Review Sesi Artist Talk: Bincang-bincang dengan Anggun Priambodo

Posted on 06 July 2011 by jarakpandang

anggun priambodo di Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual 2011 @ruangrupa

*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review sesi artis talk Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Oleh Sita Magfira

“Mungkin ada sesuatu di masa kecil lu yang bikin lu kayak gini sekarang.”

Dari semua pernyataan Anggun Priambodo saat mengisi sesi artist talk, pernyataan itulah yang saya rasa paling wow. Pada Kamis di penghujung Juni itu, Anggun yang berkaus hijau dan bercelana abu lengkap dengan topi dan kacamata bingkai besar tak hanya berbincang tentang karyanya. Tapi juga berbagi cerita tentang hal-hal di masa lalunya yang membuatnya menjadi seniman. “Wahyu” untuk menjadi seniman konon mendatangi Anggun setelah ia mendapat kado buku berisi lukisan-lukisan dari ayahnya. Dan sejak SMA, Anggun sudah yakin untuk menjadi seniman. Soalnya, Anggun yakin menjadi seniman merupakan sesuatu yang menyenangkan, sebab bisa memikirkan sekaligus membuat karyanya sendiri.

Pilihannya untuk menjadi seniman itulah yang kemudian membuat Anggun masuk ke IKJ. Di sana, sejak 1996 sampai 2002, ia belajar di jurusan desain interior. Alih-alih berkarya di bidang seni yang dipelajarinya secara formal, Anggun memilih berkarya dengan medium video. Adalah persinggungannya dengan seniman dari berbagai bidanglah yang mempengaruhi pilihannya. Selain itu, kehadiran MTV juga punya pengaruh besar. “Mungkin karena gue kuliah di era MTV, gue tertarik bikin videoklip,” kata Anggun. Di awal tahun 2000an, buat Anggun dan teman-temannya, MTV tak ada bedanya dengan galeri seni. Itulah mengapa mereka begitu giat membuat video lalu mengirimkannya ke MTV. Konsekuensinya banyak label rekaman yang menawarkan pekerjaan. Tapi, karena tak ingin proses penciptaannya diotak-atik oleh label rekaman, Anggun hanya laris sesaat.

Anggun lalu menyetel videoklip Train Song dari Lain, Crash, Sinema Elektronik, Belajar Miring, videoklip Ode Buat Kota dari Bangku Taman, juga videoklip Kenakalan Remaja di Era Informatika dari Efek Rumah Kaca. Itu semua adalah karyanya. Dari ekspresi mereka saat menyaksikan karya-karya Anggun, peserta workshop tampak antusias. Ekspresi yang paling sering dikeluarkan oleh peserta workshop adalah tawa. Mengapa? Soalnya, karya Anggun memang punya kecenderungan absurd, penuh humor, dan kekanak-kanakan.

Kecenderungan karya Anggun ini menimbulkan pertanyaan dari salah seorang peserta workshop, Rizki Ramadhan. Kiram, begitu ia akrab disapa, menanyakan pengaruh status Anggun sebagai anak bungsu pada karyanya. Pertanyaan yang dijawab Anggun dengan kalimat yang saya kutip di pembukaan tulisan ini. “Mungkin ada sesuatu di masa kecil lu yang bikin lu kayak gini sekarang.” Anggun menyatakan, sebagai anak bungsu ia tidak pernah diberikan tanggung jawab. Ia lantas jadi sering asyik sendiri. Kebiasaan asyik sendiri itu terbawa saat berkarya. Jadilah karya-karyanya punya kecendrungan yang dekat dengan kebiasaannya itu.

Pertanyaan lain hadir dari Purna Cipta Nugraha. Purna bertanya adakah Anggun menggunakan metode khusus dalam berkarya. Misalnya, melakukan riset sebelum berkarya, khususnya untuk Sinema Elektronik. Kata Anggun, ia tidak begitu yakin apakah ia benar-benar telah melakukan riset. Tapi, ia yakin bahwa adegan-adegan dalam Sinema Eletronik sudah lekat di ingatan mereka yang pernah menyaksikan sinetron. Yang jelas, meski proses pengambilan gambarnya sama saja seperti membuat videoklip, untuk Sinema Elektronik Anggun melalui beberapa proses khusus. Pertama, ia harus menggarap soundtrack Sinema Elektronik. Lalu ia harus melalukan apa yang biasanya dilakukan oleh rumah produksi sinetron. Ia menggunakan rumah, properti, hingga kamera yang digunakan oleh tim produksi sinetron.

Purna juga bertanya soal kemenangan Sinema Elektronik di Bandung Contemporary Art Award 2011. Tentang apakah kemenangan tersebut merubah orientasi Anggun dalam berkarya. Apalagi Sinema Elektronik juga dibeli oleh kolektor dengan harga fantastis. Anggun memberi jawaban singkat: “Tidak.” Karena buat Anggun berkarya itu untuk mencari duit yang kemudian akan dipakai untuk berkarya lagi.  Mirwan Andan (yang jelas bukan peserta workshop) ikut nimbrung dalam sesi ini. Andan penasaran. Karya seperti apa yang paling ingin dibuat oleh Anggun. “Film,” jawab Anggun. Alasannya, dengan durasi yang panjang, film bisa membuat banyak hal bisa terangkum. Ditambah lagi, menurutnya, film adalah medium yang potensial untuk mengubah orang. Namun, Anggun masih menemui banyak kendala untuk mulai membuat film.

Di akhir perbincangan, Anggun memberi pandangannya atas dinamika videoklip di Indonesia. Menurutnya, dinamika videoklip di Indonesia telah tamat. “Videoklip itu alat promosi. Saat industri musiknya udah gak bagus, videoklip jelas jadi kacau,” simpulnya. Anggun juga berpendapat bahwa pengembangan seni video di Indonesia masih kurang. Rendahnya perhatian galeri dan institusi pendidikan terhadap seni video dinyatakannya sebagai penyebab keadaan itu. Meski begitu, Anggun yakin bahwa tidak ada alasan bagi seniman video untuk tidak berkarya.  “Karena masih ada ruang video,” ujarnya. Ia lalu menyebut youtube, screening, dan (harusnya) televisi sebagai ruang video yang bisa dimanfaatkan.

 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement