Categorized | EVENT

Rupa Belanja, Rupa Kota: Sebuah Cerminan

Posted on 05 February 2012 by jarakpandang


Rupa Belanja, Rupa Kota, merupakan pameran seni rupa yang di ikuti oleh seniman dari tiga kota berbeda: Jakarta, Bandung serta Yogyakarta. Irwan Ahmett mewakili Ibu kota dalam pameran ini, sedangkan indieguerillas adalah kelompok seniman yang terdiri dari Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko “Miko” Lancur Bawono, berasal dari Yogyakarta juga memamerkan karyanya bersama satu lainnya, Wiyoga Muhardanto yang berasal dari kota Bandung. Pameran yang dikurasi oleh Marco Kusumawijaya ini telah digelar sejak tanggal 14 hingga 31 Januari lalu di galeri Salihara, Pasar Minggu jakarta Selatan.

Irwan Ahmett, seniman dan perancang Grafis lulusan FSR IKJ, menggagas PASARt: Bagaikan Jambret di Kapitalistiwa dalam Rupa Belanja, Rupa Kota ini. Terdengar sedikit dipaksakan memang, penamaan PASARt yang –bisa jadi, dan sangat mungkin– bertujuan menggabungkan dua diksi: pasar dan art. Gagasan ini berupa proyek yang melibatkan publik secara tidak langsung dalam ruang galeri, melalui benda-benda temuan. Benda-benda temuan seperti Jaring sumbangan, Klakson pompa, Baju renang plastik, dll. ditemukan oleh beberapa orang street curator yang dipilih oleh Irwan sendiri. Karya-karya yang disajikan oleh Irwan berupa video, live performance serta benda-benda temuan. Disaat pembukaan pameran, Irwan menghadirkan beberapa orang peraga seperti pada karya Beatbox Fireworks, Ludah Bertuah serta Jala Pahala. Melalui karya-karyanya ini, Irwan mencoba menampilkan apa yang disebutnya sebagai kecerdasan lokal. Tentu saja publik –yang bersinggungan langsung dengan benda-benda temuan ini– bisa mempertanyakan lebih jauh apakah bisa dikategorikan kecerdasan lokal, atau sampah?

Urban Jungle Warfare 2 merupakan judul yang dipilih oleh indieguerillas dalam Rupa Belanja, Rupa Kota. Menampilkan beberapa karya tri matra dengan media campuran yang didominasi oleh bahan kayu. Karya-karya ini memiliki tinggi sekitar 40 cm dengan panjang dan lebar yang lebih beragam. Indieguerillas membentuk sebuah citraan sebuah rumah dalam setiap karyanya yang bertumpu pada roda-roda dan banyak diantaranya berbentuk sepeda. Didalam rumah-rumah tersebut terlihat beberapa objek dwi matra yang menjadikannya ajang ritus mereka. Rumah-rumah yang ditampilkan indieguerilas secara bentuk bisa jadi tidak mewakili bentuk-bentuk bangunan kota dewasa ini. Bahkan, lebih seperti rumah adat salah satu daerah di nusantara. Akan tetapi, benda-benda didalamnya, cukup merepresentasikan sifat-sifat Kota dengan bentuk-bentuk lambang mata uang di dalamnya, misalnya. Dengan contoh ini, kita bisa melihat metafor yang ditampilkan indieguerillas untuk menghadirkan sifat konsumtif yang menjadi ciri khas penduduk kota.

Seniman terakhir ialah Wiyoga Muhardanto. Dalam Rupa Belanja, Rupa Kota ini Wiyoga memamerkan karya-karya yang mengkritisi keadaan Bandung saat ini dan persinggungannya dengan Ibu Kota Jakarta. Short Term Plan Expo, ialah nama karya Wiyoga dalam pameran ini, bisa kita lihat sebagai karya yang erat kaitannya dengan tema perjalanan. Ketika pembukaan pameran, Wiyoga beberapa stand lengkap dengan sales promotion girls di dalamnya yang menawarkan produk mereka. Produk-produk itu ialah jasa angkutan travel Jakarta-Bandung dan sebaliknya yang ia rangcang sedemikian rupa. Karya ini merupakan rancangan ulang jasa travel Jakarta-Bandung serta sebaliknya. Jasa angkutan travel mobil ini bisa kita katakan sebagai jamur, seiring dibukanya jalur Tol Cipularang sebagai hujannya. Rancangan ini sangat imajinatif, dengan menampilkan sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi seperti pembangunan jalur khusus mobil travel, bentuk mobil yang menyerupai kereta, dengan jarak tempuh Jakarta-Bandung yang hanya satu jam. Dalam stand yang lain, kita bisa melihat produk keramik yang memiliki motif aspal jalanan yang rusak di beberapa titik di kota Bandung. Keramik, yang sejatinya dipasang sebagai alas berpijak di rumah kita, dibuat dengan gambaran jalan-jalan rusak agar terlihat Bandung pisan. Wiyoga, dalam hal ini melihat yang begitu melekat dari bandung saat ini ­­–sehingga terus terbawa dalam ruang privat seperti rumah– ialah jalanannya yang rusak di beberapa daerah.

Setiap seniman dalam pameran ini memiliki kecenderungan yang beragam dalam menterjemahkan konsumerisme dan kota yang bisa dikatakan benang merah dalam pameran ini. Setiap seniman mencoba merepresentasikan kota asalnya masing-masing bahkan dalam koneks kota yang lebih luas lagi. Sangat disayangkan, ketika kuratorial dalam pameran ini sangat miskin wacana seni rupa. Metafor-metafor yang dihadirkan oleh para seniman, keberagaman serta eksplorasi medium, luput dari pembahasan kurator yang semestinya menjadi penyambung antara seniman dan apresiator dalam memahami karya-karya yang dipamerkan. Rupa Belanja, Rupa Kota merupakan cerminan kota, dimanapun itu, berupa keterkaitan yang saling mempengaruhi –tidak hanya dalam hal ekonomi– antara masyarakatnya dengan kota tempat mereka tinggal.

 

–Asep Topan, 2012

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement