Archive | ULASAN

Mencari Heni Demi Membujuk Eliana Pulang

Mencari Heni Demi Membujuk Eliana Pulang

Posted on 12 January 2014 by jarakpandang

Pagi itu mungkin puncak dari hari-hari Eliana (Rachel Sayidina) yang tidak lagi berjalan biasa setelah pergi dari rumahnya dan merantau ke Jakarta. Dia menghadiahi tendangan ke selangkangan seorang laki-laki yang berakhir dengan pemecatan Eliana sebagai seorang karyawan pusat perbelanjaan. Sementara ia membayar utangnya pada Ratna (Marcella Zalianty) dan siap-siap untuk pulang dengan tetap menggunakan hak tinggi – alas kaki yang tidak pernah punya posisi nyaman pada kaki Eliana, Bunda (Jajang C. Noer) sudah berada di taksi menuju sebuah alamat yang ditulisnya dan ketika ditelusuri olehnya, alamat itu berada di antara bangunan-bangunan sempit, menyambung dari lorong ke lorong, disesaki penghuni yang lalu lalang dan gerobak-gerobak jualan. , Iitulah salah satu wajah sebuah kota besar yang nyaris tidak terlihat. Muka Bunda seakan tidak percaya di situlah Eliana menghabiskan hidupnya bersama sahabatnya, Heni (Henidar Amroe) selama dua tahun lebih. Hari itu Heni menghilang, tugas Bunda datang ke Jakarta  menjemput Eliana kembali ke Padang setelah lima tahun sebelumnya dia kabur dari pernikahan yang sudah direncanakan ibunya.

Adegan-adegan itu tampil sepanjang 15 menit pertama dari film garapan Riri Riza yang bersama Prima Rusdi menulis skrip ELIana, eliANA. Gambar-gambarnya digital dengan teknik  hand-held yang sengaja menghindar dari kesan keindahan sebuah film. Ditambah penggunaan close-up dan suara yang suka tiba-tiba lenyap beberapa detik – bahkan sebelum film berakhir terdengar suara dari belakang yang mengarahkan gerak Eliana dan menjauh dari penonton. Selain sebagai bentuk pergerakan sinema baru di Indonesia yang dilakukan Riri Riza, dkk. dengan nama i sinema dan mengadopsi teknologi baru, teknik-teknik itu juga pas menggambarkan perasaan kalut antara Bunda yang ingin cepat bertemu anaknya lalu membawanya pulang, dengan Eliana yang ingin bertemu Heni dan mengobrolkan permasalahan mereka selain uang kontrakan.

Dua hal ini kemudian ditajamkan dalam permainan ‘mencari Heni demi membujuk Eliana pulang’ yang melibatkan banyak rangkaian cara dari Bunda pada Eli agar ia setuju untuk pulang atau dari Eli pada Bunda untuk menunda obrolan soal kepulangan. Film ini membincangkan tentang hubungan ibu dan anak perempuan atau perempuan dengan perempuan yang seolah-olah meminggirkan wacana laki-laki dan/atau menjadikan laki-laki sebagai objek dari perempuan.

Adu kecerdikan antara Bunda dan Eliana

“Kau tidak pernah mengunci rumah.” Kalimat itu kedengarannya kaku sekaligus sinis untuk membuka percakapan antara seorang ibu dan anak yang baru bertemu. Kalimat itu bisa juga sebagai bentuk ketelodoran seorang anak yang selalu bisa dibaca oleh ibunya, sekecil apapun itu. Mereka berdua duduk berhadapan, belum menyentuh teh bikinan Bunda di depan mereka, Eliana tidak membalas pernyataan Bunda. Kekikukan sudah menghinggapi mereka saat pertama kali bertatap muka lagi di dapur kontrakan Eliana: Bunda terkecoh mengira tangannya akan disalami dan dicium saat dia sudah menjulurkan tangannya pada Eliana; saat tangan Eliana ternyata sama-sama bergerak dengan tangan Bunda untuk mencapai toples gula pasir dan ketika Eliana ingin menuangkan sesendok gula ke dalam cangkir Bunda, ia telah lebih dulu mengangkat cangkir tehnya; serta cara Bunda menyeruput teh dari piring kecil cangkir yang diganggu oleh ketukan sendok teh Eliana dicangkirnya. Hal-hal seperti itu lalu mengarah pada dua perempuan ini untuk adu kecerdikan agar bisa mengendalikan situasi.

“Waktu kau kau seumur dia, kau lebih gemuk, lebih putih. Tapi tampaknya dia lebih mudah diatur.” Lagi-lagi Bunda menghujamkan kalimat percakapan pada Eliana yang tidak enak didengar saat mereka menunggu makanan di sebuah warung nasi Padang. Dia menunjuk seorang perempuan kecil yang duduk beberapa meja di depan mereka dan terlihat melempar senyum pada Eliana. Cara-cara seperti itu jadi bagian taktik Bunda untuk mengajak anaknya pulang, termasuk memberitahukan bahwa tantenya sudah rindu dengan dirinya dan menyodorkan ponselnya saat Eliana tidak bisa menggunakan telepon umum koin untuk menelepon Heni di sekitar warung nasi Padang itu. Sepanjang film terlihat secara kasatmata yang memegang situasi Eliana karena dia punya petunjuk mencari Heni, tapi Bunda secara samar sebenarnya bisa mengimbangi situasi itu, meskipun dia mulai meredam keingian untuk memaksa Eliana pulang ke rumah kontrakannya dan membiarkan dirinya mengikuti anaknya yang ingin menunjukkan bahwa Eliana bisa hidup dan bertahan di Jakarta tanpa Bunda.

Apa yang dilakukan Eliana adalah sebuah upaya untuk memisahkan tubuhnya dengan tubuh yang melahirkannya. Pendisiplinan tubuh atau cara berprilaku yang sudah diberikan dan diajarkan Bunda sebelum Eliana berhasil kabur dari rumahnya seperti tidak tersisa atau jejaknya sudah sangat sulit dilacak pada tubuh atau sikapnya. Keterkejutan Bunda saat melihat kontrakan anaknya, marahnya Bunda saat anaknya menghampiri Ratna di sebuah klub malam untuk mengorek informasi soal Heni, atau ketika Eliana muntah di pinggir jalan yang dicurigai Bunda sebagai tanda kehamilan.

Kejadian-kejadian itu adalah dampak bagaimana seorang anak ingin terlepas dari kebiasaan-kebiasaan yang datang dari ibunya dan membentuk kebiasaan baru yang datang dari diri seorang anak perempuan. Salah satu adegan yang pas menggambarkan kondisi itu adalah saat Eliana membantah ucapan Bunda yang dengan yakinnya selalu melihat anaknya setiap hari, tapi dia bisa mengecoh ibunya untuk kabur.

Peminggiran Laki-laki

Setelah mengelabui Toha, pemilik kontrakan yang mencari Heni, Bunda dan Eliana memaksa seorang sopir taksi (Arswendo Nasution) untuk mengantarkan mereka ke beberapa tujuan dengan cara dicarter. Sopir taksi hanya bisa jadi orang yang berada di luar obrolan Bunda dan Eliana sekaligus bagian dari kebisuan di dalam taksi yang tidak pernah diberikan ruang gerak (saat sopir taksi mencoba untuk membesarkan volume suara lagu, Bunda langsung memerintah agar dikecilkan suaranya karena dia butuh ketenangan) dan bicara (saat sopir taksi mencoba untuk memberitahu tentang sikap anak muda sekarang, Bunda langsung mencegahnya agar diam) karena sudah terjadi hubungan subjek dan objek. Saat Bunda menceritakan kepada Eliana bahwa ayahnya pernah mengajak Bunda ke Jakarta dan menonton film di bioskop sebelum akhirnya pergi meninggalkan dirinya, posisi ayah dimunculkan untuk mempertegas hubungan subjek (perempuan)-objek (laki-laki) yang datang dari sebuah ketaksengajaan Bunda melihat jalan-jalan di Jakarta dan sebagai bentuk kesengajaan mengingat suaminya saat Bunda menunjuk sebuah gedung tua yang dulunya adalah bioskop.

Bagian lain yang memperlihatkan hubungan itu adalah saat si sopir taksi akhirnya menemukan gerak ruang dan bicara setelah memperhatikan Bunda sudah tertidur di kursi belakang. Sopir taksi ini berbicara pada Eliana sebagai objek dari perempuan. Istri sopir taksi meninggalkannya lima tahun yang lalu – tepat saat Eliana datang ke Jakarta – waktu kerjaannya sebagai komikus tidak jelas lagi penghasilannya. Dua anak perempuannya ikut istrinya dan dia sekarang tinggal dengan anak laki-lakinya yang paling tua. Hanya di situ obrolan laki-laki atau ayah mendapatkan porsinya, yang sebelum obrolan itu terjadi Bunda datang lagi menghantamkan kalimatnya tentang sosok suaminya yang pergi ke Jakarta namun usahanya gagal, “Mudah sekali lari dari tanggungjawab hanya demi harga diri.” Kalimat  yang merupakan bagian lain dari pertentengan antara rasa dan nalar.

Seakan laki-laki sebagai sebuah bercak bagi perempuan, maka mereka harus disingkirkan. Hal-hal itu sudah datang pagi-pagi sekali sedari awal film ini sebelum Eliana dan Bunda bertemu. Saat Eliana tidak memakan baksonya dan seorang laki-laki setengah baya menggoda perempuan itu dengan senyum genitnya, senyuman itu berakhir dengan Eliana menumpahkan kuah bakso ke selangkangan laki-laki itu. Harus juga dimasukkan kepercayaan diri Ratna tentang cara menjinakkan laki-laki, bahkan Ratna mengklaim bahwa kelihaiannya masih lebih jago dibanding sahabat Eliana.

Satu-satunya perempuan yang terlihat begitu susah meminggirkan lawan jenisnya hanyalah Heni. Dia terjebak iming-iming laki-laki yang membuatnya berada di antara garis masa lalu (saat anak perempuannya, Nadira diadopsi oleh laki-laki bernama Rafly yang sudah berkeluarga), sekarang (kondisi yang didapatkan bahwa Heni harus membesarkan Nadira seorang diri), dan akan datang (janji manis Rafly untuk membina keluarga bersama Heni dan Nadira yang ternyata hanya sebuah keadaan yang tidak akan pernah terjadi). Posisi Heni yang terlalu setia pada laki-laki kemudian disadarkan lewat Nadira, Eliana, dan Bunda saat mereka akhirnya bertemu di kamar hotel tempat Heni menunggu pujaan hatinya. Ketiga perempuan itu ibarat fase yang sudah, tengah berlangsung, dan nantinya akan dilalui oleh Heni. Garis-garis hidup Heni yang sebelumnya selalu beririsan dengan laki-laki diterabas dan didominasi oleh perempuan.

Tiga Tangisan Perempuan di Waktu Malam

Heni jadi sosok yang paling rapuh di film ini. Meskipun dia membayar semua tagihan kontrakan dan pihak bertanggungjawab yang sebenarnya menyelamatkan Eliana dengan menghubungi Bunda demi memuluskan rencana Heni agar bisa hidup bersama pria idamannya. Tapi itu hanyalah angan-angan yang terus membuatnya berharap dalam kecemasan. Heni seakan tidak mampu hidup tanpa laki-laki dan baru disadarkan oleh Eliana saat mereka bertemu, dia meminta bukti apa yang membuat sahabatnya itu berhasil hidup dengan laki-laki selain hanya terus mau digoda oleh janji manis. Dengan air mata bercucuran sambil mengelap muka di wajahnya yang dipenuhi kosmetik serta melempar tas, Heni menjelaskan bahwa itu adalah buktinya, sebelum ditambahkan dengan penjelasan bahwa dia tidak mau melihat kesalahan-kesalahannya terjadi pada diri Eliana maka lebih baik menghubungi Bunda. “Jadi sekarang lu anggap dia sebuah kesalahan?” tegas Eliana sambil menunjuk Nadira yang tertidur. Tatapan dingin Bunda bertemu dengan mata Heni, sesaat setelah Eliana keluar dari kamar hotel.

Di dalam taksi menuju pulang ke rumah kontrakan, tangisan Eliana terdengar nyaring setelah apa yang dicarinya seharian itu jadi sebuah nestapa. Keyakinan bahwa Heni tidak akan pernah meninggalkan Eliana runtuh dan kenyataan bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang orang yang sudah tinggal bersamanya selama dua tahun lebih. Lima tahun perempuan itu berusaha hidup tanpa ibunya dan cukup satu hari untuk melihat segala kesusahannya membangun hidupnya nampak dihadapan ibunya. Tapi Eliana tidak tahu bahwa sebelum ia menangis, Bunda sudah lebih dulu mengeluarkan air matanya setelah bercermin di dalam toilet yang dipenuhi coretan dinding pada sebuah pom bensin. Dia mungkin menangisi hidupnya yang sudah terlalu keras pada anaknya, terlebih saat Bunda menggunakan kuasanya untuk mengatakan bahwa anaknya itu sudah tidak punya apa-apa lagi di Jakarta dan jalan satu-satunya adalah pulang ke Padang, dia mungkin meneteskan air mata karena sanggup jadi orangtua tunggal tapi tak sanggup mencegah anaknya pergi, dan dia mungkin menangis karena kesendiriannya yang terus berharap agar ia bisa bersama-sama anaknya lagi, seperti yang dilakukan seorang ibu di lorong rumah kontrakan Eliana yang terus mencari dan menunggu anaknya pulang. Tiga perempuan di film ini menangis dalam kesendiriannya, mereka tidak bisa menyalahi keadaan, mereka hanya bisa menangis karena keadaan atau tertawa karena kemarahan.

Bunda merangkulnya, memeluk anaknya dari samping, memahami apa yang sedang dicari anaknya belum berhenti dan tidak coba untuk memenangkan hatinya untuk mengikuti kemauannya. Ibu itu menenangkan kondisi Eliana saat keesokan paginya tidak memaksa untuk ikut ke Padang meskipun sang anak sudah berkemas untuk menyerah. Pagi hari yang tidak seperti pagi kemarin dan membuat sosok-sosok di film ini hilang kecemasannya: Heni menggendong Nadira dengan wajah optimis sebelum memberhentikan taksi di depan hotel, Ratna menenteng koran tertawa kecil bersama asistennya yang membawakan bingkisan dari para penggemar, Bunda dengan nada sendu tapi wajahnya diselimuti perasaan lega berkata pada anaknya, “Pulanglah kapan kau mau. Besok, lusa, bulan depan. Bunda tidak akan kemana-mana”, dan Eliana dengan senyum tipisnya berjalan melewati sebuah pasar yang siap meladeni kejutan hidup.

Rahmat Arham, 2014

 

Comments (0)

Muslihat yang Melahirkan Gugusan Masyarakat Inovasi Sepandang Kiprah Jatiwangi Art Factory (JAF)

Tags: , , ,

Muslihat yang Melahirkan Gugusan Masyarakat Inovasi Sepandang Kiprah Jatiwangi Art Factory (JAF)

Posted on 20 August 2013 by jarakpandang

Tema MUSLIHAT pada perhelatan OK. Video 2013 merupakan pernyataan yang menegaskan fungsi video sebagai sarana untuk mengaktualisasikan diri. Dalam tulisannya, Ithiel Sola de Pool menyebutkan bahwa teknologi digunakan untuk mengekspresikan diri, menghubungkan manusia, dan merekam pengetahuan yang berada dalam jaringan fluks yang belum pernah terjadi sebelumnya. [1] Tema Muslihat dapat dilihat sebagai pembacaan ulang atas fungsi teknologi, dalam hal ini video yang mampu memberikan intensi bagi penggunanya. Teknologi kini bukan sebagai aparatus produksi belaka tetapi bagaimana pengguna dapat memanfaatkan teknologi secara feasible dan personal. Pengguna (konsumen) dapat memberikan sebuah gagasan dan modifikasi atas teknologi itu sendiri dan dalam segala keterbatasannya dapat menyiasati perangkat teknologi secara fungsional dan bahkan radikal.

Dalam perkembangannya, teknologi di tangan konsumen tidak berhenti hanya pada persoalan fisikalnya semata, melainkan turut menjadi instrumen gagasan yang tanpa disadari menciptakan terminologi sendiri. Masyarakat konsumen ikut membentuk sistem teknologi itu sendiri yang berbagi tempat dengan pihak produsen teknologi. Keduanya sama-sama mengandung komponen sebagaimana Thomas P. Hughes tulis bahwa sistem teknologi mengandung komponen yang berantakan, kompleks, dan komponen yang dapat memecahkan masalah. Teknologi secara sosial dibentuk dan membentuk masyarakat.[2] Jadi, ada semacam resiprokalitas dalam praktik sistem teknologi di masyarakat.

Muslihat konsumen sebagaimana tertulis dalam pengantar OK. Video 2013 diyakini memiliki cara-cara mandiri dalam menyiasati keterbatasan kuasa terhadap teknologi video ataupun moving images, baik kuasa terhadap “perangkat keras” (benda) ataupun “perangkat lunak” (gagasan). [3] Lagi, sebagaimana Thomas P. Hughes sebut bahwa sistem teknologi dapat memecahkan masalah atau memenuhi tujuan yang dapat menggunakan cara apa saja yang tersedia dan sesuai, masalah harus dipecahkan dengan penataan kembali dunia fisik dengan cara yang dianggap berguna atau diinginkan, setidaknya oleh mereka yang merancang atau menggunakan sistem teknologi. Sebuah masalah yang harus dipecahkan, bagaimanapun, mungkin melatari munculnya sistem sebagai solusi. [4]

Masyarakat konsumen bertindak sebagai adaptor, inventor dan inovator yang melebihi perkiraan tentang utilitas teknologi itu sendiri. Teoritikus teknologi dari MIT Eric von Hippel dalam risalahnya memuat jabaran tentang apa yang ia definisikan sebagai komunitas inovasi, yakni suatu node makna yang terdiri dari individu atau lembaga yang saling berhubungan dengan pertukaran informasi yang mungkin melibatkan tatap muka, elektronik, atau komunikasi lain. Komunitas inovasi dapat menjadikan pengguna dan/atau produsen sebagai anggota dan kontributor. Lantas, kehadiran Jatiwangi Art Factory (JAF) dapat dilihat dalam pengertian von Hippel tentang komunitas inovasi. Jaf dalam kurun waktu terakhir ini telah melakukan kerja kolaboratif dan partisipatif dengan mengembangkan inovasi mereka.

Sejak berdiri pada 27 September 2005 beragam program telah dipresentasikan dengan melibatkan diri kepada warga dan aparatur pemerintahan desa. Konektifitas antar seniman, peneliti, warga desa, aparatur pemerintahan menjadi kekhasan aktifitas Jaf melalui serangkaian program berbasis pemberdayaan masyarakat yang mereka lakukan. Diantaranya adalah program residensi, festival video, festival musik yang secara rutin dilaksanakan. Disamping itu Jaf mempunyai strategi dalam menjalankan programnya seperti dalam program residensi yang melibatkan seniman dengan warga dalam membuat karya seni. Ini menarik, bagaimana interaksi dan pemetaan dilakukan oleh seniman dan warga untuk menemukan formula edukasi dan produksi pengetahuan melalui karya yang dibuat.

Meminjam terminologi Jaf, program residensi merupakan hubungan tamu-tuan rumah. Konsep tamu-tuan rumah dimaksudkan untuk melonggarkan batas-batas dari praktik seni dan mendorong penciptaan karya seni yang merefleksikan ide-ide, tradisi, dan isu-isu komunitas setempat yang dipadukan dengan ide-ide dan praktik artistik dari para seniman tamu.  Para partisipan juga akan menjelajahi pola-pola hubungan tradisional-modern, rural-urban, global-lokal, dll. [5] Alih-alih konsep tamu-tuan rumah hemat saya merupakan hubungan dialektis yang dikotomistis dalam mengafirmasi praktik penciptaan karya seni. Namun, metode ini berhasil tidak hanya memproduksi pengetahuan atau mendistribusikannya saja melainkan dapat menjadi sarana dialog lintas budaya melalui karya seni yang diciptakan. Penciptaan karya seni dalam kerja partisipatif Jaf menghadirkan diskursus seni yang lebih berkhidmat kepada kepentingan publik—minimal publik Jatiwangi.

Metode jenial ini adalah trend dalam modus penciptaan karya seni kontemporer dewasa ini yang sudah berlaku alamiah sebagai kehendak sejarah untuk membuatnya demikian.  Namun, kehendak sejarah yang alamiah ini tidaklah terberi begitu saja—ia lahir dan berkembang dalam siklus dan atmosfer perubahan. Eksistensi Jaf merupakan konsekuensi dari perubahan tatanan sosial dan politik di Indonesia disamping proliferasi perkembangan teknologi informasi. Tak semudah jika itu didapat di rezim analog yang membatasi baik terhadap akses alat produksi maupun wacana. Sebagaimana Philip Kitley catat, di zaman rezim analog hubungan negara-masyarakat digabungkan dalam penggabungan progresif masyarakat sipil ke dalam negara. [6]

Salah satu praktik berkesenian Jaf yang mengundang perhatian adalah festival video pedesaan (Village Video Festival)—sebuah festival berskala internasional yang secara perdana diselenggarakan pada tahun 2009. Gagasan video di masa digital ini turut dimainkan oleh Jaf dengan pendekatan partisipatif ala Jaf. Konsep tamu-tuan rumah menjadi aksioma dalam setiap program Jaf termasuk perhelatan Village Video Festival dimana hubungan yang bersifat oposisi biner dilakukan dengan pemetaan masalah, potensi dan riset kewilayahan yang dilakukan secara bersama dan kemudian dipresentasikan dalam bentuk video. Produk yang dihasilkan tidak berhenti pada ruang pameran melainkan dapat didistribusikan kepada warga desa melalui jaringan televisi komunitas yang siarannya dapat ditangkap di sekitar Jatiwangi.  Peluncuran perdana JAFTV pada penyelenggaraan 3rd International Video Residency Festival 2011 menjadi saluran kemandirian informasi warga Jatiwangi. Dan menariknya, kehadiran JAFTV secara ekspisit dimaknai sebagai counter-discourse terhadap kepanikan massal yang terjadi atas informasi yang meluber dari sajian televisi mainstream. Hemat saya, peran warga Jatiwangi dalam memproduksi informasi adalah sebagai manifestasi warga negara aktif yang mempunyai kesadaran politiknya—tidak menjadi warga negara pasif yang panik terhadap banjir informasi.

Berlanjut pada perhelatan 4th International Video Residency Festival 2012 yang mengusung tema IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS.  Tema ini secara arketipal berhubungan dengan terma good government—yang dikomunikasikan melalui karya video. Jaf menyebutnya sebagai sharing kekuasaan antara pembuat kebijakan dalam hal ini MUSPIKA Kecamatan Jatiwangi dengan para partisipan yang terdiri dari latar belakang berbeda seperti seniman, peneliti dan praktisi. Seturut dengan perhelatan Village Video Festival sebelumnya, pada perhelatan keempat ini tetap menjadikan karya video sebagai usaha untuk menciptakan kemandirian informasi dan kesadaran dalam menggunakan media.

Disamping itu, Jaf tidak hanya berkecimpung dalam pengkaryaan medium audio visual tetapi juga mengeksplorasi potensi geografis tanah Jatiwangi yang merupakan bahan baku untuk industri genteng dan keramik. Tanah Jatiwangi dimaknai sebagai moda kebudayaan baru dimana tanah dapat dijadikan instrumen berkesenian mulai dari musik, carf, seni rupa, keramik hingga seni performance. [7] Festival Musik Keramik menandai gugus kebudayaan baru bagi warga Jatiwangi dalam mempersepsikan dan mengartikulasikan potensi tanah Jatiwangi sebagai sebuah ritus kontemporer yang dihayati oleh warga Jatiwangi.

Aktivisme—menjadi model dalam mengekspresikan semangat gerakan media baru. Pesatnya perkembangan Media Baru dan teknologi komputer memiliki potensi untuk mengubah sifat dari ruang publik dan membuka saluran baru komunikasi untuk proliferasi suara-suara baru. [8] Dalam amatan Manuel Castells bahwa teknologi media baru merupakan pusat untuk proses ini. Ini adalah teknologi ‘mediasi’; teknologi yang membuat jaringan dapat dihubungkan dan memungkinkan adanya masyarakat jaringan.[9] Tentunya, Jaf ambil bagian dalam aktivisme gerakan media baru yang mengoptimalkan fungsi dari perangkat multi-platform media baru seperti curah video di Youtube, radio, produksi konten video, tv komunitas dan sharing informasi via web yang mereka kelola.

Media baru yang sifatnya viral dapat bermutasi ke dalam berbagai bentuk—termasuk bagaimana menukangi dan mengakali praktik muslihat teknologi. Dan Jaf dengan caranya berhasil melakukan aksi siasat terhadap kuasa teknologi dengan aksi sepihak sebagai modus operandinya. Sebuah tageline JAFTV, PAREUMAN BAE dan bagaimana masyarakat Jatiwangi dengan mudahnya masuk tv merupakan negasi terhadap kuasa teknologi audio visual yang bersifat korporatis dan terpusat.  Akhirnya, kemampuan melakukan inovasi adalah modal untuk merumuskan dan mengaktualisasikan potensi warga yang semakin terdesak oleh aparatus korporasi yang beriman kepada kepentingan akumulasi modal. Jatiwangi Art Factory (JAF) telah melakukan muslihat yang melahirkan gugusan masyarakat inovasi—benteng pertahanan kemandirian dan kemerdekaan masyarakat demokratis.



[1] Lihat Ithiel de Sola Pool, Technologies of Freedom, The Belknap Press of Harvard University Press, Cambridge, MA & London. 1983. Hal. 194

[2] Lihat Thomas P. Hughes, “The Evolution of Large Technological Systems”, dalam Wiebe E. Bijker (Ed.), The Social Construction of Technological Systems New Directions in the Sociology and History of Technology, The MIT Press, Cambridge, Massachusetts & London. 1987,1989,1993. Hal. 51

[3] Lihat Pengantar MUSLIHAT OK. Video – 6th  Jakarta Interantional Video Festival. http://okvideofestival.org/2013/

[4] Op.cit, Hal. 53

[5] Lihat  http://jatiwangiartfactory.wordpress.com/about/festival/

[6] Lihat Philip Kitley, “Television and the public sphere in Indonesia after Reformasi”, dalam Philip Kitley (Ed.) Television, Regulation and Civil Society in Asia. RoutledgeCurzon. London: 2003. Hal. 98

[8] Lihat  Glen Creeber and Royston Martin, Digital Cultures. Glen Creeber and Royston Martin (Ed.). Open University Press. Berkshire & New York. University Press McGraw-Hill Education. 2009. Hal. 5

[9] Lihat Robert Hassan & Julian Thomas. The New Media Theory Reader. Berkshire & New York. Open University Press & McGraw Hill-Education. 2006. Hal. xxiv

 

Sumber Acuan

Eric von Hippel, Democratizing Innovation, The MIT Press, Cambridge, MA & London. 2005.

Glen Creeber and Royston Martin, Digital Cultures. Glen Creeber and Royston Martin (Ed.). Open University Press McGraw-Hill Education, Berkshire & New York. 2009.

Henry Jenkins and David Thorburn, “Introduction: The Digital Revolution, the Informed Citizen, and the Culture of Democracy”dalam Democracy and New Media, Henry Jenkins and David Thorburn (Ed.). The MIT Press, Cambridge, MA. 2003.

Ithiel de Sola Pool, Technologies of Freedom, The Belknap Press of Harvard University Press, Cambridge, MA & London. 1983.

Pengantar MUSLIHAT OK. Video – 6th  Jakarta Interantional Video Festival. http://okvideofestival.org/2013/

Philip Kitley, “Television and the Public Sphere in Indonesia after Reformasi”, dalam Philip Kitley (Ed.) Television, Regulation and Civil Society in Asia. RoutledgeCurzon, London. 2003.

Robert Hassan & Julian Thomas. The New Media Theory Reader. Open University Press & McGraw Hill-Education, Berkshire & New York. 2006.

Thomas P. Hughes, “The Evolution of Large Technological Systems”, dalam Wiebe E. Bijker (Ed.), The Social Construction of Technological Systems New Directions in the Sociology and History of Technology, The MIT Press, Cambridge, Massachusetts & London. 1987,1989, 1993.

http://jatiwangiartfactory.wordpress.com/2012/10/22/ceramic-music-festival-2012/

http://jatiwangiartfactory.wordpress.com/about/festival/

 

Profil Penulis:
Renal Rinoza—Peneliti Media yang saat ini sedang melakukan pengembangan risetnya dibidang Persebaran Komunikasi Massa, ICT, Network Society, Computer Mediated-Communication (CMC) dan Dampak Pembangunan Di bidang Teknologi Informasi. Bersama tim Akumassa Forum Lenteng menulis Laporan Penelitian Pemantauan Media Berbasis Komunitas: Kajian Terhadap Sajian Informasi Media Massa Lokal yang telah diterbitkan bulan April 2013. Lahir di Jakarta, 8 Maret 1984. Lulus kuliah S1 di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pernah kuliah Filsafat Barat di Program E.C Ilmu Filsafat di STF Driyarkara.

 

*)OK. Video adalah festival seni video internasional pertama di Indonesia yang diselenggarakan setiap dua tahun sejak 2003 oleh ruangrupa, sebuah organisasi seni rupa kontemporer di Jakarta. MUSLIHAT OK. Video – 6th Jakarta International Video Festival akan diselenggarakan pada 5-15 September 2013, di Galeri Nasional Indonesia. Informasi lengkap festival dapat diakses di www.okvideofestival.org.

Comments (0)

200.000 Hantu: Subversi, Arsip dan Trauma

Tags: , ,

200.000 Hantu: Subversi, Arsip dan Trauma

Posted on 23 July 2013 by jarakpandang

1366749767-200000-phantoms

Di dalam video subversi arsip Jean Gabriel Periot yang berjudul 200.000 Phantoms, yang menjadi objeknya adalah bangunan yang pada awalnya direncanakan untuk sebuah tempat pameran produk-produk industri di Hiroshima. Bangunan dengan nama awal Hiroshima Commercial Prefectural Exhibition ini dirancang pendiriannya sejak tahun 1910 oleh seorang insinyur Ceko bernama Jan Jetzel dengan tujuan sebagai gedung pameran untuk produk-produk industri Jepang di perfektur tersebut. Bangunan ini diselesaikan pada tahun 1915. Pada tahun 1921 nama bangunan ini sempat diubah menjadi Hiroshima Prefectural Products Exhibition Hall dan pada tahun 1933 namanya diubah lagi menjadi  Hiroshima Prefectural Industrial Promotion Hall[1]. Perubahan namanya menjadi Genboku dome dilakukan pasca Agustus 1945 sebagai peringatan pemerintah Jepang atas tragedi kemanusiaan Perang Dunia II yang menghancurkan kota Hiroshima. Sejak era 1950-an, pemerintah Jepang telah merencanakan untuk memugar kembali bangunan ini dan dijadikan museum Peace Memorial Park untuk memperingati peristiwa pemboman kota Hiroshima oleh Amerika Serikat. Sejak 1966 Memorial Park ini resmi dibuka untuk umum dan setiap tanggal 6 Agustus diadakan sebuah upacara di tempat itu yang bertujuan untuk mengenang yang telah terjadi pada 1945 tersebut.

Di dalam video karya jean Gabriel Periot ini, arsip mengenai Hiroshima Peace memorial/Genboku Dome dan daerah-daerah sekitarnya seperti jembatan dan sungai yang ditampilkan dari berbagai sisi yang sifatnya subversif dari narasi sejarah, banyak kesan yang ingin ditampilkan seperti isu mengenai modernitas ala barat yang memiliki dua sisi sekaligus yaitu hitam dan putih. Digambarkan bagaimana suasana masyarakat di sekitarnya yang nampak ramai menggunakan jalan darat baik dengan kendaraan kereta kuda maupun trem, dan perahu di sungai yang menggambarkan aktivitas transportasi sungai disekitarnya mulai saat ketika pembangunannya pada tahun 1910an hingga ketika bangunan tersebut berfungsi sebagai bangunan megah tempat pameran barang-barang hasil industri manufaktur Jepang. Setelah menampilkan dinamika yang dimunculkan oleh arsip perihal awal dibangun hingga Hiroshima dan Genbaku dome menjadi sebuah kawasan perkotaan yang ramai, secara tiba-tiba video ini menampilkan kabut putih dan suara keras seperti bom yang menghantam, ketika itu  kota Hiroshima yang diserang dengan menggunakan bom atom yang dikembangkan secara diam-diam oleh pihak militer AS dan presiden Harry S. Truman, yang bahkan tidak diketahui pula oleh kongres AS, penggunaan teknologi mematikan ini diduga karena secara geopolitik Amerika Serikat terancam apabila Jepang sewaktu-waktu melancarkan serangan ke Washington D.C. seperti halnya Pearl Harbour apabila militer Jepang terdesak Asia, oleh karena itu sebagai upaya terakhir untuk memaksa tentara Jepang menyerah ditambah motivasi tampil sebagai pemenang perang, AS melakukan pengeboman pada tanggal 6 Agustus 1945 pukul 6.15 pagi itu menewaskan 140.000 orang rakyat Hiroshima yang terkena radiasi bom tersebut[2]. Para perancang kebijakan di AS dengan enteng menyebutkan bahwa pengeboman dersebut sah untuk menyelamatkan rakyat Amerika dari kemungkinan serangan, ungkapan militer AS yang terkenal adalah “Better us than them” dan “There are no Civillians In Japan”[3]. Selain itu, motivasi AS dilihat dari teori politik Internasional realis vis pacem parabellum adalah untuk menciptakan sebuah rejim/order melalui kemenangan atas perang dunia II dimana AS sebagai pemeran utamanya seperti yang kita lihat hingga sekarang ini[4].

Pasca tampilan ledakan disertai kabut putih yang menyelimuti  dalam video ini, penampilan dalam susunan arsip dalam video Periot ini berubah seketika menjadi pemandangan kota Hiroshima pasca pemboman yang dipenuhi pohon-pohon yang mati dan kota, jalanan, serta lingkungan sekitar  yang porakporanda namun dengan titik fokus yang sama yaitu bangunan tersebut yang kini dilihat dari berbagai sudut kota yang hancur, orang-orang yang masih hidup tampak melihat puing-puing bangunan tersebut seakan bangunan itu merupakan ikon saksi bisu sejarah kelam yang mereka alami akibat kecanggihan teknologi perang modern yang menghancurkan, Periot seakan ingin mengatakan bahwa kesadaran identitas dan kasih sayang sesama manusia telah kabur oleh konstruksi batas wilayah, sejarah dan ambisi politik yang akhirnya menjadikan teknologi sebagai instrumen penghancurnya.

Setelah menyajikan banyak bagian-bagian arsip yang menampilkan puing-puing reruntuhan, sisa-sisa pengeboman, dan pohon-pohon yang mati, selanjutnya video ini menggambarkan bagaimana masyarakat pasca perang mulai kembali bangkit membangun kotanya dan kembali beraktivitas atas seruan pemimpin politik mereka, namun disisi lain aktivitas mereka membangun kembali bangunan dan kota-kota yang hancur ini terdapat kenangan yang pedih yang mengingatkan mereka kepada trauma akan kehilangan keluarga dan teman-teman mereka, bangunan-banguan yang hancur masih merupakan saksi bisu trauma mendalam masyarakat Hiroshima yang menjadi korban atas perang yang dijalankan pemerintahnya untuk menguasai Asia. Kota tersebut perlahan dibangun meski dengan trauma yang mendalam melihat puing-puing yang ada, namun dengan kegigihan mereka mulai dapat mengembalikan kondisi kota yang telah hancur, aktivitas seperti lalu lintas, pembangunan, dan kegiatan ekonomi mulai kembali berjalan. Berkat kerja keras masyarakat Hiroshima kota ini kembali dan bangunan Genbaku dome menjadi museum peringatan yang saat peresmiannya masyarakat berbaris membawa foto-foto para korban dan spanduk bertuliskan “No More Hiroshima’s” yang menunjukkan ketidakinginan rakyat akan ada korban di belahan dunia manapun yang akan mengalami kehancuran seperti ini lagi.

Pada bagian terakhir, video ini menampilkan perkembangan sekitar Genboku dome hingga era post-industrialis Jepang yang serba canggih disertai gedung-gedung pencakar langit yang berada di Hiroshima, namun disisi lain, upacara untuk mengenang tidak hanya dilakukan di hari-hari tertentu, namun di setiap hari dimana rutinitas kota-kota Hiroshima modern yang sibuk dan padat, tetap saja banyak orang yang mengunjungi Genboku dome hanya sekedar untuk mengenang kembali peristiwa kelam tersebut, Genboku dome terus berdiri ditengah gedung-gedung pencakar langit Hiroshima dan menjadi suatu trauma tersendiri yang akan terus hidup dan dapat dirasakan ditengah-tengah perkembangan masyarakat modern Jepang sampai saat ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dunne,Tim,dkk. 2007. International Relatons Theories : Discipline and Diversity. New York :

Oxford University Press Inc.

Hafiz. 2012. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Seni Video

Jung Oh. Hiroshima and Nagasaki : The Decision to Drop The bomb

http://www.worldheritagesite.org/sites/genbakudome.html

http://www.war-memorial.net/Peace-Memorial-Museum,-Genbaku-Dome,-Hiroshima-1.40

http://whc.unesco.org/en/list/775/

 


[3] Jung Oh. Hiroshima and Nagasaki : The Decision to Drop The bomb, hlm. 3

[4] Tim Dunne, Milja Kurki, Steve Smith. 2007. International Relations Theories : Disciplin and Diversity. New York : Oxford University Press Inc. hlm. 53-60

Tentang Penulis.

Insan Praditya. Mahasiswa jurusan ilmu sejarah Universitas Indonesia. Tertarik dengan kaitan arsip sejarah dan karya seni kontemporer, serta sejarah hubungan internasional.

Comments (0)

P1030288

Tags: ,

Seni di Sudut Sunyi Singapura

Posted on 13 September 2012 by jarakpandang

Berkunjung ke negeri singa Singapura, bayangan tentang kota besar yang tidak pernah tidur mendandak menjadi kenyataan. Hampir setiap sudut dipadati gedung pencakar langit yang gemerlap, serta lalu lalang manusia yang padat dan cepat. Dari mulai kawasan distrik bisnis di Central Area sampai dengan Pulau Sentosa di sisi selatan. Dari mulai pusat perbelanjaan sampai pusat edukasi, semua tertata rapi. Memang, tata letak kota yang efisien dipadu dengan teknologi tinggi membawa peradaban negara ini selangkah lebih maju dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Namun potret Singapura yang high class ini ternyata tidak bisa menjangkau semua kalangan ke dalam satu frame. Cobalah berkunjung ke daerah-daerah yang kurang terkenal. Anda akan menemukan komplek apartment usang yang dihuni oleh kalangan menengah ke bawah. Sebuah potret lain yang terabaikan dari megahnya negeri singa. Di kawasan MacPherson misalnya, ada sebuah galeri seni yang bertema “Tribute to Vincent Van Gogh”. Jauh dari kesan eksklusif museum art yang ada di Marina Bay, galeri seni MacPherson ini justru dibuat di pilar-pilar dinding di lantai dasar apartment Pipit Road Blok 56. Proyek galeri seni ini diadakan oleh Social Creative, yang mana saya berkesempatan menjadi salah satu volunteer untuk proyek baru mereka disana pada hari Rabu (7/9/12) silam.

Social Creative adalah sebuah yayasan sosial yang bergerak dalam bidang seni. Sedikit anti-mainstream, mereka membuat galeri seni dengan konsep mural. Sejak tahun 2009, jejak-jejak karya organisasi ini sudah ada di Queenstown, Bras Basah Complex, Punggol, and Marina Barrage. Tentunya masing-masing galeri seni memiliki temanya sendiri. Ketika sampai ke lokasi Void Deck Art Gallery, saya terkagum-kagum dengan konsep minimalis yang mereka terapkan. Lebih kagum lagi, di saat meludah sembarangan di Singapura pun diancam dengan denda $1000, masih ada yang mau repot-repot memperjuangkan agar membuat mural di tempat umum jadi legal.

Kala, perempuan keturunan India yang menjadi director of volunteer pada sesi tersebut menceritakan tentang proyek galeri seni di kawasan Pipit Road Blok 56 tersebut. Impian yang paling tinggi dari setiap seniman disini adalah mewujudkan Singapura yang berwarna-warni, secara visual maupun emosional. Galeri seni tersebut sengaja dibuat sejak tahun 2011 untuk membuat masyarakat di lingkungan itu melek seni. Konsep edukasi sosial lewat adaptasi karya seniman asing inipun nampaknya jadi hiburan tersendiri untuk masyarakat sekitar.

Tugas saya dalam grup volunteer adalah merenovasi galeri seni sederhana yang catnya sudah memudar tersebut. Sembari saya membuat pola cat di dinding, satu perempuan dan dua laki-laki seumuran saya duduk di sudut, memperhatikan. Senandung khas Melayu sesekali keluar dari mulut mereka sambil bercanda. Menikmati sore hari di sudut Singapura yang jauh dari rakusnya transaksi ekonomi yang tidak terjangkau kantong. Ataupun sekedar menertawakan pemerintah yang berkoar-koar agar perempuan dengan tingkat edukasi tinggi cepat-cepat menikah untuk menghasilkan generasi yang teredukasi pula, sementara perempuan kelas bawah dianggap angin lalu.Mungkin juga ingin melupakan stereotype kental yang melabeli setiap ras disini. Galeri ini sudah bertransformasi, tidak lagi sekedar jadi sarang karya seni, tapi juga sudut nyaman untuk berkontemplasi.

Di sudut satunya ada beberapa laki-laki paruh baya yang sedang nongkrong di dekat dinding lukisan “Blossom Almond Tree” sambil bercerita. Bisa jadi sebelum galeri seni ini ada, mereka tidak kenal dengan maestro pelukis post-impressionist asal Belanda tersebut. Sesudahnya pun mungkin mereka tahu, tapi tidak peduli. Lukisan yang aslinya seharga milyaran tentu saja tidak jauh lebih penting dari pajak penghasilan 15% itu.

Ada garis merah antara nyawa yang terkandung di lukisan-lukisan karya Van Gogh dengan atmosfer lingkungan galeri seni ini. Siapa sangka pelukis yang sudah menelurkan sekitar 900 lukisan dan 1100 gambar dalam 10 tahun terakhir hidupnya ini, adalah hasil dari lingkungan kumuh yang terabaikan di London. Lewat asupan semangat dari adiknya, Theo, Van Gogh akhirnya tetap menekuni dunia lukis walaupun pernah dikeluarkan dari sebuah sekolah seni. Karyanya yang khas dengan warna yang dinamis menjadi sorotan dunia. Publik dibuat terhanyut ke dalam emosi yang sarat dalam self-potrait yang konon kebanyakan terinspirasi oleh sang adik. Duplikat karya yang emosional ini seakan menyatu dalam dinding-dinding dingin ini. Berada di kehidupan yang miskin dan sakit-sakitan, Van Gogh berhasil menorehkan namanya untuk tetap dikenang sampai sekarang lewat karya seni.

Di tengah tingginya tuntutan hidup yang membuat orang-orang tak ubahnya menjadi robot hitam putih, masih ada sekelompok orang yang berjuang ‘memanusiakan’ Singapura lewat karya seni warna-warni. Mendadak pikiran saya melayang ke kota asal saya, Yogyakarta. Membayangkan mural sepanjang jalan menuju Malioboro. Ah, seni, memang tidak mengenal kasta.

Shofi Awanis*

mahasiswi Universitas Gajah Mada Jurusan Ilmu Komunikasi 2009.

Comments (0)

Serrum Studio

Suara Tembok Kota

Posted on 16 July 2012 by jarakpandang

Seorang laki –  laki tengah menyobek poster kampanye pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Di sebelah, seorang rekannya sedang membuang ratusan lembar uang berwarna biru dan merah. Dari tengah – tengah mereka kemudian muncul sesosok makhluk asing. Tak jelas. Tapi ia membawa sebuah pesan yang penting. Pilkada Bersih tanpa Politik Uang.

            Itu bukan sebuah rekaan pikiran semata. Jika melintas di dekat Stasiun Kereta Cikini, niscaya citra imaji itu terlihat. Sebuah karya mural dari Serrum Studio itu menempati tembok kosong di dekat Stasiun Cikini itu memang menarik perhatian warga yang melintas. Terutama karena visual ‘pembuangan uang’ yang terlihat nyata dari jarak beberapa meter. Kadang, beberapa warga datang mendekat untuk sekedar melihat apakah uang tersebut nyata adanya atau hanya rekaan.

            Akan tetapi tidak banyak warga Ibukota yang tahu, bahwa karya mural itu merupakan salah satu dari 10  titik mural yang tersebar di seantero Jakarta. Mural – mural tersebut merupakan hasil kerja dari program Suara Warga Di Ruang Kota (SWDRK). Sebuah program yang dikerjakan bersama oleh RUANGRUPA, Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI), serta The Asia Foundation.

Tujuan diadakan program ini, mengutip dari laman situs jejaringnya, merupakan sebuah upaya penyadaran yang dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat guna membangun kesadaran dalam meyuarakan aspirasi mereka, terutama terkait dengan isu Pilkada DKI Jakarta 2012. 5 street artist turut serta dalam porgram ini. Serrum Studio, Otakkanan, Stenzilla, The Popo, serta Jeanny dan Robowobo.

Selain tembok kota, beberapa seniman akan membuat 5 video art terkait dengan masalah – masalah yang ada di Jakarta. Slogan ‘ayo warga awasi janji’ menjadi landasan bagi program ini untuk mengajak peran serta warga ibukota untuk turut mengawasi dan menagih berbagai macam ‘janji’ yang telah diutarakan masing – masing calon gubernur saat berkampanye.

            Apa yang dilakukan RUANGRUPA ini menarik untuk diamati. Karena ada sebuah keberanian untuk berjalan di koridor yang terpisah dari yang lain. Di tempat lain misalkan, membahas isu pilkada dengan cara yang sama seperti dulu, dilakukan dengan diskusi – diskusi yang alot. Namun program SWDRK ini kemudian memilih street art serta video art, sebagai jalan untuk mengampanyekan kesadaran politik yang sehat bagi warga ibukota.

Mereka yang terlibat dalam program ini, diantaranya The Popo, Otakkanan, Serrum Studio, serta beberapa nama lainnya, tentu mengerti dengan baik bagaimana menciptakan dan menggabungkan elemen – elemen visual ke dalam satu rangkaian gambar. Dimana tentu saja di dalamnya memiliki tutur pesan dengan tingkat keterbacaan yang tinggi. Sebab karya – karya di tembok ini selain enak untuk dipandang juga harus mampu menyampaikan pesannya bagi siapa pun yang melihat, dari kelas manapun, dan dari latar belakang apa pun.

Beberapa mural yang dibuat, memang memberi pesan yang terang dan jelas untuk mereka yang melihat, tentang pentingnya mengawasi janji – janji. Menyoal pengawasan janji, hal ini harus dilakukan agar dapat tercipta pemerintahan yang bersih dan jujur serta memperhatikan kepentingan rakyat.

            Kehadiran gambar – gambar di tembok awalnya identik dengan sesuatu yang melawan. Beberapa kalangan, menyematkan istilah vandalism terhadap kegiatan ini. Padahal jika ditilik dari sejarah, gambar – gambar di tembok seperti sekarang juga pernah muncul pada zaman perang kemerdekaan. Tulisan – tulisan (belum dikenal istilah grafiti waktu itu) bertema perjuangan seperti ‘Boeng Ajo Boeng’, ‘Merdeka ataoe Mati’, ‘Freedom’, bertebaran di seisi kota yang porak poranda.

Kehadiran tulisan itu kemudian, mengamini apa yang dilakukan seniman street art  saat ini. mereka mengambil posisi sebagai suara rakyat yang tak kelihatan.

Coba simak karya dari The Popo. Warga Jakarta di wilayah selatan pasti kenal baik dengan karakter ciptaan Popo. Ia membuat karya dalam frame – frame dan pose layaknya foto calon gubernur dengan wakilnya. Hanya saja slogan dari pasangan itu terlihat sedikit unik, ‘Pemimpin Kita AMNESIA, Suka Lupa Sama Warga’. Sebuah sindiran dari kealpaan para calon untuk melaksanakan janji yang tertera pada poster kampanye mereka sendiri.

            Atau tengoklah karya Otakkanan. Dua buah mural besar mengisi ruang kosong di tembok daerah Daan  Mogot. Karya pertama menggambarkan dua orang wanita sedang berdialog. Mereka sedang bergunjing nampaknya. Sambil berbisik lirih seorang wanita berbisik pada yang lain, “ Jangan pilih CAGUB yang GOMBAL yaa..Jeeeng!!”.

Sementara pada karya kedua masih dengan gaya gambar yang sama. Namun, jika dilihat selintas mural ini mengingatkan dengan gaya poster propaganda Uni Sovyet sewaktu Perang Dunia II. Sepasang pria dan wanita sedang menenteng ban dan kunci pas. Mereka dilingkupi oleh garis lingkar merah yang terdapat tulisan,’PILIH DENGAN HATI!!’ sementara di latar bagian bawah, tampak siluet kota Jakarta dan tulisan ‘Pilkada Untuk Perubahan Jakarta Yang Lebih Baik’. Kedua karya mural tersebut dengan baik  menggambarkan fenomena politik yang telah masuk, dengan lebih serius di kalangan masyarakat.

            Entah disadari atau tidak, pemilihan street art sebagai medium dalam menyampaikan pesan kepada warga ini juga seperti simbolisasi gerakan perlawanan dan aktivisme. Street art, dalam berbagai pendapat dikatakan sebagai bentuk seni (rupa) yang mencoba melawan hegemoni kanon seni rupa di Barat. Sehingga tidak jarang banyak yang mengaitkan bentuk seni rupa ini dengan pergerakan – pergerakan politik dan revolusioner.

            Menurut Mirwan Andan, Koordinator Research and Development RuangRupa, proyek ini diharapkan dapat berjalan dalam jangka panjang, terutama sampai pemilihan umum presiden tahun 2014. Kehadiran proyek ini tentu dapat menjadi alternatif bagi  masyarakat dalam menyikapi kondisi politik di Jakarta, di tengah tekanan dari berbagai media massa yang mulai tidak berimbang pemberitaannya.

Program Suara Warga Di Ruang Kota ini juga diharapkan dapat menjadi sebuah momentum untuk lebih meningkatkan intensitas aktivisme seni. Khususnya dalam tugasnya untuk mendampingi dan mendidik masyarakat. Lewat karya – karya mural yang menarik perhatian mata, graffiti yang bermain dengan kata – kata satir, menggambarkan ironi para penguasa dan kaum mapan. Berharap akhirnya masyarakat akan terbangun dari mimpinya dan turut serta bersuara dalam ruang kota yang penuh warna.

Leonhard Bartolomeus*

*) Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, kontributor jarakpandang.net, peserta Workshop Penulisan ruangrupa Angkatan V.

Comments (0)

Catatan Performance Art Touring Bandung-Jakarta-Singapore

Tags: , , ,

Catatan Performance Art Touring Bandung-Jakarta-Singapore

Posted on 20 June 2012 by jarakpandang

Performance Art Touring yang dilaksanakan 28 Mei 2012 di RURU Gallery ruangrupa menampilkan 12 seniman performans dari tiga kota: Bandung, Jakarta, dan Singapura. Mereka adalah Kelvin Atmadibrata, Li Cassidy-Peet, Terry Wee, Vincent Chow, Deni Ramdani, Dylan Muhammadi, Intan Agustin, Reza Afisina, Peri Sandi Huizche, Riezky Hana Putra, Hauritsa, dan W. Christiawan.

Seni performans tidak mengandalkan susunan plot, dramaturgi, ritme, dan berbagai tehnik teatrikal lainnya, seperti opera, tari, paduan suara, konser, dan sebagainya. Performance art lebih merupakan sebuah karya reduksi dari berbagai hal (bentuk, faham, filosofi, teori, pemikiran) yang telah mapan. Ia banyak memecah dan mendobrak benteng-benteng dan puri agung paradigma lama hingga seringkali dicap sebagai karya anomali. Beberapa karya dalam Performance Art Touring Bandung-Jakarta-Singapore memberikan pengalaman artistik sehingga kita bisa berdialog, menggugat, dan memprotes lewat dimensi sosial yang lahir dari sejarah dan tubuh masing-masing.

Membaca Empat Tubuh Sosial

Riezky Hana Putra aka Ponggah, salah seorang seniman dari Rewind Art Community (Universitas Negeri Jakarta) membuka pertunjukan secara komunikatif kepada audiens. Melibatkan penonton dalam aksi performans adalah pendekatan yang sangat menarik dan memperluas batasan medium. Dalam seri ini, Ponggah terlebih dulu bertanya kepada para penonton apakah mereka mengenal satu sama lain. Kemudian satu per satu kepala mereka ditutup bakul nasi. Mereka seperti mengenakan topi. Masing-masing bakul dihubungkan oleh seutas tali. Relasi antar kepala ini kemudian memusat pada satu titik: kepala Ponggah sendiri. Pada performans ini Riezky menawarkan pandangan atas jejaring sosial media yang hadir di tengah masyarakat memiliki fungsi kontrol yang global untuk kepentingan kapitalis.

Reza Afisina aktif sebagai seniman performans dan visual. Reza tampil mengunakan sebuah kursi. Suasana begitu hening, namun gelora jiwa begitu bergemuruh. Dengan kecerdasan artistiknya, Asung menggunakan media “kursi” sebagai simbol “kekuasaan”. Reza mengeksplorasi tubuhnya dan memutar kursidari berbagai arah. Dalam performans ini, kursi tidak diperlakukan sebagaimana fungsinya. Di sini letak protes yang coba ditawarkan. Penguasa datang dan pergi, namun tidak pernah menggunakan kekuasaannya sesuai dengan fungsi yang wajar. Performans ini, secara langsung atau tidak, menawarkan gagasan kritis tentang praktik politik yang penuh disfungsi.

Terry Wee, seorang pelukis abstrak sekaligus seniman performans muda dari Singapura,  memasuki ruangan dengan membawa ember, koran, dan gelas besar transparan lengkap dengan sedotanya. Terry berdiri di tengah ruangan, secara perlahan membuka koran lalu memilih lembar demi lembar. Lembaran koran itu lalu dimasukkan ke dalam ember berisi air, seperti mencuci. Ia kemudian membungkus kepalanya dengan kantung yang juga terbuat dari lipatan koran, menyandarkan tubuhnya pada dinding, lalu menyalakan sebatang rokok. Setelah itu ia mendekati ember, mencuci dan memeras remahan koran yang basah dan lapuk, kemudian menghisap air perasannya melalui sedotan. Di sini Terry menyadari pengaruh media yang tiada hentinya. Mobilisasi media massa, baik cetak maupun elektronik, semakin tidak mengenal jarak dan waktu. Era globalisasi merayakan pertukaran informasi dan kebudayaan. Media massa memberik pengaruh signifikan terhadap perkembangan identitas suatu bangsa.

W. Christiawan, pengajar di STSI Bandung, menempuh Program Doktor (2010) di Kajian Budaya Universitas Padjadjaran. Ia telah mempresentasikan karya performansnya di beberapa negara, seperti Thailand, Jepang, dan Jerman. Ia juga dikenal sebagai salah satu inisiator berdirinya Asbestos Art Space di Bandung. Malam itu di ruangrupa, karya performans W. Christiawan menjadi penutup program Performance Art Touring. Christiawan memasuki ruangan dengan kostum celana pendek dan sepatu sport. Ia menyeret trolley berisi jeruk, seperti sedang berbelanja di pasar swalayan. Ia mendorong dan memutar trolley itu, lalu masuk ke dalamnya. Dari dalam kereta belanja, ia berusaha keluar melepaskan diri. Setelah itu, ia perlahan masuk ke bawah trolley, hening sejenak. Selebihnya adalah aksi membuka plastik yang membungkus jeruk-jeruk, memasang segel kemasan pada sepatu, dan upaya untuk keluar dari jeratan benda-benda itu. Di akhir performans, ia memeras segenggam jeruk, membiarkan sari-sarinya menetes ke dalam matanya. Perih. Christiawan menawarkan pandangannya tentang peta globalisasi dalam konteks ekonomi, kapitalisme, dan mitos imperialisme.

*) Rudi Hartono

 

Comments (0)

Catatan: Bandung Contemporary Art Awards 2012

Tags: , , ,

Catatan: Bandung Contemporary Art Awards 2012

Posted on 21 May 2012 by jarakpandang

Di tengah medan seni rupa Indonesia yang penuh keterbatasan, hadirnya sebuah inisiatif harus dilihat dengan penuh apresiasi.

Ajang penghargaan adalah salah satu mata rantai dalam infrastruktur kebudayaan. Apresiasi sama pentingnya dengan produksi, distribusi, konsumsi, dan eksibisi. Penghargaan diberikan oleh sebuah institusi (pemerintah atau masyarakat) sebagai bentuk pengakuan atas kualitas dan pencapaian, untuk mendorong munculnya aktivitas produktif yang lebih baik di kemudian hari.

Perlu diingat bahwa sebuah ajang penghargaan tidak bisa menjadi tolok ukur yang mutlak. Ia hanya salah satu versi penasbihan yang tentu saja subjektif dan bisa diperdebatkan. Tetapi di Indonesia, ajang penghargaan begitu langka sehingga satu inisiatif saja sangat mungkin dilihat sebagai representasi umum. BaCAA berada dalam konteks ini. Dengan memakai nama kota dan menjadikan seni rupa kontemporer nasional sebagai ruang lingkupnya, ajang ini sebetulnya mengemban beban yang besar.

Ajang penghargaan yang ideal dapat mewadahi pihak-pihak di dalam suatu infrastruktur. Dalam konteks seni rupa: seniman, karya itu sendiri, kurator, kolektor, pengelola galeri (swasta dan pemerintah), kritikus, penulis, wartawan, inisiatif festival, manajerial, dan masyarakat. Maka suatu ajang penghargaan memiliki dua fungsi sekaligus; fungsi komersial dan fungsi sosial. Pada fungsi kedua, (ajang penghargaan) seni rupa berkewajiban untuk berinteraksi dengan masyarakat melalui transformasi pengetahuan. Bahwa perkembangan gagasan dan wacana harus sampai kepada publik.

Apa yang terjadi di Indonesia: fungsi komersial berjalan lebih aktif, lewat peran kolektor, pihak galeri, dan segelintir kurator. Sementara lembaga pendidikan seni, pengarsipan, dan media massa ada di sisi yang lain, dengan segala keterbatasannya. Absennya peran negara dan tiadanya tradisi museum (institusi di mana sejarah disusun secara runut), tentu bukan alasan untuk tidak memperbaiki keadaan. Gambaran ini perlu digunakan dalam melihat betapa timpang sesungguhnya medan seni rupa Indonesia. Ketimpangan yang diwariskan dari masa lalu.

Dalam konteks ini, BaCAA belum menjadi perhelatan yang lengkap, setelah dua kali diselenggarakan (2011 dan 2012). Ajang ini masih semata bicara pada seniman (sebagai produsen) dan para investor (kolektor, pemilik galeri, dan art dealer). Kepada para seniman muda, BaCAA memberi cukup peluang lewat berbagai fasilitas, mulai dari sejumlah uang, wisata biennale di luar negeri, hingga kesempatan residensi. Kepada para investor, BaCAA menjamin keberlangsungan aktivitas produksi karya seni. “These artworks belong to the artists or artist groups and should be available for sale, demikian salah satu persyaratan dalam aplikasi terbuka. Hal tersebut memperlihatkan besarnya kesadaran ekonomi (transaksi, investasi) dalam ajang ini. Namun demikian, komposisi tim juri terdiri dari empat elemen yang beragam: dua orang seniman, dua kurator, dua kolektor, dan seorang wartawan. Keragaman ini diharapkan berdampak pada majemuknya sudut pandang penilaian. Sehingga dapat diasumsikan bahwa karya yang dianggap baik telah memenuhi aspirasi keempat elemen tersebut.

Penghargaan dan Distribusi Pengetahuan

Keputusan sebuah ajang penghargaan adalah pernyataan sikap dan pandangan dewan juri beserta penyelenggara. Dalam BaCAA, keputusan itu adalah cermin dari apa yang ingin dikatakan tentang seni rupa Indonesia kontemporer. Di sinilah, setidaknya, letak fungsi sosial yang bisa ditawarkan oleh sebuah ajang penghargaan. Keputusan inilah yang menjadi “pengetahuan” dan bisa dibagi kepada masyarakat, salah satunya melalui peran media massa. Lewat keputusannya, dewan juri dan penyelenggara bertanggung jawab, tidak hanya pada peserta, tetapi juga pada publik seni rupa dan masyarakat luas, untuk mengemukakan latar belakang yang mendasari dipilihnya sebuah karya sebagai yang terbaik.

Pertimbangan apa yang digunakan untuk memprioritaskan karya tertentu? Apakah ada isu yang mendesak dan turut mempengaruhi proses ini? Di samping pertimbangan tren pasar seni rupa, yang juga sama pentingnya. Argumentasi ini harus dikomunikasikan secara utuh dan terbuka. Di sinilah justru peran sebuah ajang penghargaan dan kredibilitas penjurian (lebih luas lagi, mekanisme ‘kuratorial’) diperlihatkan.

Berdasarkan pencarian di dunia maya, tidak ditemukan data resmi berupa argumentasi yang utuh dari penyelenggara BaCAA terkait keputusan ini, bahkan di situs resminya sendiri. Penulis hanya menemukan satu pernyataan salah seorang dewan juri yang dikutip dari TEMPO.CO, 25 maret 2012:

“Dewan juri lebih tertarik pada karya-karya media alternatif, seperti video atau fotografi yang punya daya pukau. Kita sudah jenuh dengan media dua dimensi yang biasa-biasa saja. Selain itu, kecenderungan pasar dunia sekarang lebih ke media alternatif selain lukisan atau patung”. Demikian ucap Syakieb A. Sungkar.

Daya pukau seperti apa yang dimaksud para juri? Mengapa mereka lebih tertarik pada media alternatif? Apa hanya karena jenuh oleh media dua dimensi? Apa karena pasar seni rupa interasional kini mulai beralih ke media baru? Apakah tugas dewan juri dan penyelenggara sudah selesai setelah nama-nama pemenang diumumkan?

Andy Warhol, Sinetron, dan Posisi Seniman 

Dipilihnya medium berbasis video sebagai karya terbaik secara berturut-turut dalam dua kali penyelenggaraan BaCAA cukup menandakan signifikansi medium ini di ranah seni rupa Indonesia hari ini. Tahun 2011, karya video Anggun Priambodo berjudul Sinema Elektronik (4’, 17”, 2009) ditetapkan sebagai karya utama dalam kompetisi. Di tahun kedua, Eat Like Andy (4’, 2011) karya Yusuf Ismail juga ditetapkan untuk kategori yang sama. Sebagai catatan, keduanya ditampilkan secara perdana di perhelatan OK. Video, festival seni video pertama di Indonesia yang digagas ruangrupa. Sinema Elektronik pertama kali dipresentasikan di OK. Video COMEDY (2009) dan Eat Like Andy adalah commisioned work untuk OK. Video FLESH (2011).

Sinema Elektronik dan Eat Like Andy sama-sama mengetengahkan isu apropriasi dalam ranah (seni) media. Anggun Priambodo menertawakan habis-habisan kehadiran sinetron dan acara opera sabun murahan di televisi swasta Indonesia, yang jumlahnya terus menanjak sejak penghujung 90-an. Di video ini Anggun memainkan semua tokoh stereotip dalam sinetron-sinetron Indonesia, lengkap dengan latar ruang dan benda-benda di sekelilingnya. Anggun menggunakan video pembuka (opening title) sinetron sebagai pendekatan. Irama lagu, pencahayaan, warna, ritme, hingga bentuk huruf yang dipakai adalah apropriasi total terhadap program acara yang disaksikan dengan begitu rakus oleh jutaan orang itu. Drama, tragedi, komedi, telah bercampur dalam bentuk yang tak lagi bisa dikenali.

Melalui Eat Like Andy, Yusuf Ismail mengingatkan kita pada berakhirnya orisinalitas dalam aktivitas produksi seni rupa. Di video ini dapat dilihat bagaimana seorang seniman mati-matian meniru seniman lain. Karya video instalasi ini menggunakan dua kanal televisi yang paralel: Yusuf di satu sisi dan Andy Warhol di sisi yang lain. Dalam pernyataan di blognya (fluxcup.blogspot.com), Ucup mengajukan pandangan betapa kini masyarakat dibanjiri berbagai citraan dan fetish tentang idola melalui teknologi informasi yang telah menjadi komoditas massal. Berangkat dari tesis ini, ia mengajak siapapun untuk memikirkan lagi posisi intelektual, nilai estetis, dan makna sosial seni rupa kontemporer. Tetapi sesungguhnya, apa yang ditawarkan Yusuf bukan sekadar kritik terhadap seni rupa Indonesia, tetapi juga pada medan visual secara umum. Di mana kemudian posisi seniman dalam konteks ini? Bagaimana seni rupa menentukan lagi posisinya di tengah lanskap sosial dan kultural yang tak lagi sama?

Hadirnya apropriasi dan berakhirnya orisinalitas sebagai aspek yang dibawa oleh kedua karya ini menawarkan lagi pertanyaan tentang mahakarya. Sebab perlu diingat bahwa video, sebagai medium audiovisual, dapat direproduksi dalam jumlah yang tak terkira. Anda bahkan bisa menyaksikan video Anggun dan Yusuf di YouTube, tanpa harus pergi ke galeri, atau meminta izin kepada kolektornya. Video adalah medium yang cair, terbuka, dan massal. Sifat-sifat dasar ini hendaknya dipahami sebagai pijakan dalam berhadapan dengan seni media.

*)Ibnu Rizal, Sarjana Humaniora Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, peneliti dan penulis telaah sastra dan budaya visual, Peserta Angkatan 2009

 

Comments (1)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement