Review OK VIDEO FLESH Hari Ke-2, 8 Oktober 2011

Posted on 09 October 2011 by jarakpandang

Tepat pukul 14.00, sekitar 20 pengunjung OK Video mulai merapat ke gedung B untuk sama-sama menyaksikan duo kurator Mahardika Yudha (Diki) dan Rizki Lazuardi memandu pembacaan pengunjung terhadap karya-karya video yang tergabung dalam tema Surveillance and Self Potrait. Satu per satu karya dijelaskan oleh Diki dan Rizki. Dari mulai karya Confidential = Rahasia milik Irfan Fatchu Rahman yang terletak tepat di depan pintu masuk ruangan hingga karya Emma milik Anggun Priambodo yang diletakkan terpisah dari video-video setema lainnya.

Secara singkat, topik yang kerap disajikan Rizki dan Yudha adalah permasalah ruang privat yang dibawa ke publik.  Mengenai karya Condifential = Rahasia Rizki berbicara banyak mengenai CCTV (Closed-Circuit Television). CCTV membuat tiap manusia dikontrol, diawasi.  Rizki pun mengatakan bahwasannya pengawasan tidaklah lagi persifat vertikal, melainkan horizontal “Tiap karyawan bisa mengawasi diri sendiri, juga sesamanya,” ungkap Rizki mengenai penggunaan CCTV di perusahaan.

Ulasan mengenai video Vertical Horizon-nya Wok The Rock pun tak kalah menarik, video berdurasi 9 menit baru terasa serunya ketika kita tahu bahwa itu adalah rekaman ekspresi seseorang yang tengah menonton video yang seharusnya tampil horizontal namun direkam secara vertikal. Ya, apalagi kalau bukan video adegan persetubuhan Ariel Peterpan dan Cut Tari.    Rizki pun menjelaskan bahwa kehadiran internet membuat kita semakin mudah untuk menyebarkan ekspresi personal kita ke khalayak luas. Ruang privat pun bisa dikonsumsi publik.

Di ruang ketiga gedung B Rizki dan Yudha tak lagi berbicara berdua saja. L.C Von Sukmeister (Suki), video artist asal Belanda pun panjang bercerita dalam bahasa inggris mengenai karyanya yang berjudul Friendly Video Graffiti Project (FVGP). Menurutnya, video project yang berjalan selama OK. Video Flesh itu dibuatnya diawali dari suatu pertanyaan besarnya tentang apakah itu seni video.

Setelah sesi bincang-bincang kurator tema Surveillance and Self Potrait, para pengunjung yang masih tertarik untuk memahami tiap video pun langsung menuju gedung A. Hafiz Rancajale, kurator video-video bertema Face Dominated ini sudah menunggu di depan pintu. Sejurus kemudian para pengunjung dipandunya berkeliling menyaksikan enam video yang yang ia kuratori. Kali ini peserta curators talk pun mulai berkurang namun tak kalah antusias. Terlihat juga sekelompok Bapak, Ibu dan dua anak yang semangat mengikuti panduan Hafiz.

Pembahasan dimulai dari karya Tintin Wulia yang berjudul Nous ne notons pas les fleurs. Karya tersebut merupakan seri dari beberapa proyek video pertunjukan yang dilakukan Tintin di beberapa lokasi berbeda. Mengenai karya ini Hafiz mengatakan bahwa kuasa dalam video direpresentasikan melalui batas-batas wilayah. Kuasa itulah yang kemudian kita sebut sebagai negara.

Video Philosopher Football (Match) 3.0 milik Ade Darmawan yang eye catching dan interaktif pun menyirap perhatian pengunjung. Sambil tetap mendengarkan ulasan dari Hafiz beberapa pengunjung menjajal instalasi game PC yang disajikan. Hafiz bercerita bahwa untuk membuat video itu, Ade Darmawan bekerja sama dengan sejumlah hacker dan programmer guna menciptakan tim-tim filosof tersebut.

Hafiz juga bercerita cukup banyak mengenai karya Apichatpong Weerasethakul yang berjudul Phantoms of Nabua. Hafiz mengatakan bahwa Apichatpong adalah seniman video yang karyanya sudah banyak diakui internasional. Videonya kali ini menampilkan sekelompok lelaki yang tengah bermain saling menendang bola api. Sekedar informasi, Apichatpong adalah filmaker/video artist asal Thailand yang tahun 2010 lalu memenangkan penghargaan tertinggi Palm D’or di salah satu ajang festival film paling bergengsi di dunia, Festival De Cannes, Perancis.

Jika kita melihat video The Financial Crisis besutan seniman Denmark, Superflex, maka kita akan sedikit bingung. Karena video ini tampak seperti sebuah program motivasi di televisi. Melalui video ini, Superflex menampilkan seorang penghipnotis yang berbicara dengan tenang. Kita diajak untuk berkontemplasi. Menurut Hafiz Superflex memang sering membuat video-video yang berisi pembelajaran. Selain  The Financial Crisis Superflex pernah membuat sebuah video mengenai cara membuat pupuk. Ulasan Hafiz tersebut sekaligus menjadi akhir dari sesi curator’s talk kali ini.

Sepertinya tepuk tangan penuh salut patut kita berikan untuk para kurator yang telah dengan menariknya menjembatani karya dengan pemirsa. Video-video yang awalnya terasa rumit untuk dicerna pun menjadi  hal yang menyenangkan untuk ditonton.

Rizki Ramadan, Penggiat fotografi dan peserta Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement