Seragam Sekolah: Penyeragaman dan Perlawanan

Posted on 02 June 2010 by jarakpandang

Oleh : Haris Fidaus

Bentuk visual pakaian yang sehari-hari kita kenakan tidak hanya berkait dengan aspek fungsional saja. Ada makna-makna kultural dan kadang-kadang politis yang melekat pada busana yang kita pakai. Jenis pakaian apapun, termasuk seragam sekolah, memiliki relasi penting dengan kebudayaan, terutama identitas yang muncul dari tata nilai tertentu.

Pada masa kolonial, murid-murid STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen)—sebuah sekolah pendidikan dokter khusus untuk pribumi—diharuskan memakai pakaian tradisional daerah masing-masing saat bersekolah. Mereka dengan tegas dilarang berpakaian ala orang Eropa, meski pendidikan yang mereka dapatkan sebenarnya sama dengan orang Eropa. Larangan memakai busana yang bergaya Eropa merupakan upaya pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk mencegah para murid pribumi itu secara visual “sama”dengan orang Eropa.[1]

Bagi pemerintah kolonial, orang-orang pribumi memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan orang Eropa sehingga mereka tak boleh “menyerupai” orang Eropa. Kata “menyerupai” di sini terutama berarti secara visual karena dalam hal pendidikan, murid-murid STOVIA mendapat pelajaran yang sama dengan calon dokter Eropa. Dari kasus ini, bisa disimpulkan bahwa bentuk visual sebuah pakaian bisa menjadi penentu penting identitas seseorang—

dalam kasus murid-murid STOVIA, bentuk visual pakaian bahkan dianggap lebih penting dari soal intelektualitas dan sikap hidup.

Jika kita menyusuri sejumlah teks yang bisa menggambarkan bagaimana bentuk visual seragam sekolah di Indonesia, maka kita akan menemui kenyataan bahwa kisah seragam sekolah di Indonesia adalah riwayat tentang penyeragaman sekaligus perlawanan atas penyeragaman itu. Secara khusus, bisa dikatakan bahwa ketentuan mengenai seragam sekolah di Indonesia dilatarbelakangi oleh keinginan pemerintah untuk menyeragamkan penampilan visual para peserta didik. Penyeragaman semacam itu diperlukan, konon, agar tidak terjadi ketimpangan yang mencolok antara siswa dari keluarga kaya dengan siswa dari keluarga miskin.

Setelah Indonesia lepas dari penjajahan, sebenarnya seragam sekolah tidak serta merta diberi perhatian pemerintah. Ada begitu banyak persoalan, terutama terkait dengan kondisi politik dan peperangan, yang membuat soal pendidikan harus dipikirkan nanti-nanti saja. Sampai beberapa tahun setelah kemerdekaan, masih banyak siswa-siswi yang bersekolah dengan memakai pakaian seadanya. Kondisi perang dan kemiskinan tidak memungkinkan pendidikan dilaksanakan dengan terlalu memerhatikan sesuatu yang “kurang mendasar”

seperti itu.

Dalam penelusuran saya, secara historis, peraturan tentang seragam sekolah di Indonesia yang dikeluarkan pertama kali adalah Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82.  SK yang dikeluarkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 17 Maret 1982 ini—khusus berlaku untuk sekolah negeri—mengharuskan siswa SD memakai pakaian putih-merah, siswa SMP memakai putih-biru, dan siswa SMA memakai putih-abu-abu. Peraturan ini tidak mengakomodir pemakaian busana muslimah bagi para siswi, terutama dalam kaitannya dengan jilbab. Busana muslimah—yang umumnya terdiri dari jilbab, kemeja lengan panjang, dan rok panjang—

tidak diperbolehkan dipakai sebagai seragam sekolah.[2]

Akibat persoalan itu, sempat muncul masalah terkait dengan pelarangan pemakaian jilbab di beberapa SMA di Indonesia. Sebenarnya, masalah pelarangan pemakaian jilbab sudah muncul beberapa tahun sebelum SK 052/C/Kep/D/82 disahkan. Pada 1979, pengelola Sekolah Pendidikan Guru Negeri Bandung bermaksud memisahkan sejumlah siswi yang memakai jilbab dengan siswa-siswi lainnya. Tindakan diskriminatif ini jelas ditolak oleh para siswi sehingga sempat terjadi ketegangan antara pihak sekolah dengan mereka. Masalah ini baru selesai tatkala Ketua Majelis Ulama Jawa Barat, EZ Muttaqien, ikut campur dalam soal ini.

Setelah kasus di Bandung, bermunculan sejumlah kejadian lain terkait pemakaian jilbab di sekolah. Pengesahan peraturan tentang seragam sekolah yang tidak mengakomodasi jilbab dan busana muslimah, membuat kasus-kasus pelarangan pemakaian jilbab meningkat. Dalam catatan Alwi Alatas, ada sekira 35 SMA di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Jember, Solo, dan lain-lain, yang terlibat kasus semacam itu. Selain karena peraturan pemerintah yang tidak akomodatif, pelarangan itu juga terjadi akibat adanya kecurigaan bahwa siswi-siswi yang memakai jilbab merupakan anggota gerakan Islam fundamentalis. Pada masa itu, gerakan Islam memang sedang mendapat sorotan, sekaligus represi dari pemerintah, sehingga kecurigaan terhadap ekspresi-ekspresi keislaman di ruang publik menjadi begitu besar.

Salah satu kasus paling menonjol adalah yang menimpa Triwulandari, siswi SMAN 1 Jember. Pada sebuah hari di bulan Januari 1982, Triwulandari masuk sekolah dengan memakai jilbab, plus rok panjang serta kemeja lengan panjang. Tindakan Triwulandari mendapat reaksi keras dari I Made Rampat, kepala sekolahnya. Rampat memarahi dan mengusir Tri dari sekolah. Lucunya, Rampat juga mencurigai Tri sebagai bagian dari Jamaah Imran—

sebuah kelompok Islam fundamentalis yang kala itu dituduh melakukan tindak kekerasan.[3] Entah bagaimana, Triwulandari bahkan digelandang ke Kodim 0824 Jember untuk diperiksa berkaitan tuduhan keterlibatannya dengan Jamaah Imran.

Kasus Tri kemudian menyulut protes dari empat belas organisasi yang terdiri remaja masjid, organisasi ekstra pelajar, dan organisasi mahasiswa di Jember. Pada 1 Februari 1982, mereka mengirimkan surat kepada Rampat dengan tujuan utama meminta agar siswi berjilbab tetap diizinkan bersekolah. Rampat menjawab, ia tak berhak mengizinkan siswi berjilbab masuk sekolah selama Gubernur Jawa Timur belum menurunkan restu. Pada 5 Februari 1982, surat protes kembali dikirimkan oleh dua anggota remaja masjid di Jember. Surat ini tak mendapat balasan, dan kasus Titiek tenggelam ditelan gemuruh persoalan lain.

Selama bertahun-tahun, larangan memakai jilbab terus terjadi, sejumlah kasus besar dan kecil muncul, diselingi protes dan pelbagai kontroversi. Masalah pelarangan itu baru selesai pada 1991 tatkala pemerintah mengesahkan peraturan baru tentang seragam sekolah yang mengakomodir pemakaian jilbab, yakni SK 100/C/Kep/D/1991.

Apa yang kemudian bisa kita simpulkan dari heboh pemakaian jilbab di sekolah-sekolah  Indonesia antara tahun 1979-1991 adalah bahwa siswa sebagai peserta didik ternyata tidak bisa diatur secara semena-mena oleh pemerintah sebagai pengelola pendidikan. Para siswi yang memakai jilbab ke sekolah memiliki tata nilai tersendiri yang tak bisa disamakan dengan murid-murid lainnya. Tata nilai tertentu inilah yang hendak disampaikan melalui pemakaian jilbab. Di sini, bentuk visual jilbab atau busana muslimah yang mereka pakai merupakan pernyataan yang jelas tentang identitas mereka. Identitas yang mereka kemukakan itu berasal dari tata nilai yang mereka yakini tadi.

Lalu, apa tata nilai yang memengaruhi mereka memakai jilbab dan juga membuat mereka menjadi pemudi-pemudi yang keras kepala? Tak lain tak bukan adalah tata nilai Islam yang mereka pelajari dari berbagai forum pengajian dan training keislaman yang kala itu mulai marak. Pada tahun 1980-an, gerakan Islam memang bisa dikatakan mengalami kebangkitan meski kebangkitan itu harus disebut sebagai “kebangkitan diam-diam”

karena respon pemerintah terhadap gerakan itu cenderung negatif dan keras.

Gerakan dakwah yang bergerak di kampus-kampus negeri, terutama ITB, itu sering disebut sebagai Gerakan Tarbiyah—gerakan ini dipengaruhi oleh organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir sekaligus merupakan embrio dari Partai Keadilan Sejahtera yang kita kenal sekarang. Masjid Salman ITB merupakan tempat di mana kajian-kajian keislaman yang dipengaruhi Tarbiyah dilakukan. Beberapa siswi yang memakai jilbab ke sekolah—tidak hanya terbatas siswi dari Bandung saja—

merupakan hasil didikan program Latihan Mujahid Dakwah (LMD) dan Studi Islam Intensif (SII) yang diselenggarakan para aktivis Masjid Salman. Di Jakarta, fenomena pemakaian jilbab oleh siswi-siswi SMA dipengaruhi oleh gerakan Pelajar Islam Indonesia (PII).[4]

Gerakan dakwah keislaman inilah yang kemudian memicu kehendak para siswi SMA untuk memraktikkan ajaran Islam secara lebih kaffah dengan cara menutup auratnya. Dalam medan wilayah teologis, pemakaian busana muslimah memang bisa dimaknai sebagai keinginan menjalankan perintah Tuhan secara sungguh-sungguh. Namun, dalam wilayah sosial dan kebudayaan, pemakaian busana muslimah adalah ekspresi penegasan identitas yang dipengaruhi oleh tata nilai keagamaan. Dirumuskan secara pendek, gerakan “jilbabisasi” itu bermakna: “Aku memakai jilbab, karena itu aku Islam.”

Sampai pada titik ini, penegasan identitas yang disampaikan melalui bentuk visual jilbab atau busana muslimah merupakan sebuah perlawanan atas kehendak penyeragaman yang dimiliki pemerintah. Nilai-nilai yang hendak ditanamkan pemerintah melalui seragam sekolah dilawan oleh para siswi muslimah itu dengan cara menyampaikan tata nilai baru yang kala itu terasa sangat revolusioner.

***

Setelah pemerintah mengakomodir busana muslimah sebagai bagian dari seragam sekolah, maka status perlawanan yang dulunya disandang oleh jenis busana itu otomatis tanggal. Busana muslimah menjadi bagian yang integral dari kebijakan pemerintah mengenai seragam sekolah dan kehilangan “sifat revolusionernya”. Dalam periode-periode selanjutnya, kita mungkin tak akan menemukan perlawanan terhadap  seragam sekolah dengan kadar yang sama kuat dengan fenomena jilbabisasi. Tapi, sadar atau tidak, di setiap masa, selalu muncul riak kecil perlawanan sehingga “penyeragaman total”

tak pernah benar-benar terwujud.

Apa yang saya maksud sebagai “riak kecil perlawanan” itu terutama bisa kita kenali dari terus berubah-ubahnya detail visual seragam sekolah—terutama seragam sekolah anak-anak SMA—

dari waktu ke waktu. Lebih jelasnya, bisa dikatakan bahwa wujud visual seragam sekolah anak SMA tahun 1970-an akan berbeda dengan seragam anak SMA tahun 1990-an atau 2000-an. Tentu saja, sebenarnya seragam SMA tahun 1980-an memiliki kemiripan dengan seragam SMA tahun 2000-an, yakni sama-sama terdiri dari busana atasan berupa kemeja warna putih dan bawahan berwarna abu-abu. Namun, jika kita menyimak detail visual seragam dari pelbagai kurun, maka akan kentara ada perbedaan cukup signifikan yang bisa ditandai dari pelbagai periode itu.

Guna membuktikan perbedaan itu, saya melakukan semacam riset kecil-kecilan dengan mengamati sejumlah film yang saya anggap populer di masanya dan berkisah tentang anak SMA di beberapa peiode zaman. Secara khusus, ada tiga film yang saya amati, yakni (a) Gita Cinta dari SMA (1979), sebuah film karya sutradara Arizal dengan bintang utama Rano Karno dan Yessi Gusman; (b) Tangkaplah Daku Kau Kujitak (1986), sebuah film karya sutradara Achiel Nasrun yang diangkat dari cerpen Hilam Hariwijaya di Majalah Hai dengan bintang utama Ryan Hidayat, Firdha Kustler, dan Nurul Arifin; serta (c) Ada Apa dengan Cinta (2002) karya Rudi Sujarwo dengan Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran utama.[5] Ketiga film yang saya pilih sama-sama berkisah tentang anak SMA dengan problematika khas masing-masing zaman, namun pasti berkaitan dengan cinta.

Dalam adegan pembukaan Gita Cinta dari SMA, kita bisa melihat Galih (Rano Karno) yang tergopoh-gopoh menaiki sepeda onthel jenis jengki ke sekolah. Beberapa saat kemudian, kita juga bisa menyaksikan bagaimana Ratna (Yessi Gusman) terpesona dengan Galih saat Galih masuk kelas dalam keadaan terlambat. Selama adegan di dalam kelas yang ada pada bagian-bagian pembuka inilah, saya mengamati sejumlah ciri khusus dari pakaian Galih dan Ratna yang secara diametral berbeda dengan pakaian anak-anak SMA masa kini.

Galih memakai kemeja putih lengan pendek dengan “belahan dada” sangat lebar. Maksud saya, jarak antara kancing di kerah kemeja dengan kancing selanjutnya sangat lebar sehingga bagian atas dada Galih dapat terlihat cukup jelas. Model kemeja seperti ini saya lihat juga dipakai oleh kawan-kawan pria Galih lain meskipun ternyata ada kawan pria Galih yang memakai kemeja lengan panjang—tetap dengan “belahan dada” lebar—

dengan lengan kemeja yang digulung. Sementara itu, celana panjang yang dipakai Galih adalah celana panjang warna abu-abu dengan model agak ketat. Galih memasukkan kemejanya ke dalam celana tapi tidak memakai ikat pinggang. Sementara itu, Ratna memakai kemeja putih rapi dengan ukuran cukup longgar jika dibandingkan rata-rata baju perempuan masa kini. Rok abu-abu yang dipakainya cukup panjang, sampai ke bawah lutut. Ratna memasukkan kemejanya ke dalam rok secara rapi, tapi sama seperti Galih, ia tidak memakai ikat pinggang. Kaos kaki Ratna berwarna putih dan ukurannya panjang, hanya beberapa centimeter di bawah lutut.

Dalam Tangkaplah Daku Kau Kujitak, kita bertemu Lupus (Ryan Hidayat) yang berjambul, dengan kemeja putih lengan pendek yang dimasukkan ke dalam celana panjang abu-abu plus ikat pinggang. “Belahan dada”

kemeja yang dipakai Lupus juga lebar, masih mirip dengan yang dikenakan Galih. Salah satu ciri khas yang paling membedakan busana SMA pada film ini dengan busana SMA di dalam Gita Cinta dari SMA dan Ada Apa dengan Cinta adalah pemakaian kemeja berwarna putih berlengan pendek yang entah kenapa lengan kemejanya masih harus digulung. Ya, baik laki-laki maupun perempuan dalam film itu ternyata sama-sama pergi ke sekolah dengan memakai kemeja putih yang digulung lengan kemejanya. Detail visual semacam ini menarik jika kita bandingkan dengan film Catatan Si Boy yang juga populer zaman itu tapi berkisah tentang kehidupan mahasiswa. Dalam Catatan Si Boy, kita juga bisa menemukan lelaki-lelaki yang memakai kaos atau kemeja dengan lengan digulung. Saya tak tahu persis apa makna dari bentuk visual semacam itu. Yang jelas, wujud busana semacam itu merupakan semacam tren yang mewabah di kalangan anak muda tahun 1980-an.

Sementara itu, dalam Ada Apa dengan Cinta, kita bertemu Rangga (Nicholas Saputra) yang memakai kemeja putih dengan potongan agak ketat yang tidak dimasukkan ke dalam celana panjang warna abu-abu. Kita juga berjumpa Cinta (Dian Sastrowardoyo) yang memakai kemeja ketat dengan rok ketat di atas lutut, dan kaos kaki putih panjang yang hampir menyentuh lutut. Cinta memasukkan kemejanya secara rapi ke dalam rok, namun tatkala mengamati beberapa kawan dekat Cinta, saya juga menemukan bahwa ada pula siswi SMA dalam film itu yang tidak memasukkan kemejanya ke dalam rok. Melihat beberapa kawan Cinta yang tidak memasukkan kemejanya, kita tahu bahwa kemeja mereka benar-benar ketat, terutama jika dibandingkan dengan kemeja Ratna dalam Gita Cinta dari SMA.

Dalam pengalaman pribadi saya yang menjalani masa SMA setelah booming Ada Apa dengan Cinta, bentuk visual busana yang dipakai Cinta ternyata banyak ditiru oleh kawan-kawan perempuan saya. Hampir bisa dipastikan, kawan-kawan perempuan saya yang masuk kategori “anak gaul” akan menggunakan kemeja ketat, rok abu-abu ketat dan pendek, kaos kaki panjang hampir mencapai lutut, kadang-kadang dipadu dengan sepatu bermerek mahal. Tapi seingat saya, tren semacam itu berangsur berubah. Rok pendek nan ketat itu lama-lama tergusur oleh rok panjang agak longgar tapi potongannya tetap meninggalkan kesan “seksi”. Sementara itu, tren busana kawan-kawan lelaki saya adalah kemeja agak ketat yang dipadu dengan celana gombor yang pipa pahanya sangat lebar—kalau tak salah, ini tren yang meniru gaya di masa lalu tapi kala itu sedang jadi “gaya umum”

. Uniknya, tren celana gombor ini sekarang justru berbalik menjadi tren celana pipa sempit ala anak-anak Punk. Dan, kadang-kadang, saya melihat pula celana sempit itu dipaksakan jadi potongan celana SMA sekarang.

Lalu, apa yang bisa dikatakan perihal “karut marut” detail visual yang berubah-rubah di kalangan murid-murid SMA itu? Pertama, bisa disimpulkan bahwa tendensi penyeragaman yang dimiliki pemerintah ternyata tak pernah benar-benar berhasil. Meski Depdiknas sudah memiliki contoh bagaimana potongan pakaian seragam sekolah yang “baik dan benar”, ternyata para siswa memiliki kreativitas dan logika sendiri. Kesamaan warna seragam tidak pernah membuat para siswa kehilangan “identitas”

-nya, mereka tetap bisa mengekspresikan diri meski tidak dengan ekspresi diri yang revolusioner, apalagi otentik. Kedua, desain seragam sekolah dari waktu ke waktu ternyata turut berubah sesuai kondisi fashion yang berlaku. Mengamati pergeseran yang terjadi dalam dunia seragam sekolah, kita bisa mengatakan bahwa terjadi penetrasi dunia fashion anak muda yang berada di luar wilayah pendidikan ke dalam institusi pendidikan. Ketiga, ada sebuah pertanyaan yang mungkin belum selesai dijawab, dan masih akan terus diperdebatkan, yakni perihal posisi murid-murid SMA di tengah tren fashion dan kepentingan politik pemerintah: adakah para murid itu bisa menduduki posisi yang berdaya di hadapan keduanya, atau justru selalu terombang-ambing, dilempar ke sana ke mari, oleh dua kekuatan itu? Atau justru ada posisi lain selain oposisi biner yang saya sebut tadi?


[1] Lihat Goenawan Mohamad, “Blangkon”

, Catatan Pinggir di Majalah Tempo, Edisi 25-31 Mei 2009. Lihat pula penjelasan Wikipedia Indonesia tentang STOVIA, sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/School_tot_Opleiding_van_Indische_Artsen

[2] Lihat Alwi Alatas, “Kasus Jilbab di Sekolah-sekolah Negeri di Indonesia Tahun 1982-1991”, sumber: http://images.alwialatas.multiply.com/attachment/0/RdLvRAoKCrAAAGPNUGs1/Penelitian%20Kasus%20Jilbab.doc?nmid=19989367. Data-data soal kontroversi pemakaian jilbab di sejumlah SMA di Indonesia saya ambil dari sini. Tulisan lain soal fenomena sama tapi perspektifnya lebih luas, lihat Nuraini Juliastuti, “The Politics of Moslem Clothing in Indonesia” sumber: http://kunci.or.id/esai/en/juliastuti_jilbab.htm

[4] Alwi Alatas, “Kasus Jilbab di Sekolah-sekolah Negeri di Indonesia Tahun 1982-1991”

[5] Saya memanfaatkan http://youtube.com untuk melakukan pengamatan atas tiga film itu.

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement