OK. Video 2009 : Komedi yang Tidak Lucu

Posted on 28 July 2010 by jarakpandang

Oleh : Ibnu Rizal

“Dengan semangat Ok. Video Comedy, mari kita tertawakan hidup ini… apalagi seni rupa!!”. Begitu judul pernyataan kuratorial festival video biennale Ok. Video tahun ini. Kalimat yang diakhiri dengan dua tanda seru ini bisa saja dilanjutkan dengan tawa terbahak-bahak, dengan diameter mulut selebar telapak tangan, air liur yang muncrat, air mata yang rembes, gigi taring yang meruncing dan gema yang kemudian menjadi bunyi diftong yang parau. Atau bisa juga senyap.

Terlalu banyak hal yang harus ditertawakan dalam hidup ini. Ketika segala hal telah menjadi begitu irasional, kita pun semakin diizinkan untuk segera terpingkal-pingkal. Lantas apalagi yang masih sakral? Jika jawabannya adalah seni rupa maka kita mesti melihat kembali bagaimana cara kita memperlakukan seni rupa. Ketika sebuah galeri tidak ada bedanya dengan bangsal lelang di sebuah pasar ikan yang becek dan amis. Ketika kolom-kolom seni tidak ada bedanya dengan brosur promosi bisnis properti dan otomotif. Dan semua ini masih juga dibikin berbudaya melalui rekayasa perdebatan dan arus wacana yang itu-itu juga. Barangkali berangkat dari keprihatinan ini tema komedi dipilih oleh ruangrupa, selaku penyelenggara, sebagai tema besar penyelenggaraan Ok. Video 2009 yang diselenggarakan dari 28 Juli hingga 9 Agustus di Galeri Nasional Indonesia. Tentu saja banyak pertimbangan lain yang mendasari pemilihan tema ini. Keadaan politik, sosial dan ekonomi dalam negeri tentu saja bisa menjadi alasan yang paling masuk akal.

Bukan sebuah hal yang baru jika kita menyebut komedi sebagai alat kritik. Yang baru adalah fakta bahwa barangkali kita telah lupa bagaimana menggunakannya. Sejak zaman Yunani dramawan-dramawan besar telah menggunakan komedi sebagai instrumen untuk menggugat permasalahan sosial dan politik di tanah demokrasi itu. Masyarakat datang berduyun-duyun ke amphiteater di tengah kota Athena, di pasar-pasar, untuk menyaksikan pertunjukan teater komedi karya Aristophanes, juga untuk melempar tomat-tomat busuk ke salah seorang aktor yang memerankan seorang tokoh penguasa yang tengah menjadi bulan-bulanan karena skandal atau tingkah politiknya yang memuakkan. Rakyat Athena pun berbahagia, mereka tertawa terpingkal sambil memaki dan meracau, lalu pulang meninggalkan alun-alun dengan sebuah kelegaan dan kesadaran yang sama: ketika masalah menjadi sedemikian mustahil untuk dibenahi, setidaknya kita masih bisa menertawai. Dan segala yang menyedihkan hati ternyata bisa jadi sedemikian lucu, begitu pun sebaliknya, segala hal yang lucu bisa menjadi begitu memilukan.

Salah satu faktor kemunculan video art pada periode 1960-an di Eropa adalah kehendak untuk menggugat hegemoni televisi dan industri yang menggila. Televisi, sebagai sebuah pencapaian teknologi, mutlak menguasai alam pikiran kolektif masyarakat dan mengendalikan selera pasar. Para seniman menggunakan medium video sebagai alat untuk mengolok-olok televisi yang kerap irasional dengan segala kekonyolannya. Teknologi pun digugat oleh teknologi. Kecenderungan ini terlihat melalui beberapa karya video yang ditampilkan dalam Ok. Video Comedy. Kemuakan pada sinetron Indonesia memuncak melalui video karya seniman Anggun Priambodo berjudul Sinema Elektronik (4’ 17’’, 2009). Di sini Anggun membuat rekayasa opening title sebuah sinetron berjudul Kasih Tak Sampai, sebuah judul yang sangat pretensius dan meminta belas kasih. Anggun memerankan sendiri seluruh tokoh yang ada di dalam sinetron itu. Dengan latar belakang sebuah rumah mewah, kolam renang yang biru dan taman yang indah, semua tokoh yang memiliki karakter berbeda dimunculkan secara sekilas namun sangat representatif melalui tingkah-laku acting yang sangat berlebihan. Ketika tokoh antagonis dan protagonis sama-sama ditampilkan secara terlalu berlebihan dan mencolok, maka batas-batas di antara keduanya pun justru menjadi pupus. Efek dramatis yang diinginkan oleh sebuah tontonan hiburan pun menjadi hilang lenyap, berganti menjadi gelak tawa kita yang menontonnya. Ditambah lagi dengan penggunaan ilustrasi musik yang juga berjudul Kasih Tak Sampai (dinyayikan sendiri pula oleh Anggun) sebagai lagu tema yang mengiringi opening title sinetron ini. Di samping menggunakan dirinya sendiri, seniman Anggun Priambodo memang kerap menggunakan elemen-elemen populer bukan sebagai pencapaian, melainkan sebagai alat untuk mengkritik dan mengolok-olok apa-apa yang populer dan terlalu banal itu.


Jika Anggun Priambodo menguliti habis budaya massa seperti sinetron melalui rekayasa parodiknya, maka Ariani Darmawan mempersoalkan masalah bahasa dan komunikasi dalam karya videonya berjudul Still Life (7’, 2006). Empat negara, empat bahasa, empat perempuan, duduk bersama di satu meja. Keempat perempuan itu mengenakan baju hitam, sementara di atas meja buah-buahan berserakan. Mereka berbicara dalam bahasa masing-masing (Indonesia, Inggris, Prancis, Belanda). Komunikasi pun menjadi kacau karena sampai kapanpun tidak akan terbangun pengertian di antara keempat perempuan ini. Konflik berakumulasi secara simultan, tegangan-tegangan yang terbentuk akibat komunikasi yang macet memuncak menjadi adegan pukul-memukul dan jambak-menjambak yang brutal, seperti slapstick khas komedi farce yang klasik. Mereka pun tetap saling memaki dalam bahasa masing-masing. Perang memang seringkali terjadi ketika pihak-pihak yang bersengketa hanya berbicara kepada dirinya sendiri-sendiri. Ketika dialog tidak berjalan dan segala perbedaan kian dikukuhkan, meskipun mereka semua adalah perempuan. Persoalan bahasa juga diangkat oleh seniman video asal Jepang, Jun’ichiro Ishii, dalam karya videonya yang berjudul Daily Langguage (5’ 30’’, 2008). Dalam video ini beberapa orang yang merupakan penutur bahasa yang berbeda-beda diajak untuk mengucapkan kalimat-kalimat dalam beberapa bahasa asing yang memiliki bentuk struktur fonetis yang rumit. Kelucuan pun muncul ketika seorang perempuan penutur asli bahasa India diminta mengucapkan sebuah kalimat dalam bahasa Prancis.

Politik tentu saja tidak luput menjadi sasaran lelucon. Dua video karya seniman asal Belanda, Eddie D, mendekonstruksi sebuah acara pidato kampanye formal beberapa politisi dari negeri itu. Dalam video berjudul Pas de Deux (1’ 57’’, 2007) sang seniman memanfaatkan dokumentasi acara berita televisi pidato kampanye dua orang politisi sayap kanan Belanda dengan memainkan kecepatan gerak kamera dan melakukan staccato pada gestur dan setiap ucapan kedua politisi itu. Menjadikan acara pidato politik mirip sebuah pementasan koreografi tari kontemporer. Rekayasa dokumen berita televisi juga dilakukan dalam video kedua berjudul Sonatina (2’ 5’’, 2004). Seorang politisi sayap kanan Belanda berbicara menghadap kamera. Dengan nakal kata demi kata dan gerak kepala sang politisi dipenggal-penggal, kemudian diolah kembali menjadi gerakan-gerakan dan bunyi-bunyian yang aneh dan kaku, seperti staccato atau musik rap yang sangat populer di kalangan imigran kulit hitam di Eropa.

Seruan untuk menertawakan seni rupa seperti yang terdapat dalam judul pernyataan kuratorial disambut oleh beberapa video yang secara getir dan satir membongkar habis praktik eksploitatif dalam dunia seni rupa. Kapitalisasi kesenian dipaparkan secara ringan dalam video karya seniman asal Jerman, Paul Wierbinski, berjudul Ivo Burokvic – The life of the fake artist as a young business model (58’’, 2008). Video ini adalah karya naratif yang memperlihatkan penuturan seorang seniman muda kepada rekan-rekannya di sebuah halaman rumah. Ia menceritakan lika-liku bisnis industri seni rupa seperti seorang dosen memberikan materi kuliah di perguruan tinggi. Penampilannya ganjil dengan sepasang layar monitor berukuran kecil bertengger di kedua bahunya. Di dalam layar itulah terpapar semua dokumentasi aktivitas eksploitasi ekonomi dalam dunia seni rupa. Termasuk sebuah kegiatan lelang lukisan yang diselengggarakan oleh sebuah perusahaan jasa akuntan internasional Ernst & Young. Sementara dalam Ketik Reg spasi blablabla (4’, 2008) karya Yusuf Ismail, diperlihatkan beberapa kurator menyediakan solusi bagi para seniman muda yang ingin segera menjadi kaya hanya dengan mengetik ‘reg spasi kontemporer’ lalu kirim ke 6060. Para kurator ini menjadi lebih mirip paranormal penyedia jasa konsultasi keuangan dan keberuntungan yang kerap muncul di televisi.

Secara keseluruhan video-video yang ditampilkan dalam Ok. Video Comedy banyak memperlihatkan aspek naratif (penuturan konvensional), khususnya karya-karya dari seniman Indonesia. Kecenderungan yang lain adalah penggunaan aspek dokumenter dalam beberapa video. Gambaran kehidupan masyarakat dapat tertangkap secara spontan dan faktual. Raphaël Blum, seniman video dari Prancis, secara menarik mengabadikan aktivitas karaoke masyarakat di sebuah perkampungan padat di tengah kota Manila. Siapapun berhak bernyanyi dan berkaraoke, termasuk di ruang terbuka dan panas seperti pasar dan lapangan di tengah pemukiman urban yang sempit. Dengan peralatan seadanya, beberapa penduduk yang sebagian besar lansia, menyanyikan lagu-lagu pop mandarin maupun Amerika dalam suara yang sember. Sementara Henry Foundation juga membuat dua buah karya video yang menggunakan teknik dokumenter. Dalam karyanya yang berjudul Keluarga Disko (3’ 25’’, 2009) tertangkap adegan yang sangat dramatis seorang gadis kecil yang duduk manis di tengah diskotik di Hanoi. Gadis itu memeluk sebotol air mineral sementara di belakangnya orang-orang menari diiringi hentakan musik tekno yang keras. Dengan ekspresi wajah yang sulit diterka, antara sedih dan bingung, ia terus duduk di tengah kerumuman masa yang menggila. Kemudian dalam video berjudul Love Captured (1’ 27’’, 2009) seniman yang sama juga menangkap peristiwa-peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang secara tidak sengaja memperlihatkan relasi cinta: sepasang manula yang duduk di sebuah kursi di tepi danau, sepasang pemuda-pemudi yang masyuk di bawah pohon dan seorang remaja pria yang bertengkar dengan teman perempuannya. Semua itu adalah materi-materi dokumenter yang betul-betul terjadi di kenyataan. Hal ini menjadi penegasan bahwa dengan cara yang menarik, sebuah dokumentasi faktual ternyata bisa mempunyai kekuatan dramatis yang besar.

Termistifikasi

Video sebetulnya bukan lagi merupakan hal yang asing bagi publik Indonesia. Ketika keseharian sebagian besar masyarakat telah begitu dipenuhi oleh apa-apa yang visual dan bentuk-bentuk pengucapan verbal, ditandai dengan kehadiran televisi yang dengan serakah memakan perhatian kita hampir 24 jam setiap hari, disaksikan oleh ratusan juta penduduk Indonesia di seluruh pelosok nusantara. Kemudian teknologi internet yang telah merambah sudut-sudut terpencil kota-kota di tanah air. Bahkan anak-anak pun turut dibesarkan oleh imaji dan ilusi dalam video-video game melalui mesin permainan seperti Sony Playstation hingga permainan kolektif atau game jaringan di warnet-warnet. Atas dasar ini maka semestinya seni video tidak lagi perlu diperdebatkan sebagai hal yang asing dan menuduhnya sebagai seni yang tidak memiliki kaitan dengan keadaan masyarakat Indonesia. Lebih jauh lagi, bahwa semestinya seni video dapat dengan mudah diakses dan dinikmati oleh kalangan yang lebih luas, mengingat mediumnya yang sangat portable dan membutuhkan perangkat yang sederhana: sebuah monitor dan alat pemutar, televisi atau sebuah komputer. Tetapi faktanya adalah seni video ternyata masih terkungkung di antara dinding-dinding galeri. Dan kita tahu bahwa di negeri ini, baik galeri maupun museum, adalah dua tempat yang asing dan sangat jarang didatangi oleh masyarakat, oleh karenanya berjarak. Galeri Nasional Indonesia seolah menjadi tempat permanen penyelenggaraan Ok. Video. Secair apapun sebuah karya seni video, ketika ia telah ditempatkan di dalam sebuah galeri (apalagi Galeri Nasional Indonesia) maka secara tidak langsung akan terbangun sebuah jarak dengan masyarakat luas, masyarakat yang sebetulnya menjadi sasaran komunikasi. Karya-karya video itu pun secara otomatis akan termistifikasi melalui penempatan lokasi eksibisinya. Meskipun demikian ruangrupa seakan berniat untuk mereduksi sakralisasi itu dengan menghiasi tampak depan gedung Galeri Nasional Indonesia dengan bulatan-bulatan merah polkadot, membuatnya menjadi mirip tempat pertunjukan sirkus.

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement