Perjamuan Kontemporer

Posted on 02 June 2010 by jarakpandang

Oleh : Afra Suci Ramadhan

Yang menarik dari ‘reka ulang’ scene penting ini dalam karya Pramuhendra adalah penggambarannya dalam berbagai angle dan  sudut pandang. Selain itu, kehadiran Yesus dan para pengikutnya digantikan oleh Pramuhendra sendiri. Setiap gestur dan ekspresi tokoh dalam peristiwa itu dihadirkan dengan baik oleh penggambaran dirinya.

Setelah menggelar pameran seni persahabatan antara Perancis dan Indonesia, Galeri Nasional kembali menghadirkan sebuah pameran seni kontemporer di bulan Juni ini. Kali ini, seluruh karya berasal dari Indonesia, selain itu pameran ini juga lebih spesifik bertemakan “Indonesia Contemporary Drawing”. Terus terang, selama tahun 2009 saya belum pernah menghadiri pameran seni dengan jumlah karya sebanyak ini kecuali Biennale. Ketika datang pada acara pembukaannya, banyaknya karya dan para tamu sangat mempengaruhi ketekunan dalam mengamati karya-karya di dalamnya. Namun, di hari pertama tersebut, mata saya terpaku pada karya J. A. Pramuhendra yang berjudul “Divided and Fold”. Meskipun saya belum pernah melihat karya-karya Pramuhendra sebelumnya, saya tahu bahwa lukisan ini berangkat dari karya agung Leonardo Da Vinci “The Last Supper”. Hingga akhirnya, rasa penasaran  pada Pramuhendra mengantarkan saya pada karya-karyanya yang lain (thanks to ‘Godgle’). Saya baru tahu kemudian, jika karyanya tersebut hanya salah satu dari rangkaian karya “The Last Supper” versinya .

Tebakan saya yang berhasil itu berasal dari pose Yesus yang khas dan diperagakan dengan baik oleh Pramuhendra. Lukisan ini memang memiliki arti tersendiri bagi umat Kristiani dan Katolik. Peristiwa perjamuan terakhir dianggap sebuah peristiwa penting bagi pemeluk agama tersebut dan tercatat di dalam alkitab (Yoh 13:1-2,  Matius 26: 17-30, Lukas 22:7-23). Berhubung pada zaman itu belum ada kamera untuk merekam peristiwa, lukisan Da Vinci yang dibuat pada abad Renaisans ke-15 ini menjadi representasi yang paling populer dari perjamuan terakhir. Meskipun jauh sebelum karya Da Vinci, ada beberapa bukti peninggalan karya seni tentang perjamuan akhir.  Seperti yang dikemukakan oleh Y.H. Christyanto, OSC dalam pengantar pameran The Last Supper, tema perjamuan ini tidak hanya diangkat oleh Da Vinci seorang. Ada Ducco di Buoninsegna (1308-11), Dieric the Elder Bouts (1464-67), Domenico Ghirlandaio (1476), Domenico Ghirlandaio (1480), Domenico Ghirlandaio (1486), Leonardo da Vinci (1498), Albrecht Dürer (1510), Dürer (1511), Andrea del Sarto (1520-25), Dürer(1523), Jacopo Bassano (1542), hingga Salvador Dali. Bahkan kalau kita iseng meg-google, bisa kita temukan lebih dari 60 buah karya seni yang merepresentasikan jamuan ini.  Sepertinya representasi momen ini menjadi tema yang cukup ‘sexy’ untuk diinterpretasikan ke dalam bentuk visual.  Pramuhendra salah satunya, pemaknaan ulangnya pada peristiwa ini bisa jadi mengandung berbagai makna baik relijius atau tidak , yang berasal dari hasil interpretasi subyektif si pembuatnya. Ada yang sengaja dibuat dengan niatan politis, seperti Last Supper versi yo’ mama dengan tokoh-tokoh berkulit hitam tetapi ada juga yang dberniat menggambarkan serealis mungkin.

Yang menarik dari ‘reka ulang’ scene penting ini dalam karya Pramuhendra adalah penggambarannya dalam berbagai angle dan  sudut pandang. Selain itu, kehadiran Yesus dan para pengikutnya digantikan oleh Pramuhendra sendiri. Setiap gestur dan ekspresi tokoh dalam peristiwa itu dihadirkan dengan baik oleh penggambaran dirinya. Dalam karya “Divided and Fold”, sudut pandang perjamuan yang digambarkan oleh Da Vinci dari depan, telah bergeser ke samping. Kehadiran diri si pelukis dalam karya ini juga bisa mengandung esensi relijius seniman yang direpresentasikan dalam lukisan atau pesan tersendiri terhadap makna ‘sakral’ dalam peristiwa ini.

Seluruh tokoh di karya ini, baik Yesus ataupun pengikutnya, direpresentasikan dalam satu wajah. Identifikasi  besarnya pengaruh (siapa pemimpin, siapa pengikut) hanya diungkapkan lewat gestur tubuh mereka. Pose tangan terbuka khas Yesus diperagakan untuk menunjukkan pengaruh tersebut.  Keakuan yang direpresentasikan pada sebuah karya yang sakral -dimana agama dan Tuhan berjarak dengan manusia- telah mengaburkan batasan tersebut. Layaknya  kutipan ‘Aku adalah Tuhanku’, karya ini kembali menggugat hubungan manusia dengan  Tuhan yang dihadirkan dalam agama. Warna monokrom yang di hasilkan oleh arang pada kanvas memberi penekanan pencahayaan yang menentukan fokus  dari karya ini. Tentu saja, Yesus ala Pramuhendra sebagai  tokoh sentral  dipertegas dengan teknik menggambar dengan arang  tersebut.

Penciptaan sebuah karya tentu tidak terlepas dari pengalaman dan latar belakang pembuatnya. Karya ini menjadi bentuk apropriasi dari interpretasi Da Vinci pada perjamuan terakhir. Mengingat gerakan-gerakan tokohnya memang berangkat dari realita yang ada di dalam lukisan Da Vinci. Pramuhendra meminjam realita tersebut untuk Ia olah kembali dan tidak harus merujuk pada deskripsi tekstual yang ada di Alkitab. Teks dalam alkitab tersebut tentu masih terbuka untuk diinterpretasikan oleh siapa saja pembacanya. Realita di dalamnya tidak tunggal sehingga karya Da Vinci hanya salah satu pilihan dalam ‘membaca’ teks alkitab tersebut.  Karya Da Vinci yang populer ini seakan telah membangun penanda sendiri pada perijamuan terakhir.  Gambar ini muncul di dalam kepala kebanyakan orang jika disinggung soal perjamuan terakhir.  Tanda inilah yang dimaknai ulang saat ini lewat karya alegoris nan kontemprorer, yang selama ini lekat dengan streotip seniman muda bandung.

Berdasarkan catatan Rifki Effendy, proses persiapan karya ini dibantu dengan  medium fotografi yang dijadikan panduan bagi si perupa untuk menuangkan pose tersebut pada kanvas. Kemajuan teknologi telah menciptakan generasinya sendiri.  Kehadiran citra fotografi ini  juga berpengaruh kuat pada karya-karya perupa muda sehingga mereka cenderung ke apropriasi  (2009, Heru Hikayat, Visual Art edisi april, hal. 75). Jika Pramuhendra merujuk pada karya Da Vinci dan citra fotorgrafi (terlebih jika Ia melihat karya Da Vinci juga lewat foto) sangat menarik untuk mempertanyakan apakah pemberian makna baru dalam perjamuan terakhir benar-benar melahirkan makna barunya? Atau hanya sekedar modifikasi tapi masih menancapkan makna yang sama berdasarkan kesepakatan yang sudah ada? Jawabannya memang sangat subyektif, terlebih jika menyinggung hal yang sakral sekaligus dogmatis. Resistensi makna penikmat karya alegoris (tidak ada makna baru) bisa saja terjadi  berkat kedekatan karya ini dengan representasi  populer milik Da Vinci.

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement