Review Hari Pertama: Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011

Posted on 21 June 2011 by jarakpandang

*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review hari pertama Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Manshur Zikri

Perkembangan minat bakat pada suatu bidang pasti tidak terlepas dari  perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Tidak terkecuali di bidang seni, perluasan ilmu pengetahuan dan ditemukannya instrumen-instrumen baru telah memberikan perspektif baru bagi generasi yang hidup pada masanya -dan mendorong inisiatif untuk melakukan percobaan-percobaan untuk mengemas suatu karya kreatif yang berbeda dari karya-karya sebelumnya. Perkembangan seperti ini kemudian memunculkan wajah-wajah baru di dalam dunia berkesenian: para seniman muda yang terus menciptakan berbagai karya, baik di seni rupa maupun di ranah budaya visual lainnya.

Namun demikian, sangat disayangkan bahwa perkembangan yang pesat dari kerja kreatif para seniman muda itu tidak dibarengi dengan perkembangan budaya pengkajian dan kritik dari para penulis muda, khususnya di Indonesia. Para aktor muda yang aktif memberikan pandangan atau komentar kritis terhadap karya-karya seni, terutama melalui media tulisan, masih terbilang sangat kecil angkanya jika dibandingkan dengan peningkatan yang besar dari jumlah para senimannya sendiri. Paling tidak, atas latarbelakang alasan inilah, ruangrupa—sebuah organisasi yang bergerak di bidang seni rupa, dalam konteks kehidupan urban dan lingkup luas kebudayaan, dan aktif mengadakan kegiatan berupa: riset, pameran, proyek seni, workshop, dan jurnal online—menggagas sebuah kegiatan berupa workshop penulisan untuk melahirkan para penulis muda yang aktif dan produktif dalam aksi menulis kritis untuk mengemukakan pandangan dan komentarnya terhadap karya-karya seni yang ada.

Kegiatan workshop yang diadakan selama lebih kurang dua minggu ini sudah dilakukan sejak tahun 2008. Pada tahun 2011, ruangrupa kembali mengadakan workshop yang serupa dengan jumlah partisipan 15 orang.

Pertemuan pertama workshop, pada Hari Senin, tanggal 20 Juli 2011, hanya dihadiri oleh 14 orang partisipan. Acara dibuka sekitar pukul sepuluh pagi oleh Mirwan Andan, selaku Koordinator Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011. Setelah Mirwan Andan menjelaskan latarbelakang kegiatan workshop dan pengenalan website jarakpandang.net―situs milik peserta Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual untuk menuliskan gagasannya tentang seni rupa dan budaya visual secara interdisiplin―masing-masing peserta workshop diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri. Selain nama dan latar belakang pendidikan, perserta juga ditanyai oleh Koordinator Workshop tentang alasan mereka mengikuti kegiatan. Sebagian besar peserta telah memiliki pengalaman dalam bidang tulis-menulis, dan mengikuti kegiatan workshop untuk memperluas wawasan dan mencoba mendapatkan perspektif baru dalam melihat persoalan dan wacana-wacana yang berkembang di masyarakat, terutama di bidang seni rupa dan budaya visual.

Proses perkenalan diri satu sama lain dari masing-masing peserta itu kemudian dilanjutkan dengan diskusi bebas terkait persoalan-persoalan budaya visual yang berkembang di masyarakat. Diskusi ini dipicu dengan pertanyaan dari koordinator tentang soal praktek budaya visual apa yang menjadi masalah urgent dan patut untuk mendapat perhatian dari calon pengkritisi muda dalam kegiatan itu. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengantar bagi para peserta, mengingat bahwa di akhir minggu, masing-masing peserta wajib mengemukakan ide yang akan menjadi bahan tulisannya.

Beberapa dari peserta memberikan pendapat tentang hal-hal yang menarik perhatian mereka. Beberapa diantaranya adalah Ibnu Nadzir, partisipan asal Jakarta, mengutarakan persoalan tentang nasib perfilman Indonesia yang sudah didominasi oleh tema monoton: horor dan pornografi. Menurutnya, titik fokus perhatian yang menarik adalah memahami persepsi masyarakat yang menjadi konsumen dari film-film yang diproduksi para sineas dalam negeri, yang pada dasarnya dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kecenderungan para pelaku industri film untuk menarik keuntungan sebesar-besarnya.

Selanjutnya, beberapa peserta lainnya, seperti Manshur Zikri (partisipan asal Jakarta), Arys Aditya (partisipan asal Jember), Ratih Sukma (partisipan asal Jakarta) dan Aprillia Ramadhina (partisipan asal Jakarta) melirik persoalan dan fenomena perempuan yang dijadikan objek visual, baik dalam media periklanan, media baca, seperti majalah dan koran, maupun fotografi. Diskusi itu kemudian mengarah ke wacana tentang asal mula dijadikannya perempuan sebagai objek penarik dalam praktek budaya visual di masyarakat. Beberapa diantaranya berpendapat bahwa kecenderungan ini muncul karena dipengaruhi oleh budaya patriarki yang mengakar di lingkungan kehidupan masyarakat itu sendiri. Perempuan selalu menjadi bahan menarik untuk dipergunjingkan di berbagai media. Seperti yang diutarakan oleh Ratih Sukma, contoh kasus Malinda Dee yang sempat dimuat di media Tempo sebanyak dua kali, yang menjadi sorotan publik dan pelaku media hanyalah persoalan yang menyangkut tubuh, bukan objek yang lebih penting terkait kasus penggelapan uang yang ia lakukan.

Perkenalan dan diskusi bebas pada sesi pertama itu berakhir sekitar pukul 12 siang. Sesi kedua dilanjutkan sekitar pukul satu, setelah jam makan siang.

Pada sesi dua, kegiatan workshop difasilitasi oleh Indra Ameng, Koordinator Program, Divisi Dukungan dan Promosi ruangrupa. Dalam sesi itu, Ameng memperkenalkan kepada semua partisipan workshop tentang organisasi ruangrupa, serta menjelaskan beberapa kegiatan dan program yang telah dilakukan oleh ruangrupa.

Beberapa diantaranya adalah Public Art Space: Taring Padi dan Apotik Komik dan Urban Printing Workshop yang diadakan pada tahun 2000; Jakarta Habitus Publik, tahun 2001; Muic Video Workshop dan p-a-u-s-e Gwangju, tahun 2002; Garbage Sale dan Lekker Eten zonder Betalen, tahun 2003; Top Collection a photography project, tahun 2004. Selain itu juga dibahas tentang Karbon Journal, jurnal seni rupa tiga bulanan terbitan ruangrupa, yang edisi pertamanya diterbitkan tahun 2000, dan sekarang menjadi jurnal online yang memiliki fokus bahasan pada wacana praktek seni rupa kontemporer dan budaya visual di perkotaan (http://2010.ruangrupa.org/).

Kemudian Ameng juga membahas tentang pameran dua tahunan karya visual mahasiswa, Jakarta 32°C, yang menjadi ajang atau forum tempat bertemunya semua mahasiswa seluruh Jakarta dan berkesempatan memamerkan karya-karyanya; dan Ok. Video, festival video internasional dua tahunan yang diselenggarakan sejak 2003 dan merupakan salah satu kegiatan ruangrupa untuk membahas fenomena sosial dan budaya di Indonesia dan dunia internasional dalam sebuah festival video dengan tema spesifik (http://www.ruangrupa.org/web/). Dan yang terakhir adalah Decompression #10 (10 tahun ruangrupa), sebuah acara yang diselenggarakan oleh ruangrupa beberapa waktu yang lalu, Desember 2010 hingga akhir Januari 2011, untuk merayakan eksistensinya selama satu dekade.

Dalam memperkenalkan ruangrupa dan beberapa kegiatan yang telah dilakukannya itu, Ameng juga menerangkan latar belakang atau rumusan konsep dan gagasan dari beberapa karya atau kegiatan yang diproduksi dalam kegiatan. Yang cukup menarik perhatian para partisipan adalah Lekker Eten zonder Betalen, yang menjadi ide pameran yang dilakukan oleh ruangrupa pada kesempatan gelaran proyek seni rupa di Rumah Seni Cemeti. Para seniman yang terlibat di dalamnya mengadakan perhelatan jamuan makan malam, interior, masak memasak, bermain musik, diskusi dan sebagainya, untuk menciptakan suasana interaksi bermain, manusia dengan benda, benda dengan benda serta manusia dengan manusia; dan kemudian sisa kejadian atau rekaman dari perhelatan jamuan itu yang kemudian dijadikan sebagai karya untuk dipamerkan dalam acara (http://www.archive.cemetiarthouse.com/id/exhibition/2003/).

Sesi ke dua itu selesai dan ditutup oleh Ameng pada pukul empat sore. Meskipun rangkaian kegiatan pada hari pertama telah selesai, beberapa partisipan masih belum beranjak dari tempatnya, karena terlibat dalam sebuah diskusi bebas tentang fenomena praktek dan aktivitas berkesenian oleh seniman muda dan komunitas, beserta dilemma-dilema yang melingkunginya. Mirwan Andan dan Indra Ameng tetap setia menemani para partisipan dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh beberapa peserta workshop.


Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement