Review Hari Keempat: Menyampaikan Rasa Lewat Kata

Posted on 24 June 2011 by jarakpandang

*) catatan redaksi: tulisan ini adalah review hari keempat Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual ruangrupa 2011.

Ibnu Nadzir

Materi yang diangkat pada hari keempat “ Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual Ruangrupa 2011” adalah Pengantar Referensial dalam Penelitian dan Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual Kontemporer. Materi ini diisi oleh Antariksa yang merupakan peneliti dan program manager dari  Kunci Cultural Studies, Yogyakarta.

Memikirkan Ulang Konsep Seni

Sejak materi dimulai, Antariksa berusaha untuk mengurangi jarak antara dirinya sebagai pembahas dengan peserta. Ia mengambil posisi berdiri di depan meja sehingga lebih dekat dengan peserta. Peserta diminta untuk mengenalkan diri satu per satu sebelum memulai materi. Materi dibuka dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Apa yang dimaksud dengan seni?”  Jawaban dari peserta cukup beragam. Ratih misalnya, mengatakan bahwa seni didefinisikan menurut konvensi tertentu yang ada pada zaman masing-masing. Dziqri punya pendapat yang relatif berbeda tentang konsep seni, menurutnya seni adalah segala sesuatu yang menimbulkan tegangan dalam diri manusia.

“Apakah jika FPI melakukan penyerbuan pada suatu tempat, lalu saya merasa tegang, maka itu dapat disebut sebagai seni?”, ujar Antariksa menanggapi pernyataan Dziqri. Hampir semua pertanyaan peserta, dipertanyakan kembali oleh Antariksa. Menurutnya hal ini penting, karena seringkali kita tidak mempertanyakan kebenaran kalimat baik yang kita sampaikan maupun kita tulis. Padahal senjata utama dari penulis adalah kemampuannya mengolah kata-kata.

Untuk menajamkan pemikiran peserta soal seni, Antariksa menampilkan gambar The Purification Of The Temple karya pelukis renaisans Spanyol, El Greco.” Mengapa lukisan ini disebut dengan seni?”, ujarnya kembali mengajukan pertanyaan. Belum selesai di situ, ia menunjukkan gambar lain, yakni gambar motor sport CBR 1000 cc. Dua gambar ini dimunculkan sebagai perbandingan. “Mana dari kedua gambar tersebut yang bisa disebut sebagai seni? Dan mengapa layak disebut sebagai seni?”, Antariksa bertanya lebuh lanjut. Ia bahkan membandingkan antara karya El Greco dengan cangkir kopi dalam pertanyaan yang sama.

‘Seni’ menurut Aris hanya diproduksi satu kali dan bukannya karya massal. Itu yang membedakan karya El Greco dengan cangkir kopi.  Asep mengajukan pendapat yang senada, menurutnya karya seni mengutamakan orisinalitas. Pendapat menarik lainnya diajukan oleh Tiko, bahwa meskipun dalam pembuatan ada unsur seni ia tetap berbeda dengan The Purification Of The Temple yang diakui sebagai karya seni. Pendapat ini digarisbawahi oleh Antariksa, yakni pentingnya peserta untuk sadar membedakan antara hal-hal yang disebut sebagai unsur seni dan hal yang dianggap sebagai seni itu sendiri. Dalam lukisan, unsur seni bisa dilihat pada teknik, gaya, sampai perspektif.

Menurut Antariksa lebih lanjut, sesungguhnya karya seni jarang diuji. Kritikus seni rupa, yang menyampaikan karya lewat tulisannya adalah salah satu elemen yang penting untuk menguji seni rupa. Karena seni rupa bermula dari pengalaman inderawi, maka penulisan seni rupa sebaiknya mengangkat pengalaman inderawi ke dalam tulisan mereka. Sehingga penulis kritik seni rupa dapat mengkomunikasikan perasaannya pada pembaca. Dalam pandangan Antariksa, hal ini sering luput dari penulisan kritik seni rupa di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Banyak penulis seni rupa maupun kurator yang cenderung sibuk dengan pemikiran maupun konsep-konsepnya sendiri daripada membahas karya seni.

Fungsi, Patron, dan Kanon

Hal yang juga menarik untuk dicermati adalah persoalan fungsional karya seni yang cenderung berubah dari masa ke masa. Pada masa Majapahit misalnya, banyak tembikar yang digunakan langsung dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki ukiran yang sangat indah. Karya semacam ini pada masa sekarang akan digolongkan sebagai karya seni. Kecenderungan fungsi karya seni pada hari ini berbeda. Dalam konteks seni rupa kontemporer sebagai contoh, fungsi langsung dalam kehidupan sehari-hari relatif tidak ada. Namun, pemaknaan orang terhadap karya seni tersebut menjadi nilai utamanya.

Selain persoalan fungsi, perdebatan soal  definisi karya seni yang bagus atau jelek juga sangat dominan mewarnai perbincangan seputar karya seni. Perdebatan ini tidak dapat dilepaskan dari peran patron-patron yang memengaruhi nilai-nilai dalam dunia seni. Pada masa lampau, para seniman menghasilkan karya yang merupakan pesanan dari para penguasa. Leonardo Da Vinci, Michelangelo Buenarotti, maupun Rafael adalah beberapa nama seniman yang berkarya melayani pesanan bangsawan hingga Paus. Di Indonesia pun tidak jauh berbeda, karya-karya Raden Saleh banyak yang merupakan pesanan penguasa Belanda pada masa tersebut. Pasca-kemerdekaan pun tidak jauh berbeda, banyak seniman yang menjulang namanya hari ini dikenal dekat dengan Soekarno yang memang pecinta seni rupa. Orang-orang yang berkuasa dan memberikan pesanan pada seniman dikenal sebagai patron ekonomi.

Selain patron ekonomi, juga dikenal istilah berupa patron intelektual. Mereka biasanya merupakan pengamat, kurator, hingga kritikus yang menentukan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam pembuatan seni rupa. Dalam setiap masa selalu ada acuan karya seni yang dianggap sebagai adikarya. Karya-karya ini dikenal dengan istilah kanon. Kanon  dilahirkan dari perdebatan dan tarik menarik antara patron intelektual tersebut. Yang menarik, pendekatan baru dalam seni rupa selalu dimulai dari orang-orang yang melakukan perlawanan pada konsep ‘kanon’ yang dianggap lama. Sesungguhnya orang-orang tersebut sedang dalam proses menciptakan kanon, yang pada gilirannya akan digugat oleh kelompok lainnya.

Tulisan Formalisme atau Kontekstualisme?

Pada workshop hari sebelumnya, sempat dibahas mengenai gaya tulisan kritikus seni rupa, salah satunya adalah formalisme. Kritikus seni yang menulis dalam pendekatan ini memercayai bahwa nilai utama dari suatu karya dapat dilihat dari unsur-unsur formal yang ada di karya tersebut. Sehingga penulisan akan berkutat seputar bentuk, ukuran, medium, warna dan beragam unsur formal lainnya. Menulis dalam pendekatan ini sama sekali bukan pekerjaan yang mudah. Karena kritikus seni rupa diharapkan dapat mentransmisikan  pengalaman inderawinya ke dalam kata-kata. Sehingga pembaca dapat merasakan pengalaman yang mendekati pengalaman langsung kritikus. Kemampuan ini hanya akan didapatkan penulis dari latihan membuat tulisan deskripsi yang dilakukan terus menerus.

Pendekatan tulisan yang kedua, biasa dikenal dengan kontekstualisme. Penulis yang mengambil pendekatan ini percaya bahwa makna dari suatu karya dapat dilihat dari luar karya. Pendekatan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dunia akademis. Penulis kritik seni tertentu misalnya akan senang menggunakan Marxisme untuk menganalisis suatu karya. Penulis lainnya bisa jadi menggunakan pendekatan feminisme, dan beragam bentuk pemikiran lainnya.

Tulisan kritik seni yang dianggap baik hari ini, biasanya merupakan penggabungan dari kedua metode tersebut. Sayangnya tulisan semacam ini jarang dijumpai dalam penulisan kritik seni di Indonesia sekarang. Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, ada kecenderungan yang menjadikan tulisan kritik seni di Indonesia over-intellectualized. Kecenderungan ini menjadikan tulisan menjauh dari gagasan awal karya seni, yakni pengalaman inderawi.

Mengapa kesadaran soal ini penting? Sebab penulis kritik yang baik juga turut berperan dalam meningkatkan perkembangan dunia seni di masyarakatnya. Melalui tulisan yang baik, seniman dan kurator tidak dapat bertindak semaunya. Sebab, dalam pandangan Antariksa dalam seluruh kesenian, dari masa lampau hingga kontemporer, craftsmanship atau keahlian harus selalu dijaga. Keahlianlah yang membedakan seniman dari orang biasa.

Akhir materi ini kembali ditutup dengan sebuah pertanyaan untuk evaluasi, “Apa perasaan teman-teman setelah mengikuti pembelajaran ini?”, ujar Antariksa. Purna mengatakan, bahwa mengikuti kuliah ini rasanya seperti memulai pemahaman dari awal. Karena ada beberapa pemahaman yang berbeda dari materi yang disampaikan Antariksa dengan materi yang disampaikan Aminudin TH Siregar sehari sebelumnya.  Antariksa berpendapat kalau hal tersebut justru dapat dipandang sebagai sisi menarik dari pelatihan menulis ruangrupa. Tidak ada tuntutan bagi pemateri untuk menyatukan pendapat.

Meskipun beberapa materi yang disampaikan memiliki sudut pandang yang berbeda. Aminudin TH Siregar dan Antariksa memiliki kegelisahan yang sama. Keduanya sama-sama mendorong peserta untuk kembali mengedepankan pengalaman inderawi dalam tulisan soal seni sebelum berangkat pada konsep-konsep yang rumit. Sebab penulis adalah sosok yang berperan menjembatani karya seni dengan orang kebanyakan.

 

Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement