Review Hari Kelima: Dari ‘Bajaj’ hingga ‘religiusitas dalam seni kontemporer’

Posted on 26 June 2011 by jarakpandang

*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review hari kelima Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Rizki Ramadhan

Di hari kelima ini, Jumat (25/6), workshop diisi oleh 13 pembicara. Ya. Tiap peserta yang hadir menjadi pembicara. Satu per satu kami diberi waktu untuk mempresentasikan usulan topik tulisan yang akan kami kerjakan untuk memenuhi tugas akhir dari workshop ini. Menariknya, tema yang diajukan sangat beragam dan tidak melulu mengenai praktik seni rupa.

Awalnya, untuk memudahkan presentasi, kami diminta untuk menuliskan abstrak dari usulan topik tulisan tersebut, tetapi dengan berbagai alasan kami lebih memilih untuk menceritakannya secara langsung.

Presentasi dimulai dari Ardea Rhema Sikhar, peserta yang belakangan ini keliatan memiliki kecenderungan humor aliran ‘majelis plesetaniyah’. Sebelumnya, Dea -begitu dia biasa dipanggil-sudah memiliki rencana untuk membahas angkutan umum di Bandung, tempat asalnya. Namun, mengingat tulisan ini harus diusahakan selesai di akhir workshop maka ia mencari alternatif lain. Hasilnya, Dea mengganti objek kajiannya dengan  angkutan umum khas Jakarta, Bajaj, untuk dikaji lebih dalam. Ia tertarik membahas bajaj sebagai suatu fenomena sosial di ibukota ini. “Bajaj itu punya attitude tersendiri, dan tampil percaya diri” begitu lah kira-kira ketertarikan awal Dea terhadap Bajaj. Lebih jauh lagi Dea pun membaca kecenderungan bahwa hampir semua supir Bajaj itu adalah orang Jawa. Untuk tulisan ini, Dea berencana untuk mewawancara beberapa supir bajaj.

Kajian mengenai media massa dipilih oleh Ratih Sukma, Natya Sekar Arum, Sita Magfira dan Laras Eka Wulandari. Ratih dengan mantap dan matang mengajukan kajian mengenai wanita dalam sampul depan majalah Tempo untuk dijadikan tulisan. Karena topik ini adalah topik yang akan dikerjakannya untuk skripsi, tak ayal Ratih bisa jadi peserta pertama yang membawakan presentasi dengan bantuan slideshow powerpoint.  Setelah mempresentasikan permasalahan yang ia temui, akhirnya Ratih sepakat untuk membahas tema bahasan mengenai tampilan wanita pelaku kejahatan. Untuk lebih mempermudah, Andan pun mengusulkan agar Ratih membahas dua cover saja yaitu cover yang menampilkan ilustrasi sosok Melinda Dee.

Setelah Ratih, Natya pun tertarik mengkaji permasalahan media massa, dalam hal ini majalah. Usianya yang masih belum jauh dari masa SMA membuat Natiya tertarik untuk mengkaji bagaimana Provoke!, majalah kesukaannya, membentuk gaya hidup remaja perkotaan. Provoke! Sendiri ialah majalah gratis dengan segmentasi anak SMA yang konsisten menampilkan artikel-artikel yang alternatif. Untuk ini, Natya, akan mewawancarai para pekerja di majalah Provoke! Setelah sebelumnya memetakan konten-konten dalam majalah untuk kemudian dipilih lalu dikaji lebih dalam.

Kreatifitas dunia periklanan memang hal yang menarik untuk diamati dan dikaji. Terutama jika produk yang diiklankan itu ialah rokok. Dengan segala peraturan yang mengikat iklan produk rokok: tidak boleh menampilkan produk rokok tersebut dan hanya boleh tayang di waktu-waktu tertentu, berbagai brand rokok tetap bisa meraih pasarnya. Hal ini lah yang menjadi ketertarikan Sita. Lebih jauh, Sita akan mencoba membandingkan iklan rokok di saat regulasi-regulasi tersebut belum ada. Sita hanya memilih untuk mengkaji iklan rokok di televisi.

Sebagai seorang muslimah, Yayas justru tidak setuju dengan bagaimana stasiun televisi nasional menampilkan Adzan. Ia melihat ketimpangan di situ. Jika Indonesia ialah Negara yang luas, dan terbagi dalam beberapa wilayah waktu, tapi mengapa hanya Adzan untuk wilayah Jakarta yang ditayangkan? Itu-lah awal ketertarikan Yayas terhadap video adzan di televisi. Berbicara mengenai media, media berada di persimpangan antara agama, modal, dan massa.   Sialnya, sejauh ini, modal selalu dimenangkan oleh media massa. Hasilnya, agama pun dijadikan komoditas. Kiranya, setelah banyak masukan pasti sangat membantu Laras. Hmm atau malah membuatnya jadi bingung? Semoga tidak. Hehe.

Materi dari Ardi Yunanto mengenai seni rupa di ruang publik di hari kedua workshop ternyata meninggalkan rasa penasaran pada diri Arys. Dari situ, Arys Adiyta tertarik untuk membahas mengenai aksi Bebas dan Merdeka 100 %, salah satu aksi yang dibahas Ardi saat menjadi pembicara. Arys akan mengupas tentang sejarah awal serta penyebarannya aksi ini. Andan pun mengusulkan agar Arys menelaah hubungan antara Berbeda dan Merdeka 100% yang dipakai dalam gerakan ini dengan ide Merdeka 100% dalam salah satu brosur –yang kemudian menjadi buku –yang ditulis oleh Tan Malaka.

Ibnu Nadzir dan Winda Anggraini tertarik untuk membahas komik Indonesia. Ibnu tertarik untuk mengkaji komik Garudayana dan Dharmaputra. Keduanya ialah komik yang menceritakan dua tokoh legenda Indonesia. Garudayana bercerita tentang Gatot Kaca, sementara Dharmaputra bercerita tentang Gajah Mada. Walau komik tersebut kental dengan isu nasionalisme, teknik menggambar yang digunakan adalah manga, teknik menggambar dari Jepang. Dari pemikiran tersebut lah Ibnu ingin menyingkap pertanyaan seperti apakah komik asli Indonesia itu.

Sementara Winda ingin mengulas komik Godam besutan Wid. N. S. Winda secara komprehensif mempresentasikan komik Godam dengan slideshow powerpoint-nya yang aduhai itu. Mulai dari alur ceritanya, penokohan, serta asal usulnya dipaparkan Winda. Namun, Tak disangka ternyata Winda justru tertarik untuk membahas warna pada sampul halaman yang kerap didominasi oleh nuansa biru, kuning dan hijau. Usulan Winda tersebut menuai banyak usulan dari kawan-kawan lain. Hingga akhirnya Winda diusulkan untuk fokus membahas satu judul komik Wid. N. S, Merebut Kota Perjuangan, sebuah komik tentang Serangan Umum 1 Maret 1949. Belakangan setelah turun ‘panggung’ Winda malah dapat ide baru untuk membahas komikalisasi puisi. Bahasan yang ia temui setelah membaca majalah Komik gratisan yang ada di Ruru.

Manshur Zikri dan Purna Cipta Nugraha sejak awal workshop memang terlihat memiliki antusiasme yang besar terhadap seni video. Karena itu pun mereka dengan mantapnya mengajukan tema. Zikri tertarik untuk mengkaji video berjudul Iqra karya Ari Satria Darma. Sekedar informasi, sebelumnya Zikri tertantang untuk mereview semua video yang ada di katalog 10 Tahun Seni Video Indonesia 2000 – 2010. Untungnya, Dzikri sadar kalau ia tidak mungkin mengulas 27 video dalam waktu seminggu.

Sebagai peserta dari Semarang, Purna tertarik untuk memetakan perkembangan seni video di kotanya tersebut. Menurutnya, akselerasi perkembangan ketertarikan masyarakat Semarang terhadap seni video mulai meningkat. Oleh karena itu, Purna akan mencoba menjabarkan perkembangannya dalam periode 2010-2011.

Selanjutnya Aprillia Ramadhina. Mahasiswi tingkat akhir jurusan Filsafat ini sudah siap dengan beberapa ide. Ia tertarik untuk membahas mengenai makanan sebagai seni, percakapan massa, serta bahasan skripsinya, narasi tubuh dalam karya seni perempuan. Dari ketiga usulan, bahasan mengenai narasi tubuh itu mendapat respon cukup banyak dari kawan-kawan.

Sementara saya mengutarakan dua tema. Pertama, kajian mengenai fenomena minimarket 7Eleven sebagai ruang publik anak muda. Kedua, mengenai posisi manusia dalam foto-foto ‘human interest’ yang tersebar di forum fotografer.net. Saya melihat ada keganjilan di situ dimana penderitaan dan bencana dijadikan suatu komoditas bagi para fotografer. Berdasarkan masukan dari kawan-kawan, akhirnya saya memilih usulan kedua untuk dibuatkan tulisan.

Materi dari Bang Ucok (Aminuddin TH Siregar) di hari Rabu kemarin membuat Asep Topan Mulyono ingin mempraktekkan cara mengulas suatu pameran. Asep memilih pameran desain kontemporer “Rada Beda” yang tengah berlangsung di Galeri Nasional. Sebagai langkah awal, ia langsung menuju pameran sepulang dari workshop.

Terakhir Putri Fitria. Ia mendapat ilham untuk membahas agama dalam karya seni rupa kontemporer. Sepengamatannya, jarang ditemukan karya seni kontemporer yang religius. Justru, karya seni kontemporer kebanyakan selalu berseberangan dengan agama. Putri untuk membahas karya lukisan Nasrul Palapa, seorang pelukis dari Sumatera Barat. Ada hal menarik dari suasana workshop hari Jumat ini. Mungkin karena hari ini adalah waktunya kami menumpahkan segala ide dan gagasan, suasana pun menjadi cair. Tidak se-tegang dan se-kaku hari-hari sebelumnya. “Sekarang anak-anak udah keliatan aslinya semua” begitulah Asep mendeskripsikannya. Diskusi berjalan dengan sangat baik. Latar pendidikan kawan-kawan peserta yang beragam sangat membantu memperkaya tema tulisan kami.

Oke, mari ucapkan selamat berjuang untuk diri kita semua!.

 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement