Crash! : Image Factory

Posted on 01 June 2010 by jarakpandang

Oleh : Ibnu Rizal

Kota dan ruang yang kita tinggali ini, menyuguhkan begitu banyak kegaduhan, kebisingan. Segala gambar dan segala getar terpapar dalam hiruk-pikuk yang begitu cepat.

Setiap hari, imaji-imaji berbenturan di kepala, menari-nari, membelah diri, juga suara dan segala bunyi, meledak, beranak-pinak. Kita saksikan dalam sekotak televisi sebuah acara pidato presiden dapat segera tergantikan dengan jerit-tangis acara reality show, kemudian gelak tawa para penonton menyaksikan acara komedi murahan, kemudian suara ledakan dari sebuah liang kubur yang menganga dan pocong yang bangkit dari dalamnya, kemudian iklan operator selular lokal yang menampilkan band-band yang tengah digandrungi, kemudian pekik khotbah sebuah acara tabligh akbar yang disiarkan secara langsung, kemudian isak tangis para jamaah dalam alunan muhasabah, kemudian iklan kontrasepsi rasa stroberi, kemudian kita mendapati betapa segala imaji, segala bunyi begitu kehilangan kendali.

Crash Project : Image Factory, pameran kolektif 20 seniman muda yang dikuratori oleh Asmudjo Jono Irianto (berlangsung di Galeri SIGIarts, 13-28 Maret 2010), dengan segenap kesadaran para senimannya, memang hendak mereproduksi dan meredefinisi imaji-imaji yang berserakan di ruang-ruang yang kita akrabi.


Crash! Sebagaimana sebuah tabrakan, sebuah benturan, proses kreatif sebagian besar seniman yang terlibat dalam pameran ini tidak lebih dari dua minggu. Kurator Asmudjo nampaknya sengaja menantang para seniman memproduksi karya dalam kurun waktu secepat itu untuk melahirkan spontanitas. Tak ada yang salah dengan itu. Ketika sebuah imaji dapat dihasilkan oleh sebuah kamera dalam waktu kurang dari satu detik. Ketika setiap hari kita dipaksa melihat segala gambar dan citraan di sebuah persimpangan jalan (billboard iklan pendingin ruangan, iklan obat kuat, kertas ukuran A4 fotokopi pencarian orang hilang hingga kampanye calon anggota legislatif) di segala penjuru, sejauh mata memandang, dan keesokan harinya seluruh imaji itu dengan cepat berganti. Ketika seorang anak kecil yang bahkan belum bisa membaca aksara pun dapat menggunakan kamera dari blackberry orang tuanya. Maka project ini pun dengan segera mendapatkan relevansinya. Manusia abad XXI adalah manusia yang hidup dalam dunia citraan, dunia imaji, baik yang ada di ruang publik maupun di ruang privat.

Karya-karya (foto) dalam pameran ini diharapkan dapat memicu kesadaran publik mengenai kondisi dan risiko dominasi citraan dalam kebudayaan masa kini—yang terutama dikendalikan oleh kapitalisme. Sudah sepantasnya seniman-seniman (fotografi) berada di garis depan menjadi barisan yang ‘membangunkan’ dan menyadarkan publik mengenai beragam persoalan dalam kebudayaan masa kini yang cenderung dikendalikan oleh citraan.” –Asmudjo Irianto, kurator pameran

Pameran ini didominasi oleh medium fotografi karena kurator memang hendak menyampaikan tesisnya bahwa ‘fotografi adalah tulang punggung produksi citraan dalam kebudayaan visual’. Namun demikian tiga seniman yang terlibat (Davy Linggar, Hafiz dan Henry Foundation) menggunakan video untuk menyampaikan gagasannya untuk project ini. Di samping sebagai tulang punggung produksi dan reproduksi citraan dalam kebudayaan visual hari ini, fotografi juga bersekutu dengan teknologi cetak digital (digital printing) yang mendominasi hampir seluruh praktik visual di ruang publik. Cetak digital menjadi teknik yang nyaris mutlak mendominasi, khususnya untuk praktik periklanan (baliho, billboard, x-banner, neon box, kaos, stiker, spanduk, poster dan sebagainya) dalam skala yang masif. Dari mulai produk susu kental manis, billboard iklan perumahan tipe minimalis di sebuah kota baru, hingga kampanye pilkada di sebuah kecamatan terpencil di Wamena.

Crash! Foto

Fotografi dengan segala perkembangannya menjadi sorotan. Melalui Crash Image, diperlihatkan betapa batas-batas pengklasifikasian fotografi yang rigid semakin lama semakin cair. Dengan hadirnya teknologi digital yang memungkinkan siapapun memanipulasi segala hal, maka fotografi dengan segala jenisnya, pantas untuk mengalami redefinisi. Seperti dalam karya Agan Harahap (Mes 56, Yogyakarta), fotografi jurnalistik yang bermuatan politik disusupi oleh tokoh-tokoh komik. Kita melihat foto Fidel Castro yang tengah berpidato di Washington D.C. pada tahun 1959 bersama Batman yang berdiri tegap di belakang pemimpin Kuba itu. Lalu sosok tokoh komik Captain America yang tengah menemani Heinrich Himler, seorang petinggi Nazi, melakukan inspeksi di sebuah kamp tahanan perang di Rusia pada Perang Dunia II, keduanya terlihat begitu akrab. Atau sosok Superman yang berpose di tangga kastil Meunschwanstein (kastil ini digunakan tentara Nazi untuk menyimpan benda-benda seni dari tiap-tiap negara yang dikuasainya). Superman berpose gagah di antara dua tentara Amerika yang tersenyum penuh kemenangan seraya memamerkan dua buah karya lukisan klasik terkenal dari Prancis yang dirampas dan disembunyikan Nazi ketika mengokupasi negara itu.

Melalui ketiga foto hitam putih ini, Agan Harahap telah mendemistifikasi narasi-narasi besar dalam sejarah dunia abad 20, membuatnya sebagai lelucon yang sarat kritik, menggelitik. Hal ini hanya dimungkinkan oleh hadirnya teknologi digital dalam praktik fotografi kontemporer. Maka kemudian realita sejarah bisa menjadi teramat lentur.

Perkembangan teknologi dan jarak waktu yang terbentang jauh dari sebuah peristiwa sejarah mengizinkan para generasi yang tidak bersentuhan langsung dengan peristiwa itu bisa ‘bermain-main’ dengannya. Mes 56, salah satu komunitas yang gemar ‘bermain-main’ itu, pernah melakukan hal yang sama beberapa waktu sebelumnya. Kita mengingat apa yang dilakukan oleh Wimo Ambala Bayang (salah satu seniman dari Mes 56) pada pameran Zona Cair di Jakarta Biennale XIII tahun 2009 lalu. Siapapun yang memasuki pintu masuk gedung utama Galeri Nasional Indonesia pada pameran itu pasti akan tergelitik oleh serangkaian seri foto berjudul ‘Belanda Sudah Dekat!’. Kita saksikan beberapa panel foto berukuran 100 x 100 cm menampilkan sosok-sosok manusia Indonesia yang siaga memegang pistol-pistol air dengan mata menantang kamera, menantang kita dan Belanda. Subjek-subjek itu datang bukan dari kalangan militer, melainkan dari masyarakat sipil: ibu-ibu anggota kelas aerobik, pemuda-pemuda pemuja otot di sebuah gym, para istri purnawirawan, keluarga petani, anak-anak punk hingga sosok-sosok superhero Jepang.

Karya ini menarik kembali narasi tentang sejarah pergerakan nasional Indonesia menantang penjajahan asing (narasi yang barangkali telah hilang dari ingatan kita). Sebuah romantisme nasionalis tentang kesiagaan kolektif dari masyarakat sipil yang ditarik ke dalam kerangka kontemporer. Mes 56 tampaknya belum puas mengeksploitasi kekayaan bahasa visual fotografi kontemporer yang sangat lentur dan mengaitkannya dengan narasi-narasi sejarah yang kaku, mengerikan dan hampir usang, sambil tetap bermain-main di antara dua tegangan itu.


Crash! Video

Di samping memporak-porandakan citraan fotografi, beberapa seniman dalam pameran ini juga memanfaatkan citraan-citraan elektronik. Ade Darmawan menggunakan beberapa dokumentasi footage; acara berita televisi tentang persidangan kasus kriminal di facebook dan sepotong adegan yang sangat ikonik dalam sinetron Indonesia: ekspresi wajah aktris Ully Artha yang tengah membelalak marah dengan mulut terbuka dan mata menatap nyalang. Gambar-gambar bergerak ini kemudian dibekukan (semudah kita menekan tombol ‘pause’ pada remote DVD) dan dengan apa adanya dipindahkan ke dalam medium cetak. Maka yang terlihat adalah sebuah gerak-gerik yang mampat, mati, pada layar televisi. Pemindahan citraan sedang berlangsung di sini: citraan bergerak (televisi) menjadi citraan diam (fotografi). Paras wajah Ully Artha pun menjadi buram seperti raut yang samar karena dibekukan ketika kepala aktris dalam sinetron itu sedang bergerak barangkali dengan sangat cepat, barangkali juga dengan penuh amarah. Dalam karya yang berjudul Grid Cell Topology ini diperlihatkan empat buah citraan yang berasal dari footage acara-acara televisi itu diletakkan secara simetris, seperti serangkaian montase dalam sebuah bidang. Kita seperti menyaksikan monitor CCTV yang menayangkan empat visualisasi dari empat buah kamera yang berbeda, di saat yang sama.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Reza Afisina dalam karyanya yang berjudul It could be it. Di sini ia membekukan momen dalam sebuah adegan live streaming pada layar monitor laptop Mac. Ia tidak hanya mencetak citraan yang terpapar pada ‘video’ tetapi juga keseluruhan tampilan pada layar monitor laptop (termasuk menu-menu program media player yang membingkai tampilan itu). Ada dua hal yang menarik di sini: pertama, pilihan Reza untuk meletakkan seluruh tampilan pada layar monitor (alih-alih hanya mencomot ‘adegannya’ sebagai subjek tunggal karya), kedua, subjek yang ditampilkan itu sendiri. Pada layar monitor dipaparkan bagian perut, pusar seorang perempuan yang hendak mengangkang di hadapan kita. Perempuan itu (yang tidak kita tahu siapa) telanjang di atas ranjang, pada sebuah kamar. Sebuah ruang privat. Citraan ini segera mengingatkan kita pada teknologi web-cam yang mampu menyusup ke ruang-ruang paling privat manusia, yang dengannya kita dimungkinkan untuk menjadi seorang exhibitionist, juga seorang voyeurist. Melalui karya It could be it, Reza Afisina seperti ingin mencolok mata publik dengan sepenggal realitas virtual yang privat, yang intim.

Realitas virtual kembali diporak-porandakan oleh Henry Foundation. Dengan menggunakan film Gitar Tua (1977) yang dibintangi oleh Rhoma Irama dan Yati Octavia sebagai bahan dasar, permainan audio-visual pun dilakukan. Henry Foundation memanipulasi kembali potongan-potongan scene. Ia membuat repetisi pada titik-titik tertentu dari sebuah adegan, menjadikan adegan itu kehilangan substansinya. Misalnya, adegan di mana sang protagonis raja dangdut Rhoma Irama memainkan gitar di hadapan Yati Octavia, adegan yang semula diniatkan romantis (dan memang demikian bagi sebagian orang), menjadi adegan yang sangat komikal dan ganjil karena Henry memainkan aspek sonor (suara) Rhoma Irama dengan melakukan pengulangan, juga stakato (keterputusan, penghentian) pada bagian tertentu. Kita pun tidak lagi mendengarkan senandung merdu sang raja dangdut, melainkan sebuah gumaman, sebuah igauan yang dinyanyikan dengan cara yang aneh, dan kita melihat tante Yati Octavia yang tersipu-sipu malu, juga dengan cara yang tak kalah ganjil. Melalui karya video art berjudul Fantastic Loop (2009, 08:12) ini, Henry Foundation memfragmentasi adegan-adegan dalam film yang tadinya utuh dan tertata (order). Hal ini membuat kita memikirkan ulang kemungkinan-kemungkinan baru tentang kekacauan atau kerusakan aspek visual dan aspek sonor pada medium film.

Citraan-citraan bergerak menjadi begitu riuh dan kompleks pada karya video Hafiz berjudul Watch Yourcode Today (2010). Melalui dua layar monitor televisi yang dipasang secara paralel, kita melihat serangkaian gambar memenuhi layar. Betapa tiap-tiap citraan membesar dan mengecil, bergerak vertikal horizontal. Betapa tiap-tiap citraan seakan berebut tempat pada layar monitor yang kecil dan sesak. Betapa mata kita diberondong dengan berbagai imaji. Kita melihat wajah teroris Amrozi dalam medium close up pada sebuah acara wawancara televisi, kemudian sepasang wajah pengantin yang tersipu merona dari video kawinan, gadis belia yang berpose mematut-matut diri di hadapan kamera 3G ponselnya, seorang Biksu yang berceramah di hadapan umatnya, dan berbagai citraan lain yang datang dari konteks yang berbeda-beda. Semua bertumpuk pada satu layar yang sempit.

Citraan-citraan video itu berukuran kecil, bergerak, berdesak-desakan. Jika kita memandang dua monitor ini dari jarak dua meter, kita seperti melihat geliat bakteri melalui mikroskop.

Dot. Foto. Video.

Untitled (2010) karya fotografer Indra Leonardi berhasil mengacaukan persepsi optik penglihatan kita. Dengan sengaja ia memburamkan subjek fotonya: seorang perempuan yang sedang berpose di tengah ruangan. Kekacauan fokus pandangan ini akan menjadi semakin parah apabila kita mendekati foto berukuran 110 x 140 cm. Semakin kita mendekati gambar, semakin kita menyadari bahwa betapa sebuah citraan visual pada akhirnya hanyalah sekumpulan titik yang tercerai berai, memadat, tak bermakna. Sebuah dot.

Demikian halnya yang dilakukan oleh kelompok Tromarama yang dikenal dengan karya-karya animasi dan stop motion-nya. Pada karya video berjudul Format Ulang (2010) Tromarama secara ekstrim memberikan titik-titik besar pada layar monitor berukuran kecil yang diletakkan di atas meja kayu. Titik-titik yang terserak secara teratur itu kemudian menghasilkan spektrum warna yang berganti-ganti. Ketika kita melihatnya pada sebuah jarak, dan mata kita bisa cukup jeli, maka akan terlihat citraan video yang bergerak di sana, di atas titik-titik itu. Sekali lagi, kita pun akhirnya kembali diingatkan bahwa sebuah citraan video, pada akhirnya hanyalah sekumpulan titik yang berpendar. Dimas Arif Nugroho juga melakukan hal yang sama pada wajah Bung Karno. Karya berjudul National Hero #1 ini memperlihatkan susunan titik-titik matriks yang membentuk wajah sang proklamator.

Pemulung

Pada acara diskusi yang diadakan di waktu pembukaan pameran, Ade Darmawan, sebagai salah satu pembicara, mengatakan bahwa teknologi telah mengubah cara masyarakat dalam memandang sebuah citraan, sebuah kreasi visual. Kini apa yang kita lihat sehari-hari adalah reproduksi dari apa yang telah ada sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini, pada akhirnya seniman hanya menjadi ‘pemulung’ yang mengumpulkan kembali citraan-citraan yang berserakan di arena pertarungan visual tak berbatas ini, untuk kemudian menghadirkannya kembali kepada masyarakat, kepada publik. Dengan cara inilah, sebagaimana yang disampaikan Asmudjo pada catatan kuratorialnya tentang fungsi seniman dalam konteks seperti ini, seniman dapat menjalankan tugasnya dalam membangunkan dan menyadarkan publik mengenai beragam persoalan dalam kebudayaan masa kini yang cenderung dikendalikan oleh citraan. Di sisi lain, demokratisasi kesenian juga terjadi secara paralel. Siapapun berhak menggunakan dan memanfaatkan kemajuan teknologi yang memang diproduksi secara massal. Pada titik inilah kemudian pameran ini mencoba memberikan tempat bagi masuknya kemungkinan-kemungkinan baru pada bentuk-bentuk yang selama ini dianggap vulgar, banal, untuk masuk ke dalam lapisan pembacaan dan  pemaknaan yang lebih jauh.


Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement