Categorized | EVENT

Now What?

Posted on 13 October 2011 by jarakpandang

Ketika menara kembar World Trade Center di New York luluh lantak pada bulan September 2001, kita menyaksikan betapa dunia baru saja bergegas menuju sebuah dekade yang jauh lebih rumit dari sebelumnya. Tahun itu, di awal milenium, warga dunia seperti gelisah akan sebuah periode baru yang seakan asing dan tidak terbayangkan.

Peristiwa 11 September 2001 serta-merta menjadi peristiwa global. Televisi menyiarkan detik-detik hangusnya sebuah simbol adidaya itu secara demikian rinci. Peristiwa tersebut begitu dramatis sehingga siapapun mengira ini adalah potongan adegan dari sebuah film Hollywood. Peristiwa itu begitu ajaib sehingga siapapun bertanya-tanya: adakah ini nyata? Apakah pandangan mata masih bisa dipercaya? Selang beberapa bulan saja selepas peristiwa itu terjadi, mata kita pun disajikan tontonan yang lain: pesawat-pesawat tempur canggih terbang di atas kota Baghdad yang mencekam. Masjid-masjid rata dengan tanah. Gedung-gedung menjadi kepingan abu. Darah berceceran di sela-sela reruntuhan. Berbagai demonstrasi pecah di banyak negara. Para tawanan disiksa di penjara Abu Ghraib. Sementara para tentara, pemuda-pemuda bermata biru dan berkulit putih itu, menjadi gila dan trauma karena apa yang mereka saksikan adalah sebuah mimpi buruk yang begitu mengerikan dan melampaui akal sehat.

Demikianlah berbagai citraan, suara, dan teks kian menyerbu bagai serdadu di sekitar kita. Dekade ini bahkan dibuka oleh sebuah pertunjukan besar yang dihadirkan lewat jutaan layar monitor televisi dan komputer serta disaksikan oleh milyaran penduduk dunia. Medium audiovisual pun semakin meneguhkan salah satu fungsinya sebagai sarana propaganda. Meskipun demikian, kini pola yang terjadi tidak lagi satu arah. Relasi kuasa telah jauh bergeser melalui hadirnya teknologi komunikasi yang didistribusi dan digunakan secara masif oleh banyak orang. Hal ini tentu tidak terjadi dengan sendirinya, setidaknya di Indonesia. Reformasi 1998 memungkinkan negara ini mengalami ledakan informasi. Keterbukaan membuat siapapun bisa memegang kendali. Stasiun-stasiun televisi swasta baru bermunculan. Kebebasan pers melahirkan ratusan surat kabar dan majalah baru. Hal ini kemudian diikuti oleh kian bertambahnya pengguna internet di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Kita menyaksikan perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya. Kontrol kekuasaan tidak lagi muncul dari satu arah seperti di era sebelumnya. Kontrol kini hadir pada tombol-tombol smartphone, juga khotbah-khotbah yang penuh amarah. Panggung-panggung aspirasi baru bermunculan dalam bentuk jejaring sosial. Satu peristiwa politik bisa dibicarakan, dirayakan, juga dilupakan dalam hitungan jam. Masyarakat terus berpindah, bergerak dari satu isu ke isu yang lain, dalam amnesianya sendiri.

*

OK. Video Jakarta International Video Festival sejak awal menetapkan posisi untuk melihat hubungan antara masyarakat kontemporer dengan perkembangan teknologi audiovisual. Video sebagai medium artistik tidak dapat dilepaskan dari konteks di luar dirinya: aspek sosial, politik, dan budaya yang terjadi baik dalam skala nasional maupun global. Pada penyelenggaraannya yang pertama di tahun 2003, OK. Video menawarkan tesis bahwa teknologi komunikasi dan budaya digital akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.[1] Pada 2005, OK. Video kembali hadir lewat sikapnya yang lebih tegas. Tema Sub/Version mewakili kesadaran bahwa teknologi video berpotensi menjadi kanal untuk menyampaikan berbagai narasi alternatif yang justru menyempal, menyimpang dari narasi utama.

Di tahun 2007 pandangan tersebut terus berkembang. Lewat tema Militia, OK. Video hadir dengan kesadaran yang lebih spesifik: bahwa teknologi video dapat menjadi salah satu perangkat yang digunakan oleh masyarakat untuk merefleksikan ruang-ruang di sekitarnya, sebagaimana para milisi sipil menggunakan senjata untuk tidak hanya mempertahankan diri, tetapi juga untuk “menanggapi” (to response) segala yang terjadi di sekitarnya. Posisi masyarakat sebagai pihak yang aktif di tengah arus informasi dan teknologi pun kian digarisbawahi. Sejumlah workshop yang melibatkan komunitas dan individu diselenggarakan di dua belas kota di Indonesia. Suatu pendekatan artistik yang muncul dari kesadaran yang mendasar bahwa medium video, secara alamiah, adalah perangkat teknologi audiovisual yang bersifat massal. Video digunakan oleh banyak orang dan hadir dalam berbagai wujud aplikasi di tengah kebudayaan populer: siaran berita, iklan sabun mandi, film porno, ceramah agama, kampanye presiden, videogame, dan sebagainya.

Video dan berbagai citraan mengalami lompatan besar dalam beberapa tahun terakhir. Aspek produksi, distribusi, dan eksibisi citraan (video dan fotografi khususnya) bergerak ke tataran virtual, sebuah ruang yang menyimpan kompleksitasnya sendiri. Hal ini menciptakan dinamika yang jauh lebih kompleks dari sebelumnya. Pola relasi kuasa yang secara kasat mata tampak menjauh dari totalitarianisme, justru membuka kemungkinan untuk dibaca kembali dengan lebih kritis. Sosiolog Hikmat Budiman menyebutkan dalam esainya bahwa perkembangan teknologi digital menyimpan paradoks: “… sementara perkembangan teknologi digital, dalam satu dan lain cara, telah membantu semangat perlawanan terhadap kuasa rezim-rezim totaliter di banyak negara dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi, pada saat yang sama ia menciptakan ruang bagi beroperasinya kontrol-kontrol eksesif oleh firma-firma komersial terhadap warga masyarakat dunia.”[2]

Dalam pembacaan yang paling aktual terhadap fungsi video di Indonesia,  kurator sekaligus pengajar seni rupa, Agung Hujatnikajennong, menangkap gejala ekspansi dari medium ini[3]. Pertama, video sebagai perantara intimitas sosial. Dalam acara gosip para selebriti di stasiun televisi swasta nasional, misalnya, fungsi lensa kamera berubah menjadi mata dan telinga seorang pastur di bilik pengakuan dosa. Ruang-ruang privat (tangis haru, amarah, histeria) dipaparkan dalam tabung-tabung kaca dan disaksikan oleh jutaan pemirsa. Intimitas pun terdistribusi secara massal dalam lingkup nasional. Kedua, video sebagai media politik. Video amatir dari kamera handphone yang merekam pembantaian biadab terhadap jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, awal 2011 silam banyak memicu gerakan sosial dari masyarakat sipil. Ketiga, video sebagai pelepas hasrat. Seorang anggota korps Brimob di Sulawesi Utara melampiaskan kebosanannya saat berjaga di pos dengan menari dan menyanyi lagu India dalam format lip sync. Ia pun menjadi drag queen yang menghipnotis mata dan telinga masyarakat, bahkan petinggi Polri. Asumsi-asumsi tersebut, meski kerap kali saling beririsan, dapat menjadi pertimbangan untuk mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan lain dari medium video di hari ini dan di masa yang akan datang.

OK. Video FLESH dengan demikian menjadi salah satu strategi percobaan untuk melihat situasi kontemporer ini. Video dan berbagai citraan kian mendarah daging oleh pesatnya kemajuan teknologi audiovisual di tengah masyarakat. Dalam posisinya sebagai sebuah festival video dua tahunan yang telah diselenggarakan selama hampir satu dekade, OK. Video mendokumentasikan berbagai dinamika sosial yang terjadi baik dalam tataran nasional maupun global dengan pendekatan artistik yang khas. Festival ini mengundang siapapun (para seniman, intelektual, mahasiswa, dan masyarakat luas) untuk membicarakan segala kemungkinan dengan caranya masing-masing. Nia Burks, seorang seniman undangan untuk sesi Private-Public (salah satu sesi presentasi di OK. Video FLESH) yang dikuratori oleh duo kurator muda Rizki Lazuardi dan Mahardhika Yudha, mencoba menerjemahkan lagi ledakan citraan di dunia maya justru dengan merayakannya. Dalam pernyataan artistiknya, Burks mengatakan “Our culture’s desire for the archive, combined with ideas of self-celebrity, originality, proof of existence, and boredom result in a gluttonous and rich world of self generated imagery.”

Ketika pola-pola tontonan masyarakat tengah berekspansi ke wilayah virtual, dibutuhkan upaya-upaya eksperimentasi baru dalam melihat perkembangan yang terjadi. Televisi memang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh masyarakat. Tetapi perlu dipertanyakan lagi seberapa besar perbandingan antara mereka yang menyaksikan layar TV dengan mereka yang menatap layar Blackberry setiap hari? Represi militer memang tak lagi tampak di depan mata secara telanjang, tetapi bukankah kehadiran ratusan kamera CCTV di sekitar kita adalah sebentuk kontrol yang lain? Dan bukankah sistem prosedur keamanan berlapis-lapis yang diterapkan oleh aparat di banyak tempat, seperti perkantoran dan pusat perbelanjaan, adalah juga salah satu bentuk ketakutan terhadap sesuatu? Mereka menyebutnya perang melawan terorisme. Tetapi apa yang lebih teror dari ribuan warga korban lumpur Lapindo yang belum juga mendapat ganti rugi? Apa yang lebih teror dari biaya kesehatan dan pendidikan yang kian tidak masuk akal? Apa yang lebih horor dari sinetron dan reklame iklan berhadiah puluhan  BMW dan Mercedes Benz di persimpangan jalan? Apa yang lebih teror dari kemacetan dan polusi? Apa yang lebih teror dari korupsi? Transformasi besar yang dialami Indonesia pasca 1998 justru menghendaki kita untuk segera menentukan posisi dan sikap. Arus informasi dan perkembangan teknologi tidak hadir secara gratis. Selalu ada hal yang harus terus dikritisi.

 

*)Ibnu Rizal, mahasiswa semester terakhir di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, peserta Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2009, bergiat di ruangrupa

**) Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Far pada bulan September 2011

 


[1] Apa yang sesungguhnya menjadi semangat utama penyelenggaraan OK. Video pertama di tahun 2003 adalah kesadaran akan kian berkembangnya budaya tontonan (société de spectacle) di tengah masyarakat Indonesia sebagai warga negara dunia. Lihat katalog OK. Video 2003, hlm. 11

[2] Budiman, Hikmat: “Digital, Ruang, Rupa, dan Kuasa: Cerita-Cerita Ringan tentang Kamera”, SIASAT, Decompression #10: ruangrupa’s 10th Anniversary, 2011, hlm. 10-11

[3] Hujatnikajennong, Agung: “Video sebagai Piranti Sosial”, Katalog OK. Video Militia – 3rd Jakarta International Video Festival, 2007, hlm. 22

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement