Pak Wibawa, Petugas Menara Panoptik

Posted on 21 August 2010 by jarakpandang

foto polisi oleh kotak gambar

Oleh : Susanti Johana

Pada tahun 80‐an sebuah patung didirikan di perempatan Jalan Sudirman, Yogyakarta. Patung itu berdiri tepat di pojok perempatan jalan, ia mengambil posisi istirahat di tempat dan bertubuh tegap. Patung itu memiliki tinggi sekitar 1,8 m, setinggi tubuh manusia pada umumnya. Kulitnya bercat coklat, kulit orang Indonesia. Patung di perempatan jalan tersebut mengenakan seragam polisi lengkap, bertopi, bersenjata api di pinggang kanan dan bersepatu pantofel. Di dada kanannya tertulis sebuah nama: Wibawa. Ya, patung itu bernama Pak Wibawa.

Kehadiran patung tersebut masih menjadi pertanyaan bagi orang banyak. Bahkan ketika saya mencoba mengonfirmasi petugas kepolisian yang tengah berada di sekitar patung tersebut, mereka (yang sangat mirip dengan sang patung) tidak mengetahui mengapa patung itu didirikan di pojok perempatan jalan tersebut. Dari sudut pandang ketertiban pengguna jalan, patung tersebut menjadi alat untuk menertibkan dan mendisiplinkan warga dalam berlalu lintas.

Berangkat dari ketidakjelasan ini, saya berusaha menjelaskan mengapa patung polisi tersebut dihadirkan di tengah‐tengah masyarakat? Untuk menjawabnya, saya coba membaca patung polisi tersebut menggunakan metode semiotik, dengan asumsi awal bahwa patung polisi ini merupakan sebuah sistem panoptikon (panopticon), konsep yang diperkenalkan oleh seorang filsuf Prancis, Michel Foucault.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana teori panoptik itu bekerja pada patung tersebut dan bagaimana ciri dari sistem panoptik ini? Pertanyaan terakhir adalah apakah pada hari ini, ketika Pak Wibawa telah kehilangan wibawanya di mata masyarakat, efek panoptik tersebut masih dirasakan para pengguna jalan?

Panoptik : Kekuasaan yang Terus Mengawasi

Istilah panoptik diambil oleh Foucault dari model sebuah penjara bernama panoptikon yang dikembangkan oleh Jeremy Bentham (1971). Penjara ini berbentuk sebuah lingkaran besar dan memiliki sel tahanan yang bertingkat-tingkat. Tepat di tengah lingkaran itu berdiri sebuah menara pengawas yang dilengkapi sebuah lampu yang bercahaya amat keras. Seperti mercusuar, lampu pada menara ini akan terus berputar menyusuri setiap tingkat sel tahanan.

Siang dan malam, setiap tahanan akan terus-menerus merasa terawasi, meskipun mereka tidak tahu apakah betul-betul ada seorang petugas yang sedang berjaga-jaga di menara itu (Foucault, Discipline and Punishment, The Birth of the Prison, 1979:200). Dengan sistem panoptik, pengawasan dapat dilakukan secara menyeluruh dan total, tidak ada yang dapat ditutup‐tutupi. Sebab seluruh aktivitas para tahanan di dalam sel dapat terlihat dengan telanjang. Melalui sistem panoptik ini penegakan disiplin dapat terlaksana dengan lebih mudah dan efisien (Haryatmoko:2002, Basis).

Efek dari sistem panoptik ini adalah kesadaran bahwa diri ini selalu ada dalam pengawasan dan kesadaran bahwa tubuh ini di-lihat secara permanen (tubuh dalam konsep ini pun menjadi objek yang pasif). Kesadaran ini menjamin berlangsungnya fungsi kekuasaan (otoritas) secara otomatis. Sistem panoptik memungkinkan pengawasan dilakukan secara tidak teratur atau diskontinyu, tetapi efeknya, kesadaran akan rasa diawasi itu, berlangsung secara kontinyu dan permanen.

Foucault mengatakan bahwa sistem panoptik merupakan sistem di mana hubungan kekuasaan

menjadi total meskipun tidak bersifat fisik. Kehadiran fisik, atau pengawasan, cukup sesekali saja. Sistem ini bersembunyi, ada atau tidak ada. Seperti analogi seorang petugas pengawas menara panoptik yang mungkin tidak sedang berada di menara dan tengah asik beristirahat meminum kopi. Tetapi para tahanan tidak diberikan kesempatan untuk tahu. Apa yang mereka tahu hanya satu: bahwa mereka sedang diawasi, 24 jam setiap hari.

Pak Wibawa Sang Polisi

Petugas kepolisian merupakan aparat negara yang harus menjamin tegaknya kedisiplinan dalam masyarakat. Maka kepolisian merupakan sebuah organisasi yang memiliki otoritas (kekuasaan) untuk mendisiplinkan. Sayangnya, di Indonesia polisi terlanjur memiliki citra yang buruk. Citra ini diperoleh dari kasus‐kasus yang terjadi di sekitar kita, seperti penilangan (dengan alasan legal yang dibuat‐buat), meminta uang kepada masyarakat di luar mekanisme, dan lain sebagainya. Hal ini akhirnya membuat masyarakat malas berurusan dengan petugas kepolisian, baik mereka yang salah maupun mereka yang benar. Padahal seharusnya, kita tahu bahwa yang sepantasnya merasa takut hanyalah mereka yang salah.

Foto Polisi oleh Anis Efizudin, Antara.

Citra buruk ini juga hinggap pada patung polisi yang berdiri membisu di persimpangan jalan itu. Patung ini begitu mirip dengan petugas kepolisian sehingga membuat takut para pengguna jalan yang melihatnya. Kemiripan ini dapat dilihat melalui tanda‐tanda berikut: seragam dinas yang lengkap, lokasi penempatan, posisi berdiri (gestur dan sikap tubuh), dan juga ciri‐ciri tubuh patung tersebut.

Pertama: Seragam

Patung itu mengenakan seragam lengkap petugas kepolisian, dengan topi, ikat pinggang, dan sepatu pantofel. Ia menjadi benar‐benar mirip dengan seorang aparat yang sedang bertugas. Maka ia pun tidak sekadar menjadi seonggok patung. Pak Wibawa ini menyandang berbagai makna, juga stigma yang ada para petugas kepolisian.

Kedua : Lokasi Penempatan

Patung polisi tersebut didirikan di pinggir perempatan jalan, dimana di belakang patung itu terdapat sebuah pos polisi. Bagian pinggir perempatan jalan adalah tempat di mana biasanya para petugas juga berdiri untuk mengatur lalu lintas. Penempatan ini membuat sang patung seakan‐akan menjadi seorang petugas polisi yang sedang bertugas.

Posisi sang patung berada tepat di tengah arus lalu lintas. Posisi ini membuat persimpangan jalan itu seperti sebuah penjara panoptik, di mana pos polisi menjadi center atau menara penjaga dan patung polisi bernama Wibawa ini adalah petugas yang terus mengawasi. Seluruh pengguna jalan akan merasa terus-menerus diawasi. Otoritas pun tidak perlu bekerja terlalu keras sebab pada malam hari, misalnya, si benda mati ini akan tetap menjaga berlangsungnya kepatuhan dan kedisiplinan. Tak peduli panas dan hujan.

Ketiga : Istirahat di Tempat, Grak!

Efek panoptik kian kuat terasa melalui sikap tubuh sang patung yang mengambil posisi “istirahat di tempat”. Posisi ini merupakan posisi khas dalam dunia militer ketika seorang petugas sedang berdiri sigap, mungkin untuk memperhatikan sesuatu, dalam jangka waktu yang lama.

Keempat : Anatomi Perwira

Patung polisi ini memiliki ciri‐ciri tubuh yang mirip dengan tubuh manusia ideal pada umumnya. Tingginya 180 cm, badannya kekar, postur yang hanya mungkin dimiliki oleh polisi yang disiplin berolahraga. Bukan postur polisi berperut buncit dengan celana yang melorot.

*Tulisan ini pernah dimuat dalam Karbonjournal.org dan telah mengalami proses editorial untuk Jarak Pandang.net.

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement