Archive | INTERVIEW

Oenjil: Obrolan Enjoy dengan Jim Supangkat Seputar Unyil

Tags: , , ,

Oenjil: Obrolan Enjoy dengan Jim Supangkat Seputar Unyil

Posted on 20 June 2012 by jarakpandang

Oleh: Anaknya

Anaknya : Pa, kita ngobrol, yuk …

Papanya :  Ngobrol apa?

Anaknya : Nggg … tentaaaang …  Donal Bebek!

Papanya : Kenapa Donal Bebek?

Anaknya : Nggak apa-apa, biar nggak serius-serius amat obrolannya.

Papanya : Maunya nggak serius? Jangan Donal Bebek *hening sesaat* Unyil ?

Anaknya : Ah, iyaaa … Unyil aja!

Nah, Teman-teman, berikut ini adalah obrolan kurator seni rupa senior Jim Supangkat dengan anaknya. Seperti apa jika Jim Supangkat dan anaknya mengobrol tentang Si Unyil? Begini, nih …

Pa, dulu papa suka nongton Unyil, nggak?

Suka juga. Ya mula-mula ikut-ikut kamu, tapi lama-lama jadi nungguin. Unyil, meskipun ceritanya sederhana, cukup mengikat.  Selain itu, karena tahu betul itu yang bikin Pak Yadi (Suyadi pemeran Pak Raden), jadi ada kepercayaan sama pembuatnya.

Dulu di Unyil tokoh favorit papa siapa?

Pak Ogah karena dalam cerita Unyil dia paling realistis. Pak Ogah kan rada anti-hero. Kalau yang lain banyak idealisasi meskipun nggak terlalu. Bentuk boneka Pak Ogah juga bagus banget, dibawainnya juga bagus, suaranya juga pas. Dia gabungan antara bagus dan lucu yang kontras dari lingkungan desanya Unyil. Desa apa namanya?

Sukamaju. Hehe. Kalo ceritanya apa yang paling papa inget?

Kalau ceritanya nggak ada yang papa inget persis. Yang papa inget betul justru adegan pasar. Adegan lain di Unyil kan mirip soap opera, tapi pasar di cerita Unyil itu kompleks secara seni rupa. Jadi Unyil menggambarkan pasar dengan beberapa layers, ada pemandangan gunung, desa di deket pegunungan, dan ada banyak orang dengan macem-macem kegiatan di sana. Seperti film kolosal dan semua karakternya keliatan.

Dulu yang kuat ngurusin artistiknya Pak Yadi?

Ada satu yang nulis cerita dan nggarap artistik Unyil bareng Pak Yadi. Mereka tim yang baik, tapi pengaruh Pak Yadi memang kuat. Ekspresi dan mind-set Pak Yadi keliatan sekali dari karakter Pak Raden, jalan cerita, dialog Unyil dan orang-orang di desa Sukamaju …

Nah, sekarang kan Si Unyil keluar lagi di Trans TV dengan karakter yang berbeda. Menurut papa gimana?

Terus terang sih … ya … merosot sekali bahkan bisa dikatakan sangat jelek. Artinya orang betul-betul nggak punya awareness apa itu Unyil. Mereka cuma ngambil tokoh Unyil, terus dijalanin, dan kalau menurut papa itu tindakan bodoh.  Di Walt Disney misalnya, orang-orang mencoba mencatat standard-standardnya dan mendeskripsikan karakter-karakter yang muncul di setiap repertoar, karena ada kesadaran akan kreasi. Asterix yang sangat legendaris juga dikembanginnya bagus banget. Meskipun ada hal-hal yang tidak tergantikan, ada kesadaran bagaimana supaya karya-karya itu bisa bertahan dan dikerjakan secara kolektif, bahkan setelah kreatornya meninggal.

Waaa … Pak Yadi yang bikin Unyil padahal belom meninggal, ya, Pa …

Itu dia ironisnya. Pak Yadi masih hidup dan Unyil pernah dikerjakan dengan cukup baik. Jadi sebetulnya blue print-nya nggak susah dicari. Papa liat ini masalah pengabaian aja. Kalau orang cuma mikir soal cari duit, mereka justru jadi miskin, nggak aware sama hal-hal semacem ini dan lupa mengapresiasi kualitas. Lepas dari Unyil itu karya seni atau bukan, orang-orang seharusnya punya kesadaran untuk mempertahankan Unyil sebagai sesuatu yang besar dan berarti.

Kalo menurut papa sendiri, Unyil itu karya seni bukan?

Karya itu bukan sesuatu yang hanya berhenti pada ide, tapi juga membawa pengaruh. Dilihat dari hasilnya, Unyil bisa dibandingkan dengan Walt Disney dan Muppet Show. Pak Yadi sendiri menurut papa seorang seniman, dilihat dari dedikasi kerjanya dan gimana karya dia memberi impresi dan enchantment. Apalagi Pak Yadi lingkarannya jelas. Kita mengenal dia sebagai pengajar seni profesional dan dia mentransfer ilmunya dengan benar juga. Latar belakangnya pendidikan animasi. Selain itu, dia juga bisa dibilang tokoh anak-anak. Kita tahu dulu dia sering membuat ilustrasi buku anak-anak dan dalam karyanya dia banyak mengangkat tema anak-anak, termasuk Unyil ini kan …

Iya, benulll. Terus, Pa, kan ceritanya banyak tuh orang-orang yang kepengen nyupport Pak Raden dan karya-karyanya. Menurut papa, apa hal paling mungkin dan penting kami lakuin?

Sebetulnya banyak cara kalau kita mau bicara hal yang umum, terutama mumpung Pak Radennya masih ada. Coba temukan standard-standard repertoar dari karya-karya dia yang masih ada. Bikin studi, bikin frame-nya, supaya Si Unyil bisa diterusin dan dikerjain bersama-sama. Yang mendasar, untuk membantu Pak Raden basisnya jangan sekadar kasian, tapi lebih ke kesadaran bagaimana mengidentifikasi karya besar. Papa percaya kita semua punya intuisi kalau ini karya bagus. Karenanya, kita sebetulnya punya intuisi juga untuk menyimpan dan membesarkan karya ini. Sebetulnya – asal datanya jelas dan terkumpul baik – papa pikir karya ini bisa dipamerkan. Apakah formatnya panggung-panggung kecil seperti tablo, ada sketsa pembuatannya, atau apa. Yang paling penting, kita menyadari magnitude-nya.

Papa nggak mengesampingkan soal hak paten atau keinginan menjadikan Unyil enterprise yang menghasilkan profit. Kan Walt Disney misalnya produknya juga banyak. Tapi kadang-kadang kita berlarut-larut menolong ini itu, padahal sebetulnya yang harus kita lakukan adalah bagaimana meneruskan sebab karya itu terlalu besar untuk diabaikan.

Optimis nggak, Pa, Unyil bisa idup lagi dan bertahan terus?

Papa percaya. Apa lagi kalau didokumentasikan dengan baik. Menurut papa Unyil, terutama boneka-boneka orisinal pertamanya, layak dimuseumkan. Sekarang kita juga masih melihat generasi-generasi yang nggak sempet dibesarkan Unyil, masih tahu Si Unyil. Ini kan tanda-tanda baik. Papa percaya suatu saat Unyil bisa idup lagi. Catatan sejarah kan selalu mencari sesuatu yang tidak diakui pada zamannya untuk dicatat buat masa-masa ke depannya …

Amiiiin …

“Oenjil: Obrolan Enjoy dengan Jim Supangkat Seputar Unyil”. Meski akronim yang menjadi judul artikel ini terasa sedikit dipaksakan, tak ada unsur pemaksaan dalam wawancara ini. Pesan yang ingin disampaikan dibangun dalam kasih, ditanam dengan kasih pula di hati dan kepalamu (bukan tanam paksa seperti zaman penjajahan), dan semoga dapat tumbuh berbuah kasih pula … =)

Jadi. Apakah kamu enjoy membacanya? 

Comments (0)

IMG_6805

Debat Kasur Dari Tebet: Sebuah Interview dengan Oomleo

Posted on 11 October 2011 by jarakpandang

Mirwan Andan (MA): Oomleo, nama asli kamu Narpati Awangga, apakah orang tua kamu memberi nama itu  karena terinspirasi dengan cerita-cerita Jawa Kuno?

Oomleo a.k.a Narpati Awangga (ONA): Bentar Ndan, gue masih boker nih, bentar ya, tanggung nih, dari tadi nih tinja gak mau keluar, masih nyangkut kayaknya di ginjal gue.

(nantikan kelanjutan interview ini yang akan menelisik pemikiran, proses kreatif dan sisi-sisi kehidupan Narpati Awangga atau yang akrab dipanggil Oomleo, sebagai pixel artist, DJ, penyiar, IT Man, kekasih, sahabat, pelabuhan, pembantai nyamuk dan seterusnya)


Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here


jarakpandang.net mendukung Jakarta 32 | Pameran Karya Visual Mahasiswa Jakarta | media partner Jakarta 32:



Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement   Advertisement