Categorized | EVENT

Saat Mahasiswa Bicara Lewat Karya

Posted on 04 July 2012 by jarakpandang

Menutup bulan Juni 2012, ruangrupa mengadakan pre-event (showcase) Jakarta 32°C 2012 di RURU Gallery. Jakarta 32°C adalah pameran dua tahunan (bienalle) karya visual mahasiswa Jakarta yang akan memasuki kali kelima pada tahun ini sejak diselenggarakan pertama kali pada 2004. Sebelum memasuki acara utama, ruangrupa bersama Komplotan Jakarta 32°C, selaku pengawas dan penanggungjawab acara ini, memutuskan akan mengadakan beberapa kegiatan ‘pemanasan’ yang salah satunya adalah pameran showcase ini.

Pameran yang akan diadakan hingga tanggal 6 juli 2012 ini menampilkan 10 karya terbaik dari dua penyelenggaraan Pameran Jakarta 32°C sebelumnya, yaitu karya yang berasal dari penyelenggaraan tahun 2008 dan 2010. Syahrul Amami, Daniel R.K. Kampua, Carterpaper, Gilang Merdeka, dan Tigersprong 3 adalah lima terbaik dari tahun 2008. Sedangkan dari tahun 2010 diwakili oleh Dhemas Reviyanto Atmodjo, Ficky Fahreza, Syaiful Ardianto, Angga Cipta, dan Komunitas Pencinta Kertas.

Menurut Indra Ameng, Koordinator Dukungan dan Promosi ruangrupa, bahwa tujuan diadakannya pameran showcase ini adalah sebagai pengingat akan adanya pencapaian estetik yang khas dan kemunculan gagasan-gagasan segar dalam perkembangan terakhir karya-karya visual dari mahasiswa Jakarta. Selain itu acara ini memang sepertinya bertujuan untuk memprovokasi semangat berkarya mahasiswa di Jakarta. Lagi, menurut Ameng, secara pribadi Ia mengharapkan karya-karya baru yang lebih segar dan lebih baik lagi. Karya yang lebih bandel dan lebih eksperimental.[i]

Dari karya yang dipamerkan pada showcase Jakarta 32C kali ini dapat terlihat keberagaman karya yang selalu tampil setiap tahunnya. Mereka, para peserta, selalu menawarkan sebuah sudut pandang baru mengenai kota Jakarta ini. Walaupun kadang ada kesamaan material dan medium yang digunakan, tetap saja memiliki pesan yang jelas berbeda satu sama lain. Hal ini dapat disimak pada dua karya fotografi. Daniel Kampua mengangkat isu mengenai identitas kebudayaan dan pluralisme (‘Petjes’ Identitas Hidupku,2008) sedang Dhemas Reviyanto mengangkat persoalan ironi kehidupan di Jakarta (The Wall, 2010). Kedua karya ini, cukup berhasil untuk menyampaikan pesan yang ingin diangkat, yakni tentang budaya dan kehidupan di Jakarta.

Adapula mereka yang bergelut dengan masalah transportasi. Kemacetan, kurangnya armada transportasi serta semrawutnya pengorganisasian kendaraan umum di Jakarta adalah isu yang masih tetap hangat untuk diangkat dan diketengahkan di dalam ruang pameran. Ficky Fahreza, menanggapi persoalan berlarut – larut yang terjadi pada moda transportasi paling murah di negeri ini, Kereta api. Dalam karyanya (Thousand Talk, 2010) ada sebuah ironi keadaan mengenai buruknya manajemen transportasi kereta api, namun di satu sisi masih merupakan satu – satunya moda angkutan yang paling terjangkau kaum menengah ke bawah.

Dicaci dan Dicari, 2010

Lain halnya dengan Komunitas Pencinta Kertas (KPK), lewat karya bajaj kertasnya (Dicaci dan Dicari, 2010).  KPK seolah ingin mempersoalkan ketidakmampuan pemerintah dalam memberikan armada transportasi yang layak. Bajaj, di satu sisi kerap dikeluhkan orang sebagai sumber polusi dan macet, belum lagi dengan tingkah laku pengemudi yang suka ‘nyelonong tanpa permisi’. Akan tetapi di sisi lain, kehadiran bajaj masih diperlukan sebagai angkutan umum yang terjangkau dan tersedia 24 jam.

Karya Syahrul Amami (Tambalan, 2008) sedikit banyak mengingatkan pada karya ruang publik dari Handy Hermasyah (Loebang Loebang Djalanan, 2003)[ii]. Pada karya ini Syahrul menggambar bentuk – bentuk seperti tambalan/jahitan pada jalan – jalan aspal ibukota. Persoalan buruknya kualitas jalan yang terjadi di Jakarta, rasanya sudah menjadi makanan sehari – hari warganya. Jalan yang bolong acapkali hanya ditambal seadanya. Asal tertutup. padahal jalan yang tidak rata, terutama pada jalan – jalan protokol bisa menimbulkan bahaya bagi kendaraan yang melintas di atasnya. Syahrul, sama seperti yang dilakukan oleh Handy di Bandung pada 2003, mencoba meningkatkan ‘kesadaran’ para pengendara yang melintas, untuk berhati – hati dan mengurangi kecepatan saat melihat bagian jalan yang ada ‘jahitannya’. Karya ini juga merupakan kritik sosial bagi pemerintah yang dianggap lalai dalam memperhatikan urusan keselamatan warganya. Sedang pada karya Carterpaper (Resign System, 2008), lagi – lagi kurangnya tanggapan pemerintah pada sistem transportasi menjadi sebuah tema yang menarik. Mereka ‘merancang’ ulang serta dengan ‘sukarela’ membuat sign system untuk warga Jakarta: sebuah hal kecil dan sepele yang mungkin terluputkan dari mata pemerintah.

Persoalan budaya Jakarta juga menjadi isu yang banyak diangkat dalam pameran Jakarta 32°C. Karya Tigersprong 3 (Benyamin S: Muke Gile…!,2008) merupakan sebuah karya video selama 15 menit yang membicarakan soal Benyamin Sueb. Seorang seniman multi bakat berdarah Betawi asli. Ada video – video film Benyamin, lagu -lagu yang pernah ia buat dan nyanyikan, serta tanggapan dari beberapa warga Jakarta mengenai sosoknya. Berbeda lagi kasusnya pada Syaiful Ardianto, atau biasa dikenal Jah Ipul. Dia mengangkat sisi negatif dan budaya kriminalitas yang marak terjadi di Jakarta (Welcome to The Trap City, 2010). Sebuah kanvas besar dengan elemen grafis tengkorak berwarna merah, seolah siap menerkam warga Jakarta. Rasa-rasanya karya ini perlu dipasang sebagai banner di samping tugu – tugu selamat datang di seantero Jakarta sebagai pengingat akan bahaya yang selalu mengintai di setiap sudut kota ‘penjebak’ ini.

Karya Angga Cipta (24 Jam Sibuk Jakarta, 2010) tampil seperti sebuah brand kebudayaan urban yang lumrah di Jakarta. Sebagai kota sibuk, pusat perputaran bisnis dan ibu kota negara yang rumit, Jakarta (dan warganya) seolah tidak pernah punya waktu istirahat, sehingga selalu sibuk selama 24 jam. Angga menciptakan beberapa objek dari ‘proyek’ tersebut: ada stiker, wallpaper handphone, wallpaper komputer, dan lainnya. Jenis karya yang sama dapat ditemui pada karya Gilang Merdeka (Magrudergrind, 2008) yang seperti menciptakan sebuah proyek factory outlet (distro) lewat karya-karya ilustrasinya. Budaya distro sendiri sudah menjadi bagian tersendiri dari perkembangan gaya hidup anak muda di Jakarta. Aplikasi yang dibuat oleh Deka, demikian ia biasa disapa, di atas kaos, poster, serta beberapa bentuk interaktif lainnya.

Sepuluh karya tersebut tentunya belum mencerminkan seluruh pandangan mahasiswa Jakarta dalam memandang kota ini. Namun, setidaknya karya-karya ini dapat menjadi tolak ukur mengenai keberagaman berkarya para mahasiswa di Jakarta. Masih ada beberapa event lagi, yang akan diselenggarakan sebagai pra-kondisi Pameran Jakarta 32°C yang kelima. Yang jelas, kegiatan Jakarta 32C ini akan terus berjalan sebagai ajang untuk memperluas jaringan antar satu kampus dengan kampus yang lain, dengan harapan kegiatan kolaborasi antar mahasiswa dapat terus terjadi.[iii]

Selamat Mengapresiasi!

Leonhard Bartolomeus*

*) Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, kontributor jarakpandang.net, peserta Workshop Penulisan ruangrupa Angkatan V.

 


[i]    Katalog Pre-Event Jakarta 32°C 2012, Indra Ameng, 2012.

[ii]   Informasi lebih lanjut mengenai Handy dan karyanya dapat dilihat di http://archive.ivaa-online.org/archive/artworks/detail/4178/Artist/231

[iii]   Katalog Pre-Event Jakarta 32°C 2012,  M. Sigit Budi S. 2012

Comments are closed.

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement