Review Hari Kedelapan: Karena “Manusia Adalah Binatang Politik”

Posted on 30 June 2011 by jarakpandang

*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review hari kedelapan Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Arys Aditya

Mr. Suzuki bertani tomat di Porto Alegre, Brazil. Segera setelah memanen tomatnya, ia jual ke supermarket untuk ditukar dengan uang. Sedangkan di waktu yang berbeda Ny. Annette membelinya, ia mendapatkan uang bekerja keras memasarkan parfum dari satu rumah ke rumah lainnya. Tomat yang agak busuk dibuangnya.

Bersamaan dengan sampah penduduk se-Porto Alegre truk-truk berisi ribuan ton sampah dipindahkan ke Pulau Bunga (Island of Flowers). Belum berhenti sampai disitu, sampah-sampah tersebut dipilih untuk menjadi makanan babi. Tahap terakhir, sisa-sisa sampah-makanan babi itu disedikan untuk penduduk Pulau Bunga. Dengan cara, 10 orang tiap 5 menit bergantian memilihnya.

Itulah potongan film pendek berjudul Island of Flowers dengan sutradara … yang dipilih untuk menjadi pembuka sesi  pada hari keenam ‘Konteks Sosial Politik pada Penulisan Budaya Visual’ dengan Jemi Irwansyah, seorang pengajar di FISIP UI, sebagai narasumber. Setelah berkenalan dengan seluruh peserta, Jemi kemudian memberikan pertanyaan, apa kesan para peserta pada film pendek tersebut.

Jawaban datang beragam. Namun secara umum dapat diringkas menjadi beberapa hal, yaitu mengenai: kesenjangan sosial, kemiskinan dan satir-ironi yang terang ditampilkan di film tersebut.

Jemi menambahkan penekanan pada konteks tempat, yaitu Porto Alegre. Kata Jemi, Porto Alegre adalah satu kota yang pertama kali menerapkan participatory-budgeting. Gerakan warga kotanya yang berkesadaran ‘sukses’ menekan pemerintah setempat untuk melibatkan suara mereka dalam penganggaran daerah tersebut. Sehingga anggaran pemerintah betul-betul merupakan kebutuhan warganya, tidak hanya berdasarkan pada hasrat mereka yang duduk di pemerintahan.

Sebelum masuk pada inti materi, Jemi terlebih dahulu memberi pengertian definitif mengenai politik secara umum. Lewat beberapa pengertian, seperti: politik adalah tentang kuasa dalam interaksi sosial manusia atau politik adalah mengenai siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana, Jemi menegaskan tentang pentingnya para penulis (atau kritikus) seni-budaya visual untuk meraup konteks sosial-politik dimana karya seni diproduksi. Serta tentang bagaimana seniman memproduksinya. Karena bagi Jemi, seni atau budaya adalah tempat pertarungan makna .

Selain itu, kritik pada seni dan budaya visual juga bertugas untuk membongkar latar atau struktur yang menopang produksi karya-karya seni tersebut. Sehingga terjadi semacam klarifikasi pada publik tidak hanya terhadap estetika atau gerak estetik karya, melainkan juga pada muatan-muatan yang terkandung di dalam karya tersebut. Karena bagaimanapun, sebuah produk seni budaya adalah bagian integral dari cara berkehidupan dan “kesenian adalah salah satu medium pengorganisasian sosial dimana perubahan ekonomi jelas memberikan dampak secara radikal,” ujar Jemi mengutip salah seorang pemikir politik-budaya handal, Ramond Williams.

Karya seni adalah jejak-jejak informasi yang berharga, ia hadir pada konteks sosial-politik tertentu, oleh karenanya ia tidak statis, tapi bergerak melintasi jarak dan waktu. Inilah yang membuat karya seni menjadi menarik untuk ditulis dan didiskusikan, tidak semata karena unsur estetikanya.

Lewat paradigma yang dianut oleh penulis atau kritikus seni, sebenarnya ada hal-hal yang tidak tampak di permukaan yang dapat ditunjukkan pada publik. Salah satu contohnya -Jemi kembali menggunakan pendekatan yang dikembangkan oleh Raymond Williams- adalah mendeteksi bagaimana wilayah berkesenian sangat dekat (kalau bukan berpelukan) dengan corak-corak produksi masyarakat dimana sang seniman hadir.

Kemudian, diskusi yang cukup meriah ini menimbulkan beberapa cabang pemaknaan baru, yang nampaknya cukup fungsional untuk digunakan sebagai bekal menulis kritik seni rupa.

Salah satunya adalah perlunya untuk mendeskripsikan konteks karya tersebut dengan detail. Dari sini akan muncul rekonstruksi, yang kemudian akan membuka peluang munculnya pembongkaran pada muatan, atau kalau bukan ideologi tertentu dari seniman tersebut. Sehingga justifikasi yang pada akhirnya dilakukan oleh penulis atau kritikus seni-budaya visual memberikan pengayaan informasi pada publik, bukan hanya pepesan kosong berisikan hanya penjelasan teknis dimana hanya dimengerti oleh seniman.

Pengayaan informasi yang dimaksud Jemi dan kemudian diafirmasi oleh para peserta inilah yang tidak muncul pada mayoritas film yang diproduksi oleh para produser-sutradara Indonesia hari ini. Bagaimana film-film tersebut memenggal habis konteksnya sendiri, seperti hidup di tanah ‘antah berantah’.

Tugas berikutnya yang sejatinya harus disadari oleh kritikus seni adalah memunculkan pertanyaan, bukannya bermain-layaknya-Tuhan dengan memberikan jawaban yang justru malah mencerabut publik dari pemahamannya seputar persoalan yang dihadapi sehari-hari.

Adanya ketegangan, konflik, dan selanjutnya konsensus adalah bagian dari interaksi sosial di masyarakat yang menjadi bagian dari kehidupan seniman. Baik sebagai warga masyarakat maupun sebagai seorang yang memproduksi karya seni. Maka disini juga diperlukan adanya medium komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat di wilayah kerja ini.

Di sepertiga bagian akhir sesi diskusi, muncul sebuah pemahaman baru diantara para peserta mengenai praksis perubahan sosial yang dimungkinkan muncul saat seniman berkarya lalu diinterpretasikan dengan baik oleh kritikus sebagai medium pada publik. Jemi memberikan contoh seperti Taqi 183 di California atau yang pernah ia tulis: perbandingan perkembangan urban-art di Jakarta dan Manila.

Seperti yang telah disentuh diatas, jejak-jejak informasi yang ‘tertinggal’ pada sebuah karya seni setidaknya dapat digunakan oleh para penulis atau kritikus seni sebagai tempat publik berkaca. Lewat karya itulah, publik bisa mempertanyakan hal-hal yang sebelumnya dianggap begitu-saja-ada, tidak serta merta menerima begitu saja.

Pada lingkup yang lebih dalam, kita dapat melihat dengan lebih jernih bagaimana sebenarnya karya seni sebagai arena advokasi, pemberdayaan, atau praksis perubahan sosial lewat eksplorasi-eksplorasi estetis. Meskipun akan susah sekali mengharapkan adanya dampak secara spontan, setidaknya ada medium untuk melihat bahwa interaksi dan relasi di dalam masyarakat berjalan timpang, tidak emansipatif.

Sesi kali ini berlangsung istimewa karena di tengah sesi ada pemutaran video karya Jean Gabriel Periot yaitu ‘200.000 Phantomes’. Ia dengan teknik yang juga istimewa dengan mempesona menampilkan dengan berurutan sekaligus acak ratusan (kalau bukan ribuan foto) mengenai sebuah bangunan yang memiliki kubah unik membundar di pinggir sungai yang membelah kota Hiroshima.

Urutan foto-foto tersebut bercerita secara eksplisit mengenai bom atom dan serangkaian dampaknya bagi warga Hiroshima. Bagaimana warga dan pemerintah kota Hiroshima sebelum dijatuhi bom oleh pasukan AS, yang dalam video tersebut ditunjukkan damai dan tenteram, serentak mendapati kotanya menjadi abu. Lalu coba membangun kembali bangunan tersebut, juga kota Hiroshima secara luas .

Sekarang, seperti yang terlihat pada video tersebut, Hiroshima menjadi kota yang dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit. Sedangkan bangunan yang menjadi fokus video tersebut, meskipun telah direparasi menjadi cantik dan megah, masih terlihat gugup berhadapan dengan gedung-gedung disekitarnya, yang jauh lebih cantik, megah, dan tentu saja tinggi.

Apa yang ditunjukkan Periot lewat video itu tentu saja melampaui estetika pengambilan atau penyusunan foto-foto yang ia tampilkan. Melainkan bagaimana bangunan berkubah membundar di Hiroshima tersebut, mampu menjadi ‘sosok’ yang merekam memori manusia-manusia yang hidup dalam bentang waktu puluhan tahun mengenai bengisnya perang.

 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement