Review Hari Ketiga: Syarat Utamanya ialah Intuisi

Posted on 23 June 2011 by jarakpandang

*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review hari ketiga Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Asep Topan Mulyono

Pada pertemuan hari ketiga Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual Ruangrupa 2011 sedikit berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Workshop ini baru dimulai sekitar jam 2 siang, dikarenakan ada beberapa  hal yang tidak direncanakan sebelumnya membuat pembicara pada workshop hari itu, Aminudin TH Siregar tidak bisa memberikan materi sesuai jadwal yang telah ditetapkan yaitu jam 10.00 WIB. Aminudin TH Siregar atau yang biasa dipangil ucok ialah seorang Kurator dan Kritikus Seni Rupa serta mengajar Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.

Aminudin TH Siregar melalui Mirwan Andan, memberikan tugas kepada para peserta workshop untuk membuat karya tulisan minimal 150 kata tentang karya lukis Hendra Gunawan yang berjudul Pengantin Revolusi, sebelum ia memberikan materi secara langsung kepada peserta workshop. Hal ini memancing para peserta workshop untuk saling berdiskusi membahas karya ini dan mengutarakan pendapatnya masing-masing dari sudut pandang mereka sendiri. Dari latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, muncullah pelbagai interpretasi yang bermacam-macam pula, disini menariknya.

Aminudin TH Siregar akhirnya tiba di ruangrupa beberapa saat setelah jam makan siang. Materi yang ia berikan dalam workshop penulisan hari itu diawali dengan pertanyaan sederhana yang harus kita jawab sebelum kita menulis kritik seni rupa, yaitu: apa itu seni? Selanjutnya Aminudin menjelaskan bahwa pada perkembangannya memang selalu ada perdebatan sampai saat ini tentang definisi dari kata seni itu sendiri. Namun, teori yang sering dijadikan acuan dalam mendefinisikan seni ialah yang dikemukakan oleh sejarawan Inggris kelahiran Austria, Ernst Hans Josef Gombrich, yang menyebutkan bahwa “Tidak ada seni, yang ada adalah seniman”. Berdasarkan teori tersebut, Aminudin mengatakan bahwa yang akan ditulis oleh seorang kritikus seni bukan tentang seni, tetapi karya seninya. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa karya seni ialah perantara seorang seniman untuk menuju ke suatu makhluk yang disebut seni itu sendiri.

Ada beberapa pendekatan yang bisa kita gunakan untuk mendefinisikan seni, yaitu diantaranya melalui estetika. Estetika ialah salah satu cabang filsafat yang membahas keindahan. Dengan estetika, kita bisa menilai sebuah karya seni dan menjadikannya pijakan dalam membuat sebuah tulisan kritik seni. Estetika berbeda sekali dengan kecantikan (beauty). Setidaknya ada tiga hal yang bisa disebut sebagai syarat-syarat estetik pada sebuah karya seni, pertama ialah cantik (beauty), kedua harus memicu pengalaman estetik dan yang terakhir ialah memiliki emosi.

Dalam menulis sebuah kritik seni, seorang penulis harus terlebih dahulu mengalami pengalaman estetis terhadap apa yang akan kita tulis, dalam hal ini ialah karya seni rupa. Seorang seniman atau perupa juga ingin menularkan pengalaman estetis dan emosinya dalam berkarya kepada apresiator, sehingga pengalaman estetis ini sangat penting sebelum membuat penulisan kritik seni. Namun, pada kenyataanya masih ada beberapa penulis seni rupa terutama di media masa yang masih menuliskan apa yang mereka mengerti dalam sebuah karya seni, bukan apa yang mereka rasakan terhadap karya seni rupa yang akan mereka tulis. Intinya, dalam membuat penulisan kritik seni, menurut Aminudin syarat utamanya ialah menggunakan intuisi, bukan logika ataupun rasio.

Para jurnalis postmodern  dalam melakukan kritik terhadap sebuah karya seni tidak pernah menanyakan tentang karya tersebut kepada seniman yang membuatnya. Ini bisa kita jadikan contoh bagaimana menulis kritik seni yang baik, terlepas dari isi kritik yang kita tulis. Salah satu dampak dari hal tersebut ialah tidak adanya interpretasi tunggal terhadap sebuah karya seni. Setiap kritikus seni memiliki penilaian yang sangat mungkin berbeda dengan kritikus lainnya, sehingga akan terjadi sebuah metakritik, yaitu seorang kritikus mengkritik penulisan kritik seni kritikus lainnya, bisa sampai berkepanjangan dan melupakan karya seni yang dibahas pada awalnya. Meskipun begitu, justru itulah yang menurut Aminudin sebagai keberhasilan sebuah karya seni, karena menimbulkan perdebatan diantara para kritikus seni, namun sayangnya hal tersebut saat ini tidak terjadi di ranah seni rupa Indonesia.

Gaze (tatapan) seorang penulis selalu mempengaruhi kritik seni yang dibuatnya dan ini bisa dikatakan sebagai sesuatu yang objektif. Seorang penulis yang mempelajari feminisme, akan melihat sebuah karya seni dari sudut pandang feminisme, begitu juga yang terjadi pada penulis yang mempelajari marxisme, formalisme dll. Dalam hal ini Aminudin memberikan contoh dengan melihat karya yang tengah dipamerkan di ruangan tempat workshop dilakukan dari sudut pandang seorang formalis. Karya yang ia lihat ialah delapan buah karya fotografi yang menampilkan gambar motor roda dua dan roda tiga. Seorang formalis akan melihat karya itu berhasil karena kompsisi yang dipakai dalam penyajian karya tersebut ialah seimbang, tersusun rapih, dengan dua baris foto karya yang masing-masing barisnya terdidi dari empat karya. Lain halnya jika dilihat dari sudut pandang seorang feminis, bisa saja yang akan dibahas dalam karya seni ini ialah mengenai maskulinitas yang tampak dalam karya ini karena menampilkan motor yang kotor, tidak teratur, sebagai gambaran bahwa seorang lelaki yang menggunakan motor tersebut.

Ditengah-tengah pembahasan mengenai penulisan kritik seni rupa ini, Aminudin juga membahas karya Hendra Gunawan berjudul  Pengantin Revolusi yang telah disebutkan sebelumnya. Aminudin memberikan contoh yang sangat baik dalam menganalisa sebuah karya seni. Ia secara rinci melihat tokoh-tokoh yang menjadi objek dalam lukisan tersebut, mulai dari apa yang mereka pakai, gestur tubuh mereka, sampai tatapan mereka. Aminudin mengatakan bahwa gambaran sosok dua gerilyawan yang berada di pojok kanan lukisan tersebut merupakan gambaran dari seorang Hendra Gunawan, terlihat sinis menatap perayaan pernikahan seseorang lelaki memakai pakaian tentara dengan seorang wanita berbaju kuning, yang terkesan rapih dan sangat berbeda dengan pakaian kedua gerilyawan tadi.

Selanjutnya, Aminudin memaparkan langkah-langkah objektif yang harus dilakukan dalam menulis sebuah kritik seni. Pertama ialah Deskripsi, bisa dikatakan sebagai pandangan pertama seorang penulis terhadap karya yang akan ia tulis, bisa juga dikatakan sebagai inventorisasi hasil penemuan kita dari konteks sebuah karya. Kedua yaitu Analisa Formal. Disini seorang penulis kritik seni menelaah mengenai apa saja hal yang berkaitan dengan penggunaan material pada karya seni yang akan ia tulis. Selanjutnya ialah Interpretasi atau penterjemahan karya seni. Pada tahap inilah gaze yang telah disebutkan di atas sangat berpengaruh. Bagaimana seorang kritikus menilai sebuah karya seni akan terlihat pada tahap ini, dengan begitu akan terlihat juga pengetahuan seorang kritikus berkaitan dengan gaze yang ia gunakan sebagai acuan menulis sebuah kritik seni rupa. Evaluasi/justifikasi menjadi langkah terakhir dalam menulis sebuah kritik seni. Pada tahap ini, penulis menyimpulkan apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh seniman melalui karya ini setelah melalui langkah-langkah sebelumnya serta merupakan  sebuah kesimpulan dari kritiknya terhadap sebuah karya seni yang akan ia tulis.

Meskipun hanya berdurasi sekitar lebih kurang dua jam, namun Aminudin menyampaikan dengan baik materi penulisan kritik seni rupa ini. Dalam penulisan sebuah kritik seni, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang penulis atau kritikus seni seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga akan terbentuk sebuah kesimpulan sebagai cerminan dari intuisi penulis tersebut dalam melihat sebuah karya seni.

 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement