Review Kuliah Umum PM Laksono: Televisi Sebagai Pengikat Relasi Sosial Lewat Suara dan Gambar

Posted on 06 July 2011 by jarakpandang


*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review kuliah umum PM. Laksono tentang Antropologi Visual, disampaikan pada Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Oleh: Winda Anggriani

Di luar, langit begitu cerah. Suasana di ruangrupa pun terasa riuh. Para peserta workshop seni rupa dan budaya visual sedang asyik berbincang, ketika seorang pria paruh baya yang simpatik itu memasuki muka ruang workshop. Beliau menyapa dengan ramah. Tanpa banyak basa-basi, guru besar Universitas Gajah Mada itu mampu mencuri perhatian semua yang hadir di ruangan tersebut dan langsung membahas materi yang telah dirangkumnya dalam bentuk presentasi powerpoint.

Materi yang disampaikan Bapak Laksono adalah kuliah umum Antropologi dan Budaya Visual di Indonesia. Antropologi sosial adalah bidang ilmu yang secara strategis menanggapi dialektika “dunia lama” dan “dunia baru”, atau akulturasi yang sedang dialami para warga masyarakat dan kebudayaan Indonesia. Ini berarti persoalan pokok antropologi adalah persoalan mengenai perubahan kebudayaan, yang akan menghasilkan keberagaman masyarakat di Indonesia.

Khususnya di Indonesia, masalah akulturasi merupakan masalah bagaimana mengisi nasionalisme dengan “jiwa baru”. Sementara itu, salah satu cara strategis untuk menemukan konteks dari suatu ekspresi budaya adalah dengan melihat invisibilitas—merepresentasikan apa yang tidak tampak—bagi mata (biologis) kita, yaitu dengan memanfaatkan ketidakberhinggaan rekaman kamera visual, terutama foto atau video. Selain hal tersebut, tujuan utama antropologi budaya visual adalah melihat yang tidak terlihat.

Berkaitan dengan budaya visual, Bapak Laksono menambahkan, bahwa terdapat ketidakcocokan hubungan produk kamera dan kebudayaan. Budaya visual di Indonesia cenderung membagi dua kosakata yang berkaitan dengan sarana visual tadi, di antaranya (1) “melihat” (to see/view) yang berarti tanpa niat (intensi), dan (2) “menonton” (to watch) yang berarti praktik penggunaan mata dengan niat untuk menemukan makna—konotasi dari apa yang dilihat—yaitu melihat dalam rangka berkomunikasi dengan dunia, lalu memasukkannya ke dalam lingkaran wacana “katanya” (gosip).

Sebagai contoh budaya visual di Indonesia, Bapak Laksono mencontohkan seni jathilan yang berasal dari Yogyakarta. Pembahasan seni jathilan ini semakin mendalam seiring dengan pertanyaan Purna Cipta Nugraha, yang mempertanyakan seni jathilan apakah masih dikenal akrab oleh anak muda Indonesia dan bagaimana penerimaan seni tersebut di masyarakat setempat. Dengan caranya yang bersahaja, Bapak Laksono menjelaskan bahwa seni jathilan saat ini memang sudah kurang akrab di telinga anak muda zaman sekarang yang semakin tersiksa oleh televisi. Seni jathilan yang selalu menyisakan tanya dalam benak penonton ini—mengenai kebenaran penari kuda lumpingnya yang kerasukan atau hanya berpura-pura kerasukan arwah—mulai ditinggalkan, namun keberadaannya masih eksis di pinggir jalan kota gudeg, dengan atau tanpa penonton tetap.

Beralih pada kamera dan televisi sebagai sarana visual modern, Bapak Laksono mengemukakan pandangannya. Kamera sebagai alat perekam kejadian, telah melakukan pembunuhan terhadap objek karena membentuk objek tersebut dengan cara membidik kaku. Contohnya ketika seseorang yang akan membuat pas foto, terpaksa harus mengikuti aturan kaku fotografer agar mendapatkan hasil yang maksimal. Oleh sebab itu, kamera dapat disebut sebagai alat yang bisa berlaku sewenang-wenang. Sejalan dengan hal itu, Bapak Laksono juga mengungkapkan, bahwa budaya menonton televisi adalah penderitaan yang selalu dirindukan. Menyakitkan tapi disukai, karena kesakitan ketika tengah menonton televisi adalah pengikat relasi sosial lewat suara dan gambar. Tambahnya lagi seraya memberikan saran, menonton televisi yang baik adalah dengan cara tidur, sehingga kehadiran televisi hanya sebagai penanda kalau kita tidak sedang sendiri. Itu saja.

Kuliah umum yang disajikan Bapak Laksono pun menjadi penutup workshop penulisan kritik seni rupa dan budaya visual ruangrupa 2011. Senyuman manis hadir di antara wajah-wajah yang telah menghiasi ruangrupa selama kurang lebih dua minggu itu. Hari ini workshop resmi selesai, tapi pertemanan kita tidak akan pernah usai sampai di sini. Ayo, kita susun rencana ke depan dengan sesuatu yang lebih indah.

 


Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement