Review Hari Kesebelas: Membayangkan Khayalak – Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual di Media Umum

Posted on 06 July 2011 by jarakpandang

*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review hari kesebelas Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Ratih Sukma

Diantara seluruh materi yang berpijak pada teori dan teknik penulisan dalam workshop, apa yang dipaparkan oleh wartawan U-Magazine dan Majalah Tempo ini terbilang cukup blak-blakan dan vulgar. “Berusaha sangat keras untuk membuat tulisan yang baik itu sudah merupakan kesalahan. Jangan terpancing untuk menjadi seorang seniman atau kritikus, penulis sejatinya adalah seorang penikmatkatanya.  Ia juga membagi tips menulis tentang kesenian, yaitu jangan pernah nongkrong di TIM sebelum menonton, karena “Kalau di sana pasti ngomongnya ngawur, kritik semua—tapi itu karena rivalitas.” Nah, Anda paham kan maksud saya.

Qaris Tajudin dengan tandas membagi dua jenis penulisan seni rupa dan budaya visual di Media Umum, yaitu preview (biasanya di media on-line atau Koran), dan review (biasanya ditulis di majalah dengan gaya penulisan satu tingkat di bawah kritik). Di Sepanjang materi ia lebih banyak mengambil contoh teater dan film.

Bagi Qaris, pemaparan gamblang dalam tulisan preview suatu film tidaklah masalah, beda dengan penulisan review dimana ruang bagi penonton sangatlah substansial. Pembaca menginginkan efek kejut dan beragam ekspektasi, dan cenderung enggan untuk menonton jika sudah dijejali spoiler di awal.

Review Seni di majalah semacam Time atau Newsweek selalu menggunakan bahasa yang ringan dan sederhana. Tebaran jargon yang tak pahami orang awam, serta cara penulisan dilandasi motivasi menjadi kritikus seni—adalah dua kendala yang membuat kebanyakan orang tidak dapat menulis secara sederhana. Berikut adalah klasifikasi sederhana yang memperjelas perbedaan antara penulisan di Media Khusus Seni dan Media Umum:

 

Media Khusus Media Umum
  • Peranan penulis sebagai kritikus dimungkinkan
  • Sifatnya adalah menilai baik-buruknya suatu perhelatan seni, karena itu terdapat kecenderungan berujung pada dikotomi baik atau buruk
  • Penulisan kritik seni dan media visual menghalalkan porsi opini penulis lebih besar, karena mereka yang menulis di media khusus pasti memiliki kompetensi untuk menilai sebuah karya.
  • Tujuannya adalah melakukan review atau preview, karena itu janganlah gatel ingin menjadi hakim atau nabi atas karya
  • Pada tulisan review/preview, opini pribadi direduksi dan penulis memperbanyak opini narasumber. Wartawan atau penulis lepas cenderung tidak menaruh opininya sendiri untuk mengatakan suatu karya atau perhelatan seni baik atau buruk.
  • Pada penulisan preview penulis cenderung membagi sisi positif semata, sifatnya lebih berupa panduan.

Audience atau khalayak yang disasar media umum bukanlah kritkus seni, kurator, kolektor, atau seniman. Mereka adalah orang awam yang mencari tahu ihwal dunia yang asing baginya. Kalau penulis membagi hal-hal jelek tentang suatu karya, mereka juga tidak ingin tahu. Logikanya semudah hukum kausalitas persuasi. Qaris berkelakar bagaimana menulis di media Seni sesungguhnya lebih mudah dibandingkan media umum, karena pembaca sudah memahami konteks. Tidak demikian halnya pada media umum yang melayani publik lebih luas.

Ia mengilustrasikan sebuah kritik saat merespon satu paragraf mengenai review film: “Jalan cerita yang ditulis mengambil cerita tentang 3 anak… Serangkaian cerita itu diakhiri dengan tempo yang cepat”—menurutnya film yang ditujukan bagi anak-anak semacam ini adalah panduan untuk bapak ibu untuk membawa anak menonton film di musim liburan. Sia-sia belaka jika diperumit dengan istilah-istilah dalam referensi teori film.

Membongkar Kemasan

Banyak penulis yang terjebak dalam konstelasi pujiaan dan keterpukauan versus celaan. Padahal, menulis tulisan tentang sebuah pagelaran seni dimulai saat melihat dan mendapatkan impresi pertama, bukan saat menuliskannya. Penulis juga perlu menjaga mood swing agar tidak mempengaruhi tulisan. Terlalu terpukau akan membawa kecenderungan terpaku pada detail. Jangan terlalu percaya pada diri sendiri hingga terjebak subyektivitas.

Penulis tidak boleh tersihir oleh kemasan. Misalkan ada pameran foto bertema masyarakat miskin urban di bawah jembatan dekat sungai, banyak orang mengapresiasi karena kedekatan dengan setting alaminya, padahal fotonya biasa-biasa saja. Terkadang penulis perlu memakai kaca mata kuda untuk mendapatkan ketajaman ulasan. Seniman juga seringkali muncul dengan sensasionalitas, dan bagi Qari mereka sejatinya adalah natural entertainer. Penting bagi penulis untuk membongkar kepongahan, atau dalam bahasanya—sok-sok’annya seniman. Bottom-line: jangan cepat disihir ketakjuban.

Mereview keseluruhan pameran sungguh tak kalah penting alih-alih terpaku pada lukisan, foto, patung, dan obyek lain dalam penulisan seni rupa dan budaya visual. Tata cahaya, peletakkan dalam ruang, sangat berpengaruh dengan cara pengunjung melihat suatu karya. Penulis perlu bertanya mengapa seniman atau penyelenggara menggunakan lampu kuning di dalam ruang pamer.

Dibutuhkan pengalaman panjang hingga seseorang dapat menulis kritik dengan baik. Jika seseorang telah banyak makan asam garam tentang karya seni, atau berperan sebagai kurator, semua sah-sah saja. Jika belum punya pijakan yang kuat. Salah-salah penulis dapat dicap kemaki/sok tahu. Itulah pentingnya mengutip suara-suara narasumber lain.

Jangan pernah mencatat ketika menonton pertunjukkan. Nikmati saja seperti orang yang menikmati dan bertindak layaknya penonton di media massa umum. Ketika datang ke pameran lukis, penulis adalah pencinta lukisan, bukan kritikus. Bagaimanapun, meningkatkan kemampuan menulis tak dapat didefinisikan secara teknis, sepertihalnya naik sepeda yang dapat dikuasai tanpa membaca guidance.

Mengambil Jarak dan Mengapresiasi Atmosfer

Menjaga jarak dengan pencipta karya atau nara sumber lainnya merupakan hal penting dalam menulis seni rupa atau budaya visual lain di media umum. Itulah mengapa sebaiknya penulis tidak menerima treat dari seniman, penyelenggara, atau elemen terkait lainnya. Namun, mengapresiasi atmosfer yang dibuat seniman atau Event Organizer patut dilakukan. Qaris melakukan kilas balik saat ia menulis pagelaran fashion Bian di Dharmawangsa. Saat itu, ia menuangkan segala detail dan apresiasi mengenai indoor venue yang betul-betul diciptakan menyerupai hutan. Diluar itu semua, ia tetap menilai karya fashionnya secara obyektif.

Ia juga berefleksi dengan proses penulisan karya Matah Ati, yang disajikan Jay Subiakto secara spektakuler—panggung miring untuk menampilkan hirarki dalam karya kolosal dimana pemeran di posisi atas paling berkuasa, dan posisi bawah sebagai paling bijak. Panggungnya seperti kaca dan menghadirkan efek keluasan panggung dan massal. Penulis dapat mengapresiasi setiap detail  tersebut, karena hal itu nyata dirasakan penonton. Namun, keseluruhan elemen pertunjukan seperti kostum, plot cerita, karakter, koreografi, dan lainnya—juga perlu diulas mendalam.

Sesi Berbagi

Pada sesi sharing, Tiko berbagi pengalamannya bekerja di media alternatif on-line. Baginya, gaya penulisan di media ini lebih dalam dari preview dan cenderung seperti kritikus. Sementara Rizki bertanya mengenai respon yang layak diberikan pada pihak-pihak yang tidak terima dengan tulisannya. Bagi Qaris, media on-line, apa lagi blog—ukurannya berbeda, tidak banyak kanon dan etika yang harus dijaga. Semua tergantung sepenuhnya pada pembaca blog yang dibayangkan penulis. Cinema Indonesia, misalnya, memang dibuat untuk mengkritik film Indonesia. Penulisnya bebas menulis apapun karena ia anonim. Hal ini mustahil dilakukan di Tempointeraktif atau Jurnal.  Penulis juga harus menerima dengan terbuka segala tanggapan atas tulisannya, dengan tetap memverifikasi kadar kebenaran atas kritik tersebut.

Purna mempertajam kembali pertanyaan mengenai definisi subyektifitas. Bagi Qaris, pengukuran ini berubah mengikuti zaman, kalau di zaman klasik patokannya cenderung realis—semakin dekat dengan realitas semakin bagus. Kini konvensi itu berubah menjadi sangat cair, seperti karya-karya di Ruangrupa. Teknik menulis seni-seni kontemporer semacam ini memang agak sulit. Bagaimana kemudian memberikan penilaian terhadap stiker kota? Yang dinilai lebih dari sekedar taste atau kualitas karya.  Bagaimana dengan grafitti dan sifat pembuatannya yang instan? Bagaimana dengan vektor yang mengambil elemen rupa dari karya-karya yang ada sebelumnya?

Ratih bertanya mengenai representasi ideologi penulis, seperti tulisan Leila S. Chudori dalam 3 karya Stieg Larsson yang difilmkan. Qaris menyatakan ia menaruh respek yang besar terhadap penulis ini, namun kadar feminisme yang dilibatkan terlalu banyak ke dalam tulisan menurutnya dapat mengganggu. Menjawab pertanyaan Winda, baginya referensi penulisan dapat digunakan sebagai pengetahuan dasar penulis, tapi tidak untuk dikeluarkan pada tulisan yang ditujukan untuk publik luas.

 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement