Review Hari Keenam: Membaca Jejak Raden Saleh

Posted on 30 June 2011 by jarakpandang

Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual dengan Pendekatan Sejarah

*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review hari keenam Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Putri FItria

Materi workshop di hari pertama pada minggu kedua kali ini diisi oleh JJ Rizal, ialah peneliti sejarah dari Komunitas Bambu di Jakarta. JJ tampaknya terlena dalam membahas Raden Saleh dan karya besarnya, lukisan Penangkapan Dipanagara di Magelang (28 Maret 1830). Selama kurang lebih tiga jam, materi yang dibawakan berkutat pada sejarah nasionalisme Raden Saleh beserta perdebatan-perdebatan yang menyertainya.

JJ sempat membahas seni rupa dan konteks kota Jakarta pada masa sekarang. Menurutnya seni rupa adalah potret perubahan sosial dari masa ke masa, tetapi sayangnya hanya sedikit pembahasan yang ke arah sana. Sebagai contoh, setiap hari ulang tahun Jakarta selalu diadakan perhelatan besar dunia seni rupa menyikapi kota, namun tidak ditemukan tulisan yang berani mengaitkannya pada perkembangan kota atau bagaimana kota Jakarta bertumbuh.

Bagi JJ, kunci kritik seni adalah menjembatani pemahaman-pemahaman, menyampaikan fenomena apa yang bisa kita baca, memudahkan dan mengundang orang untuk memberi tafsir-tafsir baru dalam memaknai sebuah karya. Serta peran kritikus adalah memberi pemicu, seperti memberi obor untuk dijadikan sumber api yang lain.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana posisi seniman dalam penulisan kritik seni model ini?. Dalam hal tersebut JJ termasuk yang tidak mengamini pemisahan antara seniman dan karyanya. Menurut JJ, kita akan kehilangan greget dan sisi dramatis sebuah karya. “Seperti makan nasi goreng tanpa bumbu,” katanya, tertawa.

Ika Krismantari, observer dari Jakarta Post, mengajukan pertanyaan lebih jauh mengenai bagaimana langkah real dalam menerapkan metode pendekatan sejarah. Yang disambut JJ dengan  selorohan ‘bersuamikan buku’, kalau perlu tiga suami pertama kita adalah buku. Intinya si penulis harus terus mengasah insting dengan banyak membaca, sehingga dapat memahami segala macam konteks yang melatarbelakangi sebuah karya.

Diskusi kembali membahas Raden Saleh ketika Ibnu Nadzir, peserta workshop berstatus peneliti LIPI, mengungkapkan rasa penasarannya perihal bagaimana Raden Saleh bisa menjadi keluarga kerajaan Belanda. Tentu tidak banyak seorang Jawa yang bisa mendapat keistimewaan setinggi itu.

JJ pun menjelaskan sebuah fenomena besar yang saat itu melanda Eropa, yang dinamai wabah orientalism. Dalam hal ini JJ memaparkan bahwa Raden Saleh mendapat kesempatan bukan hanya karena kepiawaiannya, namun karena Raden Saleh oleh dunia barat dianggap contoh yang paling baik dari apa yang direpresentasikan dunia timur. Ia telah menjadi pusat perhatian dan menjadi simbol wabah orientalism di Eropa.

Seperti tak ada habisnya memahami kompleksitas sejarah Raden Saleh, peserta workshop lainnya pun bersahut-sahutan tanya. “Raden Saleh jelas menjadi anak Belanda, dia jelas mengakui tidak mungkin bertindak yang tidak menyenangkan bagi Belanda. Namun dalam lukisannya dia menunjukkan kritik terhadap rasa nasionalismenya yang diinjak-injak,” jawab JJ mengintisarikan apa yang telah dijelaskannya sedari awal.

Dalam lukisan Penangkapan Dipanagara di Magelang (28 Maret 1830), JJ menunjukkan simbol-simbol nasionalisme yang secara implisit digambarkan oleh Raden Saleh. Seperti pandangan mata Dipanegara yang menatap tajam ke arah Jenderal De Koch, menyiratkan kebencian. Ukuran kepala serdadu-serdadu Belanda dilukis dengan ukuran besar, melambangkan betapa Belanda mempunyai sifat raksasa yang rakus. Yang paling menarik adalah dalam lukisan tersebut terdapat dua sosok Raden Saleh sebagai orang kecil yang terlihat menunduk penuh penyesalan. Mengingatkan saya pada penggalan kalimat Linda Christanty (2011), “tidak ada yang lebih sedih dan membekas daripada kehilangan seorang pemimpin yang baik.”(*)



Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement