Archive | KARYA

Berkawan dengan Kelampauan

Tags: , ,

Berkawan dengan Kelampauan

Posted on 04 July 2012 by jarakpandang

Ditayangkan kembali secara nasional, Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail menyapa lagi penonton muda Indonesia melalui jaringan bioskop XXI. Mal Panakkukang, mal terbesar di Makassar Sulawesi Selatan, jadi salah satu tempat pemutaran di kawasan Indonesia timur.

“Film ‘serius’ sering ditinggalkan penonton…”, begitu kalimat yang menggaung di kepala saya waktu berniat menonton film ini. Begitu saya dan dua orang teman tiba di tempat pembelian karcis, mata saya tertuju pada layar komputer si kasir: ada dua puluhan kursi di Studio 5 XXI Mal Panakkukang sudah terisi. Lumayanlah, pikir saya, kami tidak sampai menonton bertiga saja. Kata ‘serius’ di dalam kalimat tadi bisa saja berarti ‘film drama’, ‘fakir adegan kelahi’, ‘minim adegan tembak-tembakan’, ‘kurang adegan percintaan’, ‘mesti mengerutkan kening’, atau ‘tanpa banyolan’.

Setelah empat tahun menanggalkan status sebagai penonton bioskop, Lewat Djam Malam menyeret saya untuk menjejakkan kaki kembali di atas lantai berkarpet tebal jaringan bioskop raksasa ini. Itu pun saya sadari ketika mau membayar tiket seharga tiga puluh ribu rupiah. Masih terang-benderang di ingatan, terakhir menonton film saya masih membayar lima belas ribu rupiah. Saya lupa judul film terakhir yang saya tonton di bioskop. Bahkan perubahan tipologi bioskop ‘21’ menjadi ‘XXI’ pun baru belakangan saya tahu.

Kami memutuskan tetap masuk kendati terlambat sepuluh menit dari jadwal pemutaran. Menunggu 120 menit lagi cukup menguras kesabaran. Kami duduk di deretan kedua paling belakang. Seperti biasa, deretan kursi itu adalah deretan idaman kawula penonton—baik buat berasyik-masyuk dengan pasangan maupun agar jarak pandang lebih leluasa ke layar.

Duduk di kursi B9, saya mendengar banyak tawa sebab tingkah polah para pelakonnya. Lima menit setelah menyandarkan punggung, rupanya masih ada dua orang yang lebih belakangan dari kami masuk ke dalam teater. Tapi tak lama berselang, sepasang laki dan perempuan, mungkin duduk di deretan kursi sebelah, berjalan menuju pintu Exit. Selebihnya, saya fokus ke layar.

Lewat Djam Malam pertama kali saya tonton di TVRI. Film hitam putih di televisi hitam putih. Tempo itu saya duduk di kelas VI SD. Kurun waktu itu pula, stasiun televisi milik pemerintah ini selalu memutar film Indonesia di acara Film Akhir Pekan (yang kerap didahului dengan Laporan Khusus). Tapi seingat saya, Lewat Djam Malam diputar menjelang perayaan kemerdekaan. Program Film Akhir Pekan pun kerap memutar film bernuansa revolusi. Maka menahan kantuklah saya untuk menonton Lewat Djam Malam ketika itu. Berkali-kali saya harus lari ke kamar mandi untuk membasuh wajah dengan air. Lumayan manjur. Tapi benak kanak-kanak saya sejujurnya hanya memburu adegan tembak-tembakan.

Bertahun-tahun kemudian ingatan saya tergerus. Tak ada satu pun adegan yang saya ingat dari Lewat Djam Malam. Mungkin karena dulu saya tertidur di awal-awal film ini. Tetapi yang paling menyangkut di kepala saya adalah wajah muda Netty Herawati, pemeran Norma. Netty pada akhir dasawarsa 1980-an bukanlah bintang asing. Wajah ayu Netty kerap muncul di film-film Rhoma Irama seperti Penasaran (1976), Raja Dangdut (1978), dan beberapa film lain. Biasanya aktris itu berperan jadi ibu lengkap dengan kebaya.

Kini Lewat Djam Malam mendatangi saya bertahun-tahun kemudian, tepatnya dua hari sebelum saya merampungkan tulisan ini di pekan pertama Juli 2012. Kini yang tinggal di pikiran saya tidak hanya wajah segar Netty Herawati, tetapi juga beberapa hal penting seperti bahasa yang dipakai dalam dialog para aktor. Sungguhlah elok mendengar cakap-cakap para pelakon di dalam gambar bergerak macam itu. Amatlah senang saya mendengar tuturan awal film-film kita, rupanya, bernuansa Melayu kental. Apalagi kala para penikmat pesta di rumah Norma berbalas pantun memakai lagu Rasa Sayange.

Betapa berharga pula Lewat Djam Malam khususnya bagi warga Bandung, kota yang menjadi latar film ini. Suasana klasik Bandung akan mengembalikan memori para warganya atau orang yang pernah mendatangi kota itu dulu, yang kini berusia enam puluhan tahun, untuk mengenang tempo-tempo itu.

Setelah Iskandar tertembak dan digotong naik ke rumah Norma oleh empat CPM, menampaklah tulisan “Kepada mereka jang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan njawa mereka supaja kita jang hidup pada saat ini dapat menikmat segala kelezatan buah kemerdekaan… kepada mereka jang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri”.

Lampu menyala. Rupanya usai sudah film ini. Yang tertinggal di bioskop hanya lima orang. Saya bertiga, dan dua laki-perempuan di ujung barisan kursi kami. Kami tertawa. Rupanya kami tidak sadar penonton lain sudah meninggalkan film dari masa kelampauan ini.

Beraneka tanggapan tersiar dalam tulisan-tulisan tentang film ini di banyak media. Tapi sekali-sekali kita butuhlah ‘mesin waktu’ semacam ini untuk menengok kota lama dan kata-kata lawas. Untuk ini, biarlah saya menjadi penonton sekaum dengan Iskandar, yang oleh Gafar disebut “siapa yang tidak bisa melawan kelampauan dia akan hancur.”

Mari kita berkawan dengan kelampauan.

*) Anwar Jimpe Rachman menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Makassar. Kini ia bergiat di Tanahindie, sebuah inisiatif intelektual di Makassar.

Comments (1)

PFM 6

Tags: , , ,

Saat Filsuf Bertanding Bola

Posted on 22 October 2011 by jarakpandang

Pandangan filosofis yang dianut seseorang tampaknya akan memengaruhi pula cara pandang orang itu terhadap sepakbola. Filsuf dan sastrawan Perancis Albert Camus pernah mengatakan bahwa sepakbola mengajarkan padanya segala yang ia ketahui tentang moralitas. Artinya, bagi Camus, sepakbola mengajarkan etika dalam menyikapi hubungan antarmanusia. Ada nada yang terasa hangat dan merengkuh dalam pernyataannya itu, sebagaimana filsafatnya yang menjunjung solidaritas dan kemanusiaan. BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Berziarah ke “Hujan Bulan Juni”

Tags: , , , , ,

Berziarah ke “Hujan Bulan Juni”

Posted on 17 July 2011 by jarakpandang

Oleh Winda Anggriani

Rintik hujan belum lagi berhenti. Pria berkacamata bening, bertopi, berpayung gelap, berwajah mirip Sapardi muda, berjalan sendiri. Seketika langkahnya terhenti. Sorot matanya nanar, menatap sendu pemandangan di depannya. Di jalanan pekuburan yang basah itu, seorang laki-laki dilihatnya tengah membantu seorang perempuan berkerudung keluar dari mobil untuk menaiki kursi rodanya. Puan dibimbing lelaki tadi untuk menyusuri area pekuburan yang sepi berlatarkan hujan. Sapardi hanya terdiam, raut wajahnya menyiratkan hatinya amat tersentuh. BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Ketika Penderitaan Menjadi Objek Wisata Pehobi Fotografi

Tags: , , , , ,

Ketika Penderitaan Menjadi Objek Wisata Pehobi Fotografi

Posted on 16 July 2011 by jarakpandang

“sabar ya nak, sebentar lagi kita dapet duit kok..” (Prasetyo Utomo)

Oleh Rizki Ramadan

Seorang ibu dan anak yang masih balita sedang terduduk di trotoar dengan pakaian yang lusuh tanpa alas kaki. Botol susu dan sebuah tas ada di sekitarnya.  Si anak terlihat sedang asik dengan benda yang dipegangnya, sepertinya sebuah plastik. Ia maju ke tepi trotoar menjauh dari jangkauan ibunya. Sementara sang Ibu mencoba meraihnya. Dalam foto yang berlatar waktu malam ini trotoar ditempati di kanan, mengisi setengah komposisi. Di luar trotoar adalah jalan raya. Terlihat beberapa pasang kaki wanita berjalan di jalan. Juga seorang pengendara motor yang sedang menepi. Mereka berpakaian rapih. Kontras dengan keadaan si Ibu dan anak yang menyedihkan. BACA SELENGKAPNYA

Comments (2)

‘Semuanya Ok’ dengan ‘Membaca’ tanpa ‘Menabrak’

Tags: , , , , , , ,

‘Semuanya Ok’ dengan ‘Membaca’ tanpa ‘Menabrak’

Posted on 07 July 2011 by jarakpandang

Salah satu adegan dari film Iqra - Ari Satria Darma

Oleh Manshur Zikri

 

“Gagasan-gagasan besar Eropa masuk ke Hindia Belanda sebagai ide tanpa landasan materialnya, sementara barang-barang teknologi Eropa masuk sebagai materi tanpa sejarah idenya.” (Ronny Agustinus)

Pernah terjadi diskusi dadakan di sebuah meja tongkrongan tentang perkembangan tradisi intelektual di Indonesia, khususnya di bidang seni rupa. Dalam diskusi itu, banyak pihak yang berpendapat bahwa kultur perkembangan intelektual Indonesia adalah “meloncat-loncat” dan ini menjadi kecenderungan para seniman muda masa kini dalam berkarya. BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Perjamuan  Kontemporer

Tags: , , , ,

Perjamuan Kontemporer

Posted on 02 June 2010 by jarakpandang

Oleh : Afra Suci Ramadhan

Yang menarik dari ‘reka ulang’ scene penting ini dalam karya Pramuhendra adalah penggambarannya dalam berbagai angle dan  sudut pandang. Selain itu, kehadiran Yesus dan para pengikutnya digantikan oleh Pramuhendra sendiri. Setiap gestur dan ekspresi tokoh dalam peristiwa itu dihadirkan dengan baik oleh penggambaran dirinya.

Setelah menggelar pameran seni persahabatan antara Perancis dan Indonesia, Galeri Nasional kembali menghadirkan sebuah pameran seni kontemporer di bulan Juni ini. Kali ini, seluruh karya berasal dari Indonesia, selain itu pameran ini juga lebih spesifik bertemakan “Indonesia Contemporary Drawing”. Terus terang, selama tahun 2009 saya belum pernah menghadiri pameran seni dengan jumlah karya sebanyak ini kecuali Biennale. Ketika datang pada acara pembukaannya, banyaknya karya dan para tamu sangat mempengaruhi ketekunan dalam mengamati karya-karya di dalamnya. Namun, di hari pertama tersebut, mata saya terpaku pada karya J. A. Pramuhendra yang berjudul “Divided and Fold”. Meskipun saya belum pernah melihat karya-karya Pramuhendra sebelumnya, saya tahu bahwa lukisan ini berangkat dari karya agung Leonardo Da Vinci “The Last Supper”. Hingga akhirnya, rasa penasaran  pada Pramuhendra mengantarkan saya pada karya-karyanya yang lain (thanks to ‘Godgle’). Saya baru tahu kemudian, jika karyanya tersebut hanya salah satu dari rangkaian karya “The Last Supper” versinya .

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Intertekstualitas dalam Seni Rupa: Impresionisme, Voyeurisme…

Tags: , , , , ,

Intertekstualitas dalam Seni Rupa: Impresionisme, Voyeurisme…

Posted on 02 June 2010 by jarakpandang

Oleh :  Ibnu Rizal

Kita sepakat bahwa sebuah karya seni rupa dapat ditempatkan atau diposisikan sebagai sebuah dokumen budaya, sebuah teks yang dapat dibaca, ditelaah dan diuraikan unsur-unsur yang dikandungnya. Sebagaimana halnya karya sastra, atau seorang arkeolog yang memposisikan sebuah artefak batu ribuan tahun silam sebagai sebuah teks, begitu pula sebuah karya seni rupa sebagai sebuah produk budaya, kiranya dapat ‘dibaca’ dan dimaknai dalam kerangkanya sendiri.

Jika kita sepakat bahwa seni rupa dapat dibaca dan diperlakukan sebagai teks, maka kita juga harus bisa menerima ciri-ciri yang menandakan sebuah teks, salah satunya adalah intertekstualitas. Intertekstualitas adalah konsep yang menegaskan bahwa sebuah ‘teks’ (ia bisa saja berupa karya sastra, sebuah prasasti batu, sebuah repertoar musik, konstuksi arsitektur atau sebuah lukisan di galeri) tidak lahir dari kekosongan. Sebuah karya (teks) tidak muncul begitu saja, terlepas dari karya-karya yang telah ada sebelumnya (keterkaitan). Ia adalah tanggapan dari apa yang telah dan akan terjadi.

Keterkaitan antara satu karya dengan karya lain dapat dilihat dari banyak aspek, salah satunya adalah genre atau, dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, disebut aliran (meskipun dalam kasus tertentu kedua istilah ini tidak bisa dikacaukan). Salah satu aliran yang terkenal dalam khazanah seni rupa (khususnya seni lukis) Eropa adalah impresionisme. Impresionisme pertama kali muncul di Prancis pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia merupakan tanggapan atas aliran realisme dan naturalism (yang merupakan perkembangan dari aliran romantisisme) yang penuh aturan ketat dan norma-norma.

BACA SELENGKAPNYA

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement