Categorized | ULASAN

New Folder – Yang Muda, Yang Bercanda

Posted on 14 January 2012 by jarakpandang

New Folder menjadi pameran fotografi yang menandai babak baru dari perjalanan Ruang Mes 56 sebagai salah satu motor penggerak dinamika seni fotografi di Indonesia.

Pameran ini pertama kali diadakan di Mes 56, Yogyakarta, dan pada Juni 2011 lalu dipresentasikan kembali di Inkubator Asia, Jakarta, untuk memperingati ulang tahun Mes 56 yang kesembilan. New Folder setidaknya memberikan dua catatan penting. Pertama, konsistensi dan komitmen dari Mes 56 untuk terus melakukan eksperimentasi terhadap medium fotografi di Indonesia. Kedua, regenerasi dari bakat-bakat baru dengan visi artistik yang segar. Sejak didirikan pada 2002 oleh sejumlah mahasiswa di Yogyakarta, Mes 56 telah menawarkan perspektif lain dalam praktik fotografi di tanah air. Berbagai inisiatif yang dilakukan seperti riset, lokakarya, diskusi, pameran, dan penerbitan jurnal baik cetak maupun online, memberikan pendekatan alternatif bagi dunia fotografi Indonesia yang selama ini didominasi oleh praktik fotografi jurnalistik dengan kaidah-kaidahnya yang baku. Mes 56 mengajak siapapun untuk mengeksplorasi medium fotografi, sampai batas yang paling jauh. New Folder memperlihatkan keberlangsungan gagasan fotografi sebagai praktik artistik yang telah dibangun oleh Mes 56 melalui empat fotografer muda yang terlibat di dalamnya.

 

Apropriasi dan Ilusi Visual

Adery Putra Wicaksono aka Pungky lewat Animal Series (2010) mengapropriasi bentuk-bentuk binatang. Morfologi hewan seperti kalajengking, jerapah, kaki seribu, dan capung direkonstruksi oleh tubuh-tubuh manusia. Tidak hanya itu, Pungky juga secara jeli menghadirkan keterkaitan yang kuat antara subyek (binatang-binatang artifisial itu) dengan latar ruang yang melingkupinya. Ruang dalam Animal Series bukanlah alam raya dalam pengertian yang konvensional. Ruang yang ditawarkan oleh seri ini adalah alam artifisial yang telah di-intervensi oleh teknologi. Manusia kerap mengonstruksi sekaligus meniru desain dan bentuk alam (binatang dan tumbuhan) dalam kehidupannya. Sejarah mencatat bagaimana Wright Bersaudara terinspirasi oleh burung yang mengepakkan sayapnya di langit sebelum keduanya menciptakan pesawat terbang. Demikian pula dengan berbagai karya arsitektur ciptaan manusia yang banyak meminjam bentuk-bentuk yang disediakan oleh alam. Dengan kata lain, manusia adalah “binatang” yang hidup di alam yang diciptakannya sendiri.

Dalam seri Kaki Seribu, kamera menangkap subyek dari ketinggian. Belasan manusia menyusun dirinya dalam formasi menyerupai hewan yang merayap di atas tanah, memanjang, melintang di sela-sela mobil yang terparkir, seperti serangga yang bergerak di atas permukaan tanah, di antara batu-batu. Sudut pandang kamera (high-angle) yang digunakan Punky mewakili mata kita ketika melihat kaki seribu dalam keseharian.

Seri Kalajengking memperlihatkan tubuh-tubuh manusia melakukan akrobat, menyusun dirinya dalam presisi tinggi untuk membentuk kontur hewan beracun itu. Kita melihat ekor yang melengkung dan capit yang siaga. Sementara di belakangnya adalah façade sebuah bangunan megah dengan bentuk atap yang cembung menyerupai tempurung hewan. Dalam seri Jerapah tampak bagaimana hewan ini hidup di tengah lanskap terbuka di alam bebas. Dengan pendekatan panorama, jerapah artifisial ini menemukan habitatnya di tengah stadion: langit biru terbentang megah, hamparan tanah kecoklatan, dan kursi-kursi aneka warna.

Pertanyaan yang tak kunjung selesai diajukan dan dipersoalkan dari medium fotografi, yakni tentang apa yang nyata dan yang tidak, yang benar dan yang artifisial, kembali diketengahkan oleh Andri William dengan cara yang sederhana dan bermain-main. Andri menghadirkan potret orang-orang yang ia anggap identik secara fisik. Setiap pasangan identik dipotret secara terpisah dalam gestur, busana, serta framing yang sama. Meskipun dalam beberapa seri dari karya ini perbedaan tersebut begitu mudah terlihat, Similarity (2010) ingin mengingatkan kita betapa déjà vu kerap menjadi bagian dari pengalaman visual sehari-hari. Rasa pernah mengalami atau melihat sebuah peristiwa, juga suatu kondisi yang (kurang lebih) sama, menjadi penting dalam pembicaraan tentang memori sebagai jejak dari resepsi visual.

 

Ruang-ruang Sosial, Narasi Personal dan Komunal

Arief Pristianto meminjam idiom visual yang pernah digunakan oleh fotografer Cina, Liu Bolin, melalui karya berjudul Invisible Series (2010). Jika Bolin berbicara tentang identitas masyarakat Cina yang melebur dalam narasi-narasi besar propaganda nasional, Arief lebih tertarik untuk menghadirkan potret tentang masyarakat kelas bawah yang nyaris “tak terlihat” dalam strata sosial di Indonesia; kuli bangunan, pemulung sampah, tukang becak, dan sebagainya. Dalam seri yang terdiri dari enam karya ini diperlihatkan subyek dan ruang (yang tidak hanya berfungsi sebagai latar spasial tetapi juga sosial) yang kian terdesak oleh perubahan politik dan ekonomi.

Dalam setiap seri, Arief menghadirkan satu potret sosial yang spesifik. Sekilas foto-foto ini nampak seperti peristiwa yang biasa ditemui dalam keseharian; gerobak makanan yang melintas di jalan, sepasang tukang becak di trotoar, sekelompok kuli bangunan yang beristirahat, para pemulung yang mengais gunungan sampah, hingga seorang perempuan yang termenung di pintu gubuknya. Alih-alih menjadi sebuah foto dokumenter sosial yang hambar dan penuh iba, seri ini justru memilih untuk berbicara dengan cara yang khas. Cara yang hanya bisa ditempuh oleh fotografi sebagai medium yang menyediakan perangkat untuk memanipulasi dan mensubversi kenyataan.

Seperti dalam karya Bolin, kita mendapati sosok-sosok manusia yang berdiri terpaku menghadap lensa kamera, menatap kita. Tubuhnya transparan, melebur dengan latar belakang di mana mereka berdiri. Mereka adalah siluet yang samar: manusia dengan posisi sosial yang kian luruh, tergeser ke pinggir, dan selamanya akan berada di sana. Dalam konteks Indonesia, idiom visual ini menemukan relevansinya. Ketidak-tampakan (invisibility) adalah asosiasi yang tepat bagi mereka yang terus tersingkir dan melulu dilihat dengan sebelah mata.

Melalui Family Series (2010) Yudha Kusuma Putra aka Fehung menghadirkan karya yang sangat personal berupa self-portrait (potret diri) kedua orang tuanya. Dalam karya ini dapat dilihat bagaimana Fehung sebagai seorang anak membingkai dan memaknai ayah dan ibunya sendiri dalam fungsi serta peran domestiknya masing-masing. Sang ayah sebagai; 1. Pedagang, 2. Juru foto di  perusahaan jasa foto milik keluarga, dan 3. Penutur cerita (storyteller). Sang ibu sebagai; 1. Pengurus taman, 2. Juru masak, dan 3. Penjaga tradisi. Apa yang menarik dalam seri ini adalah pendekatan yang dilakukan Fehung dalam menghadirkan fungsi-fungsi tersebut. Ia menempatkan ayah dan ibunya dalam scene yang dikonstruksi untuk menegaskan kaitan antara subyek, peran sosial, dan latar ruang (termasuk benda-benda) yang melingkupinya. Dengan cara demikian, Fehung menyusun sebuah potret diri yang utuh dan jenaka.

Aspek humor hadir lewat pose dan gestur kedua subyek dalam setiap peran spesifik mereka. Pada seri Father as Customer Trawler digambarkan sang ayah yang berpakaian batik sedang berada di tengah toko, tangan kanannya mengacungkan sebuah jaring ikan, dalam posisi tubuh menghadap kamera dengan gestur siap menangkap dan menjaring kita (para penatap) serta para pembeli yang datang ke tokonya. Pencahayaan yang datang dari bawah membuat fokus berada pada wajah dan tubuh sang ayah, sementara di belakangnya adalah bayang-bayang yang jatuh pada permukaan dinding. Pose ini tampak mengerikan sekaligus mengundang rasa humor yang aneh. Hal yang sama juga terdapat dalam seri Mother as a Gardener di mana sang ibu berpose di hadapan kita sembari mengacungkan gunting rumput. Wajahnya tersenyum lebar, tetapi gunting rumput yang besar di kedua tangannya tampak sedikit mengancam. Benda-benda dan subyek domestik menyimpan keramahan dan kehangatan, seperti halnya konsep mengenai rumah dan keluarga. Namun di saat yang sama semua itu bisa jadi “menakutkan” dan berbahaya dalam caranya sendiri.

Family Series dapat dilihat sebagai potret mikro keluarga Indonesia yang beretnis Tiong Hoa dan beragama Nasrani. Dalam seri ini kita bisa mendapati sang ibu yang duduk manis menghadap kamera, sementara di sudut kanan ruangan terdapat sebuah meja dupa dalam warna merah (Mother as a Guardian of Tradition). Di sisi lain kita juga menemukan salib yang tergantung di dinding ruang tamu, di antara foto-foto keluarga (Father as Storyteller).

Keempat seri foto dalam New Folder memperlihatkan visi artistik yang potensial untuk dikembangkan secara lebih jauh dan lintas-disiplin. Dapat dilihat pula bahwa masing-masing fotografer mempunyai kecenderungan yang khas dalam menghadirkan gagasannya. Dan yang terpenting, mereka memiliki kesadaran yang sama terhadap medium fotografi sebagai praktik artistik dan secara liar menggali kemungkinan yang disediakannya.

 

Ibnu Rizal

Penulis dan peneliti, bergiat di ruangrupa, Jakarta

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement