Nama, Harapan, dan Identitas

Posted on 27 August 2010 by jarakpandang

Oleh: Deasy Elsara

“Nama gue Sugiharti Halim. Bokap nyokap gue ya dua-duanya Cina. Cuma mereka ngasih nama yang kedengarannya Indonesia banget, ya? Mungkin mereka nggak gitu ngerti tentang arti nama. Karena siapa sih yang tega ngasih nama anaknya Sugiharti?”

Sugiharti boleh jadi hanya sebuah tokoh rekaan dalam film Sugiharti Halim karya sutradara Ariani Darmawan produksi tahun 2008. Namun esensi cerita yang terkandung di dalamnya bukanlah rekaan belaka. 98.08, Antologi 10 Tahun Reformasi berusaha merekam perayaan sepuluh tahun reformasi dengan film pendek. Sepuluh sutradara muda berkisah tentang peristiwa Mei 1998 dengan persepsinya masing-masing. Salah satunya Ariani.

Ariani menggunakan Sugiharti Halim sebagai tokoh utama yang sepanjang film mempertanyakan identitasnya, atau secara lebih spesifik lagi, identitas ke-Tionghoa-annya. Pertanyaan yang sama mungkin juga diajukan oleh ribuan warga keturunan Tionghoa di Indonesia pada masa pemerintahan Orde Baru. Pada tahun 1966 dikeluarkannya Keppres nomor 127/U/Kep/12/1966 yang mewajibkan WNI etnis Cina untuk mengadopsi nama bernada Indonesia, misalnya: Liem menjadi Halim, Lo/Loe/Liok menjadi Lukito. Dan praktis sejak saat itu pula, ayah Sugiharti yang terlahir dengan nama Liem On Hok harus mengubah namanya menjadi Taruna Halim.

Kemudian menjadi lucu dan ironis ketika Sugiharti diragukan oleh banyak orang mengenai keaslian namanya. Karena menurut mereka, nama ‘Sugiharti’ tidak matching dengan wajahnya yang oriental, dan seolah ia harus punya nama yang lebih asli dari Sugiharti Halim. Meski dalam Bahasa Jawa nama ‘Sugiharti’ memiliki arti ‘kaya harta’, ia tetap kurang sreg dengan nama pemberian orangtuanya. Keinginan mengubah nama sempat terbersit di pikiran Sugiharti, dan Julianne adalah pilihannya.

Identitas Personal

Fenonema sejarah yang terekam dalam film Sugiharti Halim menyadarkan kita bahwa bagi sebagian orang, persoalan nama tidak sekedar satu-dua kata yang tertulis di KTP. Lebih dari itu, persoalan nama adalah perkara identitas. Karena dari nama seseorang lah, kita pertama kali memiliki pengetahuan singkat tentang mereka. Dan pada saat itu sebenarnya kita memetakannya ke dalam suatu bagian kelompok sosial budaya, yang mau tidak mau lengkap dengan stereotip yang melekat. Sehingga secara tidak langsung mematahkan pernyataan Shakespeare, “Apalah artinya sebuah nama?”

Dalam Sosiologi sendiri, identitas adalah simbolisasi ciri khas yang mengandung diferensiasi dari individu atau kelompok lain. Identitas dapat berasal dari sejarah, cita-cita, sikap dan perilaku, kebiasaan dll. Berbicara mengenai identitas, sebenarnya itu adalah sebuah definisi diri yang bisa didapat dengan dua cara; diberi oleh orang lain atau oleh kita sendiri. Pelacakan identitas adalah upaya pendefinisian diri yang nantinya akan menerangkan siapa kita sebenarnya.

Nama, Harapan, dan Identitas

Ilustrasi konkretnya seperti ini; sebuah kegembiraan bagi orangtua yang berasal dari suku Batak, bila nantinya sang anak dapat meneruskan marga keluarga. Harapan itu lebih utama ditujukan kepada anak laki-laki, karena menurut budaya, suku Batak menganut sistem patrilineal, yaitu menurut garis keturunan ayah. Sehingga tak heran jika orang Batak tak sembarangan dalam memilih nama bagi anak laki-lakinya.

Contohnya saja Pangeran, ia terlahir dengan nama Pangeran Edwin Bonardo Immanuel Hasian Siahaan. Jika diartikan secara keseluruhan, namanya berarti ‘Pemimpin yang dihormati dan selalu berada dalam lindungan Tuhan’. Memiliki nama yang panjang merupakan salah satu ciri yang umum ditemukan pada warga keturunan Batak. Pangeran pun mengakui hal ini. Secara berkelakar ia mengeluhkan kesulitan yang timbul saat menghitamkan bulatan di kolom nama setiap ujian berlangsung. Namun ia tetap bangga dengan namanya, meski untuk sehari-hari ia hanya mencantumkan Pangeran Immanuel Siahaan. Walau bagaimanapun ia sadar, namanya adalah wujud harapan dan kebanggaan orangtuanya.

Lain lagi dengan pengalaman Rarassmita Nestiti yang berdarah Jawa. Menurut pengakuannya, dalam Bahasa Jawa namanya berarti busur panah yang selalu melepaskan anak panahnya tepat sasaran. Selain itu, namanya juga bisa berarti ‘Seorang gadis periang yang teliti’. Makna yang kedua erat korelasinya dengan stereotip suku Jawa yang menganut falsafah alon alon asal klakon (biar pelan asal selamat).

Kembali ke Agama
Hal lain yang juga umum terkandung dalam nama seseorang adalah identitas keagamaan. Bagi pemeluk agama Islam, nama Muhammad adalah nama terpopuler yang digunakan. Hal ini wajar karena sosok Muhammad SAW dijadikan panutan sepanjang jaman oleh umat Islam. Begitu pula dengan nama Christian yang kerap digunakan oleh umat Kristiani.

Namun keadiluhungan sifat yang dimiliki sang Rasul ternyata disikapi lain oleh Muhammad Maskur Tamanyira, mahasiswa tingkat akhir Universitas Diponegoro Semarang. Menyandang ‘Muhammad’ sebagai nama depannya merupakan amanah yang besar. Sesuatu yang hingga kini belum bisa ia laksanakan dengan baik.

Atau juga pada kasus lain misalnya, nama-nama bernada keagamaan tertentu ternyata justru bias agama. Misalnya saja Christine Hakim, aktris senior yang pernah membintangi film legendaris Tjoet Nya’ Dhien ini beragama Islam meski namanya bernada Kristiani.

Sinetronku, Inspirasiku
Masih soal ‘kerancuan’ nama, ada satu peristiwa yang membuat teman saya, Raras, mengernyitkan dahinya. Di saat ia bangga dengan nama dan identitas ke-Jawa-annya, ada seorang pembantu rumah tangga dari relasinya yang memberi nama anaknya Keisha. Jika dilihat, kejadian ini mirip dengan salah satu adegan di film Sugiharti Halim ketika Sugiharti mencoba membandingkan dirinya dengan Joki 3 in 1 dan TKI yang wafat karena kecelakaan. Saat itu Sugiharti menyatakan tidak bermaksud untuk merendahkan pihak-pihak manapun, namun ia hanya mencoba meyakinkan penonton dengan pertanyaan retoris, “Apa gue cocok diberi nama Sugiharti?”

Untuk konteks sekarang, hal yang lumrah jika seseorang memberi nama pada anaknya di luar kultur yang sudah mendarah daging. Yang paling sering dilakukan adalah mengambil inspirasi dari suatu hal yang kita suka/ idolakan. Hal itu tak lepas dari derasnya arus informasi yang kita terima. Contohnya kasus Keisha, tak bisa kita pungkiri jika nama-nama tokoh dalam sebuah sinetron dijadikan inspirasi oleh masyarakat. Dan ternyata memang benar begitu adanya. Keisha adalah judul sinetron yang ditayang kan oleh Indosiar setiap hari Minggu pukul 18.00 WIB.

Nama yang Beridentitas
Lantas, nama-nama seperti apakah yang dianggap sebagai nama yang beridentitas? Jika merunut terminologi Sosiologi, nama yang beridentitas adalah nama yang mempunyai ciri khas yang berbeda dari individu atau kelompok lain baik dalam hal sejarah, budaya, dll. Sehingga ketika ia menafikkan semua unsur tersebut ke dalam sebuah nama, maka sederhanya nama itu tidaklah beridentitas.

Sama halnya ketika Sugiharti mempertanyakan identitas ke-Tionghoa-an keluarganya yang ‘dihapus’ paksa oleh pemerintah pada satu masa jabatan pemerintahan. Berbeda dengan ayah temannya yang bernama Tan Boen Hong. Ia bersikeras mempertahankan nama asli keluarganya karena alasan identitas. Ia menolak penggantian nama karena menurutnya itu penghinaan. “Temen papa yang Tampubolon gak pernah tuh ganti nama jadi Warsito atau Sungkono?” Sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar lucu namun juga miris karena yang ia pertanyakan dan tuntut adalah keadilan.

Dan sebenarnya orang-orang yang mampu mempertahankan identitas mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan penghargaan yang tinggi tentang asal-usulnya. Suatu hal yang nilainya tak tergantikan oleh apapun, karena memang bagi sebagian orang, mempertahankan identitas sama halnya dengan bertahan hidup.

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement