru sebaliknya, dengan riset yang ia lakukan pameran ini menarik kita pada pemahaman yang lebih luas. Bukan hanya mengenai sejarah sebuah etnis, klan atau seorang Saleh Husein, pameran ini memperlihatkan kita bagaimana negara ini terbentuk dari sebuah keberagaman. Pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan, merangsang kita mencari tahu lebih banyak perihal kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebelumnya. Melalui Riwayat Saudagar ini, pesan penting dari Saleh Husein sangat jelas, sebelum mencari tahu mengenai sejarah dunia atau orang lain, akan lebih baik jika kita mengetahui sejarah diri kita sendiri. Itulah yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan “sederhana” di atas: siapa sebenarnya kita, dari mana asal kita serta mengapa kita berada di sini? Dan Saleh memaksa kita menanyakannya juga pada diri kita sendiri.

Comments (0)

TOP COLLECTION #3: Fotografi dan Yang Sehari-hari

Tags: , ,

TOP COLLECTION #3: Fotografi dan Yang Sehari-hari

Posted on 13 August 2012 by jarakpandang

Saya menikmati pameran Top Collection #3 tidak dari permukaan. Melainkan melihatnya secara subtil sebagai alegori, juga refleksi atas perilaku sehari-hari.

Oleh: Natasha Gabriella Tontey*

21 Juli 2012 lalu saya menyempatkan diri hadir di pembukaan pameran fotografi yang diselenggarakan oleh ruangrupa. Ketika memarkir mobil di depan rumah di jalan Tebet Timur Dalam Raya No. 6 itu, alangkah terkejutnya saya disambut mahkluk gaib yang bergelantungan bawah pohon. Mahluk itu seperti mengajak saya menerka-nerka niat apa yang kali ini ingin disuguhkan ruangrupa. Makhluk yang menjadi ‘tambatan hati’ bagi mereka yang ada di malam pembukaan pameran itu hadir sebagai salah satu karya.

Top Collection adalah proyek fotografi yang mewadahi berbagai eksperimentasi dan pewacanaan terhadap praktik fotografi. Sebagaimana dikatakan oleh kurator pameran, Julia Sarisetiati, fotografi kali ini ditinjau sebagai medium penghasil citra yang semakin masif digunakan dalam keseharian untuk berbagai kepentingan. Apapun peristiwanya, dari yang penting hingga yang paling remeh, kini bisa dikonsumsi publik. Kali ini Top Collection masuk pada kali ketiga.

Sejujurnya cukup sulit memahami pameran ini dilihat dari kaca mata penikmat fotografi murni. Yang ingin disampaikan oleh ruangrupa melalui pameran kali ini adalah peranan fotografi yang kian berkembang sebegitu demokratisnya. Ketika kamera yang disebut Oscar Motuloh sebagai ‘jendela pengintai’ (hanya merekam sejauh mata kita memandang dan sejauh mana kita mau memandang) kini tidak berfungsi hanya sebatas itu. Aktivitas fotografi tidak hanya terjadi ketika rana terbuka, film atau sensor menangkap cahaya selama sepersekian detik, kemudian diikuti oleh proses pengolahan gambar. Lebih jauh, aktivitas fotografi juga hadir melalui pengumpulan foto-foto temuan yang diarsipkan, diberi pembacaan, kemudian diperkenalkan kembali sebagai suatu karya. Jelas, tidak ada praktik fotografi konvensional di sini. Alih-alih, inilah metode untuk melihat gejala-gejala fotografis yang berlaku di masyarakat. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah hilangnya kaidah-kaidah tradisional dari sebuah pameran foto membuat para peserta pameran ini menjadi juru foto? Apakah karya-karya yang ditampilkan di sini adalah karya fotografi?

Fotografi sendiri adalah penemuan penting setelah mesin cetak. Ia adalah salah satu revolusi dalam peradaban. Ia lahir sebagai teknologi yang diciptakan secara jenius untuk memproduksi realitas. Fotografi membekukan dunia secara singkat. Potongan-potongan peristiwa dalam sebuah gambar menjadi bukti atas terjadinya sesuatu. Sekejap fotografi masuk ke media massa. Kehadirannya disambut sebagai inspirasi besar. Sebagai perangkat dokumentasi. Tetapi medium ini terus berkembang lebih dari itu.

Mereka yang hadir di malam pembukaan mungkin ketakutan melihat foto kuntilanak yang dicetak di atas banner berukuran 250 x 80 cm yang digantung di bawah pohon di seberang RURU Gallery itu. Tetapi di saat yang sama kita menikmati rasa kaget itu. Di dalam galeri, karya ini dilanjutkan dengan kumpulan foto yang menangkap sosok hantu secara tak sengaja. Foto-foto mistis yang ditampilkan dalam format slide show pada layar LCD TV ini dilengkapi suara wawancara dengan orang-orang yang pernah terfoto dengan hantu. Inilah karya Reza Mustar berjudul Tampaknya Penampakan. Hantu, sebagai sosok yang dianggap membawa ancaman dan sumber kengerian, menjadi seperti buruan ketika orang berbondong-bondong heboh membicarakannya, bahkan mendokumentasikannya.

Seri Teman-teman Selebriti menceritakan pertemuan Agan Harahap dengan segelintir teman-teman ternamanya yang datang dari berbagai profesi. Di sini Agan memamerkan ‘realitas’ dirinya; mulai dari keakrabannya dengan 50 Cents, Muammar Qadhafi, Hassan Nasrallah, kisah cintanya dengan Sophie Ellis Bextor, Megan Fox, Stoya, hingga kolaborasi musiknya bersama Megawati Soekarnoputri. Foto-foto tersebut tampak nyata dan sangat bagus dari aspek pencahayaan. Mereka yang tidak mengetahui bahwa foto ini adalah karya Agan Harahap tidak akan mengira jika foto ini adalah hasil digital imaging. Di sini Agan secara satir melihat euforia masyarakat yang senang berfoto dengan artis-artis idola dan memamerkannya di linimasa media sosial. Hal ini terlihat dari ‘kesetaraan’ subjek, frame, dan sudut pandang dalam foto-fotonya.

Sejak adanya Facebook sifat kepemilikan foto semakin tidak terkontrol. Siapa saja dapat mengakses foto-foto yang sudah diunggah dan di-tag. Tidak ada larangan karena semua foto yang sudah masuk ke internet adalah milik publik. Reza Afisina mengumpulkan foto-foto performance dirinya serta foto bersama anaknya yang di-tag oleh kerabatnya. Asung menyusun kembali foto-foto itu seperti kolase dan mencetaknya di atas neon box. Terlihat secara sentimentil bahwa Reza Afisina tengah meng-highlight kejadian-kejadian penting dalam hidupnya, seperti kita meng-highlight posting-an yang ada di Facebook kita masing-masing untuk mendokumentasikan hal-hal kecil yang mungkin mudah terlupakan.

Nissal Nur Afryansyah menyediakan photobooth yang melibatkan pengunjung dalam memproduksi karyanya. Suatu interaksi yang mewadahi kebutuhan beropini dan berekspresi. Dengan webcam kita dapat melihat rekaman diri sendiri. Kita juga dapat menentukan bagaimana kita ingin direkam, kapanpun, di manapun. Terlihat jelas bahwa hadirnya photobooth di tengah ruang pamer secara tidak langsung memancing perilaku asli pengunjung. Di dalam galeri atau ruang pamer, tempat di mana tidak lazim bagi orang untuk berperilaku seenaknya, kebanyakan orang menjaga citra dengan “behave”. Tapi tidak di RURU Gallery di mana pengunjung pameran seketika antusias dan terpancing untuk berfoto-foto seorang diri maupun dengan teman di depan photobooth milik Nissal. Inilah satu-satunya karya dalam pameran ini yang paling erat unsur fotografinya karena masih melibatkan interaksi langsung dengan subjek terfoto (dalam hal ini membuat potret diri sendiri) dan masih memperlihatkan adanya aktivitas memencet tombol shutter.

ruangrupa, dengan segala kebrengsekannya, membawa kita untuk memaknai sebuah dunia baru melalui medium ini. Saya setuju dengan apa yang pernah dikatakan Firman Ichsan dalam suatu bengkel kerja fotografi; bahwa fotografi mempengaruhi pandangan seseorang, mengajak kita masuk ke dalam pemikiran si juru foto, tetapi kita memiliki keterbatasan sekaligus keleluasaan untuk membacanya, baik secara estetis, psikologis, maupun ideologis. Para seniman dalam proyek ini menawarkan pengertian fotografi yang tidak lagi terbatas pada hubungan antara juru foto dan subjek terfoto, bukan pula sekadar apa yang disebut dengan “melukis dengan cahaya”. Top Collection #3 memberikan sebuah definisi baru tentang fotografi. Sebuah pengalaman lain dalam menjelajahi ruang-ruang visual tercetak.

*) Natasha Gabriella Tontey lahir pada 1989. Belajar fotografi di Galeri Foto Jurnalistik Antara (2007) dan menyelesaikan pendidikan di jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan (2007-2011). Berpartisipasi dalam workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual di ruangrupa (2012). Ia pernah terlibat sebagai partisipan di pameran Mata Perempuan (Jakarta Biennale 2011).

Comments (1)

Seni Suvenir dan Suvenir Seni

Tags: , , ,

Seni Suvenir dan Suvenir Seni

Posted on 16 April 2012 by jarakpandang

Pameran yang menghadirkan pelbagai suvenir dari beragam medium. Ada kaus, gantungan kunci, pin, dan pembatas buku. Sekadar merupakan tanda mata?

 

Kaus oblong putih itu bertuliskan “Bruno Mars”. Dalam kondisi normal, gambar yang terpampang di kaus tersebut seharusnya wajah Bruno Mars, si penyanyi ganteng asal Amerika Serikat. Tapi, alih-alih memajang foto pelantun tembang Just The Way You Are, itu si desainer kaus memilih memasang gambar anjing dan Planet Mars. Bila kita memperhitungkan bahwa banyak sekali anjing yang dinamai Bruno, maka gambar anjing dan Planet Mars itu memang bisa dibaca sebagai “Bruno Mars”.

Jail? Iya. Tapi, itu belum seberapa. Bandingkan dengan kaus hitam bertuliskan “Black Sabbath”, sebuah grup band asal Inggris yang banyak dianggap sebagai pemula aliran heavy metal. Ketimbang memasang wajah Ozzy Osbourne, vokalis Black Sabbath, si desainer memilih memajang wajah Ozy Syahputra, pelawak Indonesia yang melambung karena perannya sebagai hantu banci dalam film Si Manis Jembatan Ancol. Apa hubungan Ozzy Osbourne dengan Ozy Syahputra? Jawab saja sendiri.

Menyandingkan Ozzy Osbourne dengan Ozy Syahputra itu lucu, sementara membandingkan Bruno Mars dengan anjing dan Planet Mars itu sedikit kasar. Tapi mau bagaimana lagi. Si desainer dua kaus itu, sebuah kelompok seniman bernama Cubatees, memang gemar akan humor gelap yang sarkastik dan sedikit ngawur. Coba saja buka blog kelompok asal Bekasi, Jawa Barat, ini, Anda akan menemukan tagline “Hanya tuhan Yang Tahu, kalo kami sih tempe”.

Cubatees adalah kelompok yang banyak berkarya dalam medium kaus. Mereka menjadikan kaus sebagai alat ekspresi, sekaligus menjualnya secara komersial. Sebagian kaus karya kelompok ini dipamerkan dalam pameran “Tanda Mata: Jakarta Merchandise Project”, yang digelar di RuRu Gallery, Tebet, Jakarta Selatan, pada 30 Maret-14 April.

Penyelenggara pameran ini adalah ruangrupa, kelompok seniman asal Jakarta, sementara kuratornya adalah Riyan Riyadi alias Popo, seorang street artist. Selain Cubatees, ada tujuh seniman lainnya, baik individu maupun kelompok, yang ikut dalam pameran ini. Mereka adalah Recycle Experince, Jah Ipul, Gardu House, Kamengski, Ika Vantiani, Komunitas Pecinta Kertas, dan Paguyuban Lapak Urban.

“Tanda Mata” bukanlah pameran karya seni biasa. Tak ada lukisan, patung, atau instalasi dalam pameran ini, seperti dalam pameran seni rupa yang lumrah. Yang ada justru gantungan kunci, kaus, poster, atau kartu pos. Ya, ini memang pameran merchandise, alias suvenir. Tapi, suvenir yang dipajang dalam pameran ini, mau tak mau, memang berkait dengan dunia seni.

 

Suvenir-suvenir dalam pameran ini bisa dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah merchandise yang merupakan artist merchandise. Kita tahu, seperti halnya kelompok musik, seniman-seniman di Jakarta, terutama yang bergerak dalam dunia street art, banyak yang memproduksi suvenir yang berkaitan dengan diri dan karya mereka.

Suvenir tersebut berupa kaus, gantungan kunci, pin, dan lain sebagainya. Inilah yang disebut sebagai artist merchandise. Suvenir para seniman ini bukanlah karya seni, tapi sekadar produk komersial yang diproduksi terbatas sebagai bagian dari promosi mereka –mirip dengan fungsi merchandise pada umumnya.

Kelompok kedua adalah merchandise yang diproduksi sebagai karya seni. Pada kelompok ini, merchandise menjadi medium seni, bukan lagi sekadar alat promosi dari sebuah kelompok seniman. Selain seniman yang memproduksi merchandise sebagai bagian dari promosi, memang ada seniman yang berkarya dalam medium merchandise.

Cubatees, misalnya, merupakan kelompok yang menjadikan kaus sebagai medium berkesenian, selain tentu saja sebagai produk komersial. Demikian pula dengan Jah Ipul, Recycle Experince, Komunitas Pecinta Kertas, Ika Vantiani, atau Paguyuban Lapak Urban. Sementara Gardu House memproduksi kaus sebagai merchandise.

Gardu House merupakan kelompok yang didirikan para street artist sehingga karya utama dari para pendiri kelompok ini bukanlah kaus, melainkan grafiti atau mural di tembok-tembok jalanan. Bagi Gardu House, kaus atau pin hanyalah suvenir, meski –kalau mau bergenit-genit– benda-benda itu bisa dianggap sebagai karya seni pula.

Praktek yang hampir sama dilakukan Kamengski, sebuah brand clothing yang berhasrat menampilkan karya seniman-seniman muda di Indonesia dalam kaus-kaus yang mereka produksi secara terbatas.

Dari sisi medium, pameran “Tanda Mata” sangat menarik karena menampilkan pelbagai merchandise dari macam-macam bahan. Komunitas Pecinta Kertas, misalnya, memproduksi pelbagai suvenir dari bahan kertas. Ada topeng, gantungan kunci, boneka, gelang, dan bahkan sepatu. Tentu saja, benda-benda itu dibentuk dari kertas yang sudah diolah menjadi bubur kertas.

Yang tak kalah menarik adalah ide membuat block note dari kertas bekas. Ada block note yang dibuat dari kertas yang sudah berisi tulisan sehingga hanya satu halaman dalam tiap lembar kertas di block note itu yang masih bisa dipakai untuk menulis.

Kelompok Recycle Experince membuat macam-macam suvenir dengan barang-barang bekas yang mereka temukan sehari-sehari. Dari segi rupa, karya-karya mereka, yang sebagian besar berupa boneka dan gantungan kunci, kebanyakan berupa karakter robotik yang dinamai dengan sebutan “Character Robotic Imagination”.

 

Ika Vantiani juga banyak memanfaatkan barang bekas yang masih bisa dipakai dengan trendi. Ika menampilkan barang-barang handmade berupa bantal, pembatas buku, dan dompet dengan teknik kolase.

Yang paling menarik dalam pameran ini adalah karya Syaiful Ardianto alias Jah Ipul. Karya-karyanya berupa kartu pos, komik, poster, dan lain sebagainya. Yang unik, Ipul memanfaatkan potongan-potongan dari berbagai teks, seperti potongan berita koran kuning atau komik-komik lama yang dipelesetkan teksnya.

Salah satunya, Ipul mengolasekan potongan kisah dari buku-buku bergambar yang bercerita soal siksa neraka. Beberapa tahun lampau, buku-buku macam itu memang sangat marak dan menjadi salah satu barang dagangan yang laris dijajakan di lapak-lapak buku berukuran kecil. Dari sono-nya, isi buku itu memang aneh dan mengundang tawa sehingga ketika Ipul menjadikan potongan gambar dari buku itu sebagai kartu pos, kita berhak untuk tertawa.

Tapi, ya, memang berhenti pada tawa. Sebab, karya-karya merchandise ini memang tak ditujukan buat memancing perenungan lebih jauh soal apa pun –maksud yang mungkin terkandung dalam lukisan atau karya rupa lain. Akhirnya, suvenir memang hanya akan jadi suvenir dan wajar bila dalam hari terakhir pameran ini para pengunjung bisa membeli berbagai merchandise yang dipajang dalam pameran ini lalu menyimpannya sebagai tanda mata, bukan karya seni.

 

Haris Firdaus

*) Ulasan ini telah dimuat di Majalah GATRA, edisi 12-18 April 2012

Comments (0)

TANDA MATA: “Artwork For Sale”

Tags: , , ,

TANDA MATA: “Artwork For Sale”

Posted on 12 April 2012 by jarakpandang

RURU Gallery mengawali rangkaian pameran reguler di tahun 2012 dengan mengundang sejumlah seniman muda, baik kolektif maupun individual, yang intens menggunakan merchandise sebagai medium. Dikuratori oleh Popo, street artist yang juga banyak memproduksi merchandise, didampingi Sigit Budi selaku kordinator program, TANDA MATA merayakan ekspresi artistik lewat benda yang dapat digunakan dalam keseharian.

Merchandise dipahami sebagai produk massal yang digunakan dalam aktivitas komersial. Google translate mengartikannya dengan “barang dagangan”. Kita ingat bagaimana NBA pernah mengeluarkan gantungan kunci dan seri kartu, paket mainan Happy Meal dari McDonald’s, payung-payung berlogo perusahaan, produk-produk resmi perhelatan olahraga seperti Piala Dunia dan Olimpiade, partai-partai politik dengan segala atributnya, hingga Majelis Rasulullah yang mencetak jaket bagi anggotanya.

Merchandise digunakan oleh berbagai institusi dan kelompok sebagai sarana promosi, distribusi identitas, sekaligus pernyataan eksistensi. Di sisi lain ia juga dilihat sebagai cinderamata, karena pada dirinya tersimpan identitas atas sesuatu. Katakanlah sebuah tempat; sajadah atau tasbih dari tanah suci, kaos I Love NY dari New York, talas dari Bogor, atau penanda sebuah peristiwa; pertunjukan, konser, dan sebagainya.

Pameran ini memperlihatkan aspek ekonomi dari sebuah benda seni. Bahkan lebih luas lagi, dalam aktivitas produksi seni rupa. TANDA MATA menggarisbawahi kenyataan bahwa produk seni rupa adalah barang dagangan (merchandise) itu sendiri. Ia diperjual-belikan, dikoleksi, seperti seorang fanatik mengoleksi kaos Hard Rock Cafe dari berbagai kota di dunia. Sebagai produk, benda-benda seni adalah investasi dan komoditas. Pada karyanya, seniman memberi nilai (signature) sehingga jadi berharga. Dalam konteks transaksi, maka sebuah lukisan tidak lagi berbeda dari kaos bersablon grup Kangen Band. Atau sebuah karya video tidak jauh berbeda dari VCD bajakan di pedagang kaki lima. Project ini mengundang para seniman yang berkarya dengan kesadaran tersebut.

Seluruh karya dalam pameran ini adalah objek-objek yang dapat digunakan dalam keseharian. Mulai dari kaos, singlet, gantungan kunci, mainan, pajangan, tas, bingkai, kartu pos, jam, toples obat, hingga poster. Ika Vantiani memperlihatkan konsistensinya dalam mengusung teknik kolase yang hadir lewat berbagai benda bermotif cantik. Jah Ipul aka Syaiful Ardianto juga menggunakan kolase pada karya cetaknya. Ipul memungut berbagai rujukan grafis, mulai dari ilustrasi buku tafsir mimpi, drawing pada sampul majalah Hidayah, hingga potongan komik Siksa Neraka.

Kiswinar bersama KPK (Komunitas Pecinta Kertas) menyulap kertas-kertas bekas menjadi berbagai benda menarik. Mulai dari kursi, topeng harimau, hingga sosok kuntilanak Jepang yang keluar dari layar televisi. Pemanfaatan benda-benda yang tidak terpakai juga dilakukan oleh Recycle Experience. Di tangan mereka, berbagai benda sehari-hari menjadi sesuatu yang lain dan menawarkan makna visual baru.

Cubatees menarik perhatian dengan visual yang sangat menggelitik pada kaos-kaosnya. Dengan melakukan jukstaposisi kata dan visual, karya-karya mereka menyodorkan humor yang ganjil. Gardu House menyediakan pakaian bersablon khusus bagi para peminat dan pelaku street art. PALU (Paguyuban Lapak Urban) menampilkan berbagai karya grafis dengan kualitas teknik cetak manual yang sangat baik. Sementara Kamengski hadir dengan kontur visual berdarah-darah dalam warna yang terang. Label desain ini juga menawarkan seri kartu pos, komik, buku saku, dan tempat kapsul.

Cubatees mencuri perhatian dengan strategi presentasi yang menarik. Lewat instalasi berupa sofa, kulkas, dan televisi, mereka menghadirkan sebuah kamar di mana terserak keping-keping VCD karaoke dangdut bajakan. Kaos-kaos tergeletak pada sofa atau digantung di dinding, bersama foto-foto wajah orang tak dikenal. Instalasi ruang menyatu dengan gagasan pada kaos-kaos Cubatees, yang memang menyuguhkan humor mentah dan berbahaya. Mengingatkan kita pada logika humor dalam seri komik oomleo.

TANDA MATA: Jakarta Merchandise Project berlangsung hingga 14 April 2012. Pada hari penutupan, akan diselenggarakan bazaar di mana para seniman dan pembeli saling bermain harga.

Ibnu Rizal

Comments (0)

Review OK. Video Flesh Hari Ke-1: Curator’s & Artist Talk – Agung Hujatnikajenong

Tags: , , ,

Review OK. Video Flesh Hari Ke-1: Curator’s & Artist Talk – Agung Hujatnikajenong

Posted on 08 October 2011 by jarakpandang

Salah satu rangkaian OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011 yang berlangsung mulai tanggal 7-17 Oktober di Galeri Nasional Indonesia adalah sesi Curator’s and Artist’t Talk dengan pembicara pada hari pertama, 7 Oktober ini ialah Agung Hujatnikajenong. Dimulai pada pukul 14.30 di gedung C Galeri Nasional Indonesia, Curator’s and Artist’t Talk ini diikuti oleh 15 orang dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, jurnalis dan siswa SMA. Agung Hujatnikajenong mengatakan bahwa pengertian seni video, secara garis besar ialah sebuah ekspresi seni yang dibuat dengan medium video. Kemunculan seni video berawal mulai tahun 60-an, ketika Sony mengeluarkan produknya Sony Portapak ke pasaran. Sony Portapak merupakan alat perekam video pertama yang bisa digunakan oleh satu orang, karena sebelumnya alat perekam video membutuhkan banyak orang untuk mengoperasikannya. Dengan alat ini pula, kebiasaan masyarakat mulai berubah dan seniman saat itu pun mulai merespon perkembangan teknologi dalam proses berkarya mereka. Continue Reading

Comments (0)

Review Kuliah Umum PM Laksono: Televisi Sebagai Pengikat Relasi Sosial  Lewat Suara dan Gambar

Tags: , ,

Review Kuliah Umum PM Laksono: Televisi Sebagai Pengikat Relasi Sosial Lewat Suara dan Gambar

Posted on 06 July 2011 by jarakpandang


*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review kuliah umum PM. Laksono tentang Antropologi Visual, disampaikan pada Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Oleh: Winda Anggriani

Di luar, langit begitu cerah. Suasana di ruangrupa pun terasa riuh. Para peserta workshop seni rupa dan budaya visual sedang asyik berbincang, ketika seorang pria paruh baya yang simpatik itu memasuki muka ruang workshop. Beliau menyapa dengan ramah. Tanpa banyak basa-basi, guru besar Universitas Gajah Mada itu mampu mencuri perhatian semua yang hadir di ruangan tersebut dan langsung membahas materi yang telah dirangkumnya dalam bentuk presentasi powerpoint. Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement