Resensi Buku Cut and Rescue Vol. 1

Posted on 11 January 2012 by jarakpandang

Cut and Rescue (C.A.R) adalah sebuah buku dengan format fotokopi berisi karya-karya yang fokus menggunakan media kolase. Buku ini merupakan buku pertama (vol. 1) Cut and Rescue yang terbit pada Desember 2011. Buku ini juga disertai sebuah mixtapeThe Return of Setan Tete” yang merupakan cerita lanjutan mixtape sebelumnya bernama “Bisikan Setan Tete”. Cut and Rescue vol. 1 dicetak dengan teknik fotokopi dan terbatas sebanyak 50 eksemplar. Dalam terbitan pertamanya, Cut and Rescue menghadirkan beberapa karya dari 5 seniman kolase asal Jakarta: King Dedi, Jah Ipul, Gooodit, Ube serta Wahyu Widyantono (die art!

Kelima seniman ini terlihat memiliki kecenderungan berbeda dalam memilih potongan-potongan imaji yang mereka susun menjadi sebuah karya kolase. Karya-karya Gooodit misalnya, sangat didominasi oleh gambar wanita dengan tampilan dan gestur sensual, dikombinasikan dengan lelehan (mungkin darah) dari beberapa bagian tubuhnya. Lain halnya ketika kita melihat karya King Dedi; ada percampuran teknik di sini, antara kolase dan drawing serta teks. King Dedi dengan cerdas memadukan ketiganya; dan bisa dikatakan, gambaran kolase dan drawing ini merupakan ilustrasi dari teks yang ia tuliskan. Seperti pada salah satu karyanya tertulis “To Much Joy Was as Dangerous as Too Much Sorrow; I Think”. Di bawah tulisan tersebut terdapat drawing dan kolase seekor tikus yang sedang terlelap tidur dengan kepala di atas bantal dan sebatang rokok menyala di dekatnya. Begitupun dengan karya-karya Jah Ipul; kolase berdampingan dengan teks-teks di dalamnya. Gambaran yang sangat menonjol dari setiap karya Jah Ipul ialah hadirnya kolase-kolase komik, selain beberapa perangko, tafsir mimpi, kemasan teh celup, dll.

Seniman lainnya, Ube, membuat kolase yang terlihat menggambarkan sebuah suasana.  Selalu ada gambaran tubuh manusia di dalamnya, bahkan potongan salah satu karya Michelangelo, “The Creation of Adam”. Semua wajah tokoh dalam karya Ube digantikan dengan gambaran tengkorak serta terdapat teks-teks pendek seperti “Saya! Butuh Kopi”, “Wah Kembali Happy”, “Matikan People”, “Suara Hati Sahabat Wanita” dan “K T P S”. Teks terakhir merupakan akronim sebuah nama band beraliran thrashpunk asal Jakarta. Seniman terakhir ialah Wahyu Widyantono, terdapat kekeliruan dalam penulisan nama dia di buku ini, yang ditulis Wahyu Widyantoro. Karya Wahyu tidak menghadirkan objek tertentu ataupun teks-teks yang disusun sebagai pesan, seperti karya-karya seniman lainnya dalam buku ini. Potongan-potongan kertas tersusun tidak beraturan, seperti menumpuk. Teks dan gambar berdampingan dengan jejak-jejak stensil, terlihat sangat acak.  Di sinilah menariknya, Wahyu tidak memfokuskan pada munculnya pesan-pesan atau karakter tertentu; komposisi merupakan elemen penting pada setiap karyanya.

Secara tidak langsung, Cut and Rescue mengingatkan kita kepada salah satu karya Richard Hamilton, seniman asal Inggris, juga dengan menggunakan teknik kolase, berjudul ‘Just what is it that makes today’s homes so different, so appealing?’ (1956) yang dianggap sebagai karya awal Pop Art dan membuat teknik kolase ini semakin populer. Kolase, secara etimologi berasal dari bahasa Perancis: coller, yang memiliki arti: menempel. Merupakan salah satu medium karya dalam seni rupa, bisa berbentuk dwi matra ataupun tri matra, terbuat dari sekumpulan bentuk atau gambar yang biasanya telah tersedia, seperti guntingan majalah maupun sobekan koran dan penggabungan bentuk-bentuk ini menciptakan karya yang sama sekali baru.

-Asep Topan, 10 Januari 2012

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement