Categorized | EVENT

Dicari (Segera): Kurator Seni Serat

Posted on 30 March 2010 by jarakpandang

“Indonesia belum memiliki kurator seni serat yang kredibel. Perkembangan seni serat lokal masih dinilai stagnan, benarkah pencarian seorang kurator seni serat adalah sebuah urgensi?”

Pada acara pembukaan pameran “Indonesia Contemporary Art” di Galeri Nasional (16 Juni 200) saya berjumpa dengan beberapa teman kuliah dari kampus, salah satunya yaitu Aul. Aul adalah junior saya di program studi kriya tekstil. Pada kesempatan itu kami sempat membicarakan beberapa hal sampai akhirnya ia mengutarakan idenya mengadakan pameran seni serat dengan skala sedang di Bandung. Tentu saja saya cukup antusias mendengar idenya tersebut.

“Ya, ayo lah, Ul! Adain aja kalo gitu.”

“Tapi belum ada kurator yang pas, Mi.”

Belum ada kurator yang pas. Hm…, rasanya jadi ikut bingung.

Saya mengerti maksud Aul. Kalimat “belum ada kurator yang pas” mengandung arti  bahwa Indonesia belum memiliki kurator berbasis seni serat yang cukup kredibel untuk menyajikan kuratorialnya dengan menggunakan pendekatan yang basisnya sesuai dengan bidang seni serat.

Masalah serupa pun pernah terjadi saat rekan-rekan saya hendak menyelenggarakan “The 6th Asia Fiber Art Exhibition” di Bentara Budaya Jakarta, tahun kemarin. Kegiatan ini memiliki skala yang cukup besar karena melibatkan puluhan seniman dari 5 negara di Asia: Jepang, Korea Selatan, Cina, Malaysia, dan Indonesia. Pada akhirnya pameran ini tetap berjalan tanpa ada pengantar kuratorial dari siapapun karena alasan yang serupa, “belum ada kurator yang pas”.

Lantas, apa yang sesungguhnya diharapkan dari seorang kurator yang dianggap layak memberikan pengantar pada suatu pameran seni serat? Tentu saja diharapkan ia adalah seseorang yang konsisten bergerak di bidang seni serat, atau konsisten berkarya dengan menggunakan media atau teknik pengolahan tekstil.

Seni serat berkaitan dengan suatu karya yang memanfaatkan serat, baik berupa material, sifat, dan cara pengolahan sebagai gagasan utamanya berkarya. Serat pada umumnya berkaitan dengan benang, kain, dan kertas. Dalam perkembangannya yang progresif, pengertian dan bentuk fisik serat tak lagi terbatas hanya pada benda-benda tekstil yang sudah umum diketahui. Kini suatu serat dapat berupa kawat, helaian rambut, atau media lainnya yang memungkinkan disebut sebagai serat.

Kita mengenal istilah tenun, ikat, tie-dye, sablon, anyam, dan batik sebagai bentuk teknik pengolahan seni serat. Eksekusi pengolahan teknik serat memang perlu diakui membutuhkan pengalaman tersendiri untuk memahami tingkat kerumitan pembuatannya. Nilai “lebih” suatu karya seni serat bergantung pula pada aspek teknik pengolahan tersebut, selain aspek gagasan, tema, hasil visual, dan beberapa hal lainnya.

Sayangnya pelaku seni serat di Indonesia masih terbatas jumlahnya, dan hanya beberapa orang saja yang benar-benar menyatakan (dan dinyatakan) sebagai seniman serat. Misalnya Biranul Anas, Tiarma Sirait, Caroline Rika, dan Abdul Syukur. Sedikitnya penggiat dalam bidang seni serat menyebabkan masih terbatasnya eksplorasi dari seni serat itu sendiri, dan tentu menjadi salah satu faktor mengapa kurator seni serat sulit ditemukan.

Karena sedikitnya seniman serat, kegiatan pameran (khusus) seni serat pun jadi jarang ditemui di Indonesia. Hal ini tentu sangat mempersempit kemungkinan seseorang untuk berlatih menjadi kurator pameran seni serat. Tak ada pameran ya berarti tak ada kuratorial.

Beberapa penggiat seni memang pernah menjadi kurator bagi pameran seni serat. Misalnya Aminuddin TH Siregar untuk “Posting Fiber” (12-21 Januari 2005, Bentara Budaya Jakarta) dan Sujud Dartanto untuk “Textstyle” (14-21 Juni 2009, Bentara Budaya Yogyakarta). Bukannya tidak boleh untuk mengundang kurator yang berasal dari disiplin lain dalam seni rupa, sah-sah saja selama kurator tersebut (setidaknya berusaha) menyajikan kuratorialnya dengan pendekatan seni serat. Tapi publik penggiat seni serat harus mau bersikap lebih peka menanggapi perkembangan wacana seni serat. Apakah harus selalu mengandalkan pertolongan mendadak dari bidang seni lain ketika membutuhkan seorang kurator?

Dengan semakin biasnya pengklasifikasian seni dalam perkembangan senirupa kontemporer, perlu dipertanyakan apakah kita benar-benar membutuhkan seorang kurator seni serat. Seakan remeh, dan seakan tak perlu diributkan lebih lanjut karena sudah ada banyak kurator lain yang lebih berpengalaman, dan tentu saja dapat “dikondisikan” menjadi kurator seni serat.

Kalau begitu, apa pula pentingnya peranan seorang kurator seni serat?

Pada umumnya tugas seorang kurator yaitu bertanggungjawab atas akuisisi dan fisik karya itu sendiri. Keputusan dan masukan yang berkaitan dengan karya, misalnya urutan display dan penetapan karya mana yang akan tampil dalam suatu pameran, ditentukan pula oleh kurator.

Keterlibatan seorang kurator lebih jauh pada pameran seni serat misalnya dengan memberikan masukan-masukan kreatif bagi pameran tersebut. Yves Sabourin saat menjadi kurator pameran seni serat dari Prancis, “Métissages” (22-27 Oktober 2007, Selasar Seni Sunaryo, Bandung. 8-23 November 2007, Museum Nasional, Jakarta), mengusulkan untuk mengikutsertakan beberapa karya seni serat bernuansa lokal ke dalam pameran tersebut. Dan kemudian bersandinglah kain penutup mayat dari Papua dengan “Burqa” karya Ghada Amer di pameran yang sama.

Indonesia sangat kaya akan tradisi yang berkaitan dengan seni serat, tak akan ada habisnya bila harus menyebutkan satu persatu kekayaan tekstil tradisional Nusantara. Sebutlah batik, kain tenun ulos, kain plangi, anyaman bambu, dan lain sebagainya. Pada kondisi tertentu, suatu seni tradisi dapat berubah maknanya menjadi kerajinan rakyat. Harus ada persepsi yang mampu membedakan mana yang disebut sebagai seni serat dan mana yang disebut sebagai kerajinan. Hal tersebut merupakan salah satu kajian bagi seorang kurator seni serat.

Pada saat pameran “Métissages”, karya lokal lain yang ikut dipamerkan juga adalah “Disposable Gucci” (2007) karya Wiyoga Muhardanto dan “Naïve” karya perancang busana Harry Dharsono. Karya milik Wiyoga tampil dalam rupa suntikan-suntikan yang dibalut rapi oleh kain khas buatan Gucci. Sedangkan karya milik Harry Dharsono adalah sebuah pakaian yang penampilannya diperkaya dengan berbagai aplikasi teknik reka latar pada kain, seperti teknik bordir, sulam, dan celup-rintang, yang komposisinya dibuat sangat bebas.

“Disposable Gucci” sebagai karya seni serat sudah sangat terlepas dari tuntutannya sebagai benda pakai. Di luar Indonesia, misalnya di Jepang dan Korea, karya seni serat sudah bisa berdiri sendiri sebagai elemen estetis, tanpa embel-embel “benda pakai”. Dan anehnya karya-karya tersebut tidak mengalami degradasi kualitas dan martabat meskipun tidak lagi mengemban misi tradisi.

Keterlepasan tersebut adalah pencapaian yang masih sulit diupayakan oleh karya seni serat di Indonesia. Berbeda dengan suntikan yang didandani menyerupai produk buatan merek terkenal tersebut, “Naïve” masih sangat dipengaruhi aspek fungsionalnya sebagai benda pakai. Seni serat masih sering terbentur oleh kepentingan “aspek fungsional”, menandakan eratnya kaitan seni serat dengan seni tradisi. Setidaknya itulah fenomena yang terjadi di Indonesia: stagnan akibat berbenturan dengan kepentingan tradisi.

Mengingat panjangnya sejarah seni serat di Indonesia, ada baiknya publik yang berkecimpung di wilayah seni serat mulai membiasakan diri untuk membaca kembali perjalanan tradisi dan budaya seni serat dari masa lampau hingga ke perkembangannya di masa sekarang. Dan tentu saja tabu untuk menutup diri hingga melupakan pengamatan terhadap perkembangan yang sedang terjadi. Hal ini perlu dilakukan setidaknya untuk membangkitkan jiwa kuratorial bagi diri sendiri. Lebih baik lagi bila kemudian mau meneruskan menjadi kurator seni serat yang sedang dicari.

Ada keragu-raguan antara memantapkan posisi seni serat itu sendiri di dunia seni rupa lokal, atau urgensi dicarinya kurator seni serat. Tapi beberapa pameran sudah terlaksana meskipun seni serat belum sepenuhnya diakui sebagai bagian dari seni rupa. Pameran-pameran berikutnya akan terus ada meskipun masih dalam rencana. Dan sebuah pameran membutuhkan seorang kurator, itu pasti.

Bila berminat hendak menjadi kurator seni serat, mungkin ada baiknya bila Anda segera berlatih membuat pengantar kuratorial bagi beberapa pameran seni serat. Mungkin Anda bisa mengajak rekan-rekan seniman untuk mencoba menggunakan tekstil sebagai media berkarya dan kemudian mengadakan pameran bersama. Tentu saja Anda harus memiliki pengalaman yang konsisten agar dapat diakui sebagai kurator yang kredibel.

Bagaimana? Tertarik menjadi kurator seni serat?


Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement