Categorized | EVENT

Rada Beda: Imajinasi Melebihi Fungsi

Posted on 12 September 2011 by jarakpandang

Oleh Asep Topan

“ANDERS AL IMMER (RADA BEDA) adalah pameran terbaru dalam serangkaian pameran Institut für Auslandsbeziehungen e.V. (ifa),  yang membuka wawasan mengenai sejumlah perkembangan khusus di bidang desain. Berbeda dari biasanya, proyek aktual ini tidak menyoroti fungsi suatu objek desain beserta bentuknya, melainkan menyajikan penyimpangan-penyimpangan dari norma pemberian bentuk sebagaimana ditetapkan kebiasaan.”

Tulisan di atas merupakan paragraf pertama pengantar pameran RADA BEDADesain Kontemporer dan Kuasa Kebiasaan,  diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia,  16-27 Juni 2011. RADA BEDA adalah satu pameran keliling internasional dari Institut für Auslandbeziehungen (ifa) dan kurator Volker Albus, bekerjasama dengan Goethe-Institut Indonesien, Galeri Nasional Indonesia, dan Kurator dari Indonesia Enin Supriyanto. Karya  dipamerkan pada pameran ini berjumlah 106,  dihasilkan oleh 67 desainer individual dan studio, 47 desainer diantaranya berasal dari Jerman dan selebihnya berasal dari negara Eropa lainnya.

Dengan sekilas membaca tulisan pembuka diatas, setidaknya kita bisa menebak apa  akan kita lihat dalam pameran ini, sebuah pameran  menampilkan benda-benda fungsional berbentuk tidak sesuai bentuk biasanya dan menyimpang. Ketika kita menuju pintu utama Galeri Nasional Indonesia,  kita telah disambut oleh hiasan berwarna hijau menyerupai akar-akar terbuat dari plastik. Tepat di depan pintu utama kita bisa melihat sebuah karya terbuat dari besi, berbentuk seperti jarring-jaring gawang untuk permainan sepakbola. Namun karya ini memiliki fungsi sebagai tempat duduk, mungkin untuk ukuran sebuah taman, berbeda sekali dengan bentuk biasa yang sering kita jumpai sehari-hari.

Pada tembok sebelah utara, kita bisa menemukan barisan raket terbuat dari berbagai benda-benda sehari-hari,  dipasangi tali raket.  Deretan benda tersebut ialah wajan penggorengan, mug, kacamata dan sendok sayur. Berjalan ke arah timur, kita akan melihat seperangkat permainan tenis meja dengan meja berbentuk bulat lengkap dengan sepasang bat dan bola pingpong. Namun yang unik dari karya ini bukan hanya mejanya  berbentuk bulat berwarna biru dengan garis putih, tetapi net di atas meja tenis tersebut bisa diputar mengikuti bentuk mejanya. Pada beberapa tempat, karya-karya di pameran ini disusun berkelompok, menyerupai sebuah interior kamar dengan berbagai macam benda di dalamnya.

Di ruangan lainnya, sebuah karya Konstantin Gricic dengan judul Rak Buku, biasanya : rak stabil, rada beda : rak labil.  Karya ini menampilkan sebuah rak terbuat dari kayu empat tingkat dengan kemiringan  terlihat jelas, berbeda dengan bentuk rak  biasanya kita temui.  Masih di ruangan  sama, ada sebuah tangga dengan salah satu anak tangganya bisa dijadikan sandaran untuk duduk. Karya Cecilie Manz ini dibuat pada tahun 2000 dengan judul Tangga, biasanya: tangga untuk naik, tangga untuk duduk, rada beda: tangga untuk naik, anak tangga untuk duduk. Terlihat jelas Cecilie Manz dalam karya ingin menambahan fungsi pada tangga  biasanya hanya digunakan untuk naik, namun juga bisa digunakan untuk duduk.

Pada ruangan tengah, ada sebuah karya berbentuk bulat seperti sebuah bola berwarna hitam dan putih, namun permukaan benda tersebut dilapisi bulu-bulu sikat terbuat dari plastik. Karya ini berjudul Sikat Sepatu, immer (biasanya): kick and rush, anders (rada beda): kick and brush, dibuat tahun 2003 oleh Volker Albus. Dalam karya ini, disainernya sama sekali tidak memperdulikan fungsi, lebih kepada eksplorasi bentuk. Meskipun sebuah sikat, namun susah untuk menggunakannya sebagai sikat sepatu sebagaimana mestinya dengan bentuk bola tersebut. Tepat di sebelah utara karya Sikat Sepatu, terdapat karya Volker Albus  lainnya dengan judul Lampu Lantai, biasanya: lampu di atas, sakelar di bawah, rada beda: sakelar di atas, lampu di bawah. Karya ini dibuat pada tahun 2004, terlihat membalikan realitas  terdapat pada sebuah lampu pada umumnya,  menempatkan sakelar di bagian bawah lampu. Namun pada karya ini Volker Albus membalikannya sehingga lampu  berada di bawah sakelar  menjulur panjang setinggi kurang lebih satu meter di atas lampu berbentuk bulat berwarna kuning redup.

Jika kita lihat secara keseluruhan, eksplorasi karya  dilakukan oleh semua disainer produk  berpameran kali ini bisa digolongkan kepada dua macam. Pertama, ialah desainer  melakukan eksplorasi bentuk berdasarkan pada bentuk awal benda tersebut. Bisa kita ambil contoh pada karya di tembok sebelah utara  menampilkan berbagai macam raket. Raket-raket tersebut dibuat berdasarkan bentuk benda  memungkinkan pemasangan tali raket pada benda-benda  ditampilkan yaitu kacamata pada bagian kacanya, wajan penggorengan pada bibir wajan serta mug pada bagian atas mug. Kedua, ialah disainer  melakukan eksplorasi berdasarkan kata-kata  berkaitan dengan benda tersebut. Kita bisa melihat contoh pada karya Konstantin Gricic dengan judul Rak Buku, biasanya : rak stabil, rada beda : rak labil dan karya Volker Albus  berjudul Sikat Sepatu, immer (biasanya): kick and rush, anders (rada beda): kick and brush. Dari kedua karya tersebut bisa kita lihat bahwa ide eksplorasi bentuk berawal dari kata-kata  biasa terdengar kemudian di pelesetin dan kemudian menjadi acuan dalam proses eksplorasi benda-benda pakai tersebut.

Selain persediaan katalog pameran  sangat terbatas, hal  sangat disayangkan dalam pameran ini, diantaranya ialah tidak diguanakannya caption seperti biasanya dalam sebuah pameran. Dalam pameran ini, caption  dibuat dengan tulisan tangan dari kapur putih pada permukaan kotak dicat hitam  juga berfugsi sebagai alas karya-karya pada pameran ini. Ini menjadi masalah karena tulisan-tulisan kapur tersebut sebagian besar telah terhapus, sehingga pada beberapa karya kita tidak bisa mengetahui siapa desainer, judul serta tahun pembuatan karyanya. Sebenarnya masalah ini bisa tertutupi jika saja persediaan katalog pameran masih ada, namun ketika pameran masih berlangsung dan belum resmi ditutup, tidak ada lagi katalog pameran  yang masih tersedia. Setidaknya, jika saja masih tersedia selama pameran berlangsung, katalog pameran ini sangat berguna bagi siapapun  pengunjung pameran untuk mengetahui lebih banyak tentang desainer  berpameran kali ini beserta karyanya.

Dalam keseluruhan pameran ini kita dapat melihat kebebasan membentuk atau mengubah bentuk  sangat luas pada diri setiap desainernya sehingga menghasilkan benda-benda pakai  berbeda dari biasanya dan mengejutkan kita sebagai apresiator. Meskipun terbentuk dari benda-benda fungsional, akan tetapi nilai fungsi pada benda-benda  ditampilkan pada pameran ini sama sekali atau hanya sedikit sekali menjadi bahan pertimbangan para desainer dalam menciptakan benda-benda tersebut. Inilah  membuat pameran ini bisa dikatakan sebuah “penyegaran” bagi kita dalam melihat benda-benda pakai setiap hari  meskipun tidak atau hanya sedikit memiliki nilai fungsi, namun dibentuk dengan sedemikian rupa dengan menggunakan imajinasi luar biasa dari para desainernya sehingga terlihat Rada Beda atau mungkin sangat beda?

 

Asep Topan, 2011.

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement