Monumen Kota: Identitas dan Perekam Sejarah (Catatan Pameran Tunggal Edhi Sunarso)

Posted on 23 August 2010 by jarakpandang

Oleh Christine Franciska

Siapa yang membuat patung Selamat Datang? Atau patung Pancoran yang menjulang lengkung yang kini diapit oleh dua jalan tol fly over? Juga patung Pembebasan Irian Barat yang berteriak merdeka di depan Lapangan Banteng? Tak banyak orang tahu bahwa di balik karya-karya megah itu, ada nama Edhi Sunarso, seorang pematung sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia pada akhir 1940-an. Patung-patungnya melegenda dan menjadi ikon kota Jakarta, baik sebagai perekam sejarah, juga bukti pencapaian besar dalam seni patung modern Indonesia.

Sebagai seorang seniman dan pahlawan revolusi, ia tak hanya menghasilkan karya idealis, tapi juga membuat berbagai diorama sejarah dan monumen. Kebanyakan dipesan langsung oleh Presiden Soekarno, yang saat itu berambisi untuk membangun identitas nasional di Jakarta, sebagai ibu kota negara.

Perjalanan karya Edhi Sunarso lantas ditampilkan dalam pameran bertajuk Monumen, 14-28 Agustus 2010 di Galeri Salihara, Pasar Minggu, Jakarta. Sebanyak 34 karya patung figuratif ditampilkan bersama dokumentasi proses pembuatan patung monumental miliknya. Yang menarik adalah ini merupakan pameran tunggal pertamanya di Indonesia. Pameran tunggal perdana, di usia yang terbilang cukup senja.

“Tak mudah membuat pameran tunggal seni patung. Apalagi diadakan di luar kota tempat tinggal. Butuh empat truk untuk bawa karya,” ujar pria yang berusia 78 tahun itu.

Karya Pengabdian dan Karya Individu

Bagi Edhi, karya pengabdian dan karya individu adalah dua hal yang bertolak belakang. Demi pengabdian, ia rela terikat dengan pakem. Pekerjaan diorama, misalnya, harus menggambarkan peristiwa sesuai aslinya. Ia pun harus  mengadakan penelitian dan wawancara dengan saksi sejarah.  “Seniman kan maunya bebas,” katanya. Namun ia ingat betul kata-kata Soekarno kala itu, “bahwa menggambarkan peristiwa sejarah adalah kerja pengabdian. Aku ini pejuang, bagaimana pun tak bisa meninggalkan darah juangku,” kata Edhi.

Ide-ide Soekarno mengenai patung di ruang publik muncul pada periode pasca kolonial. Ketika itu, Soekarno merancang sebuah mega proyek untuk mengubah citra kota Jakarta yang kolonial menjadi berwajah nasional. Asikin Hasan, selaku kurator pameran, mencatatnya sebagai proses pemberian karakter dan identitas baru bagi Indonesia, yang ingin menarik garis tegas antara masa lampau dan masa kini.

Proyek pertama Edhi dengan Soekarno dimulai dengan patung Selamat Datang setinggi enam meter. Pengerjaan awal dibuat dengan menggunakan 15 ton gipsum yang dicetak dengan perunggu. Setelah itu ia berurutan mengerjakan monumen Empat Penjuru Monas, patung Pembebasan Irian Barat, dan patung Dirgantara (atau patung Pancoran).

“Buatnya susah, kita harus lihat dulu fungsinya apa, lokasinya di mana, mau menggambarkan apa. Ide memang berasal dari Bung Karno. Tapi diamika bentuk tetap diserahkan pada saya. Itu hebatnya beliau,” kisah pematung penerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama RI, pada 2003 lalu itu.

Bagi Asikin, patung-patung monumen karya Edhi Sunarso ini bukan sekadar menjadi identitas kota. Dalam konteks seni ia juga menandai perkembangan seni patung modern Indonesia. “Dulu tak ada yang membuat patung dengan perunggu. Biasanya menggunakan tanah liat, batu dan kayu,”.

Karena sering mengerjakan proyek Soekarno, Edhi sering disindir sebagai seniman proyek. Namun ia terlihat acuh menanggapi. “Semua proyek itu gak ada untungnya. Buat saya itu pengabdian. Dan pengabdian bukan diukur dengan uang”.

Makro Mikro

Dalam pameran Monumen ini, Edhi membuktikan bahwa ia bukan sekadar seniman proyek, tapi juga seniman idealis yang bebas. Beberapa di antara karya patung yang dipamerkan juga menggambarkan kehidupan masyarakat kelas bawah, seperti aktivitas kios-kios pijat di pinggiran jalan Senen, perempuan yang bersolek, juga perempuan pembawa kendi.

Karya-karya ini lantas membuat Goenawan Mohammad, budayawan yang turut membuka pameran, Sabtu (14/08) lalu, menyebutnya sebagai seniman yang tak hanya merekam sejarah makro Indonesia, tetapi juga sebagai perekam sejarah mikro yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil.

Kini, selain aktif mengajar, Edhi juga masih menggarap diorama sejarah untuk museum di Indonesia. Diorama yang menurutnya kurang mendapat perhatian dari negara. Diorama pertama yang dibuat untuk Monumen Nasional, misalnya, kini dalam keadaan yang memperihatinkan. “Sudah banyak yang patah. Harusnya ada perawatan yang baik. Tapi kenyataannya hanya dibersihkan oleh petugas kebersihan.”

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement