Intertekstualitas dalam Seni Rupa: Impresionisme, Voyeurisme…

Posted on 02 June 2010 by jarakpandang

Oleh :  Ibnu Rizal

Kita sepakat bahwa sebuah karya seni rupa dapat ditempatkan atau diposisikan sebagai sebuah dokumen budaya, sebuah teks yang dapat dibaca, ditelaah dan diuraikan unsur-unsur yang dikandungnya. Sebagaimana halnya karya sastra, atau seorang arkeolog yang memposisikan sebuah artefak batu ribuan tahun silam sebagai sebuah teks, begitu pula sebuah karya seni rupa sebagai sebuah produk budaya, kiranya dapat ‘dibaca’ dan dimaknai dalam kerangkanya sendiri.

Jika kita sepakat bahwa seni rupa dapat dibaca dan diperlakukan sebagai teks, maka kita juga harus bisa menerima ciri-ciri yang menandakan sebuah teks, salah satunya adalah intertekstualitas. Intertekstualitas adalah konsep yang menegaskan bahwa sebuah ‘teks’ (ia bisa saja berupa karya sastra, sebuah prasasti batu, sebuah repertoar musik, konstuksi arsitektur atau sebuah lukisan di galeri) tidak lahir dari kekosongan. Sebuah karya (teks) tidak muncul begitu saja, terlepas dari karya-karya yang telah ada sebelumnya (keterkaitan). Ia adalah tanggapan dari apa yang telah dan akan terjadi.

Keterkaitan antara satu karya dengan karya lain dapat dilihat dari banyak aspek, salah satunya adalah genre atau, dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, disebut aliran (meskipun dalam kasus tertentu kedua istilah ini tidak bisa dikacaukan). Salah satu aliran yang terkenal dalam khazanah seni rupa (khususnya seni lukis) Eropa adalah impresionisme. Impresionisme pertama kali muncul di Prancis pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia merupakan tanggapan atas aliran realisme dan naturalism (yang merupakan perkembangan dari aliran romantisisme) yang penuh aturan ketat dan norma-norma.

Setengah abad kemudian, seorang fotografer perempuan Amerika ternama keturunan Yahudi, Diane Arbus, menerapkan persepsi estetika yang kurang lebih sama dengan aliran impresionisme dalam seni lukis di Eropa yang ada lebih dari satu abad yang lalu. Perbedaan medium (lukisan dan fotografi) bukan merupakan halangan bagi intertekstualitas untuk dapat terus terjadi. Impresionisme, sebagai sebuah genre yang terlanjur dibaptis sebagai anak kandung modernisme, ternyata menyusup juga dalam ruang pos-modern melalui karya-karya fotografi Diane Arbus pada tahun 1960 hingga 1970-an.

Impresionisme

Louis Leroy, seorang kritikus seni, menggunakan istilah impresionisme untuk mengolok-olok sekelompok pelukis muda yang melakukan pameran di Boulevard des Capucines pada tahun 1874. Leroy seakan mendapat alasan untuk segera bersikap nyinyir terhadap karya-karya perupa muda itu, terutama ketika melihat lukisan karya Claude Monet berjudul L’impression soleil levant. Lukisan itu adalah sebuah landscape kabur dan buram tentang pergerakan matahari yang hendak terbit dengan perahu-perahu nelayan yang berlayar di atas permukaan sungai, serta cerobong-cerobong asap pabrik serta pemukiman padat di belakangnya sebagai latar.

l’impression soleil levant, Claude Monet, 1874

Tentu saja di mata seorang kritikus yang percaya sepenuhnya bahwa romantisisme (yang kelak melahirkan realisme pada pertengahan abad ke-19), dengan segala kaidah-kaidahnya yang ketat, adalah satu-satunya aliran yang layak disebut sebagai ‘seni’. Romantisisme dan realisme memang masih menjadi status quo yang tidak terbantahkan saat itu, di penghujung abad ke-19. Tidak hanya dalam dunia seni rupa, namun juga dalam wilayah seni yang lain seperti musik dan kesusastraan khususnya. Kritikus-kritikus seni pada saat itu sangat ketat dan teguh memegang prinsip-prinsip romantisisme dan realisme yang memuja detail dan tata aturan baik dari segi bentuk, garis bahkan hingga penentuan subjek apa yang boleh dan yang tidak untuk dilukiskan. Dan l’impression soleil levant, barangkali, menurut Leroy, adalah sebuah perbuatan iseng karya pelukis ingusan berusia 34 tahun macam Claude Monet. Lukisan itu tidak menawarkan pesona garis yang teratur dan kesempurnaan detail. Alih-alih ditempatkan dalam kategori estetik menurut ukuran di zaman itu, l’impression soleil levant seperti karya seorang pemuda yang baru belajar menggambar. Sangat sembrono, mengabaikan hukum-hukum romantisisme dan realisme yang menuntut detail yang tepat dan subjek-subjek yang bernilai dan berharga (dewa-dewa, raja-raja, peristiwa sejarah yang gemilang, kemenangan-kemenangan). Namun sebetulnya, diam-diam, ada yang sesungguhnya ingin dikatakan oleh Monet dan pelukis segenerasinya.

Istilah impresionisme yang pada awalnya adalah sebentuk olok-olok yang dilontarkan kritikus penjaga pilar konvensional kepada sekelompok perupa muda, justru digunakan oleh pelukis-pelukis muda itu, dalam pamerannya yang ketiga, sebagai identitas lukisan-lukisan mereka. Para pelukis muda itu adalah Edouard Manet, Camille Pissaro, Edgar Degas, Alfred Sisley, Paul Cézanne, Pierre-Auguste Renoir, Claude Monet (tentu saja), dan Berthe Morisot (satu-satunya pelukis perempuan dalam kelompok ini). Mereka saling mengenal sejak tahun 1859 dan kerap berkumpul di café Guerbois, Paris. Begitulah, sejarah ternyata adalah serangkaian antitesis terhadap tesis yang lain. Dan selalu ada alasan dalam setiap perlawanan.

Le déjeuner sur l’herbe, Edouard Manet, 1863

Beberapa tahun sebelum l’impression soleil levant dipamerkan dan mengundang ‘keributan’ di kalangan kritikus, Edouard Manet telah membuat sebuah karya yang dapat dikatakan cukup revolusioner pada masa itu. Le déjeuner sur l’herbe merontokkan sendi-sendi norma dan konvensi-konvensi baku dalam dunia seni lukis Prancis. Untuk pertama kalinya ‘ketelanjangan’ ditampilkan dalam cara yang baru, tanpa tedeng aling-aling. Seorang wanita telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhnya yang ranum duduk menemani dua orang pria yang tampak begitu terhormat (nobel) dengan setelan jas hitamnya. Mereka duduk-duduk beralaskan rumput dan menikmati ketenangan di bawah rindang pepohonan. Sementara di belakang mereka seorang wanita setengah telanjang dengan gaun putihnya yang menerawang sedang berjongkok di atas tanah, seolah mencari-cari sesuatu. Sang perempuan yang telanjang bulat itu tersenyum ke arah kita (penatap, penikmat lukisan) dengan tangan memegang dagu, seperti ikut terlibat dalam diskusi atau perbincangan serius antara kedua pria. Ketelanjangannya seolah bukanlah sesuatu yang membebani, justru membebaskan. Sementara itu, di sudut kiri lukisan, seperangkat peralatan makan siang (keranjang lengkap dengan panganannya: roti, buah-buahan) dibiarkan begitu saja berserakan. Seluruh isi keranjang tumpah ruah di atas rumput. Sebentuk ‘kekacauan’ kecil yang dibiarkan.

Le déjeuner sur l’herbe memang masih menampakkan pengaruh realisme yang cukup kuat melalui detai-detai lekuk tubuh manusia, dedaunan, pepohonan, permainan cahaya dan bayang, serta teknik lukis yang memiliki tingkat presisi yang tinggi (khas romantisisme). Tetapi bukan di situ pemberontakan yang ingin disampaikan. Edouard Manet berteriak melalui subjek lukisannya. Ia melemparkan gagasan yang brutal tentang ketelanjangan perempuan yang amat menusuk mata. Ketelanjangan perempuan di tengah taman, di tengah peradaban, di antara dua pria yang tengah berbincang (barangkali tentang politik, ekonomi, atau kesenian). Kita melihat ‘chaos’ dalam keranjang makanan yang berantakan dan bugil perempuan ranum, sekaligus ‘order’ melalui dua pria terhormat yang tengah berdiskusi, melalui pepohonan rindang dan ‘teratur’. Chaos dan order berada pada satu tempat.

Apa sebetulnya yang hendak dikatakan para pelukis impresionisme? Barangkali satu contoh lain dapat membantu. Pelukis impresionis Edgar Degas mengejutkan publik seni Prancis yang beradab itu dengan seri lukisannya bertema à la sortie du toilette (after the bath). Karya ini terdiri dari beberapa lukisan di atas kanvas dan sketsa di atas kertas yang seluruhnya menggambarkan wanita yang tengah mengeringkan badannya dengan handuk sehabis mandi. Kita tidak tahu wanita-wanita ini cantik atau tidak, sebab Degas menggambar tampak belakang. Yang kita tahu adalah tubuh perempuan itu begitu menusuk mata para pria. Mereka tidak sedang berpose dengan wajah penuh pulasan bedak dan bibir diolesi lipstick. Wanita-wanita itu hanya sedang sibuk dengan tubuhnya sendiri. Degas memaksa kita untuk menjadi seorang pengintip. Mengintip menjadi sesuatu yang begitu menggairahkan sekaligus mempreteli seluruh aturan tata susila yang dipegang teguh oleh sang pengintip. Penatap tidak lagi melihat suatu subjek dengan segala pretensi logika dan  intelektualitasnya yang ia anggap perkasa. Penatap berubah menjadi seorang pengintip yang dengan malu-malu, gentar, namun sangat bergairah, melihat sang subjek yang terpapar di depannya. Pengintip yang terhipnotis.

women at her toilette, Edgar Degas

Kita melihat subjek-subjek (manusia-manusia) yang bebas dan telanjang tanpa beban. Mereka tidak peduli dengan kita, para penatap yang telah menjadi para pengintip yang, jangan-jangan, dengan angkuh masih juga melihat segala hal dengan pretensi-pretensi yang siap menghakimi, intelektualitas normatif dan nilai-nilai susila yang terlanjur kita imani. Namun Degas membiarkan subjeknya tetap merayakan kebebasan dalam ruangnya sendiri dan menjebak kita dalam semacam voyeurism. Dalam Spartan girls provoking boys empat perempuan setengah telanjang dengan liarnya berhadapan dengan lima orang pemuda yang sepenuhnya telanjang. Keduanya berdiri di sisi yang berlawanan. Mereka seperti tengah berdebat dan saling mencaci untuk menunjukkan kekuatan masing-masing. Seorang pemuda dari kelompok pria merangkak seperti binatang di atas rerumputan, sambil menatap pada keempat perempuan. Mereka semua tampan, bahkan penis salah seorang pemuda yang berdiri dengan kedua tangan diangkat ke udara, digambarkan menggantung sempurna di pangkal pahanya. Kedua kelompok ini seakan siap menyerang dan bertarung. Namun, nun jauh di belakang mereka, sekelompok perempuan lain berbalut gaun mewah dan perhiasan megah. Kelompok yang ‘beradab’ ini digambarkan dengan goresan halus oleh Degas, membuatnya terlihat samar.

Spartan girls provoking boys, Edgar Degas

Seperti seorang anak kecil yang begitu terpesona melihat nyala lampu-lampu carousel di malam hari, seperti remaja tanggung yang untuk pertama kalinya menyaksikan film biru, kita pun terus berdiri menyaksikan pemandangan yang, dengan malu-malu tapi mau, terus kita nikmati. Ada gairah, sekaligus getaran-getaran yang menggugah. Getaran yang membuat kita gentar dan ingin sekali membalikkan badan sekaligus getaran yang menahan dan justru mengunci pandangan. Subjek-subjek yang sedang menanggalkan peradaban ini begitu nyamannya menikmati ketelanjangannya. Mereka tengah merayakan dirinya sendiri tanpa peduli bahwa sekerumun wanita berbudaya berbalut gaun mewah dan indah sedang asik dalam lingkaran peradabannya.

Demikianlah bahwa dalam impresionisme, kesan (impresi) adalah tujuan utama yang hendak dicapai oleh sang seniman. Teknik, metode, aturan dan detail tidak lagi menjadi perangkat utama, bahkan disingkirkan oleh para pelukis impresionis. Menatap lukisan-lukisan impresionis adalah menatap (atau menangkap) pergerakan atau laku spontan dari sang subjek, pergerakan yang tidak dibuat-buat. Perempuan yang menghanduki badan dan rambut sehabis mandi, sekelompok pemuda pemudi bugil di tengah landskap alam terbuka, adalah refleksi dari spontanitas itu. Gerakan-gerakan yang tanpa tendensi, terjadi secara alami. Barbar, tanpa bungkus aturan dan norma-norma. Seluruhnya dipaparkan, seluruhnya dirayakan, seluruhnya menyimpan kedalaman.

Diane Arbus

Motif yang sama juga terlihat dalam karya-karya fotografi Diane Arbus, seorang perempuan fotografer Amerika keturunan Yahudi.

Saat itu tahun 60-an, di mana Amerika tengah merayakan industrialisasi dan kapitalisasi kebudayaan. Negara adidaya itu sedang menyusun dirinya menjadi raksasa tunggal selepas Perang Dunia II. Masyarakat Amerika menjadi masyarakat aristokrat, penggila harta dan pemeluk agama katolik yang taat. Para istri disimpan dalam rumah, para suami bekerja mencari nafkah. Para istri melahirkan anak dan mengurusi mereka. Dan majalah-majalah wanita seperti Harper’s Bazaar menjadi hiburan utama di sela waktu senggang. Lembar-lembar halaman majalah-majalah itu dipenuhi oleh iklan fashion hingga mesin cuci dan setrika, dengan model-model berbalut riasan tebal dan senyum frontal yang begitu dibuat-buat. American dream menjadi ilusi yang dikonstruksi dalam kesadaran masyarakat, terutama di kota-kota besar, untuk menjadi warga Amerika yang ideal.

Diane mengabdikan diri pada keluarga dengan membesarkan kedua anaknya dan melayani sang suami, Alan Arbus, dengan menjadi fotografer di perusahaan jaket wool (bulu-bulu domba dan unggas) yang secara turun-temurun dipegang oleh keluarga Arbus di New York. Setiap hari ia harus memfoto perempuan-perempuan cantik berbalut jaket wool yang anggun dan berkelas. Foto-foto itu kemudian dimasukkan ke dalam majalah-majalah fashion (salah satunya adalh Harper’s Bazaar) dan dikonsumsi oleh wanita-wanita di seluruh penjuru Amerika. Diane muak dengan apa yang ia lakukan, ia muak menjadi bagian dari konstruksi ilusi yang didukung oleh industri tekstil jutaan dolar. Ia tertekan karena begitu sering memfoto model-model bertubuh sempurna dengan senyuman indah namun, di mata Diane, begitu palsu. Dapat dibayangkan bahwa iklan-iklan mode pada masa itu adalah para model ‘sempurna’ dalam balutan busana rancangan terbaru yang berpose di hadapan lensa kamera. Wajah dan senyum mereka begitu cemerlang terpapar secara sangat banal. Sungguh artifisial. Dan dapat dibayangkan pula perasaan seorang perempuan seperti Diane yang diam-diam menyimpan kegelisahan besar dalam dirinya, juga kelelahan. Lelah berada di bawah baying-bayang suami, lelah setiap hari mengurusi anak-anak, lelah setiap kali memasang senyum menyambut tamu-tamu dan buyer dalam setiap peragaan busana di rumah mertua, lelah menghadapi senyum-senyum dan pose para model di depan kamera. Ia menginginkan sesuatu.

Iklan salah satu merek bir di Amerika tahun 60-an

Iklan mobil di Amerika tahun 60-an

Ada keterasingan yang dirasakan oleh Diane di tengah segala ‘kesempurnaan’ ini. Suami yang baik, anak-anak yang manis, keluarga besar yang terhormat, kesejahteraan yang melimpah. Diane kerap menyingkir dari keramaian setiap kali peragaan busana, setiap kali ada perayaan besar di tengah keluarga dan segenap kolega terhormat di seluruh penjuru New York. Dengan bekal pemahamannya akan teknik-teknik fotografi yang ia pelajari dari sang suami dan sebuah kamera, ia mengendap-endap keluar dari apartemennya. Ia mengunjungi ‘teman-temannya’ untuk berdiskusi, berbagi cerita dan tentu saja mengambil foto mereka dalam kondisi yang tidak dimanipulasi, apa adanya.

A naked man being a woman, New York, 1968

‘Teman-teman’ Diane adalah mereka yang marginal di tengah masyarakat aristokrat kapitalis New York yang membungkus segalanya dengan norma susila. Diane mengunjungi ‘teman-teman rahasianya’. Mereka adalah pria transeksual, orang-orang cacat, pelacur-pelacur dan mereka yang ‘disembunyikan’ dalam masyarakat. Foto-foto Diane seolah menyimpan muatan-muatan impresionisme yang telah digagas oleh para pelukis Prancis lebih dari setengah abad silam. Subjek-subjeknya berbicara tanpa pretense, memaksa kita untuk memalingkan pandangan karena gentar oleh semua yang menekan dan menyakitkan ini, tetapi di saat yang sama, ia mematri mata kita untuk terus menatap. “Photograps tend to diminish and atomize experience. They inure us, through repetition, to horror. They protect us, and distance us, from the valuable anxiety of unfamiliar places and situations”.

Diane kadang menghabiskan waktu berhari-hari untuk tinggal bersama subjek-subjek fotonya. Ia ikut menyelami arena di mana subjek-subjeknya hidup, ia rasakan dan hayati keseharian mereka, dan dengan naif meminta mereka untuk berpose begitu rupa, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Tanpa perencanaan dan metode, tanpa konsep estetik yang dipikirkan secara matang, Diane bekerja mengabadikan subjek-subjeknya secara intuitif. Wajah dan tubuh subjeknya terpapar secara penuh di depan lensa. Berhadapan dengan foto-foto Diane kita seperti berhadapan dengan sesuatu yang asing dan liar, namun menjerat dan menghipnotis. Impresi emosional serta-merta berkelindan dalam pandangan. Gentar, takut, mual bercampur di saat yang sama. “Everything that seems weird to us is, at the same time, familiar” ucap Sigmund Freud.

Diane merekam segala yang asing, segala ‘yang tidak indah’, ‘yang tidak estetik’ menurut konvensi masyarakat. Ia tidak berpretensi apapun selain menempatkan segala yang asing dan liar itu dalam perspektifnya sendiri. Hampir sebagian besar subjek foto Diane berpose sedemikian rupa dengan mata menatap penuh ke arah lensa, menatap kita, sang penatap yang perlahan berubah menjadi sang pengintip ini (voyeur) dan mulai kehilangan pijakan normatif. Pagar-pagar susila yang kita pegang lantas menjadi begitu relatif, bahkan mungkin ditinggalkan, ketika yang kita hadapi adalah sesuatu yang sebetulnya tidak pernah ingin kita lihat namun entah mengapa terpapar di hadapan kita, dan kita terus memandangnya.

Seated man in a bra and stocking, New York, 1960’s

Di dalam apartemen mereka, Diane menyaksikan sendiri tubuh-tubuh itu bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Pemuda tampan di atas begitu nyalang menatap ke arah kamera, dengan tatapan sinis dan menelanjangi kita, sang pengintip yang berdiri di hadapannya. Ia jelas sangat nyaman dengan lingerie berbahan brokatnya, dengan stocking transparan dan sepatu high heels-nya. Kita begitu berjarak sekaligus teramat dekat dengan sang subjek. Sebagaimana kita menatap perempuan-perempuan dalam lukisan Edgar Degas yang tengah menghanduki tubuhnya sehabis mandi. Foto-foto Diane adalah karya metanarasi. Ia tidak hendak bertutur. Ia hanya ingin menyuguhkan subjek-subjek yang terfragmentasi dalam dunia dan ruangnya sendiri-sendiri.

Diane juga memotret anak-anak kecil yang menangis dan menjerit kejar, dengan air mata mengalir tumpah, dengan ingus berleleran dari hidung bercampur dengan liur. Anak-anak itu juga menatap kita melalui lensa kamera. Seolah membiarkan tangis dan deritanya kita nikmati dan apresiasi dengan berbagai perangkat teori estetika seni rupa. Diane tercatat pernah memfoto beberapa pasang anak kembar siam yang sangat identik. Diane memainkan persepsi kita dengan menjajarkan beberapa manusia yang berbeda sekaligus sama dan identik secara fisik. Dengan tatapan yang juga mengandung impresi-impresi tertentu yang tidak bisa dijelaskan. Diane juga memotret serombongan sirkus (kaum gypsy yang menurut kaca mata peradaban barat dianggap tidak beradab, nomaden, percaya pada takhayul dan tentu saja, pengumbar syahwat).

Mother holding her child, New Jersey, 1967

Anak-anak itu juga menatap kita melalui lensa kamera. Seolah membiarkan tangis dan deritanya kita nikmati dan apresiasi dengan berbagai perangkat teori estetika seni rupa.

Identical Twins, New Jersey, 1967

Diane memainkan (atau mengacaukan?) persepsi kita tentang kenyataan empiris dengan menjajarkan beberapa manusia yang berbeda sekaligus sama dan identik secara fisik, kepastian menjadi begitu relatif.

Intertekstualitas Lintas Zaman

A family one evening in a nudist camp, Pensylvania, 1965

Le déjeuner sur l’herbe, Edouard Manet, 1863

Kerja kreatif Diane tidak berhenti di tengah kota New York. Ia mengunjungi ‘teman-temannya’ di luar kota, seperti kaum nudis di Pensylvania. Mereka memiliki komunitas di mana seluruh anggotanya tidak berpakaian dan menikmati ketelanjangan. Serta-merta lukisan Manet satu abad yang lampau menjadi begitu relevan. Lukisan Manet yang semula kita kira hanya sebuah pemberontakan pada tahap wacana di atas kanvas, menjadi begitu nyata di pertengahan abad ke-20. Ia ada di tengah-tengah masyarakat Amerika yang konon beradab.

Perbedaan medium (lukisan dan fotografi) bukan merupakan halangan bagi intertekstualitas untuk dapat terus terjadi. Impresionisme, sebagai sebuah genre yang terlanjur dibaptis sebagai anak kandung modernisme, ternyata menyusup juga dalam ruang pos-modern melalui karya-karya fotografi Diane Arbus pada tahun 1960 hingga 1970-an. Tentu dalam bentuk-bentuknya yang baru.

“I always thought of photography as a naughty thing to do, that was one of my favorite things about it, and when I first did it, I felt very perverse” (Diane Arbus)


Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement