Ok. Video 2009 : Bukan Pentas Srimulat

Posted on 28 July 2010 by jarakpandang

Oleh : Muhammad Husnil

Menggali komedi melalui video. 86 seniman dari dalam dan luar negeri ikut andil. Tapi, tak ada Tukul Arwana di sana.

Mengenakan kaca mata hitam, seorang seniman menyibakkan celananya hingga betisnya terbuka. Temannya muncul lalu melumuri betis seniman itu dengan gel wax (gel yang digunakan untuk mencabut bulu). Sang seniman meringis; senyumnya tanggung: antara rida dan tidak. Sebentar kemudian ia melepas kacamatanya. Selesai dilumuri gel muncul kertas bertuliskan “Semangat Avant Garde” yang ditempel ke betisnya. Otot lehernya menegang; sedikit menahan nafas. “Aaawww!” teriak si seniman saat temannya mencabut tulisan itu. Tangannya refleks menyeka air mata yang keluar.

Itulah adegan pertama video karya Yusuf Ismail berjudul Natural Born Contemporary Moron (18, 46 menit; 2009). Video itu merupakan satu dari 95 video yang diputar di Galeri Nasional Indonesia untuk perhelatan Ok. Video Jakarta International Video Festival keempat pada 28 Juli -9 Agustus 2009. Dengan mengambil tema Comedy Ruang Rupa selaku penyelenggara membuka pendaftaran dan mengundang sejumlah seniman di dalam dan luar negeri untuk berpartisipasi. Hasilnya, OK. Video 2009 menampilkan 95 karya video dari 31 negara ditambah presentasi khusus dari 3 lembaga, yaitu Goethe Institute, Centre Cultural Français, dan Cologne Off.

Kendati bertemakan komedi bukan berarti semua video yang diputar membuat pengunjung terpingkal atau, bahkan, sekadar mengulum senyum. Memang video Yusuf Ismail bisa mengundang tawa karena sarat dengan kekonyolan. Bagaimana tidak, hampir semua bulu yang ada di tubuh seniman itu, kecuali “tempat” tertentu, dicabut. Siapa pun tahu bahwa mencabut bulu di tubuh sendiri adalah hal yang menyakitkan. Dengan video ini sang sutradra hendak mengutarakan kegelisahannya sebagai seniman yang menanggung beban berat atas kredo dalam seni rupa seperti semangat avant garde, semangat ingin menjadi pembaharu. Dan, video itu seperti hendak membebaskan seni rupa dari berbagai jargon yang ditandai dengan tercabutnya bulu yang ada di tubuh sang seniman.

Lain halnya dengan Anggun Priambodo. Lewat Sinema Elektronik (4,17 menit: 2009) Anggun memarodikan sinetron. Tak bisa dipungkiri saat ini sinetron merupakan program televisi yang kerap menghantui keseharian kita. Meski banyak kecaman dari berbagai pihak karena kualitasnya yang tak kunjung baik, toh sinetron tetap ada, malah kian subur.

Dengan “sinetron” berjudul Kasih Tak Sampai Anggun memerankan artis dalam segala kondisi. Baik senang, sedih, marah, atau bahagia digambarkan dengan close-up. Sesuai dengan kaidah sinetron Indonesia, maka Anggun dengan semangat parodi melebih-lebihkan semua adegan dalam karya videonya. Simak saja adegan mandi seorang pemuda. Di tengah ia mandi, muncul seorang gadis. Sontak keduanya kaget. Si gadis langsung menutup mukanya dengan tangan. Tapi hanya sesaat, selanjutnya si gadis membuka tangannya dan menikmati pemandangan di depannya. Nama pemeran pun janggal seperti Thomas Kartolo dan Chyntia Ningsih.

Panitia memilih komedi sebagai tema untuk festival video internasional dua tahunan ini karena berdekatan dengan pemilu. “Sebenarnya setelah Militia (Ok. Video 2007) kami berpikir komedi. Karena saat ini ada pemilu dan kampanye,” ungkap Ade Darmawan, direktur Ruang Rupa. Festival ini bisa menjadi sarana untuk mengendurkan syaraf bagi masyarakat setelah dijejali banyak janji oleh para politisi. Juga karena perjalanan kebudayaan bangsa ini yang lekat dengan komedi. “Kita memiliki tradisi komedi yang panjang dan sangat bisa dibahas,” tambahnya.

Komedi membuat kita santai menanggapi kritik dan berbagai protes yang hingar-bingar. Kedua video di atas memang sarat dengan kritik atas kondisi seni rupa maupun sosial. Kritik memang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan bila kritik atau protes disampaikan melalui bahasa yang keras tanpa ada nuansa komedi. Oleh karena itu, OK. Video Comedy hendak melihat komedi sebagai suatu strategi komunikasi untuk membicarakan berbagai permasalahan saat ini secara kritis dan cerdas.

Memaknai Kembali Komedi

Festival kali ini, tulis Aminuddin TH Siregar dalam pengantar kuratorial, masih menggunakan dua macam undangan. Pertama, pendaftaran terbuka bagi siapa saja yang merasa seni videonya memiliki nilai komedi. Untuk kategori ini, video yang masuk harus melalui proses seleksi. Kedua, melalui undangan khusus bagi mereka yang sepanjang kiprahnya acap kali memunculkan kualitas humor di karya-karya video mereka.

Untuk poin pertama, dewan juri merasa kesulitan dalam memilah video yang layak lolos. Pasalnya, banyak video yang datang dari negara lain. Kesulitan itu berasal dari perbedaan konsep tentang komedi dan pendekatan yang digunakan. “Kalau untuk dari luar (negeri-red) kita mencoba melihat dengan perspektif yang beda. Dan kita coba mengerti,” kata Ade Darmawan yang juga salah satu dewan juri.

Yang paling mudah, tentu saja, video yang berasal dari Indonesia karena memang sesuai dengan alam pikir para dewan juri. Artinya, dewan juri tak merasa kesulitan menyerap konteks video yang masuk dari Indonesia. Namun, Ade Darmawan mengatakan bahwa rata-rata video yang masuk dari Indonesia belum beranjak dari konsep komedi yang ada dalam budaya populer saat ini. Untuk itu, dewan juri tak meloloskan video macam ini. “Kami tak ingin festival ini seperti yang ada di Youtube atau plesetan di televisi,” tutur seniman lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu.

Berbeda dengan tiga penyelenggaraan Ok. Video sebelumnya, Aminuddin dalam diskusi pada Sabtu (01/08/09) menyatakan bahwa tema Ok. Video 2009 ditentukan oleh panitia. Kemudian tema tersebut ditawarkan kepada para seniman dan senimanlah yang menafsirkan tema tersebut melalui karya mereka. Dari sana kemudian dilakukan penyeleksian untuk nominasi internasional. Penilaian utama memang menyangkut aspek-aspek formal dari video seperti teknik kamera, editing, dan konsep narasi.

Ada tiga video yang berhasil menjadi karya video terbaik. Ketiga video tersebut adalah The Door of the Law (5, 45 menit; 2009) karya Morten Dysgaard (Denmark); How to Make a Table (2, 30 menit; 2008) karya Lemeh42 (Italia); Ivo Burokvic(11, 51 menit; 2008) karya Paul Wiersbinski (Jerman). Meski terbaik, ketiga video ini tak mudah membuat pengunjung terpingkal.

Gambar : footage video The Door of The Law

The Door of the Law, misalnya, video ini menggambarkan seorang kulit putih yang mencium bendera Amerika dengan penuh cinta. Seorang Arab kemudian datang mengetuk pintu. Karena terganggu, orang Amerika itu pun membuka pintu. Sialnya, tak ada siapa pun setelah pintu terbuka. Adegan pun berganti. Kini orang Arab itulah yang berada di dalam ruangan dan orang Amerika itu yang mengetuk pintu dan berkata dalam bahasa Arab bahwa bendera itu miliknya. Ketika sang Arab membuka pintu, ia juga tak mendapati siapapun di sana. Lalu kita pun bertanya-tanya: di mana letak kelucuannya?

Memang, video ini tidak dengan mudah membuat pengunjung tersenyum apalagi tertawa. Bahkan mungkin setelah dua atau tiga kali menonton. Tetapi video ini memberikan sudut pandang lain yang memungkinkan kita untuk mendefiniskan kembali konsep komedi (baik sebagai genre maupun strategi naratif). The Door of the Law mengelaborasi tema identitas negara, subyektifitas warga, nasionalisme, dan stereotip internasional dengan pendekatan satir. Pendekatan ini lazim digunakan untuk menyindir, mengolok-olok atau menertawakan kebodohan dengan tujuan membongkar sesuatu (dalam hal ini stereotipe) yang telah lama mengendap dalam suatu masyarakat. Bagaimana mungkin seorang Arab yang terlanjur dicitrakan sebagai teroris dan pembenci Amerika bisa begitu intim menciumi bendera negeri adidaya itu, sebuah sikap yang ganjil, sebuah paradoks, sebuah komedi. Perlu juga untuk dicatat bahwa video ini dibuat oleh seniman video berkebangsaan Denmark, negara yang pernah membuat “panas” banyak negara muslim dengan memvisualisasikan sosok Nabi Muhammad dalam wujud kartun di harian Jyllands Posten, sebuah surat kabar terbesar di Denmark, pada 2005 lalu. Video ini seperti hendak mengatakan bahwa bagaimana pun stereotip dan pemberian identitas tentang berbagai hal mesti dikaji ulang. Dan pesan itu ditampilkan dengan sangat jenius dalam video tersebut.

95 video dalam Ok. Video Comedy mengajak kita untuk berkaca sekaligus mengukur sejauh mana sisi humor yang kita miliki dan sejauh mana sisi humor itu bisa menjadi perangkat kritis dalam melihat persoalan di dalam masyarakat. Jika ada video yang lucu, silakan terpingkal. Tapi kalau ada yang tak bisa memancing tawa, memang sejak awal panitia tak hendak mengundang Tukul Arwana, apalagi Srimulat, untuk tampil dan membanyol di Galeri Nasional Indonesia pada 28 Juli-9 Agustus 2009.

Editor : Ibnu Rizal

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement