Covergirl Dar(l)ing: Dari Ikon Budaya Pop Hingga Penjahat Perempuan

Posted on 20 July 2011 by jarakpandang

Oleh Ratih Sukma

Lebih dari sekedar kulit cangkang jejalan kata-kata dalam tulisan, sampul majalah merupakah salah satu tonggak kultur visual yang berperan kuat dalam penciptaan makna dan emblem sikap hidup, sebuah pernyataan visual atas kecantikan atau faktor gegar, semacam kartu pos dari sebuah dunia asing yang menggairahkan[1]. Masyarakat membeli majalah karena ingin menjadi bagian dari dunia yang dikonstruksikan, dan diam-diam berharap seni sampul muka dapat menyalurkan mimpi-mimpi tiap-tiap pembacanya.

Sampul majalah juga dapat dilihat sebagai sebuah teks yang berpotensi menyibak sebuah fenomena kompleks (Halliday dan Matthiessen, 2004: 3) dan memberikan potongan momen sejarah kebudayaan. Segala negosiasi medium tercipta karena sifat bawaannya yang disposable dan mengharuskannya terjual sesegera mungkin. Elemen visual dalam cover kemudian menjelma sebuah guna-guna yang merasuki pembaca untuk memilih pengunci hatinya di antara jejalan warna-warni produk cetak yang terpampang di rak kios-kios atau lapak majalah kaki lima ini. Mau tak mau, idiom don’t judge the book by it’s cover jadi termentahkan.

Kita patut berterima kasih pada penemu proses cetak dry-plate yang meretas jalan bagi perusahaan majalah untuk mencetak gambar dan foto dalam suatu lembaran pada tahun 1909. Bayangkan kalau sampai sekarang sampul halaman hanya berupa tulisan tangan semacam daftar isi, sebagaimana yang terjadi sebelum alat tersebut ditemukan. Booming media cetak juga tak akan semarak tanpa Industri Gambar Bergerak/Motion Picture, dengan studio-studio film sebagai pihak yang pertama kali memanfaatkan inovasi ini untuk mempublikasikan para aktor dan aktris yang membintangi film mereka. Seketika, industri media menyadari betapa besar potensi majalah-majalah yang awalnya ditujukan bagi penggemar film (Steve: 2006.).

Enam tahun setelahnya, Photoplay, sebuah teknik citra sampul muka generik tercipta, para pemain film dalam pose close-up dan tercetak berwarna mulai mewarnai etalase-etalase penjaja koran di Negara-Negara Barat. Majalah film lainnya mulai bermunculan (60 diantaranya diproduksi antara tahun 1911 dan 1938 di AS. (Steve: ibid.)). Sampul majalah ini menggunakan foto-foto para bintang film dibelakang layar, dan membagi kehidupan privat mereka kepada pembaca, sebagai alat para penggemar mencai kabar terbaru, hingga memfungsikannya sebagai “cetakan” untuk mengimitasi bintang pujaannya habis-habisan.

Gonjang-Ganjing Tatanan Yang Dimapankan karena Ulah Si Pop

Fungsi majalah menjadi wahana konstruksi identitas dan citra perempuan terjadi seiring dengan kelahiran majalah fashion perempuan. Naomi Wolf[2] menulis bagaimana para perempuan pembaca majalah semacam Vogue, Tatler, dan Glamour “is holding women-oriented mass culture between her two hands. Women are deeply affected by what their magazines tell them (or what they believe they tell them) because they [the magazines] are all most women have as a window on their own mass sensibility. Hal ini diamini oleh Huyssen[3] yang bilang bahwa landasan ‘budaya massa’ di Abad ke Sembilan belas pada akhirnya diasosiasikan dengan ‘perempuan’, sementara budaya otentik — semacam seni rupa, tetap menjadi prerogatif laki-laki.

Tetap saja, produk popular bayi siam dunia film ini (merujuk pada sejarah perkembangan media di Amerika) telah menghujamkan akarnya begitu dalam di setiap tatanan masyarakat Paman Sam, utamanya Politik Pemerintahan. Dalam percaturan politik Paman Sam, figur-figur budaya populer berpartisipasi mulai dari masa eleksi (tengok artis-artis yang meng-endorse Obama di YouTube, atau bagaimana Oprah menolak Palin dalam talkshownya karena ia secara terbuka menyatakan keberpihakkannya sepanjang musim kampanye) hingga tahap Inagurasi Presiden terpilih (Artis yang dianggap ikonik—musim ini Beyonce, didapuk menyanyikan lagu “At Last” untuk ritual first dance). Majalah Time yang didominasi pemberitaan politik (dan dituding terlalu Republikan) pun secara konstan menggambarkan perempuan ikon budaya pop sebagai covergirl-nya. Beberapa contoh yang diambil secara acak adalah Marilyn Monroe di edisi 14 Mei 1956,  sampul Madonna pada edisi 27 Mei 1985 (Coverline: Madonna, Why She’s Hot), Dixie Chicks pada edisi 29 Mei 2006 (The Radical Chicks: they criticized the war and were labeled unpatriotic. Now the Dixie Chicks are back, betting their careers on a whole new style. Is America ready?), hingga Lady Gaga dalam edisi 30 Mei 2010 (The Most Influential People in the World 2010). Seakan setiap sendi kehidupannya dilumasi budaya pop.

Di Indonesia, sekalipun sejarah kehadiran majalah tidak bersinggungan dengan jenis media massa lain, perkembangan negosiasi budaya pop terhadap media yang didominasi isu politik pemerintahan pada kurun waktu tertentu dapat ditelaah melalui media dengan karakteristik sejenis. Tempo agaknya cukup tepat untuk menggambarkan pergeseran ini. Pemberitaannya didominasi oleh isu-isu Politik Pemerintahan (56, 01% dari keseluruhan konten[4]). Pembaca perempuannya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dan secara dramatis, jumlah perempuan di sampul mukanya terdongkrak saat Megawati menjadi Presiden RI. Sepanjang 1998 hingga 2011, Siti Hardiyanti Rukmana, Sri Mulyani, Hartati Murdaya, Miranda Goeltom, Artalyta, Nunun Nurbaeti, Malinda Dee adalah segelintir figur publik perempuan yang pernah mampir ke sampul muka Tempo.

Dua dekade awal berdiri, majalah ini melakukan stategi pemasaran melalui dikatakan Kress dan Gunther (1996) sebagai konstruksi kelas menengah sebagai konteks pembaca, serta penggunaan bentuk-bentuk ekspresi semacam rokok, jam tangan, kopi, dan produk-produk lainnya, yang dipercaya dapat membuat pesan paling transparan bagi sesama partisipan — yaitu pembaca kelas menengah. Tampak bagaimana Tempo di awal kehadirannya menampilkan iklan yang berorientasi pada pembaca laki-laki.

Steele (2005) melakukan wawancara mendalam bersama Mahtum Mastoem, yang dikenal sebagai pencipta citra periklanan dan marketing Tempo sejak ia bergabung pada tahun 1971 hingga pemberedelan 1994. Ia bersepakat bahwa sebagian besar iklan di Tempo pada rentang waktu tersebut memang ditujukan untuk pembaca laki-laki, hal ini diakui karena langgam penulisan berita yang digunakan (jurnalisme investigatif) sangat berperspektif laki-laki, sehingga jarang ditemukan pembaca perempuan. Steele berpendapat, keberpihakan Tempo terhadap pembaca prianya dapat dibaca melalui pembacaan atas maskulinitas yang ditampilkan melalui iklan-iklan rokok.

Pun ketika maskulinitas begitu kuat dicitrakan, kita dapat melihat majalah Tempo secara ekstensif meleburkan perempuan ikon budaya pop dalam laporan utama dan mewujud secara visual pada sampul muka pada edisi-edisi sepanjang 1971 hingga 1994 (sebelum pemberedelan). Beberapa ikon pop perempuan yang pernah diangkat adalah Titik Sandora (Edisi 17 April 1971), Dara Puspita (1 januari 1972), Syarifa Syifa (11 Agustus 1973), Emilia Contessa (30 November 1974), Chica Koeswoyo (1 Mei 1976), Titik Puspa (12 November 1977), Lady Diana (1 November 1989), dan Ria Irawan (edisi 29 Januari 1994 & 5 Februari 1994).

Ditanyakan lebih lanjut mengenai strategi macam ini, Pemimpin desk Desain Grafis, Eko Pambudi, menyatakan:

“Kalau dulu kan kebebasan pers tidak seperti sekarang. Itu strategi untuk menghalau berita semacam korupsi. Sekarang kita bisa mengilustrasikannya secara langsung — misalnya kebobolan di BI. Dulu isu keras hanya digambarkan secara simbolis, sekarang lebih ke kejadiannya. Zaman 70’an lebih harus memeras otak untuk menggambar ilustrasi”

Perempuan pop nyatanya hanya dipandang sebagai penyamaran akan isu sesungguhnya, semacam pengalih perhatian — bukan bagian yang utuh dari esensi persoalan. Karena itu strategi untuk menampilkan bintang budaya pop perempuan langsung dibuang ke tong sampah begitu Indonesia mencapai era kebebasan pers.

Mengacu pada Cixous, media cetak ada kalanya menjelma budaya patriarki yang beroperasi dengan bersandar pada oposisi biner yang menempatkan perempuan sebagai bagian dari laki-laki, maka kehadirannya direduksi sebagai inferior terhadap liputan yang penting bagi laki-laki intelek kelas menengah atas. Kehadiran perempuan ikon budaya massa itu akhirnya hanya dilihat secara parsial[5] — senada dengan keliyanannya dari dunia politik, hukum, psikologi, dan estetika yang selama berabad-abad dijenderkan.

Melihat dalam kerangka oposisi biner semacam ini, tercermin bagaimana majalah Tempo melihat budaya massa semata-mata sebagai tercemar, dan melukiskan ‘penempatan’ feminin di dalam posmodernisme sebagai ‘mengesensialkan feminin yang liyan, sebagaimana pemaparan Probyn (1987: 353). Tampak bagaimana media ini belum melihat budaya massa sebagai entitas kehidupan posmodernisme, yang berpotensi melahirkan teks-teks efokatif atas stagnansi pandangan strukturalis yang melekat dalam dunia jurnalisme. Perempuan pelaku budaya massa memiliki peluang lebih besar untuk menggugah apa yang dikatakan Schwichtenberg[6] sebagai elemen-elemen kontroversial yang secara subkultural dapat menghadirkan perpaduan dan mobilisasi identitas yang masih ditentramkan oleh budaya komoditas, dan terbukti telah memahatkan dirinya ke dalam kesadaran publik dalam berbagai cara yang kontradiktif, sepertihalnya Madonna, memiliki potensi melakukan preversi (perlawanan terhadap sensor sosial), intimidasi (fetishm, hasrat untuk suatu obyek), dan subversi (resistensi polarisasi biner yang menindas)[7].

Tubuhmu Kriminalitasmu

Kembali pada sosok covergirl dominan di Tempo, ada beberapa cluster tema lain yang umumnya menjadikan perempuan sebagai ambassador disamping isu-isu politik. Sebagai contoh, edisi khusus yang ‘khas feminin’: Edisi Hari Ibu (16 Desember 2006) dengan coverline Bukan Perempuan Biasa” — perempuan yang terpilih pun pada akhirnya disandingkan melalui standar pencapaian laki-laki, semacam tentara, penjelajah Gua Karst, pendaki gunung. Pada Kolom Opini, Redaksi menggunakan kalmiat sebagai berikut:

Akhirnya, dengan segenap lika-liku dan pertimbangan, kami memilih belasan perempuan yang bergelut di bidang yang membutuhkan “urat lelaki”. Mereka perempuan yang berani melintas batas, menjadi segagah Srikandi).

Definisi sukses atau berprestasi di masyarakat telah menjadi monopoli kaum lelaki dalam waktu yang sangat lama. Implikasinya adalah profil perempuan kerap disuguhkan dari sudut pandang kesuksesan ala pria — atau ala sebagaimana diinginkan pria. Hal ini dipengaruhi oleh praktisi media yang sampai saat ini kebanyakan pria[8]. Kelayakan prestasi perempuan yang ditampilkan Tempo (dan tergambar secara jelas dalam komposisi sampul mukanya) adalah perempuan berpangkat dalam tubuh militer, penjelajah gua karst, pemimpin ekspedisi pendakian Everest, tergabung dalam Kontingen Garuda XIV-3 dan dikirim ke Bosnia Herzegovina. Secara kontras, majalah ini menghadirkan suara-suara figur perempuan yang selama ini kurang mendapatkan ruang— mereka disebut sebagai ‘mutiara di level bawah.’

Raida boru Tampubolon menjadi kuli panggul-mundak, istilahnya-di Pelabuhan Tanjung Priok. Ada Ponirah, wanita pengayuh becak dari Yogyakarta, Suyanti yang sopir bus malam Wonogiri-Jakarta, juga Datin yang buruh gendong di Pasar Legi, Solo. Bagai lilin, para perempuan dari kelas bawah ini rela membakar diri memberikan terang bagi keluarga dan orang banyak.

Topik spesifik lain yang menggambarkan perempuan di sampul Tempo adalah perempuan sebagai pihak rentan yang ditafsirkan sebagai pihak pasif sebagai korban bencana alam dan penyakit endemik atau epidemik (penyakit polio, flu burung), topik mengenai Islam (dimana perempuan berjilbab merepresentasikan identitas alirannya — misalkan perempuan dengan Burqa pada edisi NII), gaya hidup (semisal yoga) dan perempuan sebagai pelaku tindak kriminal.

Tema terakhir ini seringkali mendapat banjir terpaan berbagai media. Sekalipun hukum tak mengenal jenis seks/jender, media menebar dikotomi antara pelaku kriminal perempuan dan laki-laki melalui kata dan gambar. Perempuan yang melakukan tindakan kriminal lebih dilihat sebagai ‘gila alih-alih jahat’ (mad than bad), dan digambarkan merusak tatanan atau sesuatu yang sakral. Bahkan, kasus Inong Malinda tersangka pencucian uang di Citibank, ditawar oleh seorang produser film untuk dibesut ke layar lebar. Hingga tulisan ini dibuat, mereka masih dalam tawar-menawar harga (Malinda bersetuju jika harganya 5 miliar)[9]. Kata-kata semacam ‘semlohai’, ‘seronok’ selalu menjadi kata pengiring setelah namanya disebutkan. Jika pun sangat jelas ia melakukan banyak intervensi medis untuk membentuk tampilannya, kata-kata tampaknya dirasa memiliki keterbatasan. Maka diperkuatlah penggambaran di wilayah payudara.

Pada Majalah Tempo edisi 17 April 2011 dengan coverline berbunyi “Nasabah Kakap Malinda: Korbannya dari jenderal polisi, pengacara kondang, pengusaha, sampai mantan pejabat”, Inong Malinda Dee digambarkan sebagai sosok Medusa, yang bagi saya berarti memberikannya hukuman sosial di luar hukum legal. Apakah para pemilik uang yang memberinya perintah awal ikut diekspos? Hingga kini, nasabahnya yang disinyalir banyak dari kalangan berpangkat, tidak pernah diusut. Sementara Malinda? Oh, tentu saja ia bersalah karena telah begitu seductive — dengan tubuhnya sebagai sumber petaka. Hingga kini, pemberitaan atas kasus Malinda bergeser di luar kisah persekongkolan cuci uang dan mulai mengkriminalkan tubuh Malinda. Berita di detik.com memaparkan bagaimana Malinda melakukan operasi plastik karena diduga mengalami radang payudara.

Sampul majalah ini menggambarkan menggambarkan representasi dan interaksi (melalui kaidah semiotika sosial Kress dan Van Leeuwen: 1996), dimana ilustrator membuat sebuah hubungan imajiner antara Malinda — yang memberikan tatapan langsung, dengan khalayak pembaca. Suguhan tubuh Malinda menjadi sebuah display yang mengasosiasikan bahwa memiliki buah dada di luar ukuran normal juga sejalan dengan perilaku kriminalnya. Pembaca maupun kreator citra visual ini diletakan pada posisi high angle, berkuasa atas (tubuh) Malinda dengan jarak sosial jauh/far social distance dibentuk melalui komposisi Malinda yang digambarkan dari kepala hingga atas pinggul di tengah segeromolan lelaki membatu. Secara sosial, tindakan Malinda (yang dituliskan dalam rubrik opini sebagai “seronok”) tidak dapat diterima. Ilustrator secara jelas menggambarkan arah datang key light dari sudut atas dengan jenis lampu putih. Cahaya ini menguatkan tulang pipi Malinda yang meninggi saat ia menyunggingkan senyuman ‘iblis’ dengan sudut bibir meruncing, serta belahan buah dadanya.

Malinda digambarkan mengunakan baju ketat berwarna hitam, yang senada dengan rambut ularnya— penguatan kontras dan saturasi memperkuat kesan kekuatan supranatrual dan keiblisan dari dalam dan determinasi kuasa.  “Bobot visual” diarahkan ke tengah komposisi, tubuh Malinda sebagai nukleus informasi, yang didekati para nasabah lelaki yang terpikat lantas membatu sebagai pihak yang tunduk dan bersifat tambahan karena bentuknya identik satu sama lain. Alur baca berbentuk huruf C terbalik, dimulai dari Selling Line & Masthead, Coverline, Sub-coverline, yang seluruh kalimatnya mengelilingi figur Miranda. Pangkal alur baca ini bermuara pada citra tangan yang berupaya menggapai buah dada Miranda. Jelas sekali illustrator mengkomunikasikan ‘keinginannya’ untuk menyentuh, sekalipun secara teknis ia mengatakan tangan tersebut merepresentasikan gerakan para nasabah yang mendekati Miranda.

Medusa (Μεδουσα dalam Bahasa Latin) banyak digunakan para praktisi visual untuk menggambarkan rayuan mematikan perempuan — tatapan yang membuat otak (dan organ vitalnya tentu) mengeras hingga membatu. Dalam mitologi Yunani, Medusa awalnya merupakan perempuan cantik rupawan, putri dari Phorkys and Keto, anak-anak Gaia (Bumi) dan Okeanos (Samudera). Dia adalah salah satu dari Gorgon bersaudari. Saudari sekandungnya, Sthenno dan Euryale tidak hidup abadi sepertinya.  Mereka tinggal di belahan bumi Utara, dimana mentari tak mampir. Karena jiwa penasarannya akan matahari, ia bertanya pada Dewi Athena agar mengizinkannya mengunjungi bumi Selatan. Permintaan ini ditolak, dan Medusa yang marah menuduh Dewi Athena cemburu akan kecantikannya (versi lain mengatakan Athena mengutuknya karena Poseidon melakukan hubungan seksual dengannya, versi lain menuliskan Medusa diperkosa, di Kuil Athena[10]).

Sepertihalnya Anjani yang dihukum menjadi kera karena memiliki keinginan, Medusa dikutuk otoritas lelaki di atasnya menjadi sosok berambut ular dan buruk rupa sehingga siapapun yang melihat ke dalam matanya akan berubah menjadi batu[11].  Begitu paradoksialnya karakter ini, hingga karakter ini dijadikan judul tulisan Sigmund Freud untuk menggambarkan katarsisme (dalam The Medusa’s Head[12]) dan Helene Cixous dan pentingnya perempuan menulis (dalam The Laugh of the Medusa[13])       .

Cixous menyatakan bahwa tubuh perempuan telah direpresi sepanjang sejarah. Jika perempuan dipaksa untuk tetap berada pada tubuh mereka, ia menyarankan bentuk perlawanan atas represi laki-laki semacam ini. Pilihan pertama adalah tetap terperangkap dalam tubuh mereka, dengan menjaga keabadian pasivitas, perempuan telah menjadi bagian di sepanjang sejarah (semacam Sayuti/Sajoeti Melik yang mengetik naskah Proklamasi, dan Fatmawati sebagai penjahit Sang Saka Merah Putih). Pilihan kedua adalah menggunakan tubuh wanita sebagai medium komunikasi, sebuah alat bicara perempuan. Hal ini sesungguhnya ironis, mengingat bahwa tubuh yang diwariskan, satu-satunya cara yang mendefinisikan perempuan sekaligus memenjarakannya di dalam, sekarang dapat menjadi kendaraan melampaui batasan-batasan yang diciptakan tubuh[14].

Versi Medusa yang banyak dipopulerkan kini, termasuk Tempo edisi Nasabah Kakap Malinda, ialah seorang monster dengan kepala berpenghuni ular-ular dan akan mengubah siapapun menjadi batu manakala menatap matanya. Cixous mengklaim bahwa citra Medusa sebagai monster saat ini hadir karena ia telah ditentukan oleh pandangan lelaki. Sekalipun melalui versi banyak menyimpan misrepresentasi mitos atas versi aslinya, banyak pihak, termasuk ilustrator, yang mempercayai versi yang disalahtafsirkan ini tanpa banyak mempertanyakannya.

Seminggu sebelum Tempo mengeluarkan versi Medussa, Malinda digambarkan dalam komposisi yang mereplika lukisan Monalissa karya Leonardo Da Vinci. Malinda Dee menjadi bulan-bulanan massa setelah diketahui menjadi agen pencucian uang nasabah di Citibank. Jumlah aset harta pribadi, gaya hidup glamor — dilihat dari foto-foto yang beredar di dunia maya, terus-menerus diekspos media. Banyak pula fokus yang mengarah kepada ukuran buah dada Malinda yang tergolong cukup besar. Namun, kemunculannya setelah menjadi terdakwa, selalu dihiasi dengan kerudung berbentuk asimetris berwarna gelap yang selalu menutupi aset keperempuanannya tersebut.

Bukan sekali komposisi Monalissa menjadi inspirasi dalam sampul muka, dahulu Tutut digambarkan dalam komposisi sejenis ketika tersandung kasus korupsi Jasa Marga. Karena kerudung yang melingkari leher yang menjadi ikon pada tampilan visual Siti Hardiyanti Rukmana, maka ia diambarkan dalam komposisi Monalissa yang berkerudung. Sebetulnya semenjak Malinda terus-menerus tampil di layar televisi, kerudung hitamnya juga telah menjadi ikon. Tak pernah sekalipun, semenjak statusnya menjadi terdakwa, ia melepaskannya.

Tampaknya illustrator memandang hal berbeda untuk tidak dapat diberlakukan kepada Malinda. Alih-alih terselubung kerudung hitam, Malinda Monalisa ditonjolkan melalui cirri buah dadanya yang besar. Di satu sisi hal ini menggambarkan hipokrasi masyarakat Indonesia yang terkadang mengukur “tingkat ketakwaan” melalui simbol-simbol kasat mata, serta bagaimana ‘penyucian diri’ setelah melakukan dosa seakan diterima secara luas melalui persentuhan dengan elemen berbau reliji. Mengenai alasan tidak menyematkan kerudung pada figur Malinda-Monalissa, Kendrasebagai Ilustrator menjelaskan:

“Kita nggak ingin terjebak dengan bentukan media massa. Biasanya kalau seseorang terjebak kasus, dia mendadak jadi relijius, tiba-tiba muncul dengan peci dan jilbab. Kita ingin membebaskan diri dari idiom itu. Kita ingin menampilkan sosok Malinda yang sebenarnya, bukan ketika ia ditangkap—tapi sebelumnya.”

Kendra mengakui bahwa tangan yang mencoba menjamah buah dadanya itu disengaja. Ia mengakui, Malinda merupakan perempuan yang memikat dan ideal, terutama bagi nasabah-nasabahnya. Karena itulah ia menggambarkan nasabah yang terkena ‘tenung’ merupakan tipe-tipe lelaki yang terjerat daya tarik fisik Miranda. Mereka memang mendatangi Malinda di sini.

Sementara itu, Artalyta mengalami penggambaran yang ‘lebih lembut dibandingkan elemen horror cover Malinda. Dua kali muncul di halaman muka majalah Tempo, ia selalu digambarkan sebagai representasi pelanggaran sosok yang ideal— mempermainkan Dewa Syiwa dan Dewi Theis, penjaga pilar hokum. Penggambaran morat-marit unsure ideal ini dikontraskan dengan elemen-elemen kebendaan di sekelilingnya.

Atas strategi semacam ini, Kendra menjelaskan hal teknis terkait dengan kesesuaian dengan angle berita dan buruknya penegakkan hukum di Indonesia:

“Kita melihat dari sisi sosok yang dikenal secara universal oleh publik. Kalau Arthalita dan pengejawantahannya dengan Shiva itu lebih kepada kemampuannya mengatur banyak hal dari dalam penjara, melalui koneksi yang dia punya. Karena itu ia digambarkan memiliki banyak tangan. Ini bukan soal baik atau buruk, namun bagaimana mereka secara leluasa bisa melakukan banyak hal. Kalau Theis, itu lebih berasosiasi pada kondisi Arthalita yang memperolok-olok hukum. Bahkan dia pura-pura berperan menjadi dewi keadilan, saking bobroknya hukum di Indonesia sampai dia bisa berbuat seperti itu.”

Diluar itu semua, perempuan dikonstruksi secara sosial sebagai pihak yang berkewajiban mengemban tugas mulia semacam penjaga pilar moralitas.

Ayin yang kini telah keluar dari penjara sempat menjadi berita besar karena tinggal di penjara yang disetting menyerupai kamar apartemen mewah dengan fasilitas AC, alat-alat fitness, flat TV, dan tetap menjalankan bisnis di balik jeruji. Di tengah permisivitas penegakkan hukum di Indonesia, mungkin ia hanyalah obyek manipulasi oknum penjara yang mencari uang lewat penyediaan akomodasi terselubung semacam ini.

Pada edisi 23 Maret 2008, Arthalita menjadi tokoh sentral dengan permainan warna pastel yang membentuk atmosfer cover. Setting menunjukkan bahwa Arthalita berada ‘di atas awan’ — satu frasa yang dikembangkan menjadi angle tulisan keseluruhan: tentang Artalita yang mendapat free access dari dalam penjara. Arthalita sebagai sosok tunggal yang merepresentasi sosok Syiwa di sini tidak mengarahkan tindakannya kepada pihak lain, alih-alih ia ‘memamerkan’ sejumlah benda keduniawian Arthalita melakukan pandangan yang mengisyaratkan “permintaan” kepada khalayak seraya menggerakan ke delapan tangganya yang menggenggam celengan babi atau Piggy Bank, Palu Hakim, uang, kartu judi, lup investigator, serta gelas anggur. Ayin menggunakan kebaya dengan motif khas Tionghoa berwarna merah muda dan kain bawahan berwarna biru muda. Selendang bergelombang menjadi salah satu petanda selain enam jumlah tangannya, yang menggambarkan komposisi Dewa Shiva/Syiwa.

Muatan visual dititikberatkan pada komposisi enam tangan yang merentang menggenggam beberapa benda, warna pink yang menyedot seluruh perhatian dengan paras tenang bagaikan Dewa Syiwa. Coverline berbunyi: Koneksi dan Lobi Artalyta, Lika-liku wanita yang diduga menyuap jaksa BLBI. Bagaimana ia membangun jaringan di kalangan pejabat? Kata wanita diacu sebagai penegasan. Vektor dibentuk oleh tools/alat-alat berupa palu hakim sebagai representasi hukum yang terbeli dengan uang, kartu sebagai wujud konspirasi, dan anggur sebagai sesuatu yang memabukkan. Poros komposisi adalah memusat, dimana Ayin berada di tengah.

Merangkum seluruh pembacaan atas elemen yang ditonjolkan, dapat disimpulkan bahwa elemen semacam warna-warna pastel digunakan untuk menonjolkan kualitas feminin perempuan, yang bernegasi dengan sifat-sifat maskulinitas dan karenanya dianggap sebagai suatu kualitas yang buruk. Hal ini mengindikasikan bagaimana cover merupakan arena bagi perjuangan ‘tanda,’ untuk menempatkan tanda-tanda tertentu (maskulin) pada posisi dominan, dan tanda-tanda lain (feminin) pada posisi marjinal.

Di Balik Meja Produksi

Sesekali, mampirlah ke Lantai empat Gedung Tempo di Jalan Proklamasi No. 42 pada Jum’at Deadline. Satu layar flat Apple Macintosh berinci besar, menjerang seluruh layout majalah, sang editor visual menunggu perubahan-perubahan yang masuk di menit-menit akhir. Saat saya berkunjung ke sana, salah satu ilustrator Tempo, Kendra Paramita sedang mengedit sketsa sesosok laki-laki berbusana haji, gemerincing koin keluar dari ujung jubah putihnya yang dipelintir tangan sosok tak kasat mata di program Adobe — rupanya skandal dana haji yang tak kunjung usai menjadi laporan utama minggu pertama Desember 2010.

Panel-panel desk Desain Grafis dipenuhi dengan semprotan piloks, beberapa poster, folder-folder berjejer dengan argot yang tak dipahami orang luar, semacam “ngondoy.” Kata ini tertulis di whiteboard perencanaan, tembok, Styrofoam, di mana-mana. Ketika dengan polos bertanya apa arti dari kata tersebut, salah satu tim desain grafis meminta saya untuk membayangkan visualisasi saat mendengar kata tersebut. Saya membalas, “sesuatu yang bergelayutan atau terkulai” dan mereka tertawa mendengar jawabannya. “Tuh, Ken(dra), cewek emang lebih sensitif sama hal-hal kayak gini.” Hmm… tampaknya kata ini memang berasosiasi dengan sesuatu berbau falus.

Di Tempo, negosiasi tampilan kata dan visual terjadi setiap waktu. Berbeda dengan jurnalis yang tentunya selalui berkeinginan seluruh tulisannya dimuat karena bekerja atas dasar pengumpulan informasi melalui kata, tim Ilustrasi berpikir secara spasial dan visual. Di tengah itu semua, dan otoritas tim Kreatif dalam menyetir tampilan visual di sampul muka maupun dalam content cukup besar. Kendra menjelaskan:

Mereka (penulis) biasanya datang ke atas (lantai 4, desk kreatif) dan minta diperbanyak space-nya, sementara kita di sini kan harus bicara secara visual. Misalnya infografis, paling banyak 2 halaman spread. Mereka harus bisa kerja sama dengan kita. Demikian juga kalau secara visual dianggap kurang menarik, aspek visual harus dikurangi. Kita punya andil lah untuk mengusulkan itu, semua dibuat fleksibel.

Kontrol kualitas berjalan pararel dengan rutinitas meja redaksional. Ketika saya menghadiri rapat perencanaan, perwakilan awak dari desk ilustrasi diharuskan hadir. Paling tidak ada satu orang yang mewakili. Tak segan, seseorang akan diminta memanggil salah satu dari mereka jika sampai rapat dimulai tak tampak satupun awak Desain Visual.

Dibandingkan para wartawan yang memiliki banyak kaidah dalam menyajikan teks berita dalam lingkup lokasi sosial mereka, baik itu standar jurnalisme yang diusung media tempatnya bekerja, kode etik jurnalistik, hingga kode etik perusahaan media — deks desain grafis memiliki lebih banyak kebebasan untuk memvisualisasikan teks. Alur ini berjalan seiring dengan produksi teks literal, dan selalu ada perwakilan dari meja desain grafis (sekalipun mereka terkadang ogah-ogahan) untuk hadir di hari Senin pagi, ketika rapat perencanaan. Di hari Rabu, mereka akan diminta membuat tiga alternatif sketsa dimana Redaktur Eksekutif akan memilih satu terbaik, dan paling mewakili kesesuaian dengan isi. Mengenai kebebasan estetika yang dipakai, Editor Desain Visual, Eko Pambudi menjelaskan:

“Soal gaya dan metafora sepenuhnya dibebaskan pada para illustrator, sepanjang tidak dianggap membahayakan Tempo dan mengandung SARA. Mengenai content, tidak ada masalah (kesenjangan informasi) karena kami mengikuti rapat opini redaksi. “

Namun demikian, pengalaman suatu masyarakat, pengetahuan, serta perilaku komunikasi sebagian besar dibentuk melalui kelompok sosial yang melingkupi mereka. Terkadang pemilihan ikon visual mengalami banyak polemik, seperti pada sampul wafatnya mantan presiden Soeharto yang mereplikasi atau repurposing komposisi lukisan Last Supper oleh Leonardo Da Vinci. Dalam wawancara mengenai cover Last Supper yang kontroversial karena komposisi ini digunakan untuk menggambarkan Mantan Presiden Soeharto sedang dalam perjamuan terakhir bersama seluruh anaknya, Kendra menjelaskan latar belakang interpretasi yang dilakukannya terhadap suatu karya gaek:

“Da Vinci menginterpretasi bagian dari Injil, jadi yang muncul adalah Last Supper versi Eropa—cawan, chalise, tropi—itu sangat eropa sekali. Sementara kita tahu Jesus bukan orang Eropa, ia tidak mengenal meja-kursi, mungkin dia lesehan. Kalau Da Vinci boleh, kita juga sebenarnya boleh menginterpretasi last supper dari bible menurut kita sendiri. Tapi yang terjadi pada cover tempo –itu bukan interpretasi dari bible, melainkan kita meminjam komposisi last supper yang menurut kita ikonik. Supaya messagenya lebih mudah sampai. Kita pakai semiotika yang orang pahami.”

Strategi menggunakan figur dan ikon-ikon yang telah dikenal luas oleh publik dikatakan oleh Kress dan Gunther (ibid.) sebagai proses sign-maker: “the signified, which they want to express, and then express it through the semiotic mode which makes available the subjectively most plausible, most apt from, the signifier.”

Sejak lahir kembali pasca pemberedelan, Tempo menegaskan posisinya sebagai pembentuk suara oposisi terhadap penguasa dan ia merupakan salah satu korban pemungkaman masa Orde Baru. Pandangan parsial justru dibutuhkan oleh para pengolah content visual di Tempo, mereka harus melihat sisi yang belum dilihat media lain. Menggambarkan perempuan etnis Tionghoa sebagai pihak yang teropresi dalam kerusuhan Mei 1998 pada sampul muka edisi perdana setelah terbit kembali tentunya menunjukkan keberpihakan parsial. Sekalipun pemberitaannya berhenti pada kontroversi dibalik pemerkosaan perempuan Etnis Cina dan tidak selesai mengetahui siapa pelaku di baliknya.

Sejauh mana visualisasi itu dianggap membahayakan, pada suatu kesempatan, ilustrator menunjukkan contoh yang dapat mewakili peristiwa ini. Pada edisi Tempo tanggal 15 November 2010 cover muka majalah Tempo menampilkan kartun Gayus yang meloloskan diri dari penjara ke Bali. Kendra menunjukkan ilustrasi awal sebelum dicetak. Terdapat sosok berdagu panjang dalam siluet mengenakan helm aviator, yang menyerupai tokoh pimpinan Partai Golkar sebagai pilot pesawat. Namun, Wahyu Muryadi sebagai Pemimpin Redaksi MBM Tempo merasa hal tersebut terlalu riskan. Mengingat Tempo pernah mendapatkan somasi pada sampul muka yang menampilkan sosoknya dengan kolase angka. Maka, proses sensor terjadi dan hanya sosok Gayus yang tampak pada edisi tercetak.

Ketika ditanyakan apakah ia merasa gentar untuk menggambar dagu runcingnya, mengingat tekanan yang diberikan demikian besar saat somasi dilontarkan—Kendra menambahkan “Sebenernya gua suka menggambar figur si Oom, wajahnya enak dilukis. Selain dia, gua suka nggambar JK, sama Sri Mulyani. Kenapa Sri Mulyani? Soalnya betisnya indah.


[1] Taylor, Steve. 100 Years of Magazine Covers, Black Dog: London, 2006.

[2] The Beauty Myth, Random House of Canada, 1997

[3]   Mass Culture as Woman: Modernism’s Other (1986)

[4] Terdiri dari kategori berupa: ideologi dan struktur politik (26, 10%), militer dan hubungan internasional (16, 83%), ekonomi (5, 79%), kesejahteraan umum (5, 16%), aktivitas partai politik (5, 79%), aktivitas rutin DPR-MPR (1,51%). Data kuantitatif appendix Steele terhadap konten Tempo dari 27 Maret 1971 hingga 4 Juni 1994.

[5] Cixous (1991), dalam Aquarini (2007: 184)

[6] Schwichtenberg, C. (ed.) (1993) The Madonna Connection, NSW: Allen & Unwin.

[7] Ibid.

[8] Yatim, Debra H. (1998).

[9] Tempo, 23-29 Mei 2011. Rubrik Hukum|Kriminalitas, Skenario Gayus untuk Malinda (halaman 96)

[10] www.theoi.com/Pontios/Gorgones.html

[12] Sigmund Freud, “The Medusa’s Head” (1922), in Marjorie Garber and Nancy J. Vickers, The Medusa Reader, Routledge, New York, 2003, pp. 83–84.

[13] Helene Cixous, “The Laugh of the Medusa” in Garber and Vickers, The Medusa reader, pp. 133–134.

[14] Ibid.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Brooks, Ann. Posfeminisme & Cultural Studies. Jalasutra: Yogyakarta, 2007.         

Cixous, Helene. The Laugh of the Medusa dalam Elaine Marks dan Isabelle de Courtivron, New Feminisms—An Anthology. Schocken Books: London, 1981.

——- Sorties: Out and Out: Attacks/Ways Out/Forays dalam Catherine Belsey dan Jane Moore (ed.), The Feminist Reader—Essays in Gender and the Politics of Literacy Criticism, Blackwell Publishers, 1991.

——– dan C. Clement. The Newly Born Woman. Manchaster University Press: Manchaster, 1986.

Gamman, Lorraine dan Margaret Marshment (ed.). Tatapan Perempuan: Perempuan sebagai Penonton Budaya Populer. Jalasutra: Yogyakarta, 2010.

Kress, G. & T. van Leeuwen Reading Images: The Grammar of Visual Design. Routledge, NY, 1996.

California, 1989.

Prabasmoro, Aquarini Priyatna. Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop. Jalasutra: Yogyakarta, 2006.

Schwichtenberg, C. (ed.) The Madonna Connection, Allen & Unwin: NSW, 1993.

Jalasutra: Yogyakarta, cetakan III, 2007.

Steele, Janet. The Wars Within. Equinox Publisher: Jakarta, 2005

Tong, Rosemarie Putnam Tong. Feminist Thought, Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Jalasutra: Yogyakarta, 2004.

Wolf, Naomi. The Beauty Myth. Random House of Canada: Canada, 1997

 

SUMBER ON-LINE

Amelia, Mei. Radang Payudara Malinda Dee Gara-gara Silikon. DetikNews.com, diupload Rabu, 01/06/2011 14:04 WIB.
http://www.detiknews.com/read/2011/06/01/140414/1651742/10/radang-payudara-malinda-dee-gara-gara-silikon, diunduh tanggal 6 Juni 2011.

Atsma, Aaron J. Medousa & Gorgones. Theoi Project Copyright © 2000 – 2011, New Zealand. www.Greek-Mythology-Gods.com

 


Leave a Reply

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement