Review Hari Kesembilan: Budaya Visual Yang Menyengat Anak Muda

Posted on 30 June 2011 by jarakpandang

) catatan redaksi: tulisan ini adalah review hari kesembilan Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Purna Cipta Nugraha

Sebagaimana biasanya Jakarta hari ini panas menyengat. Tapi hal ini bukan hambatan bagi peserta workshop penulisan kritik visual senirupa untuk datang ke ruangrupa. H-3 sebelum workshop berakhir kali ini Aryo Danusiri diundang untuk menjadi pemateri yang membahas topik Budaya Visual Anak Muda dalam tulisan dan karya visual. Kandidat PHD bidang antropologi visual di Harvard University ini memulai pemberian materi dengan terlebih dulu meminta tiap peserta untuk memperkenalkan diri. Pemutaran film pendek menjadi agenda selanjutnya, film pendek yang diputar adalah film karya Aryo sendiri yang bersetting di wilayah timur Indonesia, tepatnya di kabupaten merauke provinsi Papua.

Film berdurasi satu jam ini, bercerita mengenai sekelompok nelayan yang berkerja mencari udang di pantai sekitaran Merauke. Kondisi ekonomi yang menghimpit tidak membuat mereka kehilangan semangat untuk terus berkerja. Dengan bantuan dari LSM setempat, sekelompok nelayan yang masih berstatus siswa SMK  didorong untuk dapat bekerja menangkap udang dan menjualnya secara langsung ke pasar-pasar lokal sehingga dapat membiayai sekolah mereka.

Film berjudul Lukas Moment ini menjadikan Lukas gebze, salah satu siswa SMK dalam kelompok nelayan menjadi poros jalan cerita. Diceritakan bahwa Lukas dalam sebuah usaha untuk dapat menjual udang ke Papua, ia berharap bisa mendapat keuntungan lebih dibanding menjual udang secara langsung di pasar-pasar lokal. Diceritakan secara jelas runtut proses penangkapan udang, pemaketan hingga pengiriman ke Papua melalui pesawat. Adapula beberapa orang dalam film ini yang membantu proses Lukas untuk dapat mengirim udang antara lain mama Theresia Simkakai dan Selvi. Mama Theresia adalah anggota LSM yang membantu berkembangnya kelompok nelayan tempat Lukas berada, dia mensupport penuh kegiatan Lukas dan aktif memberi bantuan kepada kelompok nelayan tersebut.

Selvi sendiri adalah paman Lukas, ia juga membantu penuh Lukas dalam proses pengiriman udang ke Papua termasuk mencarikan pemasok yang mau membeli udang dari Lukas. Setelah udang sejumlah 60 kg dikirim ke Papua, terjadi masalah dimana uang pembelian tidak kunjung dikirim oleh penerima. Singkat cerita, Lukas yang sempat mendapat kiriman uang hasil penjualan sebesar 150.000 tidak merasa puas karna jumlah tersebut tidak sesuai kesepakatan yaitu berkisar 400.000 – 500.000. Dengan bantuan mama Theresia, Lukas pun mendapat kejelasan bahwa uang hasil penjualan akan dikirim dengan sistem cicil, terjadi kesalahan teknis dimana penerima udang di Papua tidak memiliki lemari pendingin sehingga menyebabkan udang tersebut busuk.

Kekecewaan sangat dirasakan oleh Lukas dan teman-teman akan hasil penjualan udang tersebut, pada akhirnya mereka kembali pada format lama yaitu menjual udang ke pasar-pasar sekitar. Secara keseluruhan cerita, transportasi merupakan hal yang paling menjadi masalah sosial. Hal ini berdampak pada banyak hal seperti tingkat pembangunan wilayah kota hingga efesiensi waktu terutama tingkat kemajuan ekonomi itu sendiri.

Terdapat tanya jawab yang terjadi setelah pemutaran film ini, Ibnu  Nadzir menjadi penanya pertama perihal teknis pembuatan film Lukas moment. Ada pula Arys Aditya yang bertanya tentang gesekan yang mungkin terjadi saat LSM, yang notabene dianggap sebagai orang luar, mencoba membantu permasalahan warga dan kedepannya justru membuat semua itu semakin rumit. Aryo pun secara jelas menjabarkan beberapa hal teknis dan kondisi sosial orang-orang suku marind, suku yang ada di Merauke. Penjelasan dan penjabaran tentang perihal film yang diputar pun bergulir, sebelum pada akhirnya Aryo kembali menjelaskan mengenai fenomena budaya visual yang sebagian besar terjadi di Jakarta.  Aryo menyinggung tentang bagaimana Seven Eleven, Mini market yang tersebar luas di Jakarta, dapat menjadi bagian dan melibatkan masyarakat dengan mengambil contoh pengelolaan wilayah parkir Seven Eleven.  Seven Eleven dijadikan sebuah contoh ruang publik yang tersedia terlepas dari konteksnya sebagai mini market, karna sangat kurangnya ruang publik.

 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement