Tag Archive | "contemporary"

Catatan: Bandung Contemporary Art Awards 2012

Tags: , , ,

Catatan: Bandung Contemporary Art Awards 2012

Posted on 21 May 2012 by jarakpandang

Di tengah medan seni rupa Indonesia yang penuh keterbatasan, hadirnya sebuah inisiatif harus dilihat dengan penuh apresiasi.

Ajang penghargaan adalah salah satu mata rantai dalam infrastruktur kebudayaan. Apresiasi sama pentingnya dengan produksi, distribusi, konsumsi, dan eksibisi. Penghargaan diberikan oleh sebuah institusi (pemerintah atau masyarakat) sebagai bentuk pengakuan atas kualitas dan pencapaian, untuk mendorong munculnya aktivitas produktif yang lebih baik di kemudian hari.

Perlu diingat bahwa sebuah ajang penghargaan tidak bisa menjadi tolok ukur yang mutlak. Ia hanya salah satu versi penasbihan yang tentu saja subjektif dan bisa diperdebatkan. Tetapi di Indonesia, ajang penghargaan begitu langka sehingga satu inisiatif saja sangat mungkin dilihat sebagai representasi umum. BaCAA berada dalam konteks ini. Dengan memakai nama kota dan menjadikan seni rupa kontemporer nasional sebagai ruang lingkupnya, ajang ini sebetulnya mengemban beban yang besar.

Ajang penghargaan yang ideal dapat mewadahi pihak-pihak di dalam suatu infrastruktur. Dalam konteks seni rupa: seniman, karya itu sendiri, kurator, kolektor, pengelola galeri (swasta dan pemerintah), kritikus, penulis, wartawan, inisiatif festival, manajerial, dan masyarakat. Maka suatu ajang penghargaan memiliki dua fungsi sekaligus; fungsi komersial dan fungsi sosial. Pada fungsi kedua, (ajang penghargaan) seni rupa berkewajiban untuk berinteraksi dengan masyarakat melalui transformasi pengetahuan. Bahwa perkembangan gagasan dan wacana harus sampai kepada publik.

Apa yang terjadi di Indonesia: fungsi komersial berjalan lebih aktif, lewat peran kolektor, pihak galeri, dan segelintir kurator. Sementara lembaga pendidikan seni, pengarsipan, dan media massa ada di sisi yang lain, dengan segala keterbatasannya. Absennya peran negara dan tiadanya tradisi museum (institusi di mana sejarah disusun secara runut), tentu bukan alasan untuk tidak memperbaiki keadaan. Gambaran ini perlu digunakan dalam melihat betapa timpang sesungguhnya medan seni rupa Indonesia. Ketimpangan yang diwariskan dari masa lalu.

Dalam konteks ini, BaCAA belum menjadi perhelatan yang lengkap, setelah dua kali diselenggarakan (2011 dan 2012). Ajang ini masih semata bicara pada seniman (sebagai produsen) dan para investor (kolektor, pemilik galeri, dan art dealer). Kepada para seniman muda, BaCAA memberi cukup peluang lewat berbagai fasilitas, mulai dari sejumlah uang, wisata biennale di luar negeri, hingga kesempatan residensi. Kepada para investor, BaCAA menjamin keberlangsungan aktivitas produksi karya seni. “These artworks belong to the artists or artist groups and should be available for sale, demikian salah satu persyaratan dalam aplikasi terbuka. Hal tersebut memperlihatkan besarnya kesadaran ekonomi (transaksi, investasi) dalam ajang ini. Namun demikian, komposisi tim juri terdiri dari empat elemen yang beragam: dua orang seniman, dua kurator, dua kolektor, dan seorang wartawan. Keragaman ini diharapkan berdampak pada majemuknya sudut pandang penilaian. Sehingga dapat diasumsikan bahwa karya yang dianggap baik telah memenuhi aspirasi keempat elemen tersebut.

Penghargaan dan Distribusi Pengetahuan

Keputusan sebuah ajang penghargaan adalah pernyataan sikap dan pandangan dewan juri beserta penyelenggara. Dalam BaCAA, keputusan itu adalah cermin dari apa yang ingin dikatakan tentang seni rupa Indonesia kontemporer. Di sinilah, setidaknya, letak fungsi sosial yang bisa ditawarkan oleh sebuah ajang penghargaan. Keputusan inilah yang menjadi “pengetahuan” dan bisa dibagi kepada masyarakat, salah satunya melalui peran media massa. Lewat keputusannya, dewan juri dan penyelenggara bertanggung jawab, tidak hanya pada peserta, tetapi juga pada publik seni rupa dan masyarakat luas, untuk mengemukakan latar belakang yang mendasari dipilihnya sebuah karya sebagai yang terbaik.

Pertimbangan apa yang digunakan untuk memprioritaskan karya tertentu? Apakah ada isu yang mendesak dan turut mempengaruhi proses ini? Di samping pertimbangan tren pasar seni rupa, yang juga sama pentingnya. Argumentasi ini harus dikomunikasikan secara utuh dan terbuka. Di sinilah justru peran sebuah ajang penghargaan dan kredibilitas penjurian (lebih luas lagi, mekanisme ‘kuratorial’) diperlihatkan.

Berdasarkan pencarian di dunia maya, tidak ditemukan data resmi berupa argumentasi yang utuh dari penyelenggara BaCAA terkait keputusan ini, bahkan di situs resminya sendiri. Penulis hanya menemukan satu pernyataan salah seorang dewan juri yang dikutip dari TEMPO.CO, 25 maret 2012:

“Dewan juri lebih tertarik pada karya-karya media alternatif, seperti video atau fotografi yang punya daya pukau. Kita sudah jenuh dengan media dua dimensi yang biasa-biasa saja. Selain itu, kecenderungan pasar dunia sekarang lebih ke media alternatif selain lukisan atau patung”. Demikian ucap Syakieb A. Sungkar.

Daya pukau seperti apa yang dimaksud para juri? Mengapa mereka lebih tertarik pada media alternatif? Apa hanya karena jenuh oleh media dua dimensi? Apa karena pasar seni rupa interasional kini mulai beralih ke media baru? Apakah tugas dewan juri dan penyelenggara sudah selesai setelah nama-nama pemenang diumumkan?

Andy Warhol, Sinetron, dan Posisi Seniman 

Dipilihnya medium berbasis video sebagai karya terbaik secara berturut-turut dalam dua kali penyelenggaraan BaCAA cukup menandakan signifikansi medium ini di ranah seni rupa Indonesia hari ini. Tahun 2011, karya video Anggun Priambodo berjudul Sinema Elektronik (4’, 17”, 2009) ditetapkan sebagai karya utama dalam kompetisi. Di tahun kedua, Eat Like Andy (4’, 2011) karya Yusuf Ismail juga ditetapkan untuk kategori yang sama. Sebagai catatan, keduanya ditampilkan secara perdana di perhelatan OK. Video, festival seni video pertama di Indonesia yang digagas ruangrupa. Sinema Elektronik pertama kali dipresentasikan di OK. Video COMEDY (2009) dan Eat Like Andy adalah commisioned work untuk OK. Video FLESH (2011).

Sinema Elektronik dan Eat Like Andy sama-sama mengetengahkan isu apropriasi dalam ranah (seni) media. Anggun Priambodo menertawakan habis-habisan kehadiran sinetron dan acara opera sabun murahan di televisi swasta Indonesia, yang jumlahnya terus menanjak sejak penghujung 90-an. Di video ini Anggun memainkan semua tokoh stereotip dalam sinetron-sinetron Indonesia, lengkap dengan latar ruang dan benda-benda di sekelilingnya. Anggun menggunakan video pembuka (opening title) sinetron sebagai pendekatan. Irama lagu, pencahayaan, warna, ritme, hingga bentuk huruf yang dipakai adalah apropriasi total terhadap program acara yang disaksikan dengan begitu rakus oleh jutaan orang itu. Drama, tragedi, komedi, telah bercampur dalam bentuk yang tak lagi bisa dikenali.

Melalui Eat Like Andy, Yusuf Ismail mengingatkan kita pada berakhirnya orisinalitas dalam aktivitas produksi seni rupa. Di video ini dapat dilihat bagaimana seorang seniman mati-matian meniru seniman lain. Karya video instalasi ini menggunakan dua kanal televisi yang paralel: Yusuf di satu sisi dan Andy Warhol di sisi yang lain. Dalam pernyataan di blognya (fluxcup.blogspot.com), Ucup mengajukan pandangan betapa kini masyarakat dibanjiri berbagai citraan dan fetish tentang idola melalui teknologi informasi yang telah menjadi komoditas massal. Berangkat dari tesis ini, ia mengajak siapapun untuk memikirkan lagi posisi intelektual, nilai estetis, dan makna sosial seni rupa kontemporer. Tetapi sesungguhnya, apa yang ditawarkan Yusuf bukan sekadar kritik terhadap seni rupa Indonesia, tetapi juga pada medan visual secara umum. Di mana kemudian posisi seniman dalam konteks ini? Bagaimana seni rupa menentukan lagi posisinya di tengah lanskap sosial dan kultural yang tak lagi sama?

Hadirnya apropriasi dan berakhirnya orisinalitas sebagai aspek yang dibawa oleh kedua karya ini menawarkan lagi pertanyaan tentang mahakarya. Sebab perlu diingat bahwa video, sebagai medium audiovisual, dapat direproduksi dalam jumlah yang tak terkira. Anda bahkan bisa menyaksikan video Anggun dan Yusuf di YouTube, tanpa harus pergi ke galeri, atau meminta izin kepada kolektornya. Video adalah medium yang cair, terbuka, dan massal. Sifat-sifat dasar ini hendaknya dipahami sebagai pijakan dalam berhadapan dengan seni media.

*)Ibnu Rizal, Sarjana Humaniora Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, peneliti dan penulis telaah sastra dan budaya visual, Peserta Angkatan 2009

 

Comments (1)

Perjamuan  Kontemporer

Tags: , , , ,

Perjamuan Kontemporer

Posted on 02 June 2010 by jarakpandang

Oleh : Afra Suci Ramadhan

Yang menarik dari ‘reka ulang’ scene penting ini dalam karya Pramuhendra adalah penggambarannya dalam berbagai angle dan  sudut pandang. Selain itu, kehadiran Yesus dan para pengikutnya digantikan oleh Pramuhendra sendiri. Setiap gestur dan ekspresi tokoh dalam peristiwa itu dihadirkan dengan baik oleh penggambaran dirinya.

Setelah menggelar pameran seni persahabatan antara Perancis dan Indonesia, Galeri Nasional kembali menghadirkan sebuah pameran seni kontemporer di bulan Juni ini. Kali ini, seluruh karya berasal dari Indonesia, selain itu pameran ini juga lebih spesifik bertemakan “Indonesia Contemporary Drawing”. Terus terang, selama tahun 2009 saya belum pernah menghadiri pameran seni dengan jumlah karya sebanyak ini kecuali Biennale. Ketika datang pada acara pembukaannya, banyaknya karya dan para tamu sangat mempengaruhi ketekunan dalam mengamati karya-karya di dalamnya. Namun, di hari pertama tersebut, mata saya terpaku pada karya J. A. Pramuhendra yang berjudul “Divided and Fold”. Meskipun saya belum pernah melihat karya-karya Pramuhendra sebelumnya, saya tahu bahwa lukisan ini berangkat dari karya agung Leonardo Da Vinci “The Last Supper”. Hingga akhirnya, rasa penasaran  pada Pramuhendra mengantarkan saya pada karya-karyanya yang lain (thanks to ‘Godgle’). Saya baru tahu kemudian, jika karyanya tersebut hanya salah satu dari rangkaian karya “The Last Supper” versinya .

Continue Reading

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement