Categorized | ULASAN

Mencari Heni Demi Membujuk Eliana Pulang

Posted on 12 January 2014 by jarakpandang

Pagi itu mungkin puncak dari hari-hari Eliana (Rachel Sayidina) yang tidak lagi berjalan biasa setelah pergi dari rumahnya dan merantau ke Jakarta. Dia menghadiahi tendangan ke selangkangan seorang laki-laki yang berakhir dengan pemecatan Eliana sebagai seorang karyawan pusat perbelanjaan. Sementara ia membayar utangnya pada Ratna (Marcella Zalianty) dan siap-siap untuk pulang dengan tetap menggunakan hak tinggi – alas kaki yang tidak pernah punya posisi nyaman pada kaki Eliana, Bunda (Jajang C. Noer) sudah berada di taksi menuju sebuah alamat yang ditulisnya dan ketika ditelusuri olehnya, alamat itu berada di antara bangunan-bangunan sempit, menyambung dari lorong ke lorong, disesaki penghuni yang lalu lalang dan gerobak-gerobak jualan. , Iitulah salah satu wajah sebuah kota besar yang nyaris tidak terlihat. Muka Bunda seakan tidak percaya di situlah Eliana menghabiskan hidupnya bersama sahabatnya, Heni (Henidar Amroe) selama dua tahun lebih. Hari itu Heni menghilang, tugas Bunda datang ke Jakarta  menjemput Eliana kembali ke Padang setelah lima tahun sebelumnya dia kabur dari pernikahan yang sudah direncanakan ibunya.

Adegan-adegan itu tampil sepanjang 15 menit pertama dari film garapan Riri Riza yang bersama Prima Rusdi menulis skrip ELIana, eliANA. Gambar-gambarnya digital dengan teknik  hand-held yang sengaja menghindar dari kesan keindahan sebuah film. Ditambah penggunaan close-up dan suara yang suka tiba-tiba lenyap beberapa detik – bahkan sebelum film berakhir terdengar suara dari belakang yang mengarahkan gerak Eliana dan menjauh dari penonton. Selain sebagai bentuk pergerakan sinema baru di Indonesia yang dilakukan Riri Riza, dkk. dengan nama i sinema dan mengadopsi teknologi baru, teknik-teknik itu juga pas menggambarkan perasaan kalut antara Bunda yang ingin cepat bertemu anaknya lalu membawanya pulang, dengan Eliana yang ingin bertemu Heni dan mengobrolkan permasalahan mereka selain uang kontrakan.

Dua hal ini kemudian ditajamkan dalam permainan ‘mencari Heni demi membujuk Eliana pulang’ yang melibatkan banyak rangkaian cara dari Bunda pada Eli agar ia setuju untuk pulang atau dari Eli pada Bunda untuk menunda obrolan soal kepulangan. Film ini membincangkan tentang hubungan ibu dan anak perempuan atau perempuan dengan perempuan yang seolah-olah meminggirkan wacana laki-laki dan/atau menjadikan laki-laki sebagai objek dari perempuan.

Adu kecerdikan antara Bunda dan Eliana

“Kau tidak pernah mengunci rumah.” Kalimat itu kedengarannya kaku sekaligus sinis untuk membuka percakapan antara seorang ibu dan anak yang baru bertemu. Kalimat itu bisa juga sebagai bentuk ketelodoran seorang anak yang selalu bisa dibaca oleh ibunya, sekecil apapun itu. Mereka berdua duduk berhadapan, belum menyentuh teh bikinan Bunda di depan mereka, Eliana tidak membalas pernyataan Bunda. Kekikukan sudah menghinggapi mereka saat pertama kali bertatap muka lagi di dapur kontrakan Eliana: Bunda terkecoh mengira tangannya akan disalami dan dicium saat dia sudah menjulurkan tangannya pada Eliana; saat tangan Eliana ternyata sama-sama bergerak dengan tangan Bunda untuk mencapai toples gula pasir dan ketika Eliana ingin menuangkan sesendok gula ke dalam cangkir Bunda, ia telah lebih dulu mengangkat cangkir tehnya; serta cara Bunda menyeruput teh dari piring kecil cangkir yang diganggu oleh ketukan sendok teh Eliana dicangkirnya. Hal-hal seperti itu lalu mengarah pada dua perempuan ini untuk adu kecerdikan agar bisa mengendalikan situasi.

“Waktu kau kau seumur dia, kau lebih gemuk, lebih putih. Tapi tampaknya dia lebih mudah diatur.” Lagi-lagi Bunda menghujamkan kalimat percakapan pada Eliana yang tidak enak didengar saat mereka menunggu makanan di sebuah warung nasi Padang. Dia menunjuk seorang perempuan kecil yang duduk beberapa meja di depan mereka dan terlihat melempar senyum pada Eliana. Cara-cara seperti itu jadi bagian taktik Bunda untuk mengajak anaknya pulang, termasuk memberitahukan bahwa tantenya sudah rindu dengan dirinya dan menyodorkan ponselnya saat Eliana tidak bisa menggunakan telepon umum koin untuk menelepon Heni di sekitar warung nasi Padang itu. Sepanjang film terlihat secara kasatmata yang memegang situasi Eliana karena dia punya petunjuk mencari Heni, tapi Bunda secara samar sebenarnya bisa mengimbangi situasi itu, meskipun dia mulai meredam keingian untuk memaksa Eliana pulang ke rumah kontrakannya dan membiarkan dirinya mengikuti anaknya yang ingin menunjukkan bahwa Eliana bisa hidup dan bertahan di Jakarta tanpa Bunda.

Apa yang dilakukan Eliana adalah sebuah upaya untuk memisahkan tubuhnya dengan tubuh yang melahirkannya. Pendisiplinan tubuh atau cara berprilaku yang sudah diberikan dan diajarkan Bunda sebelum Eliana berhasil kabur dari rumahnya seperti tidak tersisa atau jejaknya sudah sangat sulit dilacak pada tubuh atau sikapnya. Keterkejutan Bunda saat melihat kontrakan anaknya, marahnya Bunda saat anaknya menghampiri Ratna di sebuah klub malam untuk mengorek informasi soal Heni, atau ketika Eliana muntah di pinggir jalan yang dicurigai Bunda sebagai tanda kehamilan.

Kejadian-kejadian itu adalah dampak bagaimana seorang anak ingin terlepas dari kebiasaan-kebiasaan yang datang dari ibunya dan membentuk kebiasaan baru yang datang dari diri seorang anak perempuan. Salah satu adegan yang pas menggambarkan kondisi itu adalah saat Eliana membantah ucapan Bunda yang dengan yakinnya selalu melihat anaknya setiap hari, tapi dia bisa mengecoh ibunya untuk kabur.

Peminggiran Laki-laki

Setelah mengelabui Toha, pemilik kontrakan yang mencari Heni, Bunda dan Eliana memaksa seorang sopir taksi (Arswendo Nasution) untuk mengantarkan mereka ke beberapa tujuan dengan cara dicarter. Sopir taksi hanya bisa jadi orang yang berada di luar obrolan Bunda dan Eliana sekaligus bagian dari kebisuan di dalam taksi yang tidak pernah diberikan ruang gerak (saat sopir taksi mencoba untuk membesarkan volume suara lagu, Bunda langsung memerintah agar dikecilkan suaranya karena dia butuh ketenangan) dan bicara (saat sopir taksi mencoba untuk memberitahu tentang sikap anak muda sekarang, Bunda langsung mencegahnya agar diam) karena sudah terjadi hubungan subjek dan objek. Saat Bunda menceritakan kepada Eliana bahwa ayahnya pernah mengajak Bunda ke Jakarta dan menonton film di bioskop sebelum akhirnya pergi meninggalkan dirinya, posisi ayah dimunculkan untuk mempertegas hubungan subjek (perempuan)-objek (laki-laki) yang datang dari sebuah ketaksengajaan Bunda melihat jalan-jalan di Jakarta dan sebagai bentuk kesengajaan mengingat suaminya saat Bunda menunjuk sebuah gedung tua yang dulunya adalah bioskop.

Bagian lain yang memperlihatkan hubungan itu adalah saat si sopir taksi akhirnya menemukan gerak ruang dan bicara setelah memperhatikan Bunda sudah tertidur di kursi belakang. Sopir taksi ini berbicara pada Eliana sebagai objek dari perempuan. Istri sopir taksi meninggalkannya lima tahun yang lalu – tepat saat Eliana datang ke Jakarta – waktu kerjaannya sebagai komikus tidak jelas lagi penghasilannya. Dua anak perempuannya ikut istrinya dan dia sekarang tinggal dengan anak laki-lakinya yang paling tua. Hanya di situ obrolan laki-laki atau ayah mendapatkan porsinya, yang sebelum obrolan itu terjadi Bunda datang lagi menghantamkan kalimatnya tentang sosok suaminya yang pergi ke Jakarta namun usahanya gagal, “Mudah sekali lari dari tanggungjawab hanya demi harga diri.” Kalimat  yang merupakan bagian lain dari pertentengan antara rasa dan nalar.

Seakan laki-laki sebagai sebuah bercak bagi perempuan, maka mereka harus disingkirkan. Hal-hal itu sudah datang pagi-pagi sekali sedari awal film ini sebelum Eliana dan Bunda bertemu. Saat Eliana tidak memakan baksonya dan seorang laki-laki setengah baya menggoda perempuan itu dengan senyum genitnya, senyuman itu berakhir dengan Eliana menumpahkan kuah bakso ke selangkangan laki-laki itu. Harus juga dimasukkan kepercayaan diri Ratna tentang cara menjinakkan laki-laki, bahkan Ratna mengklaim bahwa kelihaiannya masih lebih jago dibanding sahabat Eliana.

Satu-satunya perempuan yang terlihat begitu susah meminggirkan lawan jenisnya hanyalah Heni. Dia terjebak iming-iming laki-laki yang membuatnya berada di antara garis masa lalu (saat anak perempuannya, Nadira diadopsi oleh laki-laki bernama Rafly yang sudah berkeluarga), sekarang (kondisi yang didapatkan bahwa Heni harus membesarkan Nadira seorang diri), dan akan datang (janji manis Rafly untuk membina keluarga bersama Heni dan Nadira yang ternyata hanya sebuah keadaan yang tidak akan pernah terjadi). Posisi Heni yang terlalu setia pada laki-laki kemudian disadarkan lewat Nadira, Eliana, dan Bunda saat mereka akhirnya bertemu di kamar hotel tempat Heni menunggu pujaan hatinya. Ketiga perempuan itu ibarat fase yang sudah, tengah berlangsung, dan nantinya akan dilalui oleh Heni. Garis-garis hidup Heni yang sebelumnya selalu beririsan dengan laki-laki diterabas dan didominasi oleh perempuan.

Tiga Tangisan Perempuan di Waktu Malam

Heni jadi sosok yang paling rapuh di film ini. Meskipun dia membayar semua tagihan kontrakan dan pihak bertanggungjawab yang sebenarnya menyelamatkan Eliana dengan menghubungi Bunda demi memuluskan rencana Heni agar bisa hidup bersama pria idamannya. Tapi itu hanyalah angan-angan yang terus membuatnya berharap dalam kecemasan. Heni seakan tidak mampu hidup tanpa laki-laki dan baru disadarkan oleh Eliana saat mereka bertemu, dia meminta bukti apa yang membuat sahabatnya itu berhasil hidup dengan laki-laki selain hanya terus mau digoda oleh janji manis. Dengan air mata bercucuran sambil mengelap muka di wajahnya yang dipenuhi kosmetik serta melempar tas, Heni menjelaskan bahwa itu adalah buktinya, sebelum ditambahkan dengan penjelasan bahwa dia tidak mau melihat kesalahan-kesalahannya terjadi pada diri Eliana maka lebih baik menghubungi Bunda. “Jadi sekarang lu anggap dia sebuah kesalahan?” tegas Eliana sambil menunjuk Nadira yang tertidur. Tatapan dingin Bunda bertemu dengan mata Heni, sesaat setelah Eliana keluar dari kamar hotel.

Di dalam taksi menuju pulang ke rumah kontrakan, tangisan Eliana terdengar nyaring setelah apa yang dicarinya seharian itu jadi sebuah nestapa. Keyakinan bahwa Heni tidak akan pernah meninggalkan Eliana runtuh dan kenyataan bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang orang yang sudah tinggal bersamanya selama dua tahun lebih. Lima tahun perempuan itu berusaha hidup tanpa ibunya dan cukup satu hari untuk melihat segala kesusahannya membangun hidupnya nampak dihadapan ibunya. Tapi Eliana tidak tahu bahwa sebelum ia menangis, Bunda sudah lebih dulu mengeluarkan air matanya setelah bercermin di dalam toilet yang dipenuhi coretan dinding pada sebuah pom bensin. Dia mungkin menangisi hidupnya yang sudah terlalu keras pada anaknya, terlebih saat Bunda menggunakan kuasanya untuk mengatakan bahwa anaknya itu sudah tidak punya apa-apa lagi di Jakarta dan jalan satu-satunya adalah pulang ke Padang, dia mungkin meneteskan air mata karena sanggup jadi orangtua tunggal tapi tak sanggup mencegah anaknya pergi, dan dia mungkin menangis karena kesendiriannya yang terus berharap agar ia bisa bersama-sama anaknya lagi, seperti yang dilakukan seorang ibu di lorong rumah kontrakan Eliana yang terus mencari dan menunggu anaknya pulang. Tiga perempuan di film ini menangis dalam kesendiriannya, mereka tidak bisa menyalahi keadaan, mereka hanya bisa menangis karena keadaan atau tertawa karena kemarahan.

Bunda merangkulnya, memeluk anaknya dari samping, memahami apa yang sedang dicari anaknya belum berhenti dan tidak coba untuk memenangkan hatinya untuk mengikuti kemauannya. Ibu itu menenangkan kondisi Eliana saat keesokan paginya tidak memaksa untuk ikut ke Padang meskipun sang anak sudah berkemas untuk menyerah. Pagi hari yang tidak seperti pagi kemarin dan membuat sosok-sosok di film ini hilang kecemasannya: Heni menggendong Nadira dengan wajah optimis sebelum memberhentikan taksi di depan hotel, Ratna menenteng koran tertawa kecil bersama asistennya yang membawakan bingkisan dari para penggemar, Bunda dengan nada sendu tapi wajahnya diselimuti perasaan lega berkata pada anaknya, “Pulanglah kapan kau mau. Besok, lusa, bulan depan. Bunda tidak akan kemana-mana”, dan Eliana dengan senyum tipisnya berjalan melewati sebuah pasar yang siap meladeni kejutan hidup.

Rahmat Arham, 2014

 

Comments are closed.

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement