Categorized | PUSTAKA

Tags | , ,

Resensi Buku: Reka Alam – Praktik Seni Visual dan Isu Lingkungan di Indonesia

Posted on 26 January 2012 by jarakpandang

Sejak kelahiran dan perkembangan seni rupa modern Indonesia, visualisasi alam dalam bentuk lukisan pemandangan alam menjadi salah satu kecenderungan utama yang terus hidup hingga sekarang. Alam, dalam konteks sekarang, selain sebagai gambaran visual, ia telah menjadi wacana dan tema dalam peristiwa atau praktik seni rupa.

Menengok perjalanan sejarah seni visual di Indonesia, tema alam yang dimunculkan oleh para pelukis romantik dan Mooi Indië adalah gambaran alam dalam keindahan dan kemolekannya. Sedangkan lahirnya Persagi merupakan momentum bagi tumbuhnya nasionalisme yang semakin menguat di tengah pergerakan nasional. Mooi Indië dan Persagi merupakan salah satu contoh dari “dialektika” sejarah yang menunjukan bagaimana ketegangan soal lingkungan ini diolah secara kreatif dalam kerangka (pembentukan) nasionalisme. Mooi Indië merupakan representasi kaum penjajah dan Persagi merupakan representasi lingkungan kaum terjajah. Setelah itu, pada awal-awal tahun sesudah Proklamasi 1945 hingga tahun 1960 merupakan tahun-tahun periode ketegangan lingkungan ke-Indonesia-an. Persoalan lingkungan berpusar dalam wacana ke-Indonesia-an dan ke-rakyat-an, serta bagaimana mengisinya, membangunnya serta melanjutkannya ke dalam konteks “revolusi 1945 belum selesai”.

Sekitar tahun 1960-an ditengarai sebuah momentum yang memunculkan sebuah gerakan (baru) mengenai apa itu environmental art. Seni Rupa Lingkungan adalah semacam gerakan dalam seni rupa yang mengangkat persoalan lingkungan alam menjadi bagian tematik dari kerja dan karya berkesenian.

Setelah Reformasi, terutama pada tahun 2000-an, semakin banyak karya-karya, bahkan pameran senirupa di Indonesia yang mengangkat tema lingkungan perkotaan. Kota, dengan segala permasalahannya telah banyak memberikan inspirasi kepada para perupa dalam berkarya, dewasa ini. Secara bertahap, cara pandang perupa Indonesia dari zaman kolonial Belanda hingga saat ini terhadap isu lingkungan mengalami perubahan sesuai masanya. Hal ini tidak lain sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi, sosial, politik dan budaya yang terjadi pada masa itu, serta perubahan lingkungan yang perlahan mengubah cara pandang setiap seniman atau perupa terhadap lingkungan di sekitarnya.

Reka Alam merupakan salah satu dari empat Buku katalog data Indonesian Visual Art Archive(IVAA) yang diterbitkan bulan Januari ini di Jakarta, serta beberapa waktu sebelumnya di Kota lainnya di tanah air. Selain berisi kumpulan citra menarik berkaitan dengan tema yang diangkat beserta CD (berisi softcopy data), buku ini juga disertai dengan bagan periodisasi praktik seni visual dan isu lingkungan di Indonesia sejak Mooi Indië hingga Reformasi. Sangat membantu kita dalam memahami perkembangan seni visual dalam kaitannya dengan isu lingkungan yang telah menjadi wacana serta tema dalam praktik seni rupa Indonesia, bukan hanya sebagai gambaran visual.

Indonesian Visual Art Archive (IVAA) adalah sebuah lembaga nirlaba di Yogyakarta yang didirikan tahun 1997, dikenal dengan nama Yayasan Seni Cemeti sampai April 2007. Melalui dokumentasi, riset, perpustakaan serta penyelenggaraan program edukasi dan eksplorasi seni visual, IVAA berfungsi sebagai think-tank atau laboratorium kreatif yang menggagas berbagai pemikiran serta kegiatan-kegiatan pendukung perkembangan seni visual dan budaya kontemporer, baik secara praktek maupun wacana.

–Asep Topan, 25 Januari 2012

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement