Review Hari Kesepuluh: Musing(in)

Posted on 30 June 2011 by jarakpandang

*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review hari kesepuluh Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Ardea Rhema Sikah

“Setelah ini langsung saya kasih PR, ya,” kata Mbak Farah Wardhani alias Mbak Wawa setelah menyampaikan materi seputar “Musings”. Peserta Workshop Penulisan Kritik Seni Ruang Rupa terperangah. Wow. Langsung ada PR!

Ternyata PR tidak diberikan untuk dibawa pulang. Saat itu juga, selama 1,5 jam peserta workshop diajak membuat “musings” berdasarkan beberapa slide karya yang disediakan. Yang membuat kegiatan ini menjadi musing(in) adalah kesulitan menemukan referensi. Karya dan seniman yang ditampilkan tidak akrab dengan sebagian besar peserta. Selama beberapa hari, akses wi-fi di Ruang Rupa pun tak kunjung siuman. “Tulis aja berdasarkan apa yang kamu lihat,” ujar Mbak Wawa. Maka, selama 1,5 jam para peserta sibuk menulis dan menganalisa.

Musings” yang entah apa padanannya dalam bahasa Indonesia adalah “pemikiran yang dalam dan kontemplatif (kata sifat), meditasi dan kontemplasi (kata kerja), dan produk yang dihasilkannya”. Ketika diminta memberi materi mengenai Praktek Penulisan di Media Non-Mainstream, materi inilah yang dipilih Mbak Wawa untuk dibagikan kepada pemirsa sekalian.

Karena workshop tersebut adalah workshop penulisan kritik seni, Mbak Wawa menjabarkan lagi Musings ini dalam tips-tips “Musings on Art” yang terdiri dari:

  • Pilih yang disukai/menarik perhatian
  • Riset
  • Jabarkan kesan-kesan tentang karya
  • Jabarkan kesan personal dan interpretasi
  • Kumpulkan fakta-fakta terkait
  • Hubungkan dengan isu/permasalahan yang lebih besar.
  • Eksplorasi refleksi
  • Opini
  • Simpulan.

Selama satu setengah jam, dengan bekal seadanya tapi semangat menyala-nyala, peserta workshop musings. Masing-masing memilih karya yang dapat diulas sesuai bidang yang menarik bagi mereka. April, Winda, dan Ratih misalnya, seperti biasa mengangkat isu gender dalam karya yang mereka bahas.

April dan Winda sama-sama mengangkat “Zygotic Acceleration” karya Jake dan Dinos Chapman. Dari sudut pandang April, perempuan-perempuan telanjang yang saling membelah diri seperti zigot tersebut menunjukkan bahwa perempuan itu diproduksi, bukan dilahirkan. “Apa lagi ada yang hidungnya dari penis. Hidung itu untuk bernafas. Dalam karya ini, perempuan dilihat bernafas pun dengan penis,” papar April.

Winda menyorot sepatu seragam dan kedodoran yang dikenakan setiap perempuan. “Pada umumnya, perempuan lebih cepat dewasa daripada lawan jenisnya. Tetapi, setelah kaki perempuan-perempuan ini bertumbuh lebih besar lagi, sepatunya tidak diganti,” kata Winda.

Ratih memilih karya-karya Nobuyoshi Araki, fotografer Negeri Sakura yang menghadirkan tubuh-tubuh perempuan. Secara kritis ia melihat bagaimana tubuh perempuan terikat-ikat meski ekspresinya seakan bebas. Paha salah satu perempuan di foto tersebut terikat tali, namun terbuka lebar. Di sana Ratih pun melihat bagaimana perempuan mengendalikan dirinya di bawah suatu kuasa.

Ticco mengangkat karya dari seniman yang sama berikut isu ikat-ikatnya itu. Bedanya, Ticco menyoroti tali sebagai “menstruasi”, sebuah situasi ketika perempuan (yang dalam salah satu foto mengenakan seragam sekolah) dikendalikan oleh tubuhnya sendiri, lebih daripada yang ia bisa bayangkan.

Ulasan menarik seputar tubuh hadir pula pada pembahasan Arys. Setelah terbius hingga tertidur sejenak di atas meja, Arys musings “Lunch” karya seniman Cina, Ma Liuming. Di dalam foto tersebut, Ma Liuming tampak tidak menyentuh daging yang dihidangkan di hadapannya, tapi justru malah memasang slang pada penisnya sendiri dan menghisapnya. “Buat cowok, itu benda yang paling kita lindungi. Itu representasi dari diri kita, lah kok malah dimakan,” papar Arys dalam logat Jawa yang kental. Arys pun sempat menghubungkan ekspresi merdeka tubuh Ma Liuming sebagai pemberontakan atas ketatnya pemerintah Cina. “Keluar-keluar harus pakai baju itu termasuk represi,” pendapat Arys.

Karya yang dipilih ramai-ramai adalah karya-karya Andreas Gursky yang memang menghadirkan keramaian dari jarak pandang (sesuai nama website ini) lanskap. Tercatat Asep, Sita, Rizki, Putri, Yayas, dan (ehm) saya sendiri mengulas karya Gursky. Putri mempunyai pandangan menarik mengenai posisi adiluhung Tuhan yang seperti dirasakannya ketika menatap foto tersebut. Menurut Putri, berbeda dengan foto lanskap pada umumnya, ada bidang yang tak seperti bidang pandang manusia melalui foto tersebut.

Di penghujung materi, Mbak Wawa memilih peserta yang menurutnya paling menarik musings-nya. Dan dia adalaaaah …. TARAAA … TICCO … Dan Ticco boleh membawa pulang sebatang flash disk dari Mbak Wawa.

Materi hari itu adalah materi “langsung turun ke sawah” pertama sepanjang workshop. Semua gembira karena apapun hasilnya, kami berhasil musings dengan (kata Mbaknya ya) cukup baik.

“Buat yang tadi pakai tulisan tangan, saya minta hasilnya diketik terus nanti dikirim, ya, pasti saya jadikan sesuatu,” pesan Mbak Wawa. Kertas-kertas musings dibagikan kembali. Beberapa peserta membaca ulang dan mengedit-edit hasil pekerjaannya.

Teman-teman, dalam 1,5 jam, Musing(in) menjelma menjadi Musing(out). Pikiran yang tersendat tercurah dan meruah.

 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement